
Tak ada absensi, Bu Warda sudah hapal wajah dan nama semua siswa, sehingga ia hanya mengeluarkan ponsel.
“Bersiaplah untuk berlari mengelilingi lapangan selama 30 menit.” Alih-alih mengadakan pemilihan ketua kelas yang sudah jadi tradisi sekolah di tahun pelajaran baru, Bu Warda malah menyuruh mereka berlari. Mengundang banyak tanya, dan Agus memberanikan diri untuk interupsi.
“Bu, apa kita tidak akan mengadakan pemilihan ketua kelas?”
“Waktunya sudah dimulai.” Bukannya menjawab, Bu Warda malah memperlihatkan stopwatch di ponselnya dalam timer yang sudah ditentukan. Seakan sadar itu perintah mutlak, tak ada pilihan selain menurut, satu persatu siswa mulai berlari.
Beberapa siswa ada yang menyerah dan berhenti, syukurnya Bu Warda tidak mengomentari hal tersebut. Waktu setengah jam yang terbilang lama jelas hanya menyisakan sedikit siswa yang bertahan.
Agus, Fauzi, Novan, Devi, Ulfah, Niska dan Azalea. Rekor yang cukup mengejutkan bagi Azalea, yang rupanya...
10 menit lalu, awalnya Azalea berlari dengan semangat, namun mengingat waktu yang diberikan sangat lama maka Azalea mencoba memilih berlari santai, menikmatinya. Kala ia mendongak melihat langit, Azalea tersenyum sendiri. Sebuah perasaan bebas dari setiap hembusan angin yang seakan memanjakannya.
~azalea.fiction~
Di menit yang sama, tak sengaja matanya melihat Niska yang berlari di depan. Setelah dipikirkan tak banyak yang ia ketahui tentang Niska, kecuali sifatnya yang keras kepala dan tangguh, ia juga tidak mudah kelelahan, seperti halnya sekarang, masih berlari disaat beberapa siswa lain menepi karena tak kuat.
Merasa tertantang, Azalea mengejar, menyamai larinya dengan Niska yang menyambut dengan palingan wajah enggan.
“Dipikirkan pun pada akhirnya jawabannya adalah kau,” Niska mempercepat lari, Azalea menyeimbangkan, “Kau yang menyimpan seragamnya untukku, memesan dua untuk ku pakai kan? Pasti kau tahu kakek akan memberi rok,” Niska sangat cepat, Azalea sedikit kewalahan.
“Aku yakin itu kau, dan suatu saat nanti aku akan tahu alasanmu membenciku!” kukuh Azalea.
“Terserah kau.” Tukas Niska. Kali ini Azalea tak menyusul, membiarkan gadis itu berlari menjauhinya. Perlahan Azalea menyunggingkan senyuman, dan melanjutkan dengan riang, se-ceria kuncir kudanya yang bergerak ke kanan juga ke kiri.
~azalea.fiction~
Jalan pikiran dan rencana Bu Warda tak bisa ditebak, dia selalu punya cara untuk menilai sesuatu. Dan kini setelah menghabiskan waktu 30 menit di lapangan dengan lari, Bu Warda mendiktekan sejarah di masa penjajahan Jepang dalam waktu yang lama, dengan siswa yang menulis terburu-buru, setelah itu menyuruh siswa membuat karangan bebas sebanyak halaman yang ditulis.
Ricuhnya bukan main, banyak dari para siswa tak paham dan harus memulai darimana, meski begitu mereka tak bisa menolak dan mulai sibuk dengan pemikiran masing-masing. Azalea melirik Niska yang sudah menulis, tampak tenang, walaupun hanya beberapa kata yang baru ditulis gadis ter-dingin di sekolah itu. Sedang Azalea, ia sedikit gamang untuk memulai, namun akhirnya, dengan diawali namanya, Azalea mulai menulis, anggap saja ini diary.
Sehabis itu, seakan tak ada habisnya. Bu Warda menyuruh mereka membuat satu karya, dan dia akan datang untuk memeriksa tepat di akhir batas waktu.
Seperti kebiasaan, Azalea melirik Niska.
“Apa yang kau lihat!” sinis Niska,
“Terserah aku dong.” Tukas Azalea, dan kemudian mengeluarkan perkakas jahitnya, ia akan membuat boneka kecil.
__ADS_1
Sementara itu.
Petikan senar gitar, melodi yang indah dan sesekali nada ringan dari bibir Novan mengundang decak kagum para siswi yang malah menontonnya ketimbang membuat karya. Sosok Novan yang tengah bermain gitar di pangkuan dan sesekali memainkan kunci nada mengalihkan perhatian mereka. Disisinya, Fauzi malah sibuk menulis puisi dan bingung sendiri.
Keanehannya kembali, ia menulis rangkaian kalimat, mencoretnya, dan membuang kertasnya ke belakang kursi hingga terdapat banyak remasan kertas disana. Merasa terganggu juga, Novan terhenti.
“Kau bagus dalam membuat origami,” sarannya. Fauzi seakan dapat pencerahan, berhenti lalu menyimpan bolpoin. Berbalik ke belakang mengumpulkan kertas dan mulai membuat origami hewan, diawali kucing. “Aku tidak boleh membuang sampah sembarangan.” Gumamnya sambil manggut-manggut, menikmati momen tugas ini.
“Kurasa gitarmu menganggu oranglain,” ujar Fauzi walau pikirannya terfokus pada kebun binatang buatannya, origami macam-macam hewan.
Novan tersadar, Agus sempat mendelik sebal kearahnya. Dengan pergerakan simpel, ia simpan gitar di samping bangkunya, mengambil dan memasang earphone, mendengarkan musik dan memejamkan mata tanpa melakukan apapun lagi.
“Syukurlah aku pernah ke kliniknya Regi,” lega Fauzi.
~azalea.fiction~
Tak masalah jika harus berlari, merangkum, membuat karangan, dan juga karya, tapi waktu makan yang dibatasi membuat mood Fauzi menurun drastis. Walaupun ia makan sedikit tetap saja ia harus mengisi energinya yang sudah terkuras, dan ia tak ingin terburu-buru dalam soal makan. Sayangnya, Bu Warda berada diantara koki dan ahli gizi sekolah, khusus melayani jatah makan siswa 2-1.
Jadilah siswa 2-1 berhamburan ke tempat mana yang kosong agar tepat waktu. Untungnya, Regi sempat mengosongkan kursi untuk ketiganya.
Fauzi makan dengan lahap, Novan memperhatikannya memberikan tumis sosisnya untuk Fauzi yang berterimakasih melalui mata berbinar. Sedang di depan Regi, Niska makan sedikit.
“Ya,” ucap Niska pelan namun pasti, tersenyum teramat kecil entah dalam artian dingin atau tulus.
Dan yang paling diam adalah Gian, dengan makannya yang biasa saja.
Di tribun basket.
Dalam ruangan outdor tersebut, Azalea merasa tenang dan nyaman meski hanya berbekal roti dengan segelas susu pisang. Semenjak masuk sekolah Azalea sering menghabiskan waktunya disini, selain karena jarang dilewati oranglain, juga ia sengaja menghindari kantin. Di tempat itu banyak sekali orang memperhatikan dan mencemoohnya dalam pandangan maupun pembahasan ringan.
Azalea akan disuruh maju ke depan walau berada dalam antrian paling belakang. Akan diberikan lauk yang lebih banyak, tempat duduk yang mendadak disterilkan, dan lainnya. Sangat tidak nyaman, dan jika Azalea berkomentar, mereka lebih peduli dengan tanggapan kakek nanti. Yang biasanya makan di ruangan besar, dengan banyak makanan enak serta selalu dilayani, maka sebisa mungkin mereka akan menyediakan itu pada Azalea saat di sekolah.
Sayangnya Azalea justru merasa terbebani.
~azalea.fiction~
Tergesa memasuki kelas Azalea merutuki dirinya sendiri yang tidak tanggap, harusnya ia tahu bahwa akan ada batas waktu yang diberikan Bu Warda. Dan kini ia terlambat masuk kelas, hampir semua siswa 2-1 sudah pulang lebih awal.
“Kau mau kutemani?” tawar Novan, disaat Azalea tahu tugas terakhir adalah membersihkan meja dan loker masing-masing.
__ADS_1
“Tidak perlu, sebentar kok.” Tolak Azalea mengerling Niska yang baru saja menutup loker bukunya.
“Kau yakin?” gamang Novan, ia cukup bersalah karena tak sempat memberi pesan kalau mereka hanya istirahat 15 menit.
“Hm,” angguk Azalea, menahan diri untuk tidak menghampiri Niska.
“Aku pulang dulu,” Fauzi angkat bicara, karena Niska sudah keluar dari pintu belakang kelas.
“Kau sudah mau pulang, apa kalian akan menjenguk Robby?” Tanya Azalea.
Fauzi dan Novan bersitatap sekilas,
“Ah itu …”
“Aku tahu, pergilah.” Lekas-lekas Azalea menyela. Fauzi pernah bilang jika Niska tak ingin Azalea menjenguk Robby terlalu sering.
~azalea.fiction~
Esok harinya.
Kelas 2-1 dibuat gempar dengan pengumuman Bu Warda sebelum pelajaran masing-masing dimulai. Dimana pemilihan pengurus sudah ditentukan dari hasil kemarin. Fauzi sebagai ketua kelas, Azalea sebagai wakilnya, Niska menjabat sekretaris, Elly bendahara, Agus sie upacara dan lainnya.
Menuai banyak kontra, protes dari siswa mengenai hak memilih serta berpendapat, Bu Warda membuat mereka bungkam saat Ketua Dewan memberi hak baginya melakukan apa pun terkait perkembangan dan kelancaran kelas. Dan baginya penilaian yang ia berikan demi kelas.
Tidak beruntungnya Azalea, ia kembali menjadi bahan gunjingan seakan-akan jabatan wakil kelas tak pantas untuknya, sebagian menebak ia mendapatkannya karena uang dan kekuasaan. Padahal dari dulu Azalea tidak pernah masuk kepengurusan, tak ada yang tahu bahwa Azalea lah yang menghindari hal tersebut, lagipula ia seakan dianggap tidak ada. Miris memang cucu dari pemilik sekolah ternyata dikucilkan dengan cara dihindari.
Azalea segera menemui Bu Warda, mengutarakan keinginannya untuk mundur.
“Kau ingin tetap berdiam diri di tempatmu?” Tanya Bu Warda. “Azalea Putri, jika ini berkaitan dengan kekuasaan kakekmu, maka kau salah. Aku memilihmu dari perpekstif ku sendiri. Apa kau meragukanku?”
“Tidak bu, aku hanya tidak bisa melakukannya. Jabatan ini akan mempengaruhi evaluasi siswa, dan bagiku …”
“Kau juga seorang siswa. Apa selama ini kau menganggap dirimu bukan siswa? Seorang yang istimewa, begitu?”
“Bu guru,” Azalea menyadari, kata-kata Bu Warda menyinggungnya.
“Keluarlah dari zona nyamanmu. Kau tidak akan keluar selama masih tertahan di tempatmu, meski kau ingin mencoba sesuatu yang baru.”
Yang Azalea tahu adalah keputusan Bu Warda tak bisa diubah.
__ADS_1
~azalea.fiction~