Azalea

Azalea
Mozaik 15 : Jadwal Kencan


__ADS_3

‘Yang datang dan pergi tanpa bisa kita ketahui’


Sepulang sekolah bukanlah waktu luang bagi Azalea, tapi kesibukan lain yang menungguinya. Dia harus mengikuti klub fashion, dimana ia belajar banyak mengenal fashion, desain baju, bahan dan lainnya termasuk menjahit. Bisa dibilang Azalea cukup mahir dalam menjahit, ia seringkali men-desain beberapa pakaian sederhana untuk dijahit sendiri. Dan kali ini ia memutuskan membuat sarung bantal cantik untuk ulang tahun ibunya.


Meskipun statusnya sebagai senior di klub itu, Azalea tidak merasa ia dianggap, karena toh semua orang selalu mengucilkannya seakan-akan ia bisa membuat mereka dalam masalah. Terlalu segan yang merujuk pada ketakutan adalah alasan dibalik itu semua, dan Azalea sudah jelas mengetahuinya.


Tapi kali ini sedikit ada perubahan, Azalea mendapat seorang junior yang meminta bimbingannya, Tiara. Dia memutuskan masuk klub fashion dan memilih Azalea sebagai pembimbingnya, jelas kaget dan belum membuat rencana hal apa yang terlebih dulu harus diajarkan, Azalea hanya menanggapinya biasa, terkesan enggan.


“Jika mau menolak katakan saja.” saran Tiara menyadari ekspresi bingung Azalea.


“Ah bukan begitu, aku hanya bingung harus bersikap bagaimana. Kau bisa lihat sendiri tidak ada seorang pun yang mendekatiku dan menjadikan aku pembimbingnya, aku hanya kaget.” ungkap Azalea. Tiara mengerti.


“Ajarkan saja aku dari hal paling dasar, lagipula nanti akan ada Pembina yang menjelaskan lebih detail.” tawar Tiara diangguki Azalea dengan lebih santai.


Ada perasaan tenang dan senang, akan kehadiran seseorang menemani harinya yang membosankan dipenuhi kesendirian.


“Kau tidak akan menyesali keputusanmu ini.” terujar dengan mulus, disela kesibukan tangannya mengambilkan peralatan untuk Tiara.


“Kenapa aku harus menyesal,” bingung Tiara, ia hanya ingin mencoba. Karya Azalea memikatnya. “Sweeter buatanmu sangat bagus, aku menyukainya, aku ingin mencoba membuatnya.” dengan jujur Tiara menjelaskan, menunjuk pada sweeter yang terpajang cantik di dinding belakang Azalea, berwarna krem dengan rajutan bunga di bagian lengan.


“Kau ingin memberikannya pada seseorang,” terka Azalea, “Sayang sekali merajut butuh waktu yang banyak juga kesabaran.”


“Bagi orang sibuk sepertimu merajut bukanlah hobi yang bisa dilakukan,” tukas Tiara paham.


“Aku akan mengajarimu caranya,” dengan antusias yang terbilang elegan, Azalea tersenyum tulus.



Para siswi yang masih mengenakan seragam sekolah itu tampak senang menikmati waktunya jalan-jalan di mall, sesekali mereka cekikikan membahas sesuatu, dan Tiara salah satu diantara mereka, hanya menanggapi dengan tawa kecil yang jelas hanya ia lakukan untuk sekedar basa-basi, sopan santun biasa untuk menyenangkan teman.


Sejujurnya ia tidak pernah mau datang ke mall apalagi dengan kawanan Lydia, gadis itu akan membawanya ke tempat pembelanjaan mengingat hobi adalah shopping. Membicarakan mode terbaru, tren remaja yang harus segera dibeli dan baju-baju lucu yang mahal. Tapi dari semua itu Lydia selalu berkata-kata manis yang berujung minta traktiran Tiara. Pada akhirnya, Tiara memberi traktiran makanan untuk mereka.


Mereka makan bersama sambil ber-selfie ria, Tiara mencoba menghitung pengeluaran yang harus ia bayar, sekilas wajahnya tampak resah. Tak begitu jauh dari mereka Novel tengah memperhatikan Tiara di balik kaca restoran dalam mall itu. Membatalkan niat untuk makan disana, Novel berbalik pergi meninggalkan pemandangan menyesakkan yang dilihatnya tadi, Tiara yang benar-benar seorang pengkhianat. Teman yang telah mencampakkannya.

__ADS_1


Sadar akan tatapan mata seseorang, Tiara menoleh pada kaca dimana Novel sempat berdiri di baliknya. Tiara memang tidak melihat jelas Novel, ia hanya melihat punggung gadis yang mengenakan ransel warna hitam tersebut menjauhi restoran.


Selalu berakhir dan berhenti di toko alat musik. Novel masuk tanpa ragu dan mulai melihat-lihat. Dia bahkan tidak sungkan mengambil salah satu gitar elektrik dan mengeceknya sesaat, setelah itu sedikit memainkannya. Sementara Tiara yang rupanya mengikuti Novel menjaga jarak memperhatikannya.


“Kau masih memainkannya,” gumam Tiara tampak lega.



Diterimanya uluran kartu kredit miliknya itu dari tangan Tiara dan menghela napas pelan dengan penuh sabar, memperhatikan Tiara yang menunduk sedih dan menyesal.


“Maafkan aku, aku menggunakannya lagi.” sesal Tiara jelas merasa bersalah. Ashita selama ini tidak berkomentar apa pun, walaupun ia ingin, ia mencoba memberi kesempatan pada Tiara untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi kali ini, ia merasa Tiara bertindak terlalu jauh.


Kebenaran yang selama ini Tiara sembunyikan adalah, dia bukanlah anak orang kaya maupun keluarga berkecukupan, dia anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan ‘Pratama Kusuma’ bersama dengan Ashita dan yang lainnya. Tiara mendapat dukungan dari ayah Ashita yang merupakan pengelola panti asuhan untuk sekolah di SMA Kusuma dan bekerja menjadi guru yang mengajarkan pelajaran sederhana pada anak-anak kecil lainnya di panti, mengajari matematika, membaca dan lain-lain.


“Tiara, berhentilah. Hentikan semuanya dan fokuslah pada pelajaranmu. Kau harus belajar untuk kuliah nanti, katakan pada mereka untuk berhenti bermain-main dan menyuruhmu membayarkan makanan.” suruh Ashita akhirnya angkat bicara membuat Tiara semakin menundukkan kepala. Sungguh, ia juga ingin berhenti, tapi bagaimana jika itu justru membuat keadaan semakin parah. Jika Lydia beralih menjahatinya, mengetahui fakta kebohongannya dan malah membuat dia susah untuk belajar.


“Maaf, aku akan membayarnya dengan uang saku dan pekerjaanku. Dan mengenai itu, aku akan mempertimbangkannya lagi, terimakasih kak.”


Ashita mengkhawatirkan perasaan Tiara yang terbilang masih labil, disisi lain ia juga tak ingin Tiara dikucilkan jika semuanya terbongkar. Tapi bagaimanapun, suatu saat Tiara harus siap menerima resiko yang terjadi akan kebohongannya.


“Jangan katakan apa pun padanya!” tukas Tiara cepat.


“Meski dia terus membencimu?” Ashita merasa jengah, ia berbalik memunggungi Tiara, “Istirahatlah, malam ini jangan belajar terlalu larut.” lanjutnya tak ingin memperpanjang hal sensitif bagi Tiara.



Terpental jauh dalam kegelapan tanpa cahaya sedikit pun untuk berpegangan, Azalea terkesiap tak percaya kala ibunya memberikan selembar kertas berisi jadwal kencan per-minggu yang akan ia lakukan dengan kelima tunangannya, sangat rapi dan kreatif. Ia bingung, kenapa masalah pendamping hidup pun kakek harus turut andil, tidak bisakah Azalea memilih jodohnya sendiri.


Bercengkrama dengan buku dan meja belajar sejak tadi, perhatian Regi kini teralihkan pada ibunya, yang membawakan ia buah semangka yang sudah dipotong dan selembar kertas jadwal kencan. Setelah ibunya pergi, Regi mengamati dan merasa tak percaya, ini seperti keajaiban.


Sementara di tempat lain.


Dengan suasana makan malam yang dingin dan tanpa kata, pria yang berstatus kepala keluarga itu menyerahkan lembar jadwal kencan begitu saja pada Fauzi, berusaha bersikap wibawa.

__ADS_1


“Itu jadwal kencan kalian dengan Azalea, lakukanlah yang terbaik!” suruhnya.


Fauzi melongo, sedang Niska langsung mencari nama Regi.


Kekhawatirannya sangat berlebihan, begitulah menurut oranglain. Karena dengan nekat Niska saat ini sedang menunggu Regi keluar dari rumahnya, menunggu di depan gerbang. Seakan sudah menebak, Regi tidak butuh waktu lama untuk keluar, membuka pintu dan menemuinya.


“Pakailah!” perhatian yang baik, Regi bahkan sudah membawa jaket untuk dikenakan Niska yang diperkirakan langsung datang setelah melihat jadwal kencan.


“Apa kau benar-benar akan pergi kencan dengannya?” tanya Niska mengabaikan pergerakan Regi yang menyampirkan jaket di bahunya.


“Aku tahu apa yang sebenarnya kau khawatirkan, dan yang ingin dikatakan, harusnya kau telepon saja aku.”terang Regi lemah lembut.


Niska masih terpaku di depan gerbang yang baru saja ditutup, beberapa detik lalu Regi kembali ke dalam rumah setelah mereka mengobrol cukup lama. Tak sengaja tangannya menyentuh ujung jaket. Perlakuan sebaik ini semakin membuatnya tak bisa melepas Regi.


“Kakak!” seru Fauzi frustasi, menghampiri Niska dengan langkah terburu. “Kau ini main kabur saja, aku mencarimu. Dan, ya ampun!” syoknya melihat rumah Regi, “Kau benar-benar datang kesini, mau dibilang apa nanti wanita malam-malam ke rumah pria hanya karena cemburu. Ayolah kak, jadi elegan seperti biasa, dingin, stay cool!!” cerocos Fauzi terlihat kesal, protes dan khawatir.


“Maaf,” ucap Niska.


“Ayo kita pulang!” Fauzi merangkul pundak Niska dan menggiring langkah kembarannya itu untuk pulang. “Dengar kak, Regi tidak suka wanita yang agresif dan posesif seperti ini.”


“Benarkah?” kaget Niska.


“Tentu saja, pria juga butuh privasi dan kebebasan, jika kakak gencar ingin mendapatkannya maka kakak harus tahu dulu kesukaannya. Jangan langsung main cabut aja ke rumahnya!” Niska angguk-angguk paham, “Kau harus jadi wanita feminim, anggun lah setidaknya. Bicara baik tanpa terkesan memerintah dan ikut suka pada hobinya, mengerti!” tekan Fauzi, “Bagaimana pun Regi adalah sahabatku, dia itu orangnya lembut dan penyayang, jadi kakak harus mengimbanginya dong!”


“Kau sedang tidak membualkan!” tegur Niska.


“Kami ini lebih dekat dari yang kalian duga.”bangga Fauzi.


“Kau bahkan tidak tahu apa-apa,” ledek Niska.


“Apa yang tidak aku tahu, kalau kakak menyukainy sejak bertahun-tahun lamanya?” canda Fauzi, Niska melepas rangkulan dan berjalan cepat, wajahnya memerah karena malu.


Keakraban mereka terlihat manis bagi Regi yang memperhatikan di lantai atas, melalui jendela kamarnya. Bohong jika Regi tak tahu mengenai perasaan Niska, ia hanya tak bisa membalasnya, karena ia tak merasakan debaran yang sama seperti gadis itu.

__ADS_1



__ADS_2