
‘Ini bukan urusanku jika mengenai keluargamu? Lalu kenapa kau menyukaiku?’
Membanting keras pintu kamar, Niska membuka lemari dan koper hitamnya, memasukkan beberapa baju dengan semrawut ke dalam koper. Melakukannya dengan penuh amarah. Tanpa menyadari Fauzi yang masuk ke dalam dan memperhatikannya. Kali ini Niska mengacak semua isi lemari, melempar semua yang ada sembarangan seakan-akan itu bisa membuang emosinya yang membuncah dan menyakitkan ini.
Sebuah pakaian kemeja hitam ditangkap oleh Fauzi, dan duduk santai di atas ranjang samping koper diletakkan.
“Koper kecil ini mana muat membawa semua pakaianmu.” komentar Fauzi menghentikan Niska, yang mendelik kesal padanya.
Meski semula tatapan itu terisi penuh dengan kemarahan, ditatap sedemikian lembut oleh Fauzi, lamat-lamat nyalanya meredup. Niska tidak bisa berlama-lama marah pada Fauzi. Dengan sendirinya emosi itu merosot dan membuatnya terlihat buruk. Semua berantakan dan wajahnya memerah sedih. Wajar bukan jika ia membela ibunya, tapi kenapa malah dia yang ditampar.
Fauzi berdiri, mendekatinya, dan memeluk ringan Niska. Sekedar meletakkan kedua tangannya di pundak Niska dan menepuk punggung kembarannya itu. Kepalanya berada dekat dengan telinga kanan Niska.
“Jangan mengotori hatimu dengan membencinya, dan simpan tenagamu untuk besok. Kau adalah gadis kuat yang pernah kutemui.”bisik Fauzi menghibur, mengelus rambut Niska yang balik memeluknya, menyandarkan kepala di bahu Fauzi dan meneteskan airmata.
Paginya. Saat sarapan. Fauzi akui kalau Niska sangat baik dalam berakting, salut akan sosoknya yang duduk tanpa kaku di hadapan Julia dan Tommy. Ia bahkan makan dengan baik, dan mengatakan kata maaf. Meski bukan maaf yang tulus, Fauzi bisa rasakan itu hanya maaf yang sekedar basa-basi dan menantang Julia untuk bertaruh kata dingin dan kasar kelak.
Mela, adalah ibu yang terlalu lembut dan terkadang naïf menurut Niska. Dia sudah lebih dulu minta maaf pada Julia, tidak menemui Niska malam itu dan memohon pada Tommy untuk tidak berlaku kasar pada Niska. Yang ujungnya bisa dipastikan dialah yang harus mengalah dan kembali bersikap layaknya pelayan.
Robby, pria itu sangat menyesal akan kejadian semalam. Dia tidak berani bicara pada Niska yang mengacuhkannya, dan memilih meminta maaf dengan tulus pada Fauzi. Ia benar-benar tidak ingin ibunya bersikap kasar, dulu maupun sekarang.
Mengenakan seragam STUPA berupa kemeja dengan ransel khusus bepergian ke gunung, Niska turun dari boncengan dan menepuk punggung Fauzi keras, berterimakasih karena sudah mengantarnya. Selama diperjalanan Fauzi terus saja mengomel, menyuruh Niska tegas pada anggota, menghukum mereka jika perlu. Niska menjahilinya dengan mengatakan, akan menghukum Azalea tak peduli kesalahan yang dibuat mantan sahabatnya itu, diluardugaan Fauzi malah mendukungnya.
Tak langsung naik bus, Niska melihat Regi dan Ashita yang duduk bersebelahan sembari tertawa bersama. Dibalik jendela kaca bus yang cukup tinggi itu, Niska menyadari jika mereka terlihat akrab.
Fauzi menepak keras ransel Niska hingga gadis itu terhuyung ke depan dan membuyarkan lamunannya.
“Semangat!” tulus Fauzi, Niska tersenyum dan segera naik bus, melambaikan tangan pada Fauzi, melewati bangku Regi, memilih duduk dua bangku setelah Regi, masih melambai ria pada Fauzi. Sekilas, tanpa ia sadari, Regi memperhatikannya, melirik Fauzi dan mengabaikan ucapan Ashita.
Dilain tempat, di depan bilik toilet yang pintunya tertutup, Novel memangku tangan karena bosan.
“Bisa lebih cepat, bus akan melaju!” kesal Novel, berbarengan dengan pintu yang terbuka, Azalea baru saja berganti pakaian dengan celana yang dibeli Novel dengan seragam STUPA hitam khusus anggota. Karena tak mungkin ia pergi berkemah mengenakan dress?
“Tenang sedikit, baru juga tiga menit.” ujar Azalea. Dan keduanya berjalan santai menuju bus terparkir. Azalea bergejolak senang, jantungnya terus berdegup kencang tak sabar menunggu hari ini, sedang Novel hanya bersikap biasa. Jika bukan karena ingin membalas kebaikan Azalea saat ia diteror, Novel tidak akan ikut acara apa pun, apalagi masuk klub ini, yang mengharuskannya berbaur dengan banyak orang.
Mereka berpapasan dengan Fauzi.
“Kau mengantar Niska?” tanya Azalea refleks saat matanya melihat sepeda yang sedang didorong Fauzi. Sesuatu pasti telah terjadi, tak biasanya Niska datang ke sekolah tanpa mobil pribadi.
“Selamat menikmati perjalananmu,” ujar Fauzi menyemangati, berkat bantuan Regi, Azalea mendapat tanda tangan izin dari ayahnya untuk berkemah, apalagi hari pelantikan digelar pada hari yang sama dengan jadwal kencan mereka berdua.
“Ini sebuah keajaiban,” pungkas Azalea sumringah. Ia sama sekali tak menyadari jadwal kencannya dengan Regi akan diisi dengan pelantikan.
“Berhenti bicara, dan kita berangkat sekarang!” sela Novel, berlalu melewati Fauzi, sempat terhenti sejenak sembari mengucap kata terimakasih dengan sangat pelan.
Azalea menyusul, menyempatkan menepuk pundak Fauzi ringan, “Dia sebenarnya menyukai acara ini, dan berterimakasih padamu.” timpal Azalea, Fauzi mengangguk kecil, dan memperhatikan kedua gadis tersebut berjalan menuju bus.
“Aku harap kau bisa bersama dengannya lagi,” gumam Fauzi berharap, suatu saat nanti Niska dan Azalea berbaikan.
__ADS_1
Semua panitia dan anggota mulai mendaki gunung setelah turun dari bus, dengan bawaan yang cukup berat mereka terlihat semangat. Begitu pun dengan Azalea, yang mau tak mau mengerling Niska. Sejak tadi Niska sendirian, dan tak banyak bicara. Azalea ingin menyapa dan mengajaknya mengobrol, tapi ia ragu Niska akan menanggapinya dengan baik. Kali ini Azalea mengerling Novel yang berada di sampingnya tapi tidak membawa obrolan menarik, adik kelasnya ini masih dingin, hanya saja ada beberapa hal manis darinya, dan membuat mereka akrab dengan sendirinya.
Ia beruntung masih ada Novel, tapi Niska. Ia pasti kesepian dan sedih, melihat Regi dan Ashita yang sedari tadi terus menempel, berduaan.
Novel sibuk membuat tenda, begitu pun dengan anggota lain, hanya Azalea yang sempat terdiam, memperhatikan Niska yang terkesan berbeda. Tidak biasanya Niska tidak menghampiri dan memberi omongan kasar padanya, ia sepenuhnya mengabaikan semua orang dan tempatnya berada.
Setelah beristirahat barang sejenak dari aktivitas membangun tenda untuk semua orang tanpa bantuan panitia. Azalea mengambil air minum, menemukan sosok Niska yang berjalan menjauh dari posisi STUPA.
Menyusul, niatnya terhalang saat Regi datang dan menyapanya.
“Jangan menyapaku, aku sudah janji akan menjauhimu selama di STUPA.”
“Tapi aku tidak punya janji seperti itu.”
“Tetap saja, aku tidak enak diperhatikan orang nantinya, kita ini tunangan loh.”
“Aku ingat itu.”
“Ya sudah minggir!”
“Galak sekali.” ledek Regi. “Apa kau merasa baikkan?” tanya Regi serius, Azalea barulah melihatnya, ikut serius. “Kau pasti merasa risih dan dipandang aneh oleh semuanya, aku tahu itu.”
“Kau benar, mereka mengintimidasiku dengan tatapan.”
“So sweetnya, kau perhatian sekali.” puji Azalea ikut meledek.
“Anggap ini hadiah kencan dariku.” senyum Regi.
“Terimakasih sudah menyiapkan peralatan kempingku.” tulus Azalea.
“Tak apa, aku juga dibantu Novan dan Novel.” aku Regi. “Kau mau menemuinya?” tanya Regi mengerling arah perginya Niska. Azalea mengangguk. “Sejak tadi aku merasa ia tidak fokus, dan berubah aneh. Sepertinya dia menghindariku.”
“Mungkin karena kau terus saja bersama Ashita,” omel Azalea, dipikir-pikir keadaan diantara mereka cukup rumit, bukankah Regi harusnya bersama Azalea karena mereka bertunangan, tapi malah terikat dengan mantan kekasih dan sahabat.
“Aku dengannya hanya membicarakan hal tentang STUPA,” elak Regi tak enak hati, mengingat kembali akan pernyataan cinta Niska beberapa hari lalu.
“Aku harap semuanya baik-baik saja,” senyum Azalea, membuyarkan lamunanya mengenai kemungkinan terburuk yang terjadi pada Niska, Regi menyetujui dalam diam sampai Ashita memanggilnya demi persiapan pelantikan.
Masa-masa proses pelantikan STUPA, dilalui dengan lancar, meski ...
Perubahan sikap Niska yang sedikit berbeda, lebih banyak diam dan bertindak sangat galak. Azalea dan Regi menyadarinya. Regi bertanya perihal apa yang terjadi, tapi Niska malah menjawabnya dingin dan sepanjang hari itu ia benar-benar menghindari Regi.
Mengenakan seragam SMP, Azalea dan Niska sedang berteduh bersama di bawah pohon besar, menyandarkan punggung masing-masing ke pohon tersebut, menikmati hembusan angin yang lebih berasa saat mereka duduk di sana. Hingga 10 menit berlalu sembari dengan obrolan mengasyikkan diantara keduanya.
Mereka terlihat kompak, dan menimpali ucapan satu sama lain, terkadang tertawa bersama. Setelah lelah mengobrol mengenai kakek yang waktu itu melarang Azalea pergi main, dan hanya mengizinkan Niska ke rumah untuk menemani Azalea, keduanya terdiam sejenak.
__ADS_1
Sudah jadi hal lumrah bagi Niska mengetahui batasan waktu dan semua peraturan yang dibuat kakek untuk Azalea. Disaat semua teman sekelas belajar kelompok atau mengunjungi salah satu rumah teman, Azalea akan dijemput dan pulang setelah mengikuti kursus bahasa, dilanjut manajemen, dan sorenya mendekap di rumah. Begitulah setiap hari.
Tak ada piknik maupun sekedar menikmati arena permainan.
“Lea, kupikir aku menyukai seseorang.” aku Niska.
“Benarkah? Pria?” ledek Azalea.
“Tentu saja, dan aku berniat menyatakan perasaanku padanya.”
“Siapa dia? Beritahu aku siapa pria itu!”
Untuk pertamakalinya Azalea merengek dan meledek Niska yang sedang menyukai seseorang. Niska bilang jika ia diterima maka Azalea akan tahu. Tapi sampai lulus SMP, Azalea tidak tahu siapa pria itu.
Niska jelas tak bisa mengatakannya. Setelah masuk SMA, di hari ia ingin menyatakan cinta, Regi malah menyatakan cinta pada Ashita. Dan itu hari pertama mereka jadian, dengan dukungan Azalea. Melalui perantara Azalea, yang memberi semangat dan menyatukan Ashita Regi. Niska kecewa, marah pada Azalea, yang tak peka pada perasaannya selama ini.
Rapat panitia selesai beberapa menit lalu. Tapi Regi dan Ashita masih bertahan di tenda itu, membicarakan hal penting mengenai hubungan Tiara dan Robby. Ashita meminta bantuan Regi untuk menyatukan keduanya lagi, termasuk dengan Novel. Hubungan ketiganya tidak bisa dibiarkan saja, apalagi Tiara tidak berniat menghentikan kebohongannya.
Karena itu, keduanya selalu bersama dan bicara banyak.
“Aku akan bicara pada Robby, dia juga ingin mendamaikan Tiara dan Novel.” ujar Regi memutuskan, sebentar lagi ia harus mempersiapkan diri untuk pos malam.
“Hm, baiklah. Hubungi aku kapan pun.” pinta Ashita.
Hening sejenak. Sadar jika masih ada yang ingin dikatakan Ashita, Regi memilih menunggu, memberi kesempatan. Sementara di balik tenda, Niska tak sengaja berhenti, melihat bayangan keduanya.
“Maafkan aku karena memutuskanmu waktu itu.” Ashita memulai, sedikit ragu, tapi Regi masih diam saja. “Sebenarnya aku masih menyukaimu, aku memilih sekolah ini juga untuk bertemu denganmu, begitu pun dengan STUPA. Regi, aku, aku ingin kita, hm, maukah kau berpacaran denganku lagi?” pernyataan cinta yang mengejutkan, Niska mengenggam erat jari-jemarinya dalam kepalan yang refleks ia lakukan, menunggu penuh harap jawaban Regi, berharap Regi menolak Ashita.
“Ini terlalu mendadak.” ucap Regi menggaruk tengkuk lehernya tanpa sebab, “Maaf aku tidak bisa menjawabnya sekarang.” kepalan Niska mengendur bersamaan dengan napasnya yang tertahan, tersirat kekecewaan dalam raut wajahnya. Jawaban Regi seakan memberi harapan pada Ashita, yang berarti Niska bisa saja ditolak setelah pelantikan selesai. Benar-benar menyedihkan. Pikirnya dan melangkah hambar menjauhi tenda.
Jika langkah Niska terasa hampa, langkah yang dilakukan Azalea sebaliknya, penuh enerjik dan senang. Kalau saja ia tak ingat banyak orang di sana, ia akan berteriak keras bahwa ia sangat bahagia. Ini pertamakalinya ia bisa sebebas ini, berada di tengah alam dengan langit malam yang nyata, ditemani api unggun, teman-teman dan oksigen yang terasa enak.
Saat yang lain mulai lelah, ia yang paling antusias menerima tugas pos di malam hari. Dimana ia harus berkeliling hutan untuk ke pos tertentu, bertemu senior yang akan menanyainya beberapa materi maupun praktek langsung secara berkelompok. Bersyukur karena ia satu kelompok dengan Novel, Azalea menyakinkan diri bahwa ia sudah menghapal semua materi.
Kelompok demi kelompok berlalu.
Azalea menikmatinya dengan baik, meski sesaat ia merasa sedih ketika ia berada di pos bayangan dimana hanya ada Niska yang menjaga, memberitahu arah yang benar pada kelompok itu untuk ke pos selanjutnya. Tak ada yang curiga, hanya Azalea yang mengerling ke belakang, ke arah Niska yang tanpa semangat memainkan senter, menyala mati dan begitu seterusnya. Hampir saja Azalea tersandung jika Novel tidak menyuruhnya melihat ke depan.
Regi dan dua rekannya bertugas sebagai tim penyapu, memberitahu panitia yang ditempatkan di pos kalau kelompok sudah habis dan mereka boleh pulang. Tiba di pos Niska, Regi tertahan dan tidak melanjutkan tugasnya, menyuruh dua temannya itu pergi duluan.
“Niska, kau …” baru saja Regi akan bicara, talkie walkie nya menyala. Sebuah suara melapor kalau Ashita terluka karena terpeleset dan jatuh ke dataran rendah, tergores beberapa ranting. Cemas, Regi segera tanggap akan segera ke sana.
Tanpa kata, yang menambah kemurungan Niska, Regi berbalik pergi. Percuma menghentikan, Niska hanya terdiam, memutuskan berjalan sendiri untuk kembali ke kemah.
__ADS_1