
‘Tidak ada yang salah dengan menarik perhatian orang yang sudah menarik hatimu.’
Ini adalah sebuah pengalaman baru bagi Azalea, bisa berkencan dengan seseorang di tempat ramai tanpa diikuti pengawal, terlebih tak ada orang yang mengenalinya. Azalea terlihat begitu senang, menikmati setiap langkah kakinya di jalanan indah Taman Satwa Ragunan, bersama Novan di sampingnya.
“Aku tidak bisa menggunakannya,” geleng Azalea menolak tawaran Novan untuk menaiki sepeda tandem, yang bisa dikayuh oleh dua orang.
“Kita hanya perlu mengayuhnya dengan selaras, dulu kita pernah bermain bersama.” saran Novan kalem, Azalea tak yakin, apa ia masih bisa melakukannya.
Novan tak ambil pusing, menyewa satu dan memarkirkannya di depan Azalea. Tersenyum mengerling jok belakang, dengan isyarat mata ‘lakukan saja, dan percayalah padaku!’, Azalea mengangguk kecil.
Azalea akan sangat menyesal jika ia tidak mengiyakan, bersepeda di tempat seluas ini sangat menyenangkan, ia juga tak perlu berjalan jauh demi melihat hewan-hewan yang ada di sana. Banyak foto yang mereka ambil, dan tanpa sungkan Azalea menyuruh-nyuruh Novan memotokannya di beberapa objek menarik.
Setelahnya mereka mengelar tikar bersama, dengan Novan yang sudah membawa bekal serta cemilan. Azalea takjub akan perhatian tersebut, dan tak menduga di sini pun ia bisa menikmati sebuah piknik.
“Kau menyukainya?” tanya Novan disela-sela makan siang mereka. Azalea mengangguk antusias. “Syukurlah, setelah ini kau mau bermain sesuatu? Di sana ada permainan.” tawar Novan menunjuk bagian kanannya, Azalea tersenyum, dan kembali mengangguk.
Permainan yang sederhana, mungkin tak se-ekstrem wahana besar lainnya, tapi Azalea sangat menyukainya. Ia bermain bobomcar sembari terus tertawa kecil memperhatikan Novan yang begitu semangat, tak jarang balapan dengan pengunjung lainnya, anak-anak kecil yang menggemaskan. Setelahnya Azalea menaiki rollercoaster mini, menikmati sensasi yang menarik dan memacu adrenalinnya.
Dia benar-benar tak terduga. Yuki dengan nekat, membawa note kecil dan pulpen yang tersimpan di sakunya, gadis Jepang yang sudah ahli bahasa Indonesia itu mengikuti Novan dari belakang, berlagak seperti spy, atau lebih tepatnya stalker.
Mata sipitnya tidak teralihkan pada apa pun kecuali pada Novan yang baru saja sampai di sekolah bersama Novel. Dengan sopan Novan meminta kerumunan gadis-gadis pengemarnya memberi jalan, dan memastikan Novel tidak tersenggol, sedikit aneh, Yuki melihat Novan merangkul ransel Novel alih-alih merangkul pundak adiknya itu. Yuki tahu kalau hubungan mereka tidak begitu akrab, mungkin Novel akan marah besar jika tahu Novan memeganginya. Sedikit terpukau, Yuki mengambil pulpen dan menulis di notenya.
‘Novan : sangat perhatian dan hati-hati berperilaku pada adiknya.’
Tak sampai disitu Yuki menbuntutinya sampai kelas, berhubung kelasnya juga searah hanya saja ia harus berhenti dekat kelas 2-1. Novan mengalami pagi yang menyenangkan, hampir sama sepertinya, banyak gadis yang menyapanya dengan sopan, ramah dan lemah lembut? Hm, mata mereka berbinar saat melihat Novan. Berbeda dengan orang yang menyapanya, para gadis tidak mungkin seperti itukan padanya? Ah, ia sedikit kesusahan menjadi spy karena banyak orang yang ingin menyapanya dan terpaksa ia berhenti sejenak, memberikan isyarat kalau dia sudah menerima sapaan itu, kembali lanjut dengan misinya.
‘Novan : dia disukai banyak gadis.’
“Apa yang sedang kau lakukan? Kelasmu di ujung sana.” tegur Azalea mendadak muncul di belakang Yuki yang langsung tersentak kaget. Salah tingkah, Yuki segera menutup note-nya, tersenyum lebar menutupi perbuatannya. “Ada apa denganmu, tumben sekali tersenyum.” bingung Azalea tak yakin akan perubahan drastis tersebut.
“Tidak,” senyum itu langsung lenyap dan Yuki berjalan cepat meninggalkan Azalea yang masih melongo aneh akan sikapnya.
“Aish, hampir saja.” lega Yuki terus melangkah menuju kelasnya.
Bukannya menyimak pelajaran, Yuki malah menyimpan note di atas meja dan mulai pelajarannya sendiri. Menuliskan sifat Novan dan Azalea.
*Novan :
Tampan dan berbakat
Perhatian
Punya fansgirl
__ADS_1
Azalea :
Cantik dan aneh
Tidak peka
Punya musuh banyak*
Tersenyum aneh, Yuki mencoba mencocokkan ketiga poin itu, dan merasa keduanya akan tampak serasi jika bersama. Bukankah mereka sama-sama mempunyai paras wajah yang baik, sifat perhatian Novan bisa menutupi ketidakpekaan Azalea, dan yang terpenting Novan disukai orang sedang Azalea tidak, jadi mereka bisa saling memahami. Yah walaupun musuh Azalea akan bertambah tapi setidaknya Novan bisa menemaninya. Oke, ini skenario bagus menurutnya, mulai sekarang Yuki akan berusaha menjodohkan Novan dengan Azalea dengan begitu Aiman akan berhenti menyukai cinta pertamanya itu.
Mata Yuki menilik setiap ekspresi Novan di balik pintu belakang kelas 2-1 yang sedikit terbuka. Gadis itu menggunakan izin ke toilet dari gurunya untuk melakukan misi mak comblang, memahami lebih jelas sosok Novan agar bisa menarik hati Azalea saat ia membicarakannya.
Meski begitu tidak ada yang spesial, Novan hanya duduk santai tanpa menunjukkan ketertarikan pada pelajaran yang ada, mungkin karena ia tidak suka matematika, atau memang enggan belajar. Satu hal yang pasti, ia tidak banyak bicara disaat yang lain mulai sibuk mengerjakan tugas yang diberikan.
Yuki mulai menulis.
‘Novan : Tidak begitu suka belajar matematika dan diam saja.’
Barulah setelah menuliskan kata terakhir, matanya berseloroh dengan mata Fauzi, kaget. Yuki segera mundur sambil berjongkok dan pergi dari sana tentu dengan mengelus jantungnya yang berdegup keras. Pandangan Fauzi benar-benar mengejutkannya, sejak kapan ia tahu Yuki di sana?
Tempat selanjutnya, kantin. Berpura-pura bergabung dengan teman yang lain sambil sesekali melirik meja Novan dan Fauzi, Yuki tersenyum singkat menanggapi obrolan teman-temannya. Tiga orang gadis datang menghampiri meja Novan dan memberi roti, sebotol yakult dengan cemilan pedas, bermaksud memberikannya pada Novan. Tidak menolak, Novan membiarkan mereka menyimpannya di meja. Yuki bermaksud menulis kalau Novan baik hati menerima pemberian oranglain, tapi pemandangan selanjutnya sangat mengejutkan. Fauzi dengan senang meminta makanan itu, membukanya tanpa ragu dan mulai makan. Fauzi tampak menawari Novan yang menolak, seakan menyuruh ia yang menghabiskannya.
“Wuah, menyebalkan.” Desis Yuki, teman makannya berhenti bicara dan melihat padanya. Merasa dipandangi dan sadar perkataannya tidak nyambung, Yuki segera membenarkan. “Maksudku perutku, perutku rasanya mual dan tidak mau makan lagi.” sanggahnya, dan syukurlah mereka mengerti.
‘Novan : sok baik, menerima pemberian orang tapi malah memberikannya pada oranglain.’ Dengan penuh kekesalan.
Masih lanjut. Yuki tahu kalau Novan adalah salah satu anggota band sekolah. Dengan sigap ia menuju studio latihan, berharap bisa menemukan targetnya itu dan menemukan kecocokan dari kecocokan lainnya dengan Azalea. Tapi dengan kaki berjinjit pun ia masih belum menemukan sosok Novan di dalam studio, mengintip di balik kunci pintu juga tak terlihat, berpikir nekat dan merasa aman ia memutar handle dan mendorong pintu hingga terbuka memberikan sedikit celah. Matanya dengan cepat melihat suasana di dalam studio, tak ada siapa pun hanya ada Fauzi yang sedang membenarkan senar gitar.
“Kemana dia? Kenapa tidak latihan?” tanya Yuki yang niatnya tertuju pada dirinya sendiri, tapi seseorang, dengan suara berat milik pria menyahuti.
“Dia dibelakangmu.”
Terkesiap kaget, Yuki terlonjak mundur dan sontak menghadapnya, Novan yang sedari tadi berada di belakangnya memperhatikan apa yang Yuki lakukan. Panik dan kalap, Yuki segera mencari alasan.
“Aa,, aa, aku hanya ingin melihat studio band. Aku penasaran sebagus apa, dan karena aku sudah melihatnya, aku pergi.” bohongnya kalang kabut. Yuki jelas bukan orang yang pandai berakting. Novan menyadari kejanggalan dalam ucapannya itu yang hanya sekadar alasan.
“Aish, benar-benar sial.” rutuk Yuki tanpa sadar dalam bahasanya. Ia pikir ia bisa gila karena terus jantungan, dari mulai Azalea, Fauzi dan Novan. Mereka memergokinya dengan mudah.
Kelas Tambahan Bahasa Jepang.
“Kenapa kau disini? Setahuku kau membenciku.” ungkap Azalea keheranan melihat Yuki duduk di hadapannya sebagai rekan satu kelompok. Sedang yang ditanya bersikap biasa, berusaha dingin.
__ADS_1
“Itu karena kau paling payah di kelas ini, guru mengirimku.” berdecak kesal, Azalea ingin sekali menjitaknya. “Bersyukurlah, setidaknya kali ini nilaimu akan bagus.” ledek Yuki berhasil menambah kejengkelan hati Azalea akan dirinya.
Azalea tak habis pikir apa alasan Yuki masuk kelas tambahan ini mengingat gadis tersebut berasal dari Jepang. Ia hanya menduga-duga, dan sempat berpikir aneh, tapi sudahlah, itu kan privasi Yuki.
Karena tugas kelas tambahan Bahasa Jepang kedua gadis itu berada di perpustakaan dan membuka buku seputar berita, reporter juga kamus besar Jepang-Indonesia, yang sebenarnya tidak dibutuhkan Yuki, hanya saja Azalea enggan bertanya padanya, karena bukan jawaban yang di dapat tapi ledekan, kalau dia malas mencari kosa kata dalam kamus.
Yuki mulai berdehem, duduk bersandar di kursi dan mengalihkan perhatian Azalea dari bacaannya. Mengerling pada Yuki yang tampak mempersiapkan diri untuk bicara.
“Kau aneh sekali hari ini, ada yang ingin dikatakan?” tanya Azalea.
“Bagaimana pertunanganmu, menyenangkan?” awal yang tidak buruk, tapi sedikit mencurigakan, dan Yuki sedikit menyesalinya.
“Tentu saja tidak.” tukas Azalea.
“Kenapa? Kurasa punya lima tunangan yang keren sangat menyenangkan.”
“Jika kau mau, lakukan saja.” cuek Azalea, dan jujur saja Yuki tertohok mendengarnya, ia ingin sekali mengatainya.
“Hm, aku akan melakukannya jika aku bisa.” tukas Yuki menekankan ucapannya dengan gerakan bibir yang sedikit tertahan, mencoba sabar. “Mereka berlima temanmu sejak kecil bukan, akan lebih baik kalau kau memahami sifat mereka sekarang. Sifat mereka berubah setelah dewasa, apa kau tidak penasaran?”
Azalea menoleh padanya, berpikir. Merasa terpancing, Yuki mulai percaya diri, ia pun melanjutkan. “Ah, yang pertama, tunanganmu Novan. Kudengar dia tumbuh dengan baik, wajahnya tampan dan kepribadiannya baik. Bukankah para gadis jelas menyukainya, dia juga perhatian pada sang adik, berteman baik dengan Fauzi, dan yang pasti tidak banyak bertingkah. Satu lagi, dia bagus dalam komposer lagu dan memainkan musik. Sangat kerenkan?” semangat Yuki mengebu-ngebu. Azalea memicingkan mata, menyadari sesuatu.
“Kau benar-benar aneh. Apa kau menyukai Novan? Wuah hebat, kau bahkan sampai tahu sifat-sifatnya dan memuji dia keren.” Seakan disambar petir disiang bolong Yuki terdiam. Azalea menyebalkan! Pikirnya.
Sebelum Yuki meralat tebakan itu, Aiman datang, izin bergabung dengan duduk di samping Azalea dan menanyakan apa yang ia baca. Azalea menjelaskan ini dan itu soal berita-berita sekolah, dan mempelajari materi menjadi pembawa acara berita maupun sebagai reporter. Aiman dengan senang menjelaskan sebagian, dia sangat mahir menarik orang dengan kata-katanya, dan jadilah Yuki tidak punya celah melanjutkan niatnya. Berdumel keras dalam hati kalau mereka berdua menyebalkan.
Tersadar setelah keluar dari perpustakaan kalau langit sedang menangis, dan membuat tanah kehujanan akan airmatanya. Azalea terbius, menikmati harum tanah yang terbuyur air, sangat menyegarkan menurutnya, tapi itu tidak bertahan lama saat Aiman dan Yuki berjalan menghampirinya. Mereka berdua berhenti bicara saat Aiman menyadari Azalea masih berada di dalam gedung memperhatikan keduanya.
“Kau belum pulang, mana pengawalmu, harusnya dia datang menjemputmu dengan payung.” ujar Aiman melirik sekitarnya, dan yang ia lihat hanya tetesan air hujan.
“Aku sedang menunggunya.” jawab Azalea.
“Ah, bagaimana jika aku mengantarmu sampai mobil dan …” Aiman baru saja akan membuka dan membagi payung yang ia bawa bersama Azalea, sebelum Yuki datang tepat di tengah keduanya dan mengambil alih payung.
“Kami akan pergi duluan ke mobil dan memberitahu pengawalmu kalau kau sedang menunggu.” senyum Yuki jelas menghindari kebersamaan Azalea dan Aiman.
“Hm,” angguk Azalea hampir saja terkena payung Yuki yang diambil sembarangan itu jika ia tidak mundur. Begitu pun dengan Aiman.
“Baiklah, tunggu disini ya.” senyum Aiman tidak protes pada sikap Yuki, selalu berpikir positif.
Selagi Aiman menawarkan diri memegangi payung, Azalea berbisik pelan tapi pasti pada Yuki.
“Semangat ya, Novan dan kau sangat cocok!” tulus Azalea.
Yuki jelas cemberut dan kesal. Menghentakkan langkah untuk segera pergi. Aiman memerhatikannya sekilas dan tersenyum kecil.
__ADS_1