
‘Tumpukan kebencian tanpa saling kenal terdengar mengesalkan’
3 tahun lalu, dalam ingatan yang tak pernah terlupakan.
Sosok Yuki yang dulu begitu polos dan hanya tahu tentang keluarga itu terlihat sedih, matanya sembab habis menangis karena teringat perceraian kedua orangtuanya dua tahun lalu, sebelum hari ini, dimana ibunya memutuskan menikah kembali dengan orang Indonesia. Tak ingin menerima, Yuki makin memeluk erat lututnya mengungkapkan kesedihan, menangis sesegukan, bukan karena ia tak rela ibunya menikah lagi, bukan karena ia tak bisa bertemu ayah kandungnya, ia hanya takut, bahwa ia punya dua ayah dan membuat dirinya tidak bisa beradaptasi dengan hal itu. Ia takut suatu saat dirinya sendiri dalam kesepian, sesuatu yang memang harus ditanggung manusia, tapi ia tetaplah ketakutan.
Melalui pemberontakan kecil, Yuki berlari pergi, kabur dari rumah dan sampai di Menara Tokyo, tempat ramai yang membuatnya justru merasa terkucilkan. Melirik kiri kanan, menyadari tak ada siapa pun yang dikenal dan mendadak terisolasi, Yuki benar-benar terpuruk dalam kegelisahan. Kenapa mereka harus bercerai jika hanya meninggalkan bekas lukas dalam dirinya, dan kini bersikap seakan tak terjadi apa pun di masa lalu. Keduanya malah memiih hidup dengan pasangan baru tanpa seizinnya. Ia yang sempat membanggakan keluarganya kini terombang-ambing dalam kebingungan dan kesedihan yang tak bisa dimengerti.
“Sore o kiru [Pakailah]” Aiman mengulurkan sapu tangan warna ungu bercorak batik yang begitu indah padanya. Alih-alih menerima tawaran tersebut Yuki malah mendongak melihatnya, pandangannya buram akibat menangis, meski begitu ia yakin pria yang sudah duduk di sampingnya entah sejak kapan itu tengah tersenyum kecil.
Yuki tak paham, apa ini sekedar perasaannya atau bukan, ada raut cemas dalam tatapan hangat milik Aiman.
"Hitsuyo nashi [Tidak perlu]” Tolak Yuki, pria ini calon saudara tirinya.
"Sonogo, sore o hokan shite kudasai, itsuka anata wa sore o hitsuyō to shimasu, soshite watashi wa yorokonde namida o nuguitai to omoimasu [Kalau begitu simpanlah, suatu saat kau akan membutuhkannya, dan kuharap untuk menyeka airmata bahagia]” Ujarnya meletakkan sapu tangan itu di tangan dingin Yuki. “Aku tidak punya saudara, dan kau juga tidak punya. Mulai sekarang, ayo kita jadi saudara. Aku tahu kesepian itu rasanya seperti apa, perpisahan juga hal baru, tapi selama kita berpikir baik-baik saja, semuanya akan membaik" lanjutnya dalam bahasa Indonesia yang ramah dan pelan, agar Yuki dapat merasakan ketulusannya.
Masih dengan senyuman bangga, Azalea berjalan sepanjang koridor dan terhenti tepat saat ekor matanya menemukan seorang perempuan cantik berkulit putih dengan rambut panjang hitam legam ikalnya itu, tengah menyilangkan kedua tangannya di perut seakan menunggu Azalea mendekatinya.
Tak tahu alasan Yuki berada di depannya, Azalea hanya menatap tak yakin.
“Ada apa?” tanya Azalea penasaran.
“Kukira kau berbeda, tapi kau sama saja. Apa menggunakan kekuasaanmu itu membuat segalanya mudah dan melegakan.” Tutur Yuki jelas menyinggung perasaan Azalea. Apa sekarang akan ada dua Niska dalam hidupnya? Seseorang yang akan memprovokasi kemarahannya lagi. Bagi Azalea dibenci satu sekolah sudah cukup melelahkan.
“Aku hanya mengungkapkan apa yang tidak kusukai, dan menyuruh mereka berhenti. Siapapun juga tidak suka seragamnya dibasahi!” bela Azalea berusaha merendahkankan nada bicaranya. Berlaku sesopan mungkin. Lagipula ia dan Yuki baru saling mengenal tiga bulan lalu, saat Yuki memutuskan pindah sekolah ke SMA yang sama dengan Aiman.
“Aku tidak menyukaimu sejak 4 tahun lalu, kau tahu itukan? Jadi coba kau ungkapkan ancamanmu itu padaku! Seperti saat kau mengancam mereka.” Tantang Yuki, dalam hati ia merasa resah dan konyol melakukan hal ini, tapi entah kenapa rasanya ia ingin sekali mengatakan kebenciannya itu pada Azalea, karena dengan cara terang-terangan ia tidak perlu merasa bersalah.
“Kau tidak membenciku, hanya saja tidak ingin menyukaiku. Aku mengerti perasaan itu. Soal ancamanku pada mereka, aku hanya menggertak dan berharap mereka berhenti menjahiliku, itu sangat umum menurutku.” Jawab Azalea terlihat malas, tumpukan kebencian tanpa saling kenal terdengar mengesalkan. “Tidak perlu berada dalam jarak pandangku, karena aku juga bisa membencimu.” Sorot mata Azalea berubah tajam dan serius. Sekilas Yuki merasa terintimidasi, rasanya sesuatu yang aneh menelusup dalam jiwanya.
Tak ingin memperpanjang obrolan kebencian tak jelas ini, Azalea berjalan melewati Yuki yang masih terdiam.
“Seragam olahraga itu, aku tidak ingin meminjamkannya untukmu, walaupun aku sudah menerimanya!” seru Yuki menghentikan langkah Azalea.
__ADS_1
Dengan sabar, Azalea menoleh padanya. “Aku tahu.”
“Kalau begitu, aku ingin kau menjauhi kami! Jauhi kak Aiman!” serunya lagi. Kali ini Azalea yang terpaku, mencoba memahami maksud Yuki dan tersenyum miris.
Azaela yang selalu tenang dalam menyikapi masalah, elegan dalam penampilan serta bertutur kata lembut itu pun mulai merasa marah. Yang sayangnya entah tertuju pada siapa, ia benci keadaan ini.
Baru saja ia mendapat permintaan Yuki tentang Aiman, pria itu kini berada tepat di depannya, tersenyum riang dengan wajah berbinar. Dia sudah mendengar tentang Azalea yang memeriksa cctv dan menegur mereka untuk tidak melakukan hal buruk lagi padanya. Akan keberanian tersebut membuat Aiman merasa senang dan lega.
“Kau tahu, gara-gara kau aku mendapat satu musuh lagi. Aku tidak mengerti kenapa mereka selalu memusuhiku hanya karena pria, atau karena dia begitu menganggapmu sebagai saudara. Lalu jika aku menjauhi orang ini, ini dan ini, bagaimana aku bisa punya teman. Apa begitu kuatnya kah aku menjadi seorang rival sampai mereka ketakutan aku merebut kesayangan mereka. Ini benar-benar tidak adil, lagipula aku tidak akan menggunakan kekayaanku untuk menarik banyak orang sebagai pengikutku!” curahan kekesalan Azalea melimpah pada Aiman, yang jelas menunjukkan wajah kaget juga bingung.
“Seseorang menyuruhmu menjauhiku?” tanya Aiman hati-hati.
Terdiam sesaat, Azalea menghela napas kecil. “Sudahlah tidak penting, jangan muncul di hadapanku untuk saat ini!” suruh Azalea dan melengos pergi begitu saja.
Jauh dari posisi mereka, Nia, -ketua fans Aiman- melihatnya dan tampak marah. Ia tidak rela Aiman dimarahi tanpa alasan dan disuruh pergi oleh Azalea. Terlebih Nia baru saja mendapat laporan kalau Azalea menggunakan kekuasaannya untuk mengancam teman-temannya, karena itu saat ini kemarahannya berlipat ganda. Gadis yang sekelas dengan Aiman itu diam-diam merencanakan sesuatu.
Hari pertama.
Berada di luar sekolah, tepatnya di belakang bangunan sekolah. Azalea hanya melirik Nia dan kawan-kawannya tanpa ekspresi. Entah kenapa dia tahu alasan pasti mereka menariknya ke tempat ini, sesuatu yang buruk dan mengenai ancaman Azalea waktu itu. Sudah terlanjur melawan, ia harus siap menerima resikonya dan berharap pembullyan yang ia dapatkan hanya sekedar ejekan, tatapan juga ancaman, bukan pukulan, karena jika itu sebuah tinju, hidup mereka akan dalam bahaya.
“Aku tidak bisa berbuat sesuka hati padamu karena kau cucu pemilik sekolah, tapi jangan harap aku takut untuk menghadapimu!”
“Langsung saja katakan apa mau kalian, pengawalku bisa menemukanku dengan mudah!” jelas Azalea, ketelatannya beberapa menit pastilah mengundang kecemasan pengawal pribadinya itu. Dan jika mereka sampai ditemukan, Aul bisa saja melaporkan hal ini pada kakek.
“Jauhi Aiman! Jangan pernah bicara lagi dengannya, dan pastikan kau tidak memilihnya sebagai tunangan resmimu!”
“Kami sudah bertunangan secara resmi.” Sela Azalea.
“Hey berani sekali kau! Dia belum selesai bicara.” sentak yang lainnya.
“Jauhi Aiman, jangan bicara dengannya, kurasa itu tidak bisa. Tapi akan kuusahakan untuk tidak akrab dengannya.” Tawar Azalea membuat Nia kesal dan mendorongnya cukup keras.
__ADS_1
“Jangan pernah dekat dengannya dalam 5 meter sekali pun!” ancam Nia terlihat menakutkan, Azalea membuang napas pelan.
“Katakan itu pada Aiman, suruh dia tidak mendekatiku!” serius Azalea.
“Kau masih tidak mengerti!”
“Aku mengerti!” seru Azalea, “Sangat mengerti, tapi situasinya tidak semudah yang kau kira!” Azalea menjeda ucapannya, seberapa keras pun ia menjelaskan situasi diantara dirinya dan kelima tunangan, mereka tak akan menghentikan hal ini, apalagi mencoba memahami perasaannya. “Lakukan saja apa maumu!” setelah itu Azalea berbalik pergi, sayangnya ia harus mendapat luka dilututnya karena salah satu dari mereka sengaja membuat kakinya tersandung dan terjatuh ke tanah. Mencoba tenang, Azalea langsung berdiri dan kembali berjalan.
Sepertinya akhir-akhir ini ia harus berusaha keras untuk bersabar dalam banyak hal.
Setibanya di mobil jemputan, Aul langsung tanggap menghampiri dan melihat luka garis yang berdarah di lutut Azalea, memang tidak begitu besar tapi mampu membuatnya siaga.
“Siapa yang melakukan ini?” tanyanya, selalu dengan nada kaku yang lugas dan tegas.
“Aku hanya tersandung dan terjatuh begitu saja, ini kecerobohanku.” Bohong Azalea dan masuk ke dalam mobil tanpa gairah, menyandarkan diri sembari melirik Aul yang masih saja diam di tempatnya. “Cepatlah aku ingin pulang dan makan, hari ini tugasku sebagai wakil kelas cukup melelahkan.” Rajuk Azalea menyadarkannya yang segera mengangguk.
Hari kedua.
Lagi di tempat yang sama dan sehabis jam pulang sekolah, Azalea disekap dalam himpitan dua orang disisi kanan kirinya. Kesal karena tidak mau menuruti permintaannya, Nia memasukkan lumpur ke dalam tas Azalea dalam jumlah yang cukup banyak. Tidak bisa menolak dan menghindar, Azalea dicengkram kuat. Barulah setelah semua barang yang ada di dalamnya terkena lumpur mereka melepaskan Azalea dan tertawa bersama.
“Pastikan kau menjauhinya!” kecam Nia tersenyum menang.
Azalea mendengus sebal melihatnya, “Sabar, ini tidak seberapa.” Titahnya dalam hati, menatap balik tepat pada manik mata Nia yang menyiratkan ejekan padanya. “Terimakasih atas lumpurnya, buku ku bisa maskeran alami karena itu.” Senyum Azalea.
Aul melihat Azalea muncul dan segera menghampirinya.
“Kenapa keluar terlambat?” tanyanya. Selalu kaku layaknya robot.
“Aku mengumpulkan tugas siswa dan memberikannya ke ruang guru.” Asal Azalea, yang ia pikirkan adalah berbohong untuk menutupi keadaan ini, karena ia tidak ingin Nia dan yang lainnya terkena imbas marah dari kakek. Dalam diam ia menyadari, karena mereka berada dalam satu sekolah dan sering bertemu maka hal ini akan terus berlanjut sampai, kapan kah? Kekhawatiran, ketakutan dan rasa putus asa seperti inikah yang dialami korban bully, antara ingin bercerita atau memendamnya sendirian. Setiap hari waspada akan apa yang akan terjadi padanya esok hari, tak percaya pada orang sekitar dan trauma.
Saat hal itu melintas dalam benaknya, ia melihat Nia dan teman-temannya berjalan keluar gerbang asyik mengobrol. Bagaimana pun Azalea berharap semua ini berakhir dengan baik tanpa melukai siapa pun.
Aul memperhatikan Azalea yang menunduk sedih.
__ADS_1