
‘Bertanggungjawablah untuk membuktikan dirimu masih punya hati!’
Pos di malam hari, benar-benar merepotkan, pikir Novel. Meskipun begitu ia tetap saja melangkah keluar dan menerima paket pos yang ditujukan padanya. Merasa penasaran dan heran, Novel segera menerimanya. Membawa kotak berukuran 4x4 cm itu ke dalam kamar. Barulah setelah menutup pintu, Novel membukanya. Hanya ada secarik surat yang perlahan ia buka dan terdapat huruf-huruf yang disusun seperti puzzle.
Membacanya perlahan, wajah Novel menegang syok.
‘Kau harus minta maaf! Jika tidak kau akan mati!’
Tubuhnya bergetar ketakutan, tangannya pun refleks menjatuhkan kertas tersebut. Novel terhuyung jatuh, terduduk dengan pandangan mata yang tak berkedip. Jantungnya saat ini berdenyut menyesakkan, mengetahui seseorang di sana mengharapkan kematiannya.
Sembari menaiki anak tangga, Novan berseru.
“Novel, kau ada di kamar? Kau barusan menerima paket dari siapa, kenapa diantara malam hari?”tanya Novan tak menaruh curiga, berhenti di depan pintu kamar Novel.
Tak mampu bersuara, bahkan sekadar menyahuti panggilan tersebut Novel meringkuk dalam diam, menundukkan pandangannya enggan melihat surat ancaman. Ini adalah yang keduakalinya, dan sepertinya memang sengaja dikirim untuknya.
“Kau tidak mau memberitahuku?” tanya Novan pelan namun pasti, mengetahui jawaban penolakan yang selalu dilontarkan Novel pada setiap perkataannya. “Kau pasti lelah, istirahatlah!” Novan undur diri dari tempatnya, melangkah melewati ruang santai, dan masuk ke dalam kamarnya yang tepat berada di depan kamar sang adik.
Selalu malam yang Novel rasakan meski langit terlihat terang benderang.
Novel hanya menyimpan rasa ketakutannya sendirian, meluapkan kekhawatiran dalam bentuk sikapnya yang selalu dingin. Walaupun begitu Novan merasa ada yang janggal, Novel tak lagi membalas perkataannya dengan bicara kasar atau berkomentar pedas. Mengingat bahwa Novel selalu mempermasalahkan hal sepele diantara mereka.
Pelajaran demi pelajaran dilalui dengan rasa hampa, seutuhnya Novel tidak mempedulikan pengajaran apa pun, dia memikirkan siapa orang yang mengiriminya surat ancaman itu, mengetahui tempat tinggalnya dan menuntut ia untuk minta maaf. Kesalahan apa yang sudah ia buat sampai orang itu ingin membunuhnya, Novel jelas sangat tertekan. Seringkali ia melirik kanan kirinya, memperhatikan setiap orang di sekitarnya, berharap orang itu tidak ada di sampingnya, bukan orang yang ia kenal.
Novel menjadi lebih waspada, lebih tepatnya parno akan pergerakan yang terjadi di sekitarnya, segera memastikan, dan barulah bernapas lega jika ternyata itu hanya kebetulan.
Disaat semua orang bersiap untuk pulang, ikut klub maupun kelas tambahan, Novel tak bergeming dari tempatnya. Hingga Lydia datang dan menumpahkan setumpukan sampah dari tong di meja Novel, lalu melempar tong itu sekenanya dan tersenyum mengejek.
“Kau piket sekarang, selamat membersihkan!” sengaunya menyebalkan.
Sedang yang lain memperhatikan mereka, Tiara mendesah pelan. Lydia tak hanya kekanakan dan maniak shopping, tapi juga tak punya sopan santun.
Novel mengabaikan Lydia sepenuhnya, berdiri dari duduknya dan menghampiri loker buku, tepat saat ia membuka loker, sebuah amplop dengan noda darah tergeletak di dalamnya. Terkejut bukan kepalang, Novel menutup loker dengan keras, menghenyakkan semua orang yang sedang memperhatikannya, buru-buru mereka bergegas keluar kelas sebelum Novel marah, sedang Lydia sedikit tercengang dan takut, tapi ia berusaha berani
__ADS_1
Ia baru akan membuka mulut untuk protes, sebelum Novel melangkah cepat keluar kelas dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
Teror itu tidak berhenti. Novel mendapat sebuah amplop yang berisi secarik surat, kata-katanya diambil dari koran bekas yang sudah kumuh, namun Novel masih bisa membaca tulisan tersebut.
‘Kau lihat saja, aku akan datang dengan hukumanmu itu!’
Meremas surat sekuatnya, Novel tampak gusar. Mengedarkan pandangan dan menolehkan kepala dengan gelisah pada semua tempat yang bisa ia lihat. Jika begini ia bisa gila, apa, kenapa dan siapa? Mungkinkah?
“Jangan bilang padanya kalau aku dapat surat!” suruh Novel tertuju pada supir yang mengangguk mengerti meski ia juga cemas akan perubahan ekspresi Novel yang awalnya takut berubah menjadi sedih.
Baginya Novel hanya gadis rapuh yang berusaha menutupi luka hatinya dengan bersikap keras, tapi di sisi lain ia juga menyayangkan keputusan Novel untuk tak menerima uluran kasih sayang dari Novan.
Rasa enggan dan malas itu berpadu padan dengan serasi saat ini dalam diri Azalea. Ia harus mengenakan busana dress hitam brokat untuk datang ke perusahaan ‘Kusuma’ demi mendengarkan peresmian peluncuran produk baru berupa perangkat kecantikan untuk dipasarkan di mall. Sama sekali tak tertarik dengan urusan perusahaan Azalea hanya bisa menuruti semua keinginan kakeknya itu.
Jadilah saat ini ia menghadiri acara membosankan tersebut dan sepenuhnya diam. Setelah itu tidak sampai acara selesai Azalea diizinkan pulang karena besok harus sekolah. Merasa berterimakasih, Azalea segera saja masuk mobil dan duduk dengan perasaan lega.
Memperhatikan jalanan dan gedung-gedung tinggi, Azalea tersihir. Bagaimana bisa dia meraih bangunan tinggi itu tanpa melakukan apapun, hanya karena ia terlahir dari orang kaya. Dilihat dari ukuran tangan sembari memejamkan sebelah matanya, bangunan itu sangat mudah digenggam, tapi, untuk melepasnya begitu sulit. Azalea merasa semua ilmu bisnis, pelajaran, tata krama dan waktunya hanya akan tersampaikan tanpa hati.
Rencananya itu benar-benar ia lakukan. Hampir tengah malam menunggu ibunya pulang dari acara tadi, akhirnya yang ditunggu datang. Hana terlonjak kaget menyadari putrinya belum tidur, lekas membawa Azalea ke kantornya, menutup pintu was-was jika kakek tahu.
“Kakek tidak akan tahu, ia akan mengunjungi kantornya lebih dulu.” tutur Azalea mengingatkan, Hana terkekeh kecil, bagaimana bisa ia melupakan kebiasaan mertuanya.
“Kau sudah melewatkan jam tidurmu, pasti ada sesuatu yang menganggu pikiranmu, ada apa?” tanya Hana.
“Ini tidak begitu penting sih, tapi aku benar-benar ingin tahu. Ibu, apa ada anak bernama Tiara Iznia di panti asuhan?” tanya Azalea sangat ingin tahu. Bukan kebetulan semata ia melihat Tiara berada di depan ruangan Robby, pasti ada alasan kenapa Tiara dan Novel tak lagi berteman, juga alasan Tiara masuk klub fashion.
“Oh, darimana kau tahu? Hm, dia tinggal di panti asuhan dekat kantor utama, kenapa? Kau kenal dia, dia anak yang pintar, dia sekolah di tempat yang sama denganmu.” terang ibunya. Azalea membuang napas tak percaya.
Jadi selama ini, Tiara sudah berbohong bahwa ia adalah anak tunggal dari pengusaha kertas.
__ADS_1
Satu hari sebelumnya.
Fauzi dan Azalea kini tengah bersama, menata pengeluaran kelas, memeriksa laporan keuangan dan setelah itu memutuskan untuk menggunakannya saat kelas disuruh menampilkan pertunjukkan di acara ulang tahun sekolah.
Tak banyak yang harus dikerjakan setelah itu, tapi Fauzi mulai membahas sesuatu, yang sejak tadi menganggu konsentrasinya. Azalea terus saja menekuk wajah cemberut.
“Apa segitu kesalnya kau menjadi wakil ketua?” tanya Fauzi was-was. Azalea menggeleng lemas, “Lalu?”
“Uzi, aku sepenuhnya dapat penolakan dari Novel. Dia tidak mau masuk STUPA, ini memalukan. Aku bahkan tidak akrab dengannya, kenapa aku nekat meminta ia masuk, haah.” keluhnya, Fauzi tersenyum paham. “Kau tersenyum? Meledekku!” sentak Azalea. Fauzi menggelengkan jemari telunjuknya dan mendorong dahi Azalea dengan jari yang sama.
“Tentu saja dia menolak jika kau langsung bicara seperti itu, gunakan otakmu ini jangan hanya pada pelajaran, tapi bagaimana caranya mengubah pemikiran Novel untuk masuk eskul.” ucapnya senada dengan ketukan yang ia lakukan di kening Azalea.
“Minggir!” suruh Azalea menghempaskan jarinya. “Aku tidak tahu harus berpikir apa, aku tidak bisa menebak kata hatinya.”
“Tidak ada manusia yang bisa.” celetuk Fauzi.
“Ah, menurutmu kenapa dia begitu dingin, sebelumnya dia masih bersikap sopan padaku, jika aku bertanya ia menjawab dengan cukup baik.” Mendadak antusias, Azalea menatap penuh harap pada Fauzi.
“Entahlah, kakaknya Novan bukan aku.” geleng Fauzi, Azalea kecewa. “Tapi mungkin bisa jadi karena kejadian setahun lalu, kau ingat dulu ia berteman dengan Tiara dan Irma. Mereka selalu bertiga, tapi sejak kecelakaan itu terjadi, Novel berubah sangat kasar.”
“Tiara?” gumam Azalea, beberapa waktu lalu ia melihat Tiara yang urung menjenguk Robby dan kemudian menjadi juniornya di klub fashion.
“Daripada itu, lebih baik kau mulai beradaptasi dengan kepengurusan dan bersikap lebih berani. Aku juga tak begitu berpengalaman, kita harus bekerjasama.” lugas Fauzi.
“Satu hal lagi, kau tidak penasaran dengan Gian?” tanya Azalea tak ingin ambil pusing mengenai teman sekelasnya yang masih sungkan pada kepemimpinannya sebagai wakil ketua kelas.
“Kenapa dengannya? Kenapa harus penasaran padanya? Aku masih normal.” tolak Fauzi sekenanya.
“Bukan itu, tapi luka di tangannya,” sela Azalea.
“Itu karena hobinya boxing, jadi tak ada yang aneh.”tandas Fauzi.
“Dia pernah menendang oranglain di atap!” tukas Azalea.
Fauzi terdiam, menoleh sekilas pada Azalea yang menatapnya serius.
__ADS_1
“Kau ingin tahu tentangnya? Kemarilah!” Fauzi menyuruh Azalea mendekat, membisikkan sesuatu dan Azalea mendengarkan dengan cermat. Tak lama matanya terbeliak kaget.