
*Seminggu yang lalu. Penthouse, Hotel Kusuma, Jakarta.
Dari semua yang menarik, Azalea Putri terpukau akan layar yang menunjukkan fotonya dari bayi hingga sekarang, dirangkai dengan baik, dan tak jarang ada video kecil. Masa-masa Azalea berjalan, bicara dan berlari riang dengan kakeknya yang menemani. Dilihat berapa kali pun, Azalea paham apa maksud ibunya, kalau Azalea adalah pangkal kebahagiaan kakek. Yudi Kusuma orang yang paling semangat, panik dan cemas saat Azalea dilahirkan melebihi kedua orangtuanya.
Selain layar tersebut semuanya terasa membosankan, karena kebanyakan tamu adalah kolega perusahaan. Pembahasannya pun tak jauh dari pekerjaan.
Hingga, kakek memberikan pidato.
“Sudah 10 tahun berlalu, saat aku berdiri di depan kalian bersama sahabatku, yang saat itu masih menyisakan kami berdua. Kami berlima selalu bersama, belajar dan bekerja, sampai waktu memanggil kami satu persatu dan kini tinggal aku sendiri. Kami memiliki janji yang diikrarkan, dan tak bisa dinyatakan bersama, meski begitu aku akan mewujudkannya hari ini.” Kakek yang Azalea kenal bukanlah orang sentimental yang bisa menceritakan kesedihannya seperti sekarang, karena itu, Azalea terlihat serius. Sampai pandangan mata kakek jatuh pada dirinya. “Aku akan memberikan kado spesial untuk cucuku Azalea Putri dengan sebuah pertunangan ganda,” Mata Azalea melotot, ia jelas terkejut. “bersama dengan Novan Oktavian, Fauzi Abiyyi, Aiman Hadiansyah, Regi Fauzan dan Gian Lukmana. Azalea akan bertunangan dengan kelimanya.”
Kericuhan terjadi dalam bentuk ungkapan tak percaya, saling memastikan keputusan tersebut, begitu pun dengan kelima pria yang disebutkan namanya. Mereka sama sekali tidak tahu menahu akan hal ini.
Azalea tak peduli apapun lagi, kemarahan meledak dalam dirinya.
Sebelum ia protes, seseorang mencengkram tangannya, Azalea beralih menatapnya*.
~azalea.fiction~
Perbincangan mengenai kedatangan Azalea dan kelima tunangannya terdengar dimana-mana, ada banyak lirikan mata ke arah mereka. Azalea yang berjalan di depan kelima pria itu merasa risih dan ingin segera masuk kelas. Novan memandangi punggung Azalea, tahu pasti kalau gadis itu berusaha menjaga jarak agar lebih cepat dari mereka. Fauzi malah asyik menguping pembicaraan para siswa, dan sesekali menimbrung asal. Aiman yang membalas senyum oranglain begitu serius memperhatikan Azalea dengan mata lembut. Di sisi lain, Regi mencoba mengajak bicara Gian yang diam saja sedari tadi, bahkan saat ia dan Aiman berbagi pengalaman liburan, Gian tak mengubris mereka.
Berhenti di depan kelas 2-1, Azalea bergegas masuk dan mendapati bangku depan masih kosong dan segera menempatinya. Walaupun siswa yang disana juga membicarakan rumor mengenai pertunangan ganda.
Disusul Novan dan Fauzi, keduanya memilih duduk di bangku belakang dekat jendela luar yang memaparkan lapangan basket.
Ketiga pria lainnya pergi ke kelas mereka, Aiman di kelas 2-3, Regi dan Gian berada di kelas yang sama 2-4.
~azalea.fiction~
“Kau cukup berani untuk menunjukkan mereka di hari pertama sekolah.” Azalea menoleh ke sampingnya, suara khas dengan nada dingin dan ketus milik Niska Anggraeni menyapanya.
Gadis berkulit teramat putih, memiliki tatapan mata tajam itu membalas tatapan Azalea. Sekilas Azalea tampak menyesal memilih duduk di dekatnya, dan mencoba mengedarkan pandangan ke sekeliling dalam gerakan perlahan.
__ADS_1
“Tidak ada yang kosong, kecuali kau menyuruh dua tunanganmu bertukar tempat denganmu.” Ledeknya. Azalea mendengus sebal. Tak sadarkah Niska jika yang lain enggan duduk di sebelahnya.
Niska Anggraeni adalah kembaran Fauzi Abiyyi yang juga merupakan teman masa kecil Azalea. Dia satu-satunya perempuan, dan dulu sangat akrab dengan Azalea, sampai semenjak masuk SMA Niska berubah memusuhinya, entah karena alasan apa.
“Katakan padaku, kesalahan apa yang kulupakan sehingga kau membenciku?” tuntut Azalea, sudah sejak dulu ia ingin mengetahuinya.
“Hanya karena ingin ..” tukas Niska.
“Malam itu kenapa kau menghentikanku?”
~azalea.fiction~
*Atap Hotel.
Kedua gadis yang dulu sering bercengkrama dan tertawa bersama itu kini saling berhadapan. Paras Niska yang selalu cantik angkuh tersebut menatap tajam Azalea, seakan-akan Azalea baru saja melakukan kesalahan.
“Kenapa kau ingin bicara disini?” Tanya Azalea enggan. Selama ini Azalea mencoba bersabar, menahan diri untuk tidak marah dan menuruti semua keinginan kakek, tapi kado tadi terasa mencekiknya, seakan hidupnya memang tak berarti. Pertamakalinya Azalea merasa membenci kakek.
“Jangan berani membuat kekacauan.”
“Aku mencoba melindungimu.”
“Melindungiku? Hah, setelah dengan mudahnya bilang benci, kau ingin melindungiku? Aku tak butuh dilindungi olehmu, karena aku tak ingin memberikan balas budi apapun padamu!” Azalea menyentak langkahnya hendak berbalik, namun Niska lebih dulu mendekatinya, berbisik.
“Lebih tepatnya melindungi diriku. Dan lakukan saja jika kau punya banyak keberanian untuk membuang kadonya!” kecamnya. Berlalu meninggalkan Azalea yang dalam perasaan tak karuan.
~azalea.fiction~
Semua suara terbungkam kala Bu Warda masuk ke dalam kelas. Suasana hening dan napas terasa tersekat pembatas tak tampak. Bu Warda adalah guru yang terkenal dengan pengajarannya yang aneh, ketat, sangat disiplin, tak sungkan memberi tugas banyak, dan tegas.
Sudah banyak siswa yang takluk olehnya, bahkan wali siswa pun tak bisa berkutik jika memperdebatkan sesuatu dengannya. Pihak sekolah saja mendukung apa yang ia lakukan. Maka saat kelas 2-1 tahu Bu Warda menjadi walikelas mereka, yang hanya bisa dilakukan adalah mengeluh dalam hati.
Di awali tanpa basa-basi, Bu Warda memanggil satu persatu siswa dan membagikan jadwal pelajaran mereka. Satu yang menarik dari sekolah ini adalah sistem belajar mereka yang seperti kuliah. Dimana para siswa akan masuk kelas berbeda sesuai dengan apa yang diambil kecuali 5 mata pelajaran utama, yakni, Matematika, Sains, Bahasa Indonesia, Studi Sosial dan Bahasa Inggris, juga 1 kelas tambahan, Pembinaan Walikelas di hari sabtu, 1 jam sebelum pulang.
__ADS_1
Semuanya sibuk berbagi jadwal masing-masing, memastikan kelas mana yang sama antar teman. Hanya Azalea yang menatap nanar jadwalnya, melirik Niska yang sejak awal sudah menyelipkan jadwal di buku paket Matematika nya. Azalea tak pernah tahu apa yang Niska pikirkan, tapi yang Azalea inginkan sekarang adalah kembali seperti dulu. Ia ingin punya teman, dan hanya Niska yang mengulurkan tangan tanpa ragu padanya, karena bagi yang lain, Azalea terlalu tinggi untuk diraih, juga takut terkena imbas jika sesuatu yang buruk terjadi pada cucu pemilik sekolah tersebut.
~azalea.fiction~
Sempat was-was akan maksud Bu Warda menyuruh mereka keluar dan masuk satu persatu sesuai absenan tadi, akhirnya siswa 2-1 dapat bernapas lega karena hanya di interview mengenai klub. Awalnya mereka bingung dengan absenan baru dan jelas belum hapal sehingga bertanya satu sama lain, dan kini giliran Azalea Putri yang masuk.
Bu Warda duduk di kursi Azalea sebelumnya, namun kali ini di depan bangku tersebut ada kursi lain, dan Azalea duduk disana, hanya ada sebuah ponsel tergeletak di atas meja, alih-alih menggunakan perekam khusus Bu Warda memilih benda privasinya.
“Apa cita-citamu?” Tanya Bu Warda, jelas men-skakmat Azalea.
Masa depannya jelas sudah ditentukan, dan ia tak pernah memikirkan cita-cita.
“Pertanyaan pertamanya terlalu sulit? Tak bisakah kau pikirkan dengan sederhana.” terka Bu Warda yang Azalea yakini tak perlu jawaban.
“Aku tidak punya cita-cita.” Jawab Azalea, beriringan dengan rasa ngilu dihatinya saat berucap. Aneh. Ini terdengar miris.
“Kau sudah menentukan klub apa yang ingin diikuti?”
“Kenapa kita harus mengikuti klub. Sudah saatnya bagi kami mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional nanti. Dan …”
“Kau lupa, itu aturan disini. Keaktifan kalian juga penting di sekolah ini, maksimal 3 klub, katakan apa saja?”
“Aku sudah belajar selama 16 jam sehari,”
“Kau sedang mengeluh di depanku?”
“Tidak, aku hanya bilang, aku tak punya waktu untuk klub.”
“Kakekmu sudah mendaftar dua klub, fashion dan bunga.”
Azalea mengepalkan tangan, selalu semena-mena. “Kalau begitu, daftarkan aku di Klub Pecinta Alam.” Ucap Azalea begitu saja. Ia terbawa emosi, walaupun dulu ia memang ingin mencobanya.
“Kau yakin, kurasa kakekmu tidak akan setuju.”
__ADS_1
“Aku akan menjadikannya cita-cita, setidaknya untuk sekarang.” Yakin Azalea, ya, pikirnya sederhana. Jika segalanya sudah diatur, maka, ia ingin menikmati sisa masa SMA sebelum benar-benar terikat. Izinkan ia berontak sekali ini saja.
~azalea.fiction~