Azalea

Azalea
Mozaik 24 : Gadis 17 Tahun


__ADS_3

‘Apanya yang membaik, ini malah terasa buruk.’


Digiring ke kantor guru, keduanya terlihat pasrah dan kini menghadap guru BK dengan Azalea, Fauzi dan Yuki di sana. Hanya menunduk sedari tadi, mereka berdua mengakui bahwa mereka yang melakukannya. Awalnya hanya satu yang mengaku tapi setelah dipaksa jujur oleh Fauzi akhirnya ia ikut mengakui, dan menyesali perbuatannya hanya saja ia terlalu takut akan dikeluarkan dari sekolah.


Azalea akui mereka berdua terlihat bersalah, meski percakapan sebelumnya seakan-akan penuh keyakinan untuk diam. Tapi saat ini, setelah melihat raut wajah keduanya yang tertangkap dan mengamati kantor guru dengan pandangan menciut, Azalea tahu mereka merasa ketakutan.


“Apa alasan kalian melakukannya? Bukankah kalian tahu itu kesalahan fatal, merusak properti sekolah dan paling parah menghancurkan bunga.”


“Itu, itu …” gagap dan terbata, dia menoleh pada temannya. Yang punya ide melakukan itu, dan dia hanya menemani.


“Itu karena aku,” terhenti, ia merasa akan mendapat hukuman berat.


“Karena mereka tertekan,” lanjut Azalea, membuat semua mata beralih melihatnya, Fauzi kaget begitu pun dengan Yuki, mereka bertiga sudah tahu alasan dibalik kedua pelaku melakukannya, dan itu adalah hal konyol. “Mereka harus belajar dan terus belajar, setiap hari mereka pulang malam karena harus les dulu. Dan ini karena ia ingin melampiaskan hal itu, ya walaupun perbuatannya tidak bisa dibenarkan, mereka pantas mendapat hukuman, tapi tolong bapak pertimbangkan lagi hukuman yang akan diberikan. Mereka akan berjanji tidak melakukannya lagi!” mata Azalea mengarah pada keduanya, menyiratkan kalau mereka memang harus berjanji dan menerima hukuman.


Merasa lega, terlebih Azalea adalah pemilik sekolah, mereka akhirnya mengangguk dan berjanji. Yuki terus memperhatikan Azalea yang tersenyum lega diakhiri omelannya pada mereka berdua untuk tidak menyakiti bunga.


Setelah itu. Yuki mengekor tanpa niat mengikuti Fauzi dan Azalea yang berada di depannya.


Seperginya mereka dari kantor, Azalea menyuruh kedua pria itu minta maaf pada Pembina klub bunga juga menasihati kalau perasaan itu bukan sesuatu yang bisa dipaksa maupun diprediksi, mereka harus memahami dan belajar dengan baik.


“Kau itu berusaha menunjukkan jiwa murni? Jadi gadis baik hati gitu,” ledek Fauzi. “Mereka melakukannya karena penolakan cinta. Dan kau, wuah ini hebat sekali. Kau meringankan hukuman mereka!” protes Fauzi.


“Di skorsing satu bulan dan disuruh membersihkan halaman sekolah selama sebulan hal buruk loh.” bela Azalea.


“Tetap saja, mereka tidak boleh melakukan itu meski ditolak oleh Pembina klub bunga. Itu namanya balas dendam,” Yuki membenarkan dalam hati.


“Jadi kau ingin mereka dikeluarkan? Menanggung rasa malu karena ditolak dan dibicarakan satu sekolah akan keburukan itu. Kau tahukan semua orang bisa marah karena hal sepele, dan ini soal perasaan, aku sudah punya pengalaman dibenci banyak orang karena melukai perasaan mereka meski tanpa kulakukan.” Dilangkah dan ucapan itu Yuki berhenti berjalan, dan Fauzi menyadarinya, tak lagi membahas. Setelah Azalea menjauh beberapa langkah darinya, Fauzi menoleh ke arah Yuki yang menunduk, tengah berpikir, sekilas Fauzi tersenyum kecil.


“Tunggu aku, ayo kita selesaikan piketnya dan pulang, pengawalmu pasti mengamuk!” seru Fauzi dan setengah berlari menyusul Azalea.

__ADS_1



Tanpa tahu apa pun dan menyadari niat Yuki, Azalea hanya mengikutinya, berusaha menyamakan langkah yang berujung ketinggalan lagi karena Yuki seakan terlihat menghindarinya. Sejak tadi pertanyaannya tidak digubris, Azalea akhirnya setengah berlari menyusul dan menghadang.


“Kenapa kau membawaku kesini? Aku tidak masalah dengan jalan kaki, tapi pengawalku akan datang dan mengomelimu nantinya.” tegur Azalea mengingatkan.


“Berhenti mempedulikan oranglain!” kesal Yuki.


Lebih cepat mencengkram tangannya sebelum Yuki berjalan kembali, Azalea menuntutnya untuk lebih terbuka dan bicara.


“Kau tahukan kalau aku membencimu, karena itu aku akan membawamu ke tempat yang tidak pernah kau kunjungi!” ini lebih dari sebuah pertengkaran antara adik dan kakak, Yuki tidak tampak membencinya dengan seutuhnya benci. Dan Azalea merasakan itu, memutuskan mengikutinya tanpa bertanya lagi.


Mereka sampai di kolong jembatan 66, setiabudi. Masuk dari jalan satu arah di sebelah kiri Hotel Four Seasons, dilanjutkan melangkah masuk ke sebuah pintu di balik warung yang terbuat alami dari beton besar yang kurang lebih memiliki tinggi 1 meter, sehingga dengan terpaksa Yuki disusul Azalea berjalan menunduk saat melewatinya.


Mereka berhenti di sana tanpa masuk lebih dalam lagi. Setelah mengamati lebih jelas Azalea menyadari ada banyak orang, beberapa rumah semipermanen kecil dari triplek dan tempat itu berbatasan langsung dengan waduk.


“Mereka adalah orang-orang yang berbeda darimu, kau dan kehidupanmu. Dibanding mereka yang mencoba bertahan hidup dari kerasnya dunia, kau telah merusak pertahanan itu tanpa disadari. Kau bilang mereka sudah menerima hukuman yang berat, hanya karena penolakan cinta, tidak, mereka sudah melewati batas dan menghancurkan tempat baik. Kau tidak bisa membantu oranglain, bahkan sekedar peduli pun kau tidak mampu.” Azalea menatap tajam mata terang coklat milik Yuki, mengartikan apa yang sebenarnya ingin ia katakan. “Kau hanya anak remaja kaya yang manja dan tidak tahu apa pun tentang kehidupan, jika hanya dibenci saja bisa membuatmu bebas menentukan simpati, maka kau salah. Kau harus mengalami luka lain sebelum itu.” tukas Yuki melanjutkan dan juga mengakhiri perkataannya sebelum ia pergi meninggalkan Azalea yang membeku, tersinggung dan tersakiti di sana. Menatap beberapa anak yang tampak senang bermain bersama, dengan pakaian biasa yang terlihat kumal dan sorot mata yang sedikit redup.


Seorang anak perempuan menengadah padanya, mengamati dirinya yang berpenampilan baik, mewah dengan dress elegan warna navi berlengan panjang, rambut panjang hitam lurus yang lembut dengan gaya kepang bando terbuat dari rambut senada yang cantik.


“Baju kakak bagus sekali,” ungkapnya jujur.


Azalea tampak bingung, “Ah, benarkah?” kakunya, dan kemudian mengeluarkan sebatang coklat dari tas selempang kecilnya, memberikan coklat itu padanya, “Ini untukmu.”


Dengan senang hati anak perempuan itu mengambilnya, ada satu anak yang datang memperhatikan coklat itu, Azalea makin bingung dan ia mengeluarkan sebuah permen lollipop, memberikannya. Tapi tak dinyana, hal itu justru membuat beberapa anak menghampiri dan menatap ia penuh harap. Azalea jelas tak tahu harus bagaimana, ia tidak membawa apa pun untuk bisa diberikan lagi.


Seorang ibu yang mungkin? lebih muda, tua atau sebaya dengan ibunya datang, mendekati kerumunan anak-anak yang mengeliling Azalea.


“Pergilah, di sini kau tidak bisa memberi hanya pada satu anak. Sebelum terlambat, pergilah!” suruhnya, yang semula Azalea pikir ibu itu akan bicaara kasar atau memarahinya, tapi sebaliknya, malah terdengar ramah.

__ADS_1


“Baiklah, terimakasih.” tulus Azalea, meski ia kembali menoleh pada anak-anak itu, mereka pastilah belum pernah mengenakan pakaian mahal dan makanan enak yang selalu ia dapatkan. Mendesah, Azalea sadar ia bukanlah apa-apa dibanding mereka yang mendapatkan sesuatu karena usahanya sendiri.



Kelas Tambahan Bahasa Jepang.


Di lantai paling atas dalam ruangan khusus yang tersedia fasilitas wi-fi, komputer dan listening, mereka yang berjumlah 22 itu sedang bersiap-siap untuk tampil sebagai pembawa berita di dalam dan di luar ruangan, dalam bahasa Jepang mengenai Jakarta. Mereka yang sudah dibagi dalam 11 kelompok yang hanya terdiri dari 2 anggota itu duduk dan diskusi bersama, kecuali Yuki dan Azalea. Mereka tampak serius dengan tugasnya masing-masing.


Hingga.


Saat giliran mereka, Yuki menyerahkan laporannya pada Azalea, menekankan agar gadis itu membaca sesuai naskah. Sempat ingin protes Azalea hanya menanggapinya singkat, mengambil dan duduk di kursi sebagai pembawa berita, dan Yuki sebagai reporter di tempat kejadian.


Pembahasan yang cukup baik, pelafalan bahasa Jepang yang meningkat dan volume nada yang sesuai dengan kriteria pembawa berita. Azalea mendapat apresiasi baik dari ekpresi guru. Tak jauh berbeda, Yuki yang nyatanya memang mahir dalam bahasanya itu menyampaikan dengan kata-kata yang baik dan intonasi yang menyakinkan.


Tiba saatnya dipenutupan. Azalea tampak berpikir sejenak.


“Salah satu penyebab banjir ini terjadi salah satunya adalah dari masyarakat, karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan. Dimana mereka membuang sampah sembarangan tanpa mendaur lebih dulu, juga tidak mengindahkan limbah yang ada dan membuat beberapa saluran air tersumbat. Tak bisa dipungkiri, masyarakat pun harus diberi penanggulangan untuk merubah kebiasaan tersebut dan mulai dengan gotong royong.” Penuturan Azalea diluar materi dan skrip yang sudah mereka tulis. Harusnya ia mengakhiri dengan penanggulangan yang akan diberikan pemerintah akan banjir yang sering terjadi di Jakarta, setelah itu baru menutup acara.


Guru yang berkaitan mengetahui alur yang berbeda itu, membuat Yuki yang terkejut dengan improvisasi Azalea berbalik memperhatikannya. Mungkin saja raut wajah gurunya itu akan terlihat tidak suka, tapi lebih dari itu, bukan nilai maupun anggapan gurunya, Yuki menoleh pada Aiman yang tersenyum senang.


Kelas berakhir 5 menit lalu, tapi kelas sudah tampak kosong.


“Kenapa kau melakukan perbedaan diakhir tugas tadi?” tanya Yuki mencoba menahan rasa marah karena tidak dianggap. “Kau anggap aku ini apa, kita rekan dalam kelompok ini, nilai kita bisa turun karenanya.”


“Kita bukan rekan, aku menyadari itu beberapa menit sebelum kita tampil.” sanggah Azalea, terlihat serius. “Kita memeriksa tugas masing-masing, dan kau memberikan laporanmu dengan sangat terlambat. Lalu, bukankah kau menunjukkan tempat itu padaku, agar aku tahu kehidupan kumuh yang seperti apa di balik kota ini, sampah dan banjir ada karena itu.”


“Azalea!” sentak Yuki, tak menyangka jika Azalea menilai tempat tersebut sebagai penyebab hal buruk.


“Itu memang benar adanya, seringkali aku melihat anak kecil yang membuang sampah tanpa beban dan rasa bersalah. Karena apa, karena mereka meniru perbuatan orang dewasa, dan karena orang dewasa tidak pernah menegur mereka, hingga sampah itu menumpuk seperti kebiasaan. Dan apa yang terjadi, sampahnya dibuang ke sungai, mengotori air dan membuat kehidupan orang-orang itu semakin gelap. Tak hanya mereka, kita semua lah yang mengotorinya, yang membuat mereka berada dalam titik rendah. Kita semua menyatu dengan sampah, yang tidak sadar membuat sampah itu jadi banjir dan mengotori tempat oranglain berteduh.” Sedikit menghela, untuk mengambil napas, Azalea mencoba melanjutkan setegas mungkin. “Aku memang berbeda dengan mereka, tapi aku tetaplah manusia seperti mereka. Yang tidak tahu apapun dan terkadang melakukan kesalahan, setiap orang punya pribadinya masing-masing. Mungkin dimatamu aku anak manja yang hanya menerima suapan harta dari keluargaku, tapi aku juga seorang perempuan, yang bisa menangis jika aku sedih, yang bisa menjerit kesakitan saat aku terluka dan yang ingin membantu orang selama aku bisa. Karena itu, jangan lihat aku dari sudut kebencianmu, lihatlah aku dari sosokku yang ada, bukan Azalea Putri cucu orang kaya, tapi dari gadis 17 tahun yang terkurung selama hidupnya.”

__ADS_1



__ADS_2