Azalea

Azalea
Mozaik 29 : Bolos Sekolah


__ADS_3

“Jangan berani melepaskannya, bertahanlah!” ancam Azalea penuh penekanan meski tangannya yang memegangi tangan Niska mulai berkeringat, sedang tangan lainnya kesakitan. Pergerakan kecil saja membuat dahan tertarik, Azalea memekik dalam hati, berharap seseorang menyelamatkan mereka.


Bukannya menjawab, Niska malah terkekeh. Azalea menatapnya tajam, melotot agar ia berhenti, kekehannya membuat tubuh Azalea terguncang sedikit. Pertahanan mereka bisa rusak dan keduanya akan terjatuh.


“Hentikan!” lirih Azalea pasti dan terdengar menyuruh.


“Kau memang tidak tahu tentangku, tidak tahu.” lantur Niska.


“Aku tahu!” ralat Azalea sendiri, berharap Niska berhenti.


Mata Niska menatapnya dan melirik tangan Azalea yang berusaha keras mengenggam tangannya, sangat erat seakan-akan tak ingin terlepas.


“Kau benar, aku mengakuinya. Aku membencimu karena tetap ingin bersamamu.” pengakuan Niska yang tidak terduga baik olehnya maupun Azalea. “Lalu bagaimana lagi, aku tidak bisa melakukan hal lain.”


“Berhenti bicara!” suruh Azalea merasakan dahan yang akan terpotong saking kelelahan menopang berat keduanya. Tangannya ingin mencapai yang lain yang lebih kuat tapi itu beresiko. “Pegang tanganku dengan kedua tanganmu, aku akan menarikmu!” lanjutnya.


Niska menurut, mengangkat tangannya yang otomatis membuat dahan sobek beberapa centi, dan tubuh mereka bergoyang. Sialnya, Niska tidak berniat memegangi tangan Azalea, tapi melepas cengkraman Azalea agar ia bisa terjatuh.


“Jangan gila! Kau pikir aku akan melepasnya!” emosi Azalea tertahan, ia tidak bisa berteriak karena ia bisa terjatuh.


“Lepaskan saja!” pinta Niska dengan wajah memelas, matanya sudah memerah. “Kau bisa terjatuh karenaku.” dan dia mulai melepaskan satu demi satu jemari Azalea, yang berontak dan bersikeras mempertahankannya meski dahan akan terpotong sekali pun.



Seseorang memegang dan menarik tangan Azalea. Yang membuat keduanya berhenti. Regi berdiri di sana dengan raut wajah takut, cemas dan marah.


“Diam dan peganglah!” bentaknya pada mereka, segera menarik Azalea untuk ke atas. Dengan susah payah, Regi berhasil menyelamatkan mereka.


Azalea terantuk dari berdirinya merasa lemas, sedang Niska terduduk merasa sakit teramat di kaki serta tubuhnya yang mati rasa. Regi memandangi mereka dengan amarah, yang cukup menyelimuti keduanya dalam dingin, merasa takut.


“Kau ikut aku!” suruhnya dengan mata tajam pada Azalea, berjalan cepat dengan setiap hentakan kemarahan yang terasa. Azalea syok, bingung, mengerling Niska sepersekian detik dan mengikuti Regi. Barulah setelah mereka pergi, dua rekan Regi waktu malam datang menghampiri Niska.


Azalea pikir ia akan dimarahi habis-habisan, tapi setibanya di tenda, ia malah menerima pengobatan dari Regi. Mengobati tangannya yang berdarah dan perih akibat gesekan kuat dengan dahan juga tanah. Tak ada pembicaraan, Regi hanya diam dengan wajah tegas menahan marah, Azalea benar-benar tidak menyangka Regi bisa marah. Ini yang pertama dan terseram menurutnya. Suasana mencekam masih terasa, mungkinkah Regi marah karena mereka bertengkar dan akan terjatuh ke tebing, saking khawatirnya? Lalu kenapa dia hanya menyuruh Azalea yang mengikutinya, dan hanya mengobati Azalea. Niska yang lebih parah, pasti saat ini Niska merasa terpuruk. Ingat Niska, Azalea juga ikut marah, kenapa Niska bisa berpikir untuk mati agar Azalea selamat.


“Pergilah, istirahat!” suruh Regi memunggungi Azalea setelah selesai. Jelas tak ada celah bertanya atau menyela, Azalea sedikit takut, memilih keluar dari tenda.


Di tenda yang lain. Niska dibiarkan sendiri dan menolak diobati, dia hanya duduk terdiam untuk beberapa lamanya. Memikirkan Azalea yang masih mempedulikannya meski ia sudah bersikap kasar, dan saat Azalea mempertahankan tangannya. Selain itu, Niska juga tampak terpukul dan syok akan kemarahan Regi. Ia sempat sedih karena Regi memalingkan wajah darinya dan menyuruh Azalea mengikutinya, tapi setelah dipikirkan, Niska tahu, pasti Regi menahan marah padanya.


Seseorang masuk, membawakan makanan dan minuman.

__ADS_1


“Kau belum makan sejak pagi, makanlah dan istirahat!” suruh Ashita.


Niska seutuhnya mengabaikan itu.


“Kau terlihat menyedihkan,” Niska mendongak padanya, “Aku tidak menyangka jika sainganku selemah ini, pertarungannya tidak akan mengasyikkan. Kau harus mengakui kekalahanmu.” lanjut Ashita yang jelas dipahami Niska, tentang Regi.


Haruskah ia kalah lagi, kembali ditolak.



Suasana rumah tersebut sangat tegang, tak ada yang berani bicara bahkan untuk menghela napas sedetik pun. Kakek Yudistira terlihat sangat marah, wajahnya yang memiliki gurat ketegasan dan dingin itu membius semua orang. Karena Azalea, cucunya ketahuan masuk dalam klub STUPA dan mengikuti kemah di gunung, melakukan hal yang paling tidak berguna bagi kakek dibanding belajar. Sebagai seorang konglomerat jelas kakek akan selalu mencari cara menghasilkan uang dari berbagai aspek dan Azalea malah membuang waktunya untuk bermain, padahal dia harus segera bisa mengambil alih perusahaan kelak membantu ayahnya.


Keputusan pasti, kakek menyuruh Azalea keluar dari STUPA atau tidak ia akan membubarkan organisasi itu. Merasa tak adil, Azalea menolak keras, menentang keduanya dan akan mencari kesenangan hidupnya sendiri.


“Aku tidak akan keluar, dan kakek tidak berhak mengancam pembubaran, organisasinya sudah diresmikan. Bagaimana dengan anggota lainnya!” seru Azalea, sedih dan kesal.


“Kakek tidak peduli, kau hanya perlu keluar atau dibubarkan!” kecam kakek, berdiri cepat dan pergi. Azalea marah, sangat marah.


“Aku merasakannya, untuk pertamakalinya aku merasakan udara yang sesungguhnya.” seru Azalea menghentikan langkah kakek, membuat semua orang semakin menahan napas, sang ibu tampak gelisah.


“Jantungku berdebar sangat keras, menantikan setiap acara yang akan dimulai. Angin, embun dan bahkan langitnya sangat cantik, tapi, haruskah aku hanya menerima udara darimu, kek. Aku juga ingin mencoba terbang, seperti kupu-kupu yang kulihat, menemukan tempatku sendiri, kumohon!”


Merasa sedih, Hana hanya menatap iba Azalea, yang sama sekali tidak menyentuh makanan yang sedari tadi diberikan. Azalea memang dikurung di kamar, tapi sebenarnya Azalea lah yang mengurung dirinya sendiri. Tak ada niatan mengedor pintu dengan keras seperti dulu, memanggil-manggil, memohon, atau melampiaskannya dengan makanan. Azalea malah duduk bagai boneka mati di atas sofa, mengacuhkan makanan dan minuman, dan terus berlanjut sampai pagi.


Hana baru saja berpikir untuk membujuknya keluar, sarapan bersama. Tapi ia urung melakukannya, ketika Azalea sudah keluar kamar mengenakan seragam, pergi tanpa semangat melewati semua pelayan dan ibunya sendiri.


“Lea, makanlah dulu!” bujuk Hana menyusul.


“Aku tidak lapar.” lirih Azalea masuk mobil dan menyuruh supir segera membawanya ke sekolah.


Yudha datang, suami sekaligus ayah Azalea itu merangkul istrinya. Memberi tepukan menghibur.


“Apa kita terlalu bersikap keras pada Azalea, aku merasa buruk sebagai seorang ibu. Dia pasti sangat ingin mencoba hal baru.” sesal Hana sangat bersalah. Yudha menanggapinya dengan senyum simpul.



Melompati pagar dengan sempurna sambil mengenakan celana olahraga, Azalea kini membersihkan telapak tangan dan berjalan gontai menjauhi sekolah. Suasana hatinya sama sekali tidak baik, ia benci pada kakek yang selalu mengatur kehidupannya, dan melarang apa yang ia inginkan. Daripada mendengarkan klub STUPA dibubarkan atau terngiang ucapan kakek untuk menyuruhnya keluar, Azalea memutuskan bolos, tanpa tujuan.


Berjalan menunduk memperhatikan setiap kerikil yang terinjak sepatunya, Azalea menyadari sepasang sepatu berada di depannya, seseorang berdiri tepat di hadapannya. Sempat takut jika orang itu akan memarahinya karena bolos dan membawanya kembali ke sekolah, Azalea mengangkat wajah amat perlahan.

__ADS_1


“Kau bolos? Dengan atribut terbuka seperti itu?” tanya Gian., tunangannya.


Mundur selangkah saat Gian mendekat, Azalea memperhatikan pakaian Gian, dia memakai celana SMA hanya saja mengenakan hoodie biru tua. Apa mungkin dia juga sedang bolos.


“Aku tidak tahu jika cucu konglomerat bisa bolos juga.” ledek Gian. Mendadak Azalea teringat tendangan Gian waktu di atap sekolah. Dia juga seorang petarung, berandal?


Keduanya saling bersitatap, Azalea akui dia tidak begitu dekat dengan Gian. Meski dulu saat kecil mereka sering bermain, namun ketika beranjak dewasa keduanya jarang bertemu dan mengobrol. Hanya satu yang Azalea yakini Gian orang baik karena ia teman karib Regi.


“Hindari tempat ramai, kau bisa saja terlihat. Juga satpam sekitar, kau akan digiring masuk sekolah lagi dan kena hukuman, ya walaupun aku tidak yakin apa kau akan dapat hukuman atau tidak.” sarannya yang berakhir ejekan bagi Azalea. Gian berjalan santai dan melewatinya.


“Kau akan kemana?” tanya Azalea memberanikan diri, kali ini dalam posisi bersampingan mereka saling melihat. “Kau akan bolos kemana?” tanya Azalea lagi menelan ludah, takut-takut Gian marah.


“Hanya karena ayahku mantan petarung bukan berarti aku memukul wanita. Aku akan bolos ke tempat menarik, kau mau ikut?” tawar Gian diluardugaan, Azalea mengerutkan kening, berpikir ikut atau tidak, tempat menarik apa yang ia maksud.


Terus berspekulasi dalam jawaban ya atau tidak, 20 menit selanjutnya diisi oleh tatapan berbinar dari Azalea. Ia dan Gian berjalan bersama berkeliling daerah perumahan yang bernuansa pemandangan indah berbukit.


Sangat menakjubkan, Azalea tidak pernah menyangka jika Jakarta mempunyai tempat seindah ini. Ia pikir pengunungan yang memiliki beberapa rumah hanya ada di daerah tropis, Bandung atau mungkin Pangalengan. Mendadak saja Azalea lupa rasa panas udara Jakarta dan rasa sesak di hatinya.


“Kau menyukainya?” tanya Gian. Azalea langsung mengangguk.


“Ya, ini keren.” tersenyum kecil, Gian menyukai ekspresi wajah Azalea yang polos dan terhibur itu, melenyapkan wajah murung yang tertunduk. Syukurlah jika Azalea menyukainya, Gian pikir gadis itu akan mengeluh karena berjalan terlalu lama.


“Darimana kau tahu tempat ini?” tanya Azalea. Mereka secara aneh mulai tampak akrab, kecanggungan Azalea juga tergantikan dengan ramah.


“Masih banyak tempat lain yang menarik, aku sangat suka keluar sekolah dan jalan-jalan.” sombong Gian, yang Azalea pastikan, keluar sekolah adalah bolos. Dan jalan-jalan adalah keluyuran, tapi, ia bilang banyak tempat lainnya. Itu berarti, “Hm, Jakarta punya banyak teman bagus. Tempat wisatanya juga bagus, kau tahu taman suropati, hutan mangrove, atau taman cattleya? Tempat-tempatnya sangat bagus, kau bisa bersantai dan merasakan pohon rindang yang sejuk, hindari saja keramaian dan cari tempat lain, atau saat bolos. Tempatnya tidak begitu ramai jika di jam itu.”


Bukannya menanggapi Azalea malah memandang Gian intens.


“Ada apa, kenapa melihatku?” gugup Gian.


“Kudengar kau orangnya tak banyak bicara.” sahut Azalea, “Ah, mana bisa kita bolos ke sana, pegawainya akan marah. Dan apa Regi tidak memarahimu, menyuruhmu berhenti bolos! Kau mengajariku membolos, tidakkah itu hal buruk?” kaget Azalea akan fakta itu.


“Kau hanya perlu pakaian ganti, uang sakumu pasti banyak, dan Regi. Bicara tentang dia, saat ini pun dia tidak masuk sekolah.”


“Kenapa?” tanya Azalea setengah berseru, saking terkejutnya, setahunya kemarin Regi baik-baik saja.


“Entahlah,”


__ADS_1


__ADS_2