Azalea

Azalea
Mozaik 14 : Mencari Teman


__ADS_3

‘Bertahanlah jika itu sesuatu yang kau sukai’


Setelah melihat Robby yang terbaring di ranjang dengan infus di tangan dan nasa kanul yang dikenakannya di hidung, demi memperlancar pernapasan, Azalea merasa lega.


Dulu saat kecil mereka juga sering bermain. Azalea sangat senang seakan-akan ia punya adik pria yang begitu menggemaskan dan aktif, tak jarang Azalea bisa berlaku seperti kakak yang berlebihan dibanding Niska maupun Fauzi. Karena itu ia sangat sedih akan kejadian yang menimpa Robby, berdoa setiap hari agar adiknya itu lekas siuman dan berangsur sembuh.


Izin pamit keluar sebentar Azalea memutuskan membeli minuman dan tak sengaja berpapasan dengan Fauzi. Senang ada yang dikenal, Azalea memanggilnya, melambaikan tangan dan segera menghampiri.


“Oh kau, kenapa ada disini? Sendiri? Wuah untung saja bukan Kak Niska yang datang kesini.” ungkap Fauzi sambil celingukan dan bernapas lega. Tadi itu ia bersikeras memutuskan untuk datang dan menyuruh Niska membantu ibu mereka di rumah.


“Tentu tidak, aku bersama supir,” Azalea mulai mengabsen dengan jari tangannya, “juga Novan.”


“Dimana Novan sekarang? Di dalamkah bersama ibu Robby?” tebak Fauzi ragu.


“Dia kan ibumu juga, kenapa kau selalu memanggilnya, ibu Robby, ibu Robby, ckck, orang akan mengira kalian bukan saudara.” Azalea mengomentari, Fauzi hanya nyengir.


“Ah, Uzi, ada yang menganggu pikiranku selama ini.” Aku Azalea.


“Hm, sesuatu yang membuatmu terus mengamatiku dengan intens sambil mengerutkan kening.” timpal Fauzi memperagakan wajah serius Azalea dengan dahinya yang berkedut berlebihan, kali ini Azalea yang tersenyum malu, ia terlalu mencolok ya. “Katakan apa itu?”


Setelah berkeluh kesah sembari jalan-jalan.


“Yang benar saja, dan kau percaya padanya?” tanya Fauzi takjub.


Azalea menggeleng gamang, “Dia terlihat begitu menyakinkan.”


“Kau ini, kau bisa kena tipu orang jika begini. Dengarkan aku, aku tidak menampik uang jika memang diberi, dan aku bukan orang munafik yang bilang tidak suka uang, tapi jika aku harus mengorbankan hidupku tinggal bersama perempuan aneh sepertimu demi uang, wuah itu akan terlalu menyedihkan.” Penuturan Fauzi yang diselingi candaan itu justru membuat Azalea lega. Benar, Fauzi bukan orang yang seperti itu.


“Berhentilah memikirkan pertunangan, kau biasanya juga cerdas, jangan biarkan siapa pun mempengaruhi pikiran dan perasaanmu. Lagipula sekarang kau punya lima pria yang siap mendengarkan curahan hatimu.” tawar Fauzi serius, mengusak pelan pucuk rambut Azalea yang terdiam.


“Kalian tidak keberatan bertunangan denganku? Pasti sulit bagi kalian bersamaku.” tanya Azalea.


“Itu hanya pikiran sepihakmu, kami akan menerimamu dengan terbuka, lagipula kita semua teman.” jawab Fauzi apa adanya.


Kembali ke ruangan Robby tanpa Fauzi yang ingin menelepon Niska untuk menegurnya, Azalea berjalan lebih ringan dari sebelumnya. Hampir tiba, Azalea terpaksa menghentikan langkah saat ia melihat Tiara berada tepat di depan ruangan, tampak ragu untuk mengetuk pintu. Wajahnya terlihat kebingungan, takut juga bersalah, hm, seperti itulah yang Azalea pikirkan saat ini. Baru saja ia akan mengajak Tiara masuk bersama, gadis yang se-kelas dengan Novel itu berbalik pergi.

__ADS_1


Azalea lekas menelepon Novan, menanyakan perihal penting apa yang terjadi sampai pria itu meninggalkannya di tengah-tengah obrolan bersama ibu Robby.



Perlu keberanian lebih untuk bisa masuk ke ruangan STUPA, mengingat dia sudah kelas 2 dan kebanyakan anggota baru adalah siswa kelas 1, tentu hanya dia satu-satunya yang masih berstatus anggota disaat rekan seangkatannya menjadi senior, dan berada dalam kepengurusan. Cukup bermuka tebal dan mengacuhkan semua pandangan, Azalea memilih bangku sisi jendela dan mulai menyimak pembukaan dari senior.


Pertemuan pertama berlangsung cukup seru karena pengenalan dari para pengurus yang terbilang ceria dan penuh guyonan, Regi sendiri punya pesona tersendiri bagi para juniornya yang merasa senang dan tenang saat ia bicara, menjelaskan dan menjawab setiap pertanyaan.


Dalam sepersekian detik yang tak tampak Regi melempar senyum semangat pada Azalea yang tentu masih dalam tahapan tegang, semua orang bahkan pengurus masih menatapnya kikuk, sinis atau membuang pandangan. Begitupun dengan Niska yang 100% menunjukkan ketidaksukaannya akan kehadiran Azalea.


Tiba saatnya Ashita maju ke depan, kericuhan para lelaki terdengar. Ah benar, Ashita termasuk orang yang disukai banyak orang, tubuhnya yang mungil, wajahnya yang imut namun cantik, juga caranya bersikap, dewasa, mudah bergaul dan tegas membuat orang betah dengannya.


Melirik was-was ke arah Niska, Azalea mendapati ekspresi sebal dari wajah gadis itu. Tidak bisakah Niska mengendalikan emosinya? Ia akan semakin banyak musuh jika begitu.


“Oke setelah kita berkenalan, waktunya membahas sedikit materi sebelum adanya pelantikan anggota tiga minggu lagi. Ini mengenai STUPA dan pertahanan diri.” tutur Regi memulai materi STUPA dengan singkat dan jelas, bahwa eskul yang satu ini menuntut anggotanya untuk berani, menyukai tantangan dan perjalanan, juga menguasai beberapa cara bertahan hidup di tempat terbuka. Tentunya hutan, lembah dan lain-lain. Tak hanya itu ada banyak kegiatan yang akan dilakukan, seperti menjadi relawan dan bakti sosial. Anggota STUPA harus punya rasa peduli dan sosial yang tinggi.


Kini mereka disuruh untuk menuliskan visi dan misi STUPA, setelah itu diberi tugas mengenai macam-macam pertahanan diri yang bisa dilakukan. Regi berkeliling, memastikan mereka menulis dan memberi pengarahan jika ada yang bertanya. Hingga ia tiba di meja Azalea, gadis itu sengaja menjatuhkan pulpennya. Saat ia berjongkok untuk mengambil pulpen, setengah berbisik ia menyuruh Regi pergi.


“Pergi! Pergilah! Ingatkan perjanjian itu, pergi!” suruh Azalea, lalu mengambil pulpen dan segera memunggungi Regi sedikit, sedang pria itu tersenyum kecil. Azalea benar-benar berlebihan.


“Kau memang pintar bertingkah!” ledek Niska.


Azalea memberenggut kesal, sebelum bisa bicara Niska sudah pergi. Menyebalkan sekali kenapa selalu melampiaskan kemarahan padanya, dan siapa juga yang menyuruhnya untuk menjauhi Regi, Azalea hanya ingin menjaga perjanjian dan hatinya.



Sembari duduk Novan menyerahkan sebotol minuman dingin pada Azalea yang langsung tanggap menangkapnya, merasakan dinginnya yang menyesap dalam tangan dan memberi ia sensasi menyegarkan, seakan-akan rasa pedas yang ia terima saat perkumpulan STUPA meluap bersamaan dengan uap dingin yang berbaur dengan udara.


Di sampingnya, Fauzi ikut duduk, memakan es jelly panjang dan tampak menikmatinya.


Tak peduli akan kedatangan dua tunangan yang menghimpit di kiri kanannya, Azalea memilih meneguk minumannya hingga habis.


“Segitu panasnya ya di dalam?” tanya Fauzi melongo.


“Hm,” angguk Azalea letih.

__ADS_1


“Bertahanlah, kau pasti bisa! Setidaknya kau mengikuti sesuatu yang kau inginkan.” hibur Novan.


“Dia mulai pidato lagi.” ledek Fauzi kembali makan es jelly.


“Tapi aku benar-benar tidak punya teman, selalu sendiri.” keluh Azalea.


“Ah, kau ajak saja Novel, kudengar dia tidak masuk klub dan eskul mana pun.” cetus Fauzi, mengerling Novan yang kemudian mengangguk gamang.


“Mungkin dia mau ikut, STUPA tempat yang cocok untuknya.” timpal Novan. Meski sebelumnya ia ragu apa Novel akan setuju, gadis itu sangat sulit dibujuk, ia bahkan harus rela menerima tamparan angin pintu yang ditutup keras oleh Novel tepat d idepan hidungnya akibat menyuruhnya memilih eskul.


“Kau yakin?” ragu Azalea menilik ekspresi wajah Novan.


“Coba saja.” Novan tak ingin menjanjikan apa yang tak bisa ia tebak.



Menunggu adalah hal yang disukai Azalea saat ini, ia dengan setia memperhatikan siswa kelas 1-2 yang mulai keluar kelas untuk pulang. Ketika matanya berhasil menangkap sosok Novel, dengan cepat Azalea berjalan menghampirinya.


“Halo, Novel. Bagaimana kabarmu?” tanya Azalea seriang mungkin.


“Kelihatannya.” ucap Novel tanpa nada, yang pasti terdengar tak mengenakkan bagi penyapa.


“Kau baik-baik saja,” angguk Azalea sempat menciut, ia tahu betul sifat gadis ini. Dia tidak pernah bicara banyak, sekalinya bicara bisa dipastikan Niska pun kalah. Ya tuhan, kenapa sekolah ini dipenuhi orang-orang dingin.


Masih mengekor di belakang Novel, Azalea berusaha memilih kata-kata yang baik untuk disampaikan. Barulah setelah berbelok keluar gedung sekolah, Azalea berdehem kecil dan menyamakan langkahnya dengan Novel.


“Kudengar nilai non-akademis juga dilihat dari eskul dan klub, keaktifan, absen dan tugasnya. Menurutmu, nilainya akan mempengaruhi kenaikan kelas bukan, dulu aku juga terbantu dengan nilai itu.” melirik sekilas ekspresi Novel, tak ada raut apapun, datar, seakan-akan ia hanya mendengar berita yang perlu diacuhkan. “Novel, kau belum memilih eskul dan klub apa pun kan, maukah kau bergabung denganku, masuk eskul STUPA?” akhirnya, itu terucap begitu saja.


“Tidak.” singkat Novel jelas dan penuh penekanan, Azalea membeku. Dan adik kelasnya itu berlalu begitu saja.


Secara kebetulan, Gian muncul di tempat Novel berbelok keluar.


Diantara kelima tunangannya, Azalea paling canggung dengan Gian. Apalagi Gian tak pernah memulai obrolan lebih dulu, seperti sekarang, hanya berjalan melewatinya. Kendatipun begitu, dulu mereka sempat jadi teman sepermainan saat kecil, Azalea merasa terpanggil untuk memperhatikannya.


Ada bekas luka di kepalan tangan kanannya. Azalea pun memandangi punggung Gian yang semakin menjauh, berharap rumor mengenai Gian yang sering berkelahi hanya kabar angin yang belum tentu benar. Kalaupun iya, Gian pasti punya alasan.

__ADS_1



__ADS_2