Azalea

Azalea
Mozaik 17 : Dalam Kesendirian


__ADS_3

‘Berikan lukamu itu padaku, agar aku bisa menghancurkannya’


Berada di lorong tangga antara lantai dua dan tiga, Novel dan Tiara saling bersitatap satu sama lain. Beberapa menit lalu Novel menyuruh Tiara menemuinya dan memilih tempat sepi demi menghindari Lydia maupun oranglain. Novel berpikir jika ada kemungkinan Tiara juga mendapat surat teror, atau mungkin Tiara yang mengirimkannya.


“Apa kau mengirim surat ancaman padaku~” tuding Novel sembari melemparkan surat yang ia terima.


Tiara dengan sigap menerimanya, membaca satu persatu surat tersebut. Setelahnya ia menatap cemas ke arah Novel.


“Kenapa kau melakukannya?”


“Bukan aku!” sanggah Tiara cepat, “Aku tidak pernah mengirimimu surat seperti ini, dan kenapa juga...” ia menjeda ucapannya, menyadari argumen Novel yang sudah menuduhnya. Jelas Tiara merasa tersinggung sekaligus sedih, tapi ia lebih mengkhawatirkan keadaan Novel. “Sejak kapan kau mendapatkan ini?”tanyanya terselip keingintahuan yang mendalam, Novel malah mencibir.


“Berhenti bersikap baik di depanku, kau bisa melakukan apa pun jika mau, kau bisa menyingkirkan orang yang menghalangi tujuanmu, begitupun dengan suratnya.” Sinis Novel, dengan pandangan tajamnya yang khas.


“Jika kau menghubungkan ini dengan kejadian satu tahun lalu, sungguh aku tidak menulis surat ini. Kau harus percaya. Dan berhentilah menatapku seakan aku ini menjijikkan, kau tidak tahu apa pun, karena itu…”


“Memangnya apa yang harus aku tahu, kau mengkhianati temanmu demi dirimu sendiri, dan menikmati pertemananmu dengan orang-orang itu. Tatapanmu lah yang membuatku jijik.” Sela Novel.


“Novel!”sentak Tiara menganggap perkataan tersebut keterlaluan.


“Jangan pernah memanggilku! Kau harus bertanggungjawab atas semuanya, jika kau masih punya hati!” kecam Novel berbalik pergi, terlalu lama bersama Tiara kembali mengusik luka di hatinya.


“Katakan sejak kapan surat ini kau terima?” gusar Tiara memegangi lengan Novel yang masih marah dan tanpa sengaja menghempaskan tangan itu dengan kuat.


Tiara tidak sempat menyeimbangkan diri, ia terjatuh bergulingan ke dasar tangga menghantam lantai. Tergeletak tak sadarkan diri tepat di depan kaki Azalea yang menyaksikannya secara langsung.



Dengan telaten Ashita mengobati luka Tiara, kakinya terpaksa harus di gips karena terkilir dan mengalami pembengkakan yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh.


Setelah selesai ia menyuruh Tiara istirahat di UKS sampai pulang sekolah nanti, bahkan Ashita berencana menemaninya pulang setelah beres kuliah nanti. Dengan rasa bersalah dan pikiran sempit Tiara minta maaf, dan benar-benar tidak ingin merepotkan Ashita, sedang Ashita sendiri merasa tidak keberatan, ia sangat khawatir saat tahu Tiara terluka. Walaupun begitu Ashita tidak menyalahkan siapa pun, Novel melakukannya tanpa sengaja.


Selepas Ashita pergi, selang beberapa lama Lydia datang dengan langkah tergesa menghampiri Tiara dan menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan, menanyakan apa saja yang terluka.


“Kenapa kalian bisa mengobrol berdua. Awas saja Novel jika aku menemukannya, berani sekali dia melukaimu! Dia pikir siapa, gadis menyebalkan, setelah mengkhianati teman dia berperilaku seperti ini, sifatnya benar-benar menjijikkan, seperti …” Tiara berusaha tidak mendengar makian Lydia dan justru merasa tidak enak mendengar Novel dikatai kasar seperti itu.


“Hentikan, dia tidak sengaja.” suruh Tiara dan barulah Lydia berhenti memaki, memperhatikan kondisi Tiara yang pastinya akan kesulitan berjalan.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Katakan, aku akan memberinya pelajaran!” tuntut Lydia.

__ADS_1


“Hanya salahpaham, lagipula aku yang salah.” tolak Tiara menjelaskan lebih dalam.


“Mana bisa kau bilang begitu!” kesal Lydia tak terima.


“Sungguh, jangan lakukan apapun!” tukas Tiara lugas. Sudah cukup Lydia memperlakukan Novel dengan buruk di kelas, Tiara tak ingin menyakiti Novel lagi.



Duduk berdua di taman belakang, Azalea bersikeras menyuruh Novan untuk bertanya pada Novel apa yang terjadi, intinya Azalea ingin tahu permasalahannya dan ingin membantu. Entah kenapa Azalea merasa ada sesuatu yang lebih parah akan terjadi dan dia ingin melindungi mereka, terlebih Novel, jika bisa ia ingin agar gadis itu kembali ceria.


Novan, bukannya tidak ingin tahu, ia lebih syok dan kesal pada dirinya sendiri karena selama ini tidak menyadari apa yang terjadi. Diamnya Novel ternyata merupakan pertanda jika ia mempunyai masalah. Merasa tidak berguna sebagai kakak apalagi saat ini Novel membolos, Novan ingin sekali merutuki kebodohannya, tapi, melakukan itu bukanlah jawabannya, ia harus menjernihkan pikiran dan membantu menyelesaikan masalah Novel.


“Aku mengerti, aku akan mencari tahu apa yang terjadi, tenanglah!” tepukan tangan Novan di bahu Azalea membuat gadis itu sedikit bersalah. Harusnya ia yang menghibur Novan.


Malam setelah Azalea mengetahui fakta bahwa Tiara adalah anak yatim piatu, ia segera menghubungi Novan dan berpikir jika ini ada sangkut pautnya dengan Novel. Merasa penting Novan berterimakasih dan akan menggunakan info ini untuk lebih dekat dengan Novel.


Sepulangnya dari sekolah setelah menjenguk dan minta maaf pada Tiara, Novan berdiri di depan kamar Novel yang terkunci dari dalam. Merasa percuma jika bicara sekarang, Novan memberinya waktu untuk menyendiri dan duduk di sofa menghadap televisi. Dengan mendadak, ponselnya berdering, kaget, Novan segera mengangkatnya.


“Hm Uzi, maaf aku tidak bisa latihan. Ada sesuatu.” tolak Novan, sedang Fauzi yang sudah tahu situasinya hanya menjawab iya, menyuruh Novan menjaga Novel, lalu diakhiri kata semangat.“Thanks,” ucap tulus Novan, setelahnya menutup sambungan, menoleh ke arah kamar Novel.


Raut wajah Novan terlihat lesu, banyak pikiran berkeliaran menghantuinya, kecemasan yang sulit dihilangkan. Apa adiknya itu bisa menangis? Apa sekarang ia sedang menangis? Mungkin Novel syok akan apa yang telah diperbuatnya pada Tiara? Menyalahkan diri sendiri? Ada apa diantara mereka? Setelah dipikir, Novan tidak tahu apa pun tentang Novel. Membuatnya hanya bisa tersenyum miris.



“Kau baik-baik saja? Apa perlu ku masakkan sesuatu?” tawar Novan tersenyum kecil, seakan dengan itu ia bisa menyalurkan kasih sayang dan kehangatan pada Novel. Tapi tatapan mata Novel terarah pada kotak yang ia bawa, tertulis namanya.


Tanpa menjawab, Novel mengambil kasar kotak itu dan berbalik. Novan menghentikkannya, mencengkram lengannya.


“Bicaralah, kakak ingin mendengar suaramu. Jangan seperti ini!” pinta Novan merasa sedih, hubungan mereka sudah cukup buruk. Novan sangat ingin memperbaikinya.


“Ini milikku, jangan pegang apa pun yang tertulis namaku!” suruh Novel menolak menatap Novan.


“Isinya, surat teror itu bukan? Bukalah bersamaku!” dengan penuh harap Novan ingin Novel menurutinya. Ia sudah membaca dua surat yang sebelumnya dan loker Novel yang masih ada surat berdarah itu. Hati Novan terasa teriris, luka Novel sudah banyak, dan kini ia malah membiarkan luka lain tubuh dalam hati adiknya.


Novel berbalik ke arahnya, berusaha sekuat yang ia bisa menunjukkan keberanian, menyembunyikan rasa takut dalam sorot mata yang tajam. Perlahan cengkraman tangan Novan terlepas, dan Novel membuka kotak itu. Betapa terkejutnya mereka berdua, bahkan Novel melempar kotak itu dengan cepat, terhenyak syok, sontak mundur karena ngeri. Wajahnya memucat dan bibirnya bergetar.


Ada tikus mati di dalamnya, dengan matanya yang terbuka dan darah yang masih mengalir.


Novan mencoba tenang, mengambil secarik surat yang ada di bawah bangkai tersebut.

__ADS_1


‘Ia ketakutan dan butuh teman, matilah!’


Novan mengangkat wajah dan mencoba menatap Novel yang bergerak sangat pelan, beranjak masuk ke kamar. Novan terlambat menghampirinya saat pintu telah dikunci dari dalam.


“Novel, dengarkan aku, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu apa pun yang terjadi, jangan takut, kau bersamaku. Jangan bertindak bodoh dan istirahatlah, aku disini, akan tetap di depanmu sampai kau berlari padaku dan menyandarkan hatimu yang luka itu padaku, bahkan kau bisa memberikannya, agar aku bisa menghancurkan itu.” tutur Novan terdengar jelas oleh Novel yang terduduk lemas di balik pintu, memeluk lututnya sedih tapi tanpa tangisan.



Tengah malam, pukul. 01.10.


Pintu itu terbuka dengan munculnya Novel yang tampak semrawut akibat ia memukuli dan mengacak rambutnya frustasi, bulak-balik kanan kiri di atas kasur tidak bisa tidur, menendang selimut, menariknya lagi dan menatap seluruh ruangan kamarnya dengan rasa takut yang menguasainya.


Ia melihat Novan yang tertidur di sofa dengan tubuh menekuk, terlihat pucat karena kedinginan. Tadi itu Novel ingin sekali membuka pintu dan menangis di pelukan kakaknya, tapi ia tidak bisa, jika ia melakukannya, hatinya justru akan semakin terluka. Mana bisa ia membagi kesedihan dan kelukaan itu padanya. Novan tidak tahu seberat apa bebannya saat ini.


Tersentak kaget, Novel menatap kesal ponsel Novan yang menyala dan bergetar di meja, memperlihatkan nama Azalea yang tertera di layarnya. Membuang napas perlahan, Novel mengangkatnya, jujur ia memang butuh seseorang untuk bicara, suasananya terlalu gelap dan sepi.


“Oh Novan, akhirnya kau mengangkat telepon. Bagaimana? Novel baik-baik saja, dia bilang sesuatu padamu! Pokoknya kau harus terus bersamanya dan menghibur, bantu dan temani dia. Kurasa akan ada sesuatu yang terjadi, ia mendorong Tiara tidak sengaja. Teror itu kau sudah tahu pelakunya? Ah, aku benar-benar mengkhawatirkan Novel.” cerewet Azalea tanpa jeda, nada suaranya terdengar tulus. Novel sesaat merasa tenang.


“Novan bicaralah!” suruh Azalea, ia lagi-lagi merasa bersalah sudah bicara terlalu panjang.


“Ini aku, Novel.” seakan tersambar petir di malam hari yang gelap, Azalea terbius. Ia sudah keceplosan tadi.


“Ah Novel rupanya, kau baik-baik saja?” tanya Azalea sedikit gugup dan kikuk, ia gagal bersikap elegan. Novel mendengus tertawa kecil.


“Kau menganggu, ini sudah malam!” ucap Novel.


“Hm kau benar, kalau begitu aku akan menutup teleponnya.”


Terdengar Azalea menjauhkan telepon dan hendak menutupnya, “Tunggu sebentar!” suruh Novel, Azalea urung menutup telepon, “Bisakah kau menelepon nomorku? Aku, aku ingin tidur.” tutur Novel antara malu dan bingung. Azalea di sana tersenyum senang, sepertinya Novel ingin ada seseorang menemaninya dan terlalu malu jika meminta Novan.


“Baiklah.” Azalea sama sekali tidak keberatan, ia senang jika ada seseorang yang mengandalkan dirinya.


Novel bergegas kembali ke kamar setelah menyimpan ponsel Novan, mengunci pintu dan menatap layar ponselnya. Langsung saja mengangkat telepon dari Azalea.


“Wuah cepat sekali sudah diangkat, kau menungguinya.” kekeh Azalea.


“Tidak, kebetulan saja ponselnya ada di dekatku.” elak Novel.


Di balik pintu, Novan berdiri dan mendengarkan. Sepertinya Azalea diminta menceritakan sesuatu untuk membuat Novel tidur. Merasa lega, Novan berharap Novel akan segera menerima uluran tangannya.

__ADS_1


Novan mengangkat layar ponsel yang sempat berkedip, satu pesan dari Regi, menanyakan perihal Novel dan menawarkan bantuan untuk mencari pelakunya. Benar, secepatnya mereka harus menemukan pelaku teror.



__ADS_2