Azalea

Azalea
Mozaik 20 : Menolak Pernyataan


__ADS_3

‘Jika perkataan langsung tak bisa digunakan, kenapa tidak dengan cara lain saja?’


“Dia menungguku di luar mall untuk mengambil buku dan menyebrang setelah menerima teleponmu. Aku benar-benar menyesal. Selama ini aku mungkin sudah menyakitinya, tidak, aku memang melukainya. Perlakuanku tidak sepenuhnya baik, dan tanpa sadar menyakiti hatinya, tapi sungguh, aku berharap bisa bertemu dengannya lagi dan minta maaf. Tapi tidak seperti ini, dia pasti tidak ingin kakaknya menjadi pembunuh.” Tutur Tiara dan membiarkan setetes airmatanya mengalir. “Dia bilang sangat rindu padamu, dan tidak ingin membuatmu menunggu lama. Dia ingin pulang bersamamu, dan dengan bangga menceritakanmu pada kami, sungguh, maafkan aku.” Tiara berlutut di depannya, mendonggakan kepala pada kakak Irma yang terhenyak kesakitan, melepas cekikan Novel sepenuhnya dan membalas tatapan Tiara yang penuh penyesalan.


“Aku berjanji akan menemuinya, mengunjungi makamnya.” ucap Tiara.


Novel terengah, menghela napas. Novan segera menghampirinya, memastikan dia baik-baik saja, merengkuh pundak Novel untuk bersandar padanya.


Malam itu, sang kakak yang begitu menyayangi dan merindukan adiknya menangis dalam perih, menemani angin yang berhembus dingin.



Azalea melihat sosok itu dalam kegelapan dengan wajah sumringah melalui jendela, segera saja ia keluar kamar setelah menarik sembarangan jaket merahnya yang panjang. Melewati pelayan yang menyapa sopan, dan membuka pintu lebar, lalu melangkah secepat yang ia bisa.


Memasuki taman samping yang juga terhubung ke belakang rumahnya, Azalea berjalan diantara bunga-bunga yang indah dan berwarna, tampak elegan juga menyejukkan. Barulah setelah melihat Novan, ia berhenti, saling berhadapan.


“Sepertinya kau senang sekali.” senyum Novan.


“Hm, tentu saja. Kau memberi pesan sangat singkat, tapi entah kenapa rasanya itu pesan paling membahagiakan.”


“Benarkah?” Novan tak menduganya sekaligus senang, padahal dia hanya menulis dua kata, ‘Novel bersamaku.’ Kenapa Azalea bisa mengartikan itu kabar bahagia.


“Itu berarti semua baik-baik saja. Lalu dia sudah di rumah? Bagaimana penerornya, juga Tiara?” tanya Azalea tak sabar.


Alih-alih menjawab rasa ingin tahu itu, Novan malah tersenyum lega, “Terimakasih.” ucapnya tulus, Azalea terdiam. Memperhatikan wajah Novan yang tampak bersinar dan penuh kejujuran, sepertinya Novan benar-benar merasa tertolong akan perbuatan Azalea yang terus membujuk Tiara datang, juga memaksa Niska menemani Tiara untuk ke atap sekolah. Disaat ia tidak bisa karena batasan waktu dari sang kakek.


“Harusnya aku yang berterimakasih padamu,” tolak Azalea, merasa bersyukur saat itu Novan menemukannya yang tersesat dan menasihatinya agar tidak kabur. “Banyak sekali yang tidak kuketahui, disaat seluruh pengetahuan telah dijejalkan padaku sejak kecil.” ungkapnya menyadari sebuah perasaan, lega yang teramat menyenangkan karena telah membantu oranglain.


Novan hanya tersenyum manis, menatap lekat Azalea dalam kehangatan.


“Kau mau berkencan denganku?” ajaknya tak lama kemudian.

__ADS_1



Sebotol yakult disimpan cukup keras oleh Novel tepat di depan wajah Azalea yang hendak menyuapkan nasi ke mulutnya, terganga melihat Novel yang tampak malu serta berusaha memalingkan wajahnya untuk tidak bersitatap dengan Azalea.


“Ini untukku?” tanya Azalea sedikit tak percaya, Novel mengangguk teramat kecil, Azalea menyimpan sendok dan tersenyum sembari mengambil yakult dan meminumnya. “Segarnya. Duduklah!” suruh Azalea melirik baki makanan Novel.


“Baiklah, jika kau memaksa.” tukas Novel dan duduk di depan Azalea.


“Kau lucu sekali.” celetuk Azalea. Novel mengenggam sendok kuat saking ngeri mendengar pujian tersebut.


“Aku pergi saja!” ujarnya bergidik.


“Jangan marah! Temani aku,” pinta Azalea. Pada akhirnya mereka saling menatap singkat, Azalea tersenyum cerah.


“Terimakasih.” ucap Novel sama tulusnya dengan Novan malam kemarin.


“Terimakasih juga untuk yakult nya,” balas Azalea.



Kediaman keluarga Takada.


Seperti pagi biasanya, yang selalu terjadi pada setiap keluarga. Seorang ibu yang menyiapkan makanan, ayah yang duduk dengan lembaran Koran yang terbuka, juga anak-anak yang berteriak meributkan sesuatu. Yang ini sedikit berbeda, karena nyatanya sang ibu hanya perlu menata makanan, pembantunya sudah menyiapkan semua makanan untuk sarapan, ayah yang sibuk dengan tabletnya melihat harga saham dan laporan perusahaan, juga Aiman dan Yuki yang damai-damai saja.


Sebenarnya tak ada alasan memakai marga Takada, karena ibu mereka lah yang orang Jepang dan ayah yang asli orang Indonesia. Mereka menikah tiga tahun lalu, saat Aiman akan masuk SMA. Awalnya tidak setuju, tapi melihat ayahnya terlihat begitu sibuk tanpa ada yang mengurus, akhirnya Aiman memberikan izin, untuk remaja yang masih muda sepertinya, Aiman punya kepribadian yang menakjubkan. Teramat baik, menerima anggota keluarga dengan terbuka dan pengertian. Aiman malah sudah berpikir ia akan melanjutkan pekerjaan ayahnya tanpa mempedulikan apa pun.


Mungkin sebagian orang akan menganggapnya kuno atau membosankan, tapi bagi Yuki, Aiman adalah pria baik yang tidak pernah bohong dan selalu melindunginya. Ia ingat, malam dimana pria itu berhasil menemukannya yang menangis karena menolak keras pernikahan, mata itu tampak lembut dan tangannya terasa hangat hingga tanpa sadar ia berhenti menangis.


Sejak itulah Yuki memutuskan untuk tidak pernah melepasnya.


Selesai sarapan dan bersiap berangkat. Yuki menyuruh Aiman mendekat, seakan sudah tahu, Aiman membiarkan tangan putih dengan jemari jentik itu mulai merapikan dasinya dan menepuk-nepuk kerah blazer Aiman agar lebih turun dan rapi, terbentuk sempurna.

__ADS_1


“Kanpekina (Sempurna),” bangganya memperhatikan penampilan Aiman yang terlihat baik.


Sesampainya di sekolah.


Bukan hal yang aneh lagi melihat orang-orang akan berhenti sesaat dan menyapa Yuki dengan riang, mereka sangat menyukai kepribadian Yuki yang easy going dan suka membantu, siapa pun itu Yuki bersikap ramah dan selalu menjawab ajakan obrolan mereka. Karena itu Yuki tidak kesusahan sama sekali beradaptasi dengan keluarga, lingkungan dan sekolah barunya. Dia adalah tipe yang disukai banyak orang. Yuki sendiri beranggapan itu karena Aiman, pria itu mengajarkan banyak hal padanya, juga membuat ia terinspirasi menjadi orang yang ramah.


Kelas 2-1 sedang memperhatikan Yuki yang baru saja mendapat surat berwarna merah muda yang cerah, dengan selipan bunga mawar sebagai gambarnya. Berterimakasih pada orang yang memberikannya, Yuki membuka surat yang dipastikan surat cinta itu, dengan orang-orang yang mulai mengintip ingin membaca. Isinya singkat, hanya ingin mengajaknya bertemu sepulang sekolah di halaman belakang perpustakaan. Jika sudah begitu, mereka mulai mengoda Yuki dan menebak siapa orang tersebut, apa tampan, pintar atau menarik? Mereka juga mengungkapkan rasa iri karena Yuki kembali mendapat surat cinta. Selebihnya mereka akan memberi ruang sendiri pada Yuki untuk menemui orang tersebut, tak sampai mengikuti atau bahkan mengintip pertemuannya.


Mereka tahu Yuki tidak akan enak hati jika menyuruh mereka pergi. Dan Yuki terlalu perasa takut pria yang akan menyatakan cinta padanya itu malu jika dilihat banyak orang.


Tiba di waktu yang sudah dijanjikan. Yuki berjalan santai menuju halaman tersebut, menenteng ransel warna hijau mudanya dengan santai.


Pria ini, yang didepannya, terlihat menarik dengan potongan rambut jatuh hitam yang rapi, cukup cocok dengan bentuk wajahnya yang tidak begitu lonjong maupun bulat, hm lebih mirip tipe wajah ketupat atau bentuk berlian. Wajah yang mengecil pada dagu dan melebar hanya dibagian pipi. Intinya ia memiliki paras yang tampan.


Setelah memberikannya kesempatan bicara lebih dulu, Yuki menanggapi dengan senyum dan mengutarakan penolakannya dengan baik. Ia menjelaskan jika saat ini ia tidak tertarik berpacaran dan juga tidak begitu mengenalnya, walaupun ia diberi waktu untuk saling mengenal, Yuki lebih suka pada perasaan baik saat pertamakali bertemu. Ia menyukai pria yang dalam pandangan pertama bisa menarik hatinya hingga membuatnya mau tak mau memperhatikan pria itu. Mengerti akan penuturan Yuki yang disampaikan sebaik mungkin, pria tersebut izin pamit dan berharap kelak Yuki akan melihat hal mendebarkan saat melihatnya lagi. Terkekeh Yuki mengajaknya untuk berteman.


Dalam diam, setelah pria tersebut berbelok pergi meninggalkannya, Yuki merasa buruk. Mungkinkah penolakannya ini hanya alasan, sikap baiknya ini hanya sandiwara? Karena sebenarnya Yuki sudah menemukan pria yang menarik hatinya dalam sekali pandangan, yang membuatnya memperhatikan setiap aktivitas yang dilakukan pria itu, menyukai senyuman sang pria. Tapi kenapa Yuki tidak bisa bilang, jika ia menolak mereka karena ia sudah punya seseorang yang disukai, kenapa? Karena ia tahu, ia gadis gila yang menyukai kakak tirinya sendiri, dan itu tidak pantas dibicarakan pada semua orang.


Melamun memikirkan sosok dirinya sendiri, Yuki mulai kesusahan memahami perasaannya. Dan itu berefek pada langkahnya. Biasanya jika seseorang sedang berpikir maka pilihannya adalah mondar-mandir, mengetuk-ngetuk kening atau diam, maka Yuki sedikit berbeda, dia akan mempercepat langkah kakinya yang perlahan berubah menjadi lari. Seakan dengan lari ia bisa berpikir jernih dan mengenyahkan pikiran buruk dalam benaknya.


Terus berlari, sembari berbelok tanpa mengurangi kecepatan, Yuki menabrak seseorang sangat keras, yang justru membuatnya terjengkal jatuh dengan posisi memalukan. Terjatuh duduk dengan sempurna, dengan pantat mendarat lebih dulu. Yuki meringis kesakitan.


Tanpa kata-kata, Novan mengulurkan tangan pada Yuki, berniat membantu. Disela kesakitannya Yuki memperhatikan tangan itu dan perlahan mendongak, matanya membulat, rasa malu langsung saja menderanya. Ia membuang muka dan mendesis penuh kekesalan. Dari semua pria kenapa harus dia?


“Kau baik-baik saja?” tanya Novan masih dengan uluran tangannya, tapi Yuki merubah ekspresi secepat mungkin, menahan rasa sakit dan menolak bantuannya, berdiri sendiri dan tersenyum kikuk, mengangguk seyakin ia bisa.


“Ya, I’m ok.” tandasnya, setelah itu lanjut berjalan dan tak menoleh sedikit pun kearah Novan yang dengan santai menarik uluran tangannya yang ditolak.


Menahan rasa sakit dan malu disaat bersamaan bukan hal mudah rupanya, Yuki dengan gerak cepat menjauhi Novan dan menghindari orang-orang, merasa parno jika ada yang melihat kecuali Novan, tapi karena sekolah sudah mulai sepi Yuki bisa bernapas lega, menuju toilet dan berdiri di depan wastafel. Tadi itu, ia benar-benar merasa malu. Wajah Novan terbayang, terlihat datar dan tidak menunjukkan reaksi apa pun, seperti menahan tawa karena posisi jatuh Yuki atau iba karena gadis itu jatuh dengan suara keras di pantat. Novan terlihat begitu kalem.


“Ah, benar, dia Novan Oktavian. Salah satu tunangan Azalea.” cetus Yuki keras, menyadari satu hal yang menarik. Rencana gila muncul begitu saja. Menyunggingkan senyum tipis, Yuki terlihat senang.

__ADS_1



__ADS_2