Azalea

Azalea
Mozaik 26 : Pernyataan Ketiga


__ADS_3

“Kakak!” seru Fauzi frustasi, menghampiri Niska dengan langkah terburu. “Kau ini main kabur saja, aku mencarimu. Dan, ya ampun!” syoknya melihat rumah Regi, “Kau benar-benar datang kesini, mau dibilang apa nanti wanita malam-malam ke rumah pria hanya karena cemburu. Ayolah kak, jadi elegan seperti biasa, dingin, stay cool!!” cerocos Fauzi terlihat kesal, protes dan khawatir.


“Maaf,” ucap Niska.


“Ayo kita pulang!” Fauzi merangkul pundak Niska dan menggiring langkah kembarannya itu untuk pulang. “Dengar kak, Regi tidak suka wanita yang agresif dan posesif seperti ini.”


“Benarkah?” kaget Niska.


“Tentu saja, pria juga butuh privasi dan kebebasan, jika kakak gencar ingin mendapatkannya maka kakak harus tahu dulu kesukaannya. Jangan langsung main cabut aja ke rumahnya!” Niska angguk-angguk paham, “Kau harus jadi wanita feminim, anggun lah setidaknya. Bicara baik tanpa terkesan memerintah dan ikut suka pada hobinya, mengerti!” tekan Fauzi, “Bagaimana pun Regi adalah sahabatku, dia itu orangnya lembut dan penyayang, jadi kakak harus mengimbanginya dong!”


“Kau sedang tidak membualkan!” tegur Niska.


“Kami ini lebih dekat dari yang kalian duga.”bangga Fauzi.


“Kau bahkan tidak tahu apa pun,” ledek Niska.


“Apa yang tidak aku tahu, kalau kakak menyukainya sejak bertahun-tahun lamanya?” canda Fauzi, Niska melepas rangkulan dan berjalan cepat, wajahnya memerah karena malu.


Keakraban mereka terlihat manis bagi Regi yang memperhatikan di lantai atas, melalui jendela kamarnya. Bohong jika Regi tak tahu mengenai perasaan Niska, ia hanya tak bisa membalasnya, karena ia tak merasakan debaran yang sama seperti gadis itu.



3 Tahun lalu.


Niska memutuskan masuk STUPA karena mengikuti Regi, dia menjadi pribadi yang ingin dikenal dan dilihat oleh Regi. Meski begitu tidak ada yang berubah, pria yang sudah menyita penuh hatinya itu tak kunjung memahami perasaannya. Hingga diakhir acara pelantikan, Niska dengan memberanikan diri menyatakan perasaan pada Regi meski ia tahu Regi dan Ashita masihlah sepasang kekasih.


Tak peduli, akhirnya Niska benar-benar menyatakannya, dan Regi menolak. Untuk beberapa minggu hubungan ia dan Regi sempat merenggang, mencoba melupakan yang tak berakhir dengan baik.


2 Tahun lalu.

__ADS_1


Hubungan Niska dan Azalea semakin menjauh, seakan ada tali diantara keduanya untuk tak bisa bersama. Selang setelah itu Regi dan Ashita putus, karena Ashita yang sudah lulus sekolah memutuskan kuliah dan mengakhiri hubungan, antara senang dan bingung, Niska mencoba bersikap biasa. Ia tidak ingin sampai disumpahi sebagai orang yang mendoakan mereka putus.


Tapi perasaan memang sulit ditebak, Niska masih dan semakin menyukainya. Kembali menyatakan cinta dan berujung penolaka. Mungkinkah di tahun ini Niska akan mendapat hal baik dari Regi, jika ia menuruti saran Fauzi?



Sedikit berdandan, memoleskan bedak tipis ke wajah dan lipgloss Niska tampak berbeda, ia bahkan mengenakan jepit rambut sederhana. Mencoba menjadi lebih tenang dan memupuk rasa percaya dirinya.


Tak hanya Azalea yang dibuat bengong, Fauzi juga sempat bingung dengan sarannya sendiri, Niska terlalu mempraktekannya dengan bersikap anggun, cara duduk, berjalan, menyapa, tersenyum dan lainnya, yang pasti bukan dirinya yang biasa. Alih-alih menegur, Fauzi mencoba memberi waktu agar ia bisa menikmati perubahannya itu.


Regi dan Gian tampak serius membicarakan sesuatu dan berjalan bersama sampai Gian tak sengaja menjatuhkan buku dan pulpen Regi. Tentu terhenti seseorang berjongkok mengambil barang Regi dengan gemulai, dengan rambut terurai yang berusaha ia singkapkan dengan anggun, dan memegang pulpen sefeminim mungkin. Lalu tersenyum manis, Gian sentak mundur karena sadar dia adalah Niska.


“Ini pulpennya, kau menjatuhkannya.” ujarnya dengan suara lembur, Gian maupun Regi menganggap Niska aneh.


Setelah itu, Niska pamit pergi dan berjalan dengan elegan.


“Itu perasaanmu saja.” jawab Regi menanggapi seadanya, sepintas menoleh memperhatikan Niska yang menjauh.


Didera perubahan yang mendadak Regi jadi bingung harus bersikap bagaimana, dia menerima keinginan Niska untuk ikut ke klinik, ada pelajaran hewan yang ingin ia pelajari, ia disuruh membedah hewan jadi meminta bantuan Regi. Dibanding itu, Regi sama sekali tidak keberatan, hanya saja sejak berjalan bersama, gadis itu bersikap ramah pada setiap orang dan tidak memasang wajah ketus. Gadis yang dikenal sebagai pribadi dingin dan tegas berubah ramah dan menjaga ucapan dalam waktu singkat.


Tidak berjalan mulus. Niska harus menghadapi rasa phobianya dengan bulu kucing dan terus mengesek hidungnya yang bersin dari tadi. Tak hanya itu ia berlari ketakutan hanya karena seekor kupu-kupu yang terbang, tak menyangka jika klinik hewan juga punya kupu-kupu. Jadilah Niska keluar dari klinik dan duduk di luar, melihat lalu lalang kendaraan sambil merutuki kebodohan dan sifat kekanakannya. Ia jelas tidak biasa dan sangat kesusahan bersikap anggun juga ramah, seakan seperti seseorang mencekik lehernya.


Malam harinya mereka sedang berjalan bersama, Regi menawarkan diri mengantar Niska yang menolak menggunakan mobil pribadi. Suasananya terasa canggung, Niska mendadak menjadi pendiam, mungkin karena malu sudah bersikap berlebihan serta menjerit kaget saat ada kupu-kupu hinggap di bahunya sampai ia bersembunyi dibalik tubuh Regi, yang entah kenapa malah tersenyum kecil melihat ketakutan Niska.


Setibanya di depan rumah Niska, mereka berhenti.


“Niska,” panggil Regi saat gadis yang menyatakan cinta sebanyak dua kali itu akan masuk tanpa bicara. Berbalik ke arah Regi, Niska menunggunya lanjut bicara. “Jangan malu, tadi itu kau sudah berusaha dengan baik. Aku mengakuinya.” senyum Regi yang justru membuat Niska tambah malu. “Tapi kau harus menghentikannya, kau pasti merasa tidak nyaman. Akan lebih baik kau menjadi dirimu sendiri, itu lebih menarik.” sarannya tulus. “Masuklah, istirahat. Aku pergi.” pamit Regi berbalik hendak pulang, Niska memetik jari jemarinya gugup dan bergegas menyusul.


“Regi,” panggil Niska, mereka kembali berhadapan. “Maafkan aku, tapi aku akan mengulanginya lagi. Aku menyukaimu, dan selalu menyukaimu. Kali ini aku tidak ingin mendapat penolakan, kau harus mempertimbangkannya dulu. Dan aku akan menunggu sampai pelantikan selesai.” ungkapan hati Niska terbuka lagi. Dalam sepersekian detik suasana canggung meluap dan ia semakin malu, segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Regi yang terdiam memperhatikannya.

__ADS_1



Robby anak yang tidak betah berada di satu tempat, apalagi rumah sakit. Dia ingin pulang dan berjanji akan terapi dengan rajin di rumah, dan ibunya tidak bisa menolak. Kepulangannya membuat rumah sibuk, begitu pun dengan Tommy, ayah mereka bertiga yang paling semangat. Makanan, kamar, pakaian dan lainnya, Tommy menyambut anak bungsunya berlebihan, membuat istri kedua dan dua anak kembarnya sempat terintimidasi, sadar jika posisi mereka adalah posisi yang tidak berhak diakui.


Seutuhnya mereka bertiga diacuhkan. Niska yang menawarkan diri mendorong kursi roda Robby ditampik kasar, sedang Fauzi hanya memasang senyuman manis yang hanya buatan, dan Mela, ibu kandungnya itu sudah selesai menata masakannya sendiri. Apa pun dan kapan pun ia berusaha terlihat baik, ingin dianggap dan diperhatikan. Sebenarnya disini Mela yang lebih tersakiti, tak jarang itulah yang membuat Niska lebih sedih melihat ibunya sendiri dianggap hina.


“Woi Kak Niska,” panggil Fauzi menghampiri Niska yang baru keluar dari kamarnya, “Bagaimana persiapan besok, siap melantik anggota baru?” tanya Fauzi, yang Niska akui sangat kuat menerima kenyataan dalam keluarga ini.


“Hm, tentu saja. Aku akan jadi panitia tergalak!” cerah Niska.


“Kau ini! Berani sekali menyentuh anakku dengan tangan kotormu! Pergi sana!!” seru Julia mengagetkan keduanya. Serentak mereka menuju dapur, mendapati Julia yang memarahi Mela dan berusaha membersihkan baju Robby yang basah karena air putih, dimana gelasnya masih dipegang Mela.


“Aku hanya ingin membantunya mengambil air, dia ingin minum. Aku tidak sengaja.” sesal Mela. Robby berusaha menghentikan Julia membersihkan baju.


“Tidak sengaja! Aku tahu kau sengaja, kau tidak suka dia sadar dari koma dan pulang kan. Kau senang Fauzi yang jadi tunangan Azalea, dan hendak melenyapkan Robby. Kau pikir siapa dirimu! Wanita murahan yang menggoda suami oranglain, harusnya kau tahu tempatmu berada!” sumpah serapah itu membuat Niska marah. Dan lebih marah lagi saat ayahnya datang, menarik Julia untuk berhenti marah dan menanyakan keadaan Robby, sama sekali tidak membela Mela.


“Aku, aa, aku minta maaf.” gagap Mela dengan wajah merah menahan rasa sedih, dengan sorot mata mengarah pada Tommy, berharap pria tersebut tahu bahwa ia tak sengaja, sedang Tommy malah menghindari tatapannya.


“Sudah untung aku menerima kalian disini. Harusnya kau bersikap lebih baik lagi, sikapmu ini lebih rendah dari hewan!”


“Kau sudah keterlaluan!” sela Niska, Fauzi mencengkram tangannya, mencegah pertikaian dan Mela memelas menyuruhnya diam. “Memangnya apa salah ibuku, dia hanya wanita yang pertamakali dicintai ayah, dan melahirkan kami. Lagipula dia ingin membantu anakmu, kenapa juga dengan menumpahkan air kau menuduh ibuku ingin membunuhnya! Dia sudah minta maaf, apa kau tidak bisa menerimanya saja dan tidak perlu menghina!” situasinya menjadi sangat buruk, kondisi Niska saat ini membuat ia lebih berani. Sudah cukup, sejak mereka kecil ibunya selalu dihina, dan sekarang dimaki di depan ayah yang diam saja. Bukankah ayahnya yang salah, dia tahu akan dinikahkan dengan wanita lain kenapa harus menikahi Mela. Kenapa melahirkan mereka jika untuk dihina oleh semua anggota keluarganya!


“Kau berani sekali! Sayang, apa seperti ini kau mengasuh anak buanganmu ini!” solot dan tegur Julia pada Tommy, yang merupakan hal berat bagi Tommy. Ia mencintai Mela, tapi ia tak ingin kehilangan Julia. Julia lah yang lebih kaya dan punya otoritas lebih darinya.


“Itu karena kau menghina ibuku!”


“Plak,” tamparan Tommy mendarat di pipi Niska dengan keras hingga menyisakan bekas merah. Niska terdiam, tak hanya terluka di pipi tapi juga hatinya, sampai sorot mata kemarahan, kebencian dan kekecewaan itu membalas tatapan ayahnya. Niska menggertakan bibir dan pergi dari sana.


__ADS_1


__ADS_2