Azalea

Azalea
Mozaik 19 : Kenyataannya


__ADS_3

‘Selama itu oranglain, kau pikir itu baik-baik saja?’


Satu tahun lalu.


Ketiga siswi yang baru saja menyelesaikan semester 1 itu tertawa ria dan bicara mengenai liburan mereka nanti. Dengan penuh antusias dan rasa lega, mereka membicarakan banyak rencana, dari mulai piknik, jalan-jalan dan lainnya. Novel bahkan mengajak mereka ke studio keluarganya, karaoke dan menari bersama, dengan semangat Tiara juga Irma mengangguk setuju.


Memakai celana jeans hitam dan kemeja kotak-kotak perpaduan warna hitam dengan biru tua, dan rambut dikucir kuda Novel baru saja menampilkan sebuah tarian enerjik.


“Bagaimana bagus?”


“Wuah hebat! Kau bisa jadi penari terkenal!” puji Tiara, dan Novel bergegas menghampirinya, mereka asyik membicarakan tarian juga membahas tren menari dance cover dari musik K-Pop yang sedang digandrungi remaja sekarang, sedang Irma hanya duduk memperhatikan.


Angka nilai Tiara dan Novel hanya selisih sedikit, tapi Tiara menjadi juara pertama, merasa kesal Novel pura-pura marah padanya. Hingga pada akhirnya Tiara membujuknya dengan es krim juga waffle kesukaan Novel, mengacuhkan Irma yang perlahan meremas kertas bertuliskan rangking 19 nya dan tersenyum kecil ikut berpura-pura merayu Novel, menemani mereka berdua yang terasa jauh meski begitu dekat.


“Kenapa sih, sekali-kali aku ingin berkunjung ke rumahmu? Apa orangtuamu melarang?” tanya Novel, berusaha membujuk Tiara untuk mengizinkan mereka main ke rumahnya.


“Kita ke rumahmu saja, aku ingin bertemu kak Novan, hehe.” Pinta dan canda Tiara, lagi, Irma hanya membatin dalam hatinya, ia tidak bisa menawarkan mereka ke rumahnya karena jaraknya yang jauh. Ia disini tinggal bersama bibinya yang kerja di Jakarta sedang keluarganya tinggal di Solo. Karena sang bibi lulusan dari sekolah ini, Irma jadi tertarik dan ingin masuk ke sekolah yang sama. Samar-samar ia mulai merasa menyesal dan ingin pulang, ia rindu ayah, ibu, kakak dan adiknya.



“Berani sekali kau mengatakan dia mati karenaku!” amuk kakak Irma membalikkan tubuh Novel dalam sekali gerakan dan mendorongnya sampai ke tepi atap.


Sedang, dibalik pintu, Fauzi menahan Novan untuk masuk. Menggeleng seakan mengisyaratkan bahwa ia harus menunggu dan tidak boleh gegabah, tapi Novan, dia begitu pucat dan cemas, ketakutannya begitu kentara, bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Novel.


“Irma merindukanmu, dia memilih pulang lebih dulu setelah mendengar kau datang ke sini. Dia tidak melihat jalanan dan menyebrang, dia ingin bertemu denganmu, tapi dia malah tertabrak. Aaah, dia benar-benar merindukanmu!” tersedu, Novel mulai menangis, menyesal saat itu ia terlambat menyelamatkan Irma, menyedihkan karena ia tidak memenuhi keinginan Irma.


Terdiam, pria itu terlihat terpukul, tapi ia tidak mudah terpengaruhi.


“Ini salah kalian! Jika saja kalian memperlakukannya dengan baik dia tidak akan seperti ini! Kalian yang bersalah!”


“Aaah!! Kumohon jangan seperti ini!” Novel sudah terengah perih, suaranya benar-benar parau hampir tak terdengar, “Dia pasti sedih jika melihat kakaknya seperti ini, kumohon!” isaknya dalam penuh harapan. Jujur saja, ia kali ini tidak merasa takut akan terluka, terjatuh dari atap dengan bekas cekikan dilehernya, tapi ia takut, jika ia membuat seseorang menjadi pembunuh. Orang yang disayangi sahabatnya.


“Diamlah!”


“Hentikan!” seru Tiara muncul, membuka keras pintu dan setengah berlari menghampiri mereka, Novel melihatnya sedikit buram karena airmata, sedang kakak Irma mengalihkan pandangan pada Tiara dan tersenyum menyeringai.


“Yang satunya datang juga.” sarkasnya senang, tapi Novel yakin ia mendengar suara pria yang perlahan melonggarkan cekikannya itu bergetar. Kepercayaan dirinya sedikit goyah. Novel menatap Tiara penuh harap, memohon agar ia menjelaskan yang sebenarnya.


“Ini salahku! Dia mati karenaku!” teriak Tiara. Di belakangnya Fauzi, Novan dan Niska mencoba memberi kesempatan padanya.


“Aku meninggalkannya di sana dan mengambil barangku yang ketinggalan, seandainya aku menemaninya, aku bisa menolong. Aku bersamanya saat itu, dan hanya menyaksikannya dari kejauhan, aku bahkan tidak mendekatinya dan terdiam. Ini salahku!” terang Tiara dengan wajah yang sudah memerah menahan airmata.


__ADS_1


“Tidak mau, aku benci padanya.” serius Novel menolak ide Tiara untuk datang ke rumahnya dengan alasan ingin bertemu Novan.


Lupa kalau ada sesuatu diantara keluarga itu, Tiara sedikit bingung harus bicara apa, “Ah, kita ke rumah Irma saja, sudah lama aku ingin jalan-jalan ke Solo, sepertinya menarik. Kau bilang punya kakak yang menggemaskan dan suka bercanda,” dalam sekejap mood Novel berubah riang, menatap penuh harap pada Irma.


Irma tak langsung menjawab, terdiam sebentar, dan lalu tersenyum kecil, menanggapi, “Tapi dia tidak setampan dan sekurus kak Novan,”


“Hey kau ini malah membandingkan kakakmu sendiri dengan pria menyebalkan itu!” rangkul Novel riang, Irma terkekeh, “Adikmu baru masuk SD bukan, ah lucunya. Ayolah kita ke kampungmu.” sorak Novel.


“Tidak ah, ayahku akan marah jika kita bertiga melakukan perjalanan sendiri. Bagaimana jika aku menelepon kakakku dulu dan kita berangkat bersamanya.” usul Irma, wajahnya terlihat berseri. Ya begitulah pertemanan mereka, kadangkala redup juga terang. Kadang seseorang akan merasa terasingkan, tersinggung dan kesepian meski bersama. Mereka hanya anak SMA yang masih belajar memahami pertemanan, yang terkadang tertawa bersama, menangis bersama dan bertengkar satu sama lain.


Irma akui, bahwa Novel dan Tiara mempunyai pesona menarik, mengasyikkan, pintar dan suka berbagi, cantik juga menerima dia apa adanya. Mereka pun tak sungkan untuk berkunjung ke rumahnya yang jauh.


Namun rupanya, rencana itu hanya sebuah perkataan.


Pertengkaran yang lebih dari pertengkaran biasanya terjadi, Novel marah saat ia mengetahui hubungan antara Tiara dan Robby, sahabatnya sejak kecil. Keduanya menyembunyikan hubungan itu dan bersikap seolah-olah tidak mengenal, lebih dari apa pun Novel merasa terkhianati. Hatinya yang hanya terbuka beberapa mili demi pertemanannya dengan Tiara dan Irma kini menutup, dan bahkan benar-benar menghapus rasa percaya pada Robby.


Ada rahasia dalam hidupnya yang penuh dengan keluh kesah dan kesedihan, yang selalu Novel bagikan pada Robby, dan hanya pada pria itu. Tapi Robby membohonginya dan lebih parahnya Tiara mengambil sahabatnya itu tanpa memberitahunya.


“Ayolah kita ke mall, kudengar ada permainan baru, danbaze, bukankah itu bagus untukmu Novel. Kau suka menari!” ajak Irma penuh harap, ia ingin sekali mendamaikan Novel dan Tiara, atau memberi mereka waktu mengobrol berdua untuk menyelesaikan masalah.


“Tidak, kau pergi saja bersama pengkhianat ini!” cerca Novel dalam nada yang masih normal, Tiara menegang dan tersinggung.


“Sudahlah, kita pergi. Dia hanya manusia egois yang tidak tahu apa pun!” kesal Tiara dan berbalik pergi, Irma jelas serba salah. Melirik Tiara dan Novel.


“Maaf, aku tidak bisa pergi dengannya!” dingin Novel dan pergi.


Tak ada yang berhasil, sekeras apa pun Irma mencoba merayu Novel dan membujuk Tiara minta maaf Irma hanya mendapat tanggapan dingin dari mereka. Jelas ini menyakiti hatinya, perannya sebagai teman diantara dua teman yang bermusuhan begitu tidak menggenakkan, apalagi saat mereka seharusnya pergi berkunjung ke rumahnya. Disaat mereka harus bertemu kakaknya yang akan datang.


Irma menunggu di depan mall saat Tiara izin kembali ke tempat karaoke karena ia meninggalkan buku paketnya di sana, tadi itu ia sempat mengeluarkannya untuk mengambil dompet dan lupa memasukkannya lagi.


Cukup lama, Irma mendapat telepon, kakaknya sudah sampai rumah bibi, menunggu ia pulang. Sempat sedih karena ia harus membatalkan acara kunjungan teman-teman setelah hampir setahun, emosinya segera berganti menjadi rasa senang, setidaknya ia akan pulang dan bertemu keluarga, sejak masuk sekolah ia belum pulang.


Berpikir sekilas bahwa ia harus segera menemui kakaknya dan akan memberi pesan pada Tiara nanti, Irma masih dengan telepon yang tersambung mulai menyebrang, tanpa ia sadari sebuah mobil melaju ke arahnya.


Tangan Novel mengepal, membeku sesaat di tempatnya, dan kemudian berlari panik menghampiri Irma yang terpental cukup jauh, dengan darah membanjiri kepalanya. Tubuh Novel bergetar, ia berusaha membangunkan Irma, menyentuh wajah itu dan mengatakan semuanya baik-baik saja, ia harus bertahan, tapi Irma, dengan gerakan bibirnya yang sangat pelan hanya membisikkan sesuatu. “Kakakku, menungguku.” ucapnya sebelum menghembuskan napas terakhir.


“Aaaaah, Irmaaaa! Aah!” jerit Novel menangis tersedu. Memeluk sahabatnya itu tanpa peduli darah mengotori bajunya. Dalam pandangan yang memburam ia melihat Tiara, memegangi buku paket dan buku lain, hanya berdiri mematung. Saat mata mereka bersitatap, Tiara malah berbalik pergi.



Sedikit terburu Niska menemui Fauzi.


“Fauzi, apa yang terjadi? Kenapa aku melihat burung mati dan surat ancaman di loker Novel?” tanya Niska ketika Fauzi sedang berjalan sendiri di koridor sekolah yang langsung saja panik dan menarik saudara kembarnya itu ke tempat yang sepi.

__ADS_1


“Jangan bicara di tempat sembarangan!” suruh Fauzi.


“Jelaskan!” tuntut Niska.


“Dengar, Novel sedang diteror saat ini. Dan kami mengira hal itu ada kaitannya dengan kecelakaan Irma satu tahun lalu, mungkin pelakunya mengira Novel penyebab ia meninggal.” terang Fauzi serius.


UKS.


“Aku tidak tahu apa pun, ini urusannya. Kenapa kau menyuruhku menemaninya! Yang benar saja.” tolak dan bohong Tiara saat Azalea bersikeras meminta bantuannya untuk menemani Novel.


“Maaf jika aku tidak sopan, tapi aku tidak bisa membantu orang yang mendorongku sampai terluka.” setelah itu Tiara memalingkan wajah dari Azalea, yang masih tertahan di posisinya.


“Kau tahu dia tidak sengaja, dan aku juga tahu kau mencemaskannya. Ini hanya bentuk harga dirimu untuk bertahan, tapi kali ini Novel bisa terluka lebih dari luka apa pun. Dan aku berharap kau, yang sempat menjadi sahabatnya akan menemani dia apa pun yang terjadi.”


“Kenapa harus aku?” dingin Tiara kembali menatap Azalea.


“Karena kau ada di sana, kau melihat kecelakaan itu. Kau orang yang bersama Irma sebelum ia meninggal.” ujar Azalea yang hanya sekedar tebakan, tapi itu mampu membuat wajah Tiara menegang pucat. Selama ini sekolah tidak pernah tahu jika ia ada di sana.


Bukannya Tiara tidak ingin menyanggah perasaannya yang khawatir pada Novel, tapi ia masih merasa tidak pantas sebagai manusia, bahkan untuk sekedar minta maaf.


Dilain tempat.


Sejak tadi Novan berusaha mengikuti Novel kemana pun adiknya itu pergi, memastikan ia bisa melindunginya jika ada sesuatu. Tapi untuk saat ini ia ingin melihat apa yang akan dilakukannya, sampai saatnya ia mengikuti Novel ke ruang informasi siswa.


Di dalam mobil Novan, Fauzi sedang mengutak-atik barang uniknya, yang permukaannya aneh seperti kabel kusut tapi ternyata mempunyai fungsi yang akurat dan canggih, alat penyadap, yang bahan-bahannya diambil dari perusahaan milik ayahnya. Alat yang kini menghubungkan mereka untuk mendengar percakapan Novel dan peneror itu di telepon umum.


Tepat setelah Novan masuk ke mobil, telepon tersambung. Mereka berdua mendengar waktu yang diinginkan peneror untuk bertemu. Novan begitu resah. Fauzi menepuk punggungnya cukup keras.


“Tidak akan ada yang terjadi, Novel gadis kuat!”


Kegilaan lain kini sedang dirasakan Niska dari gadis yang ia musuhi selama ini, Azalea terus saja memintanya menemani dan membujuk Tiara untuk pergi ke atap sekolah, menjelaskan apa yang terjadi pada peneror yang diduga akan melukai Novel.


“Ini bukan masalahku, aku tidak peduli.” Acuh Niska.


“Ah, aku lupa kalau kau tidak punya rasa kepedulian pada oranglain. Sepertinya aku salah menemui orang, yang hanya sebuah robot.” ungkap Azalea mencemooh.


“Kau!” sentak Niska tersinggung.


“Kau sudah berubah, sangat berubah. Apa kau ingin membagi kebencianmu juga pada semua orang, membagikan cerita kehidupanmu yang malang dari setiap ucapan dinginmu, dan berpikir selama itu bukan kau, semuanya baik-baik saja. Aku, kecewa padamu.” Setelah itu Azalea beranjak pergi. Dan Niska hanya mengakui ucapannya dalam diam, mengeluh akan keterlibatan Azalea dalam kasus teror yang dialami Novel.


“Jika bukan karena Fauzi, aku akan benar-benar mengabaikan kalian!” desisnya dan memutuskan membantu Novel, menuju ruang UKS demi membujuk Tiara.


__ADS_1


__ADS_2