
Setiap langkah yang ia lakukan membuat Yuki semakin penasaran dan tak beranjak dari aktivitasnya mengikuti Azalea dari belakang tanpa ingin diketahui. Sedang yang diikuti tidak menaruh curiga apa pun, membawa ransel yang tampak terisi penuh, serta bersenandung ria. Entah apa yang dilakukan sang putri, tapi Yuki sangat ingin tahu, karena jalan yang mereka lalui sama seperti yang Yuki tunjukkan waktu itu.
Azalea masuk, lebih masuk lagi ke dalam kampung di bawah jembatan itu, dengan pakaian yang sederhana dan tidak mencolok, sepatu yang sengaja dilumuri air kotor dan rambut diikat atas.
Tertahan dan merasa buruk, Yuki melihat Azalea berbaur dengan anak-anak di sana, menyuruh mereka membawa sampah dan menyetorkannya pada Azalea untuk dibuang bersama dengan baik. Menghitung sampah yang dibawa dan dibayar dengan makanan, permen, chiki maupun yang lain. Gadis itu tampak menikmatinya, dan berusaha sebaik mungkin agar mereka merasa nyaman dan mau berbagi dengan yang lain.
Tak hanya itu, Azalea mulai mengobrol dengan beberapa ibu-ibu, dan membantu mereka memasak sesuatu yang sederhana, yang tidak pernah dihidangkan di meja makannya yang mewah. Tapi Azalea, tersenyum manis menyambut itu, terlihat bahagia.
“Dia sangat ahli membuat seseorang tampak buruk.” Gumam Yuki.
Mengemil tidak lagi menjadi favoritnya saat ini, Yuki masih murung akan kenyataan bahwa ia sebenarnya tidak pernah membenci Azalea dan yang membuatnya makin sedih, adalah dia diam-diam mengakui kalau Azalea sangat baik, menarik dan telah menang darinya. Dia terlalu sulit untuk dikalahkan.
“Sayang sekali bukan aku yang pertama, tapi syukurlah bukan Novan. Aku paling cemburu dengannya, dia begitu dekat dengan Azalea, kau tahukan. Azalea akan pergi kencan kemana ya dengan Regi, aku benar-benar cemburu dan sedih. Kenapa harus ada lima tunangan.” keluh Aiman disaat tidak tepat, di samping Yuki yang masih terduduk di taman belakang mengabaikan beberapa cemilan, dan membuat Aiman merasa aneh. “Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja, terlihat pucat. Sejak aku menerima jadwal kau selalu marah dan sensitif, jarang bicara. Kau marah? Kenapa dan sesuatu terjadi?” cemas Aiman memperhatikan Yuki.
“Hm, aku sangat marah, disini.” tunjuknya pada hatinya sendiri, “Seakan-akan yang ada disini akan meledak.” lanjutnya, dengan suara bergetar. Ia benci akan keadaannya sekarang, disaat bersamaan ia merasa bersalah pada Azalea tapi juga sakit karena Aiman. Kenapa dia punya perasaan serumit ini.
Kenapa bisa ia menyukai pria yang setiap harinya, sepanjang hidupnya akan terus membuatnya patah hati. Jantung sialan, pekiknya dalam hati, menyalahkan deru jantungnya yang makin tidak karuan saat Aiman menyentuh kening dan memeriksa tangannya yang terasa dingin.
Yuki menarik lepas tangan Aiman, berdiri dan pergi.
“Yuki!” panggil Aiman.
Beriringan dengan angin malam, Yuki berjalan tanpa tujuan hingga ia tiba di Monas, duduk selonjoran dan mulai menengadahkan kepala melihat langit. Tidak segelap yang ia kira, justru kegelapan itu dalam dirinya. Ia membenci seseorang yang hanya kebetulan berada dalam hati kakaknya, dia menyukai seseorang yang juga kebetulan menjadi kakak tirinya, saat ia menangis sendirian waktu itu, di Tokyo.
Fauzi menutup telepon setelah memastikan Novan berada di mobil untuk pulang setelah latihan. Mereka terlalu keasyikan hingga pulang malam, dan tersadar saat Niska menelepon, berteriak padanya untuk segera pulang agar ia bisa protes. Niska pasti akan menyalahkan Fauzi karena menyuruhnya menjadi gadis lembut yang justru berakhir aneh, ya sesuatu yang tidak terduga beberapa hari lalu.
Selain itu, Niska juga ingin bilang ia menyatakan cinta lagi. Tapi ia urung bicara, takut jika Fauzi malah berkomentar keras. Saat Niska bilang ia mengatakan perasaannya pada Regi sampai dua kali, dulu sekali, Fauzi mengamuk tidak jelas. Bilang dia tidak boleh begitu, begini dan harusnya menunggu dan panjang lebar lainnya. Niska sampai harus menutup telinga dengan earphone dan mengurung diri di kamar mandi sampai suara Fauzi menghilang.
Tapi kali ini, suara Fauzi yang menghilang di telepon tergantikan dengan pandangan mata Novan yang tanpa sengaja melihat Yuki, berada di Monas sendiri dengan wajah menunduk perlahan setelah melihat langit. Laju mobil berhenti, Novan memutuskan keluar, hendak menghampirinya.
Namun disisi lain.
“Yuki, kau ini membuatku sangat cemas!” seru Aiman yang mengharuskan Yuki berdiri, menyambutnya dengan senyum biasa, enggan tapi ingin. “Ada apa denganmu, kau sakit?”
“Sapu tangan itu tidak bisa kupakai dengan airmata senang,” ujar Yuki, Aiman berpikir sejenak dan memahaminya, Novan bisa mendengar mereka, berhubung posisinya sudah lebih dekat dan tidak ada oranglain.
“Apa ada yang membuatmu sedih?” tanya Aiman hati-hati.
__ADS_1
“Hm, dan itu karenamu.” Aku Yuki, Aiman gemetar, merasa bersalah tanpa alasan. “Aku membenci Azalea karenamu, menguntit pria itu karenamu dan mengutuk diriku karenamu.” Aiman mendekat, mencoba memberi hiburan tapi Yuki malah mundur. “Ani, anatagasukidesu (Kakak, aku menyukaimu).” pengakuan Yuki membuat Aiman membeku.
“Yuki, kau,”
“Kau pembohong, selama ini aku berpikir baik-baik saja jika aku menyukaimu, bukan sebagai kakakku, tapi sebagai pria yang menarik hatiku. Aku baik-baik saja meski menyimpannya dalam hatiku dan bersikap biasa, tapi kenapa tidak ada satu pun yang membaik. Ini malah terasa buruk bagiku.” lanjut Yuki, tersenyum teramat kecil.
Hubungan mereka masih jauh dan tidak bisa direkat kembali dengan mudah. Tiara dengan penuh keberanian dan mengabaikan rasa malunya, menemui Novel, menatapnya dengan usaha menyakinkan diri kalau ia masih punya harga diri.
“Tidak,” tolak Novel saat Tiara sudah berhasil mengutarakan keinginannya mengajak Novel menjenguk Robby bersama, dulu mereka adalah sahabat dan Robby tidak tahu jika hubungan mereka sudah merenggang sangat jauh. Saat Novel bertengkar dengannya, Robby mengalami kecelakaan mobil sepulang les dan jatuh koma.
Mendesah pelan, Tiara memperhatikan Novel yang berbalik pergi.
“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf.” sesal Tiara. Ini yang pertamakalinya dia minta maaf setelah kematian Irma. “Terimakasih karena sudah datang ke makam Irma bersamaku,”
“Itu tidak menjanjikan apa pun, kita tidak perlu pergi bersama kemana pun lagi. Akan lebih baik jika kita tidak saling bicara.” sela Novel memunggungi.
Terlalu sulit, kepercayaannya sudah hilang.
Orang kedua yang punya niat membujuk Novel menjenguk Robby, pastilah Azalea. Yang sekarang terus bicara sambil memberikan chiki pada Novel yang bersikeras menolak, meski awalan yang dipakai Azalea adalah tentang pelantikan.
“Bukankah mengasyikkan jika kita berfoto dengan matahari senja. Ah selain itu, biasanya malam hari senior akan menjahili kita, aku harus bagaimana, pura-pura takut atau memang takut?” cerocos Azalea, yang jujur saja membuat Novel mengira dia adalah kelas 1, sangat berisik dan polos.
“Baiklah,” patuh Azalea. “Menurutmu, menjadi anggota resmi bukankah itu sebuah kehormatan? Aku akan menunjukkannya pada temanku, dan membanggakan diri, aku mendapatkannya setelah melewatkan satu tahun, bukankah luar biasa? Lalu bagaimana denganmu, apa kau tidak ingin menunjukkan pada temanmu kalau kau bisa melakukan apa pun tanpanya, dan hidup baik setelah dikhianatinya?” Novel mendelik ke arah Azalea, sudah menebak arah pembicaraan. “Itu melegakan, beban yang selama ini kutaruh sendiri diam-diam, akan berkurang. Aku akan memberikan sertifikatku pada kakek, mengatakan bahwa menjadi pintar itu bukan hanya belajar manajemen.”
“Kau bicara begini agar aku menjenguknya kan!” sergah Novel.
“Hm,” kalem Azalea. “Agar kau bisa menunjukkan bahwa dia bukan orang yang berhak menghancurkan hidupmu, meski kau dikhianati maka dia yang harus merasakan sakitnya. Lihatlah, dia berbaring menunggumu datang untuk menertawainya, dengan begitu perasaanmu akan lega.”
Tahu maksud Azalea, Novel kini ditinggal sendiri, sedikitnya ucapan itu membuatnya berpikir. Dia yang jadi korban tapi kenapa dia yang terpuruk, dia yang dibohongi Robby tapi kenapa dia yang sangat malu untuk menjenguk?
Menuju tempat yang tidak begitu ramai, Niska menekan dial yes pada layar ponselnya. Menerima telepon dari ibunya, yang Niska duga adalah hal penting. Tak banyak basa-basi yang mereka ucapkan, ibunya langsung memberitahu kabar Robby yang sudah siuman dari koma, dan kini dokter sedang memeriksanya. Menyuruh Niska dan Fauzi untuk datang sepulang sekolah.
Niska tahu disaat begini ia harusnya senang karena adik tirinya itu sudah sadar, tapi kenapa hatinya malah resah. Satu hal yang pasti ia akan bertemu kembali dengan ibu tirinya.
Keluarga Niska tidaklah sebaik yang dipikirkan oranglain. Ayahnya mempunyai dua istri, dan ibunya adalah yang kedua, yang menurut orang adalah selingkuhan ayah sebelum menikah dengan ibu tiri. Setahun setelah kelahiran mereka, ibu tiri yang merupakan istri sah ayah melahirkan Robby. Status Niska dan Fauzi semakin jauh dari keluarga ibu tiri dan ayah kandung, mereka selalu diabaikan dan dianggap penghancur rumah tangga oranglain. Tapi karena takut image perusahaan dan keluarga rusak, mereka terpaksa menerima Niska dan keluarganya.
Ibu tiri, seperti yang sering ada dalam dongeng, memperlakukan Niska juga Fauzi dengan buruk. Mengabaikan dan menganak buangkan keduanya, bahkan dengan terang-terangan ia selalu meremehkan dan menghina istri kedua dari suaminya itu.
__ADS_1
Inilah yang ditakutkan Niska, yang membuatnya nekat untuk bertahan.
Sesuatu yang tidak dipahami oleh Azalea.
Bicara mengenai Azalea, gadis itu datang tak lama setelah Fauzi dan Niska tiba, bersama ibu dan ayahnya. Mereka tampak disambut ceria oleh ibu tiri Niska, ibu Julia. Yang berusaha tampak baik bagi keduanya, memperlakukan Azalea dengan mewah. Melihat itu Niska hanya mencibir dalam diam, sedang Fauzi memahaminya, lebih fokus pada ekspresi Azalea yang menyelipkan rasa risih akan perlakukan ibu Julia, dalam raut wajah jelitanya itu.
Esok harinya, ruangan Robby terlihat cukup ramai. Novan bersama ayahnya datang membesuk, memberi buah-buahan dan bunga, yang anehnya membuat Robby bergidik seakan-akan Novan itu kekasihnya. Bisa dibilang keduanya cukup akrab karena Robby dulu berteman baik dengan Novel.
Ketika mereka ditinggal berdua. Novan mengupas buah apel untuk Robby yang memang menyukai buah tersebut, sedang Robby hanya memperhatikan pisau yang terus bergerak, sedikit menerawang.
“Kak Novan, apa Novel tidak ingin ikut? Dia membenciku?” tanya Robby gamang untuk sesaat, kupasan itu berhenti. Novan menggeleng.
“Sehari sebelum kau siuman dia datang, hanya saja hari ini dia gengsi untuk ikut membesukmu.” terang Novan apa adanya. Robby lega, setidaknya Novel menyempatkan diri menjenguknya. Ia berhutang kata maaf untuk gadis itu.
Lusanya.
Kembali kedatangan tamu, Fauzi dan Gian. Yang datang sambil beradu mulut membicarakan olahraga basket dan boxing, perbedaan dan hal menarik diantara keduanya. Sehingga Robby terpaksa mengingatkan bahwa ini ruangan pasien. Tertawa bersama, mereka mulai mengobrol ria. Gian sekilas seperti bukan orang yang biasa Robby kenal, pendiam dan misterius.
“Kenapa tidak bareng Kak Regi?” tanya Robby, masih mengingat jelas jika Gian adalah sahabat karib yang menempel pada Regi, atau sebaliknya.
“Dia sibuk menyiapkan pelantikan, tiga hari lagi acaranya.” Jawab Gian.
Menyempatkan diri diantara kesibukan. Besoknya Regi datang bersama dengan Ashita, mantan kekasihnya, yang salahnya saat itu, Niska berada di sana, menemani Robby menjalani terapi, berjalan sembari memegangi besi. Setelah koma tubuhnya terasa kaku dan harus digerakkan.
“Wah kalian datang, aduh manisnya.” sambut ibu Julia menerima bingkisan buah dari Regi yang sempat menganggap barang bawaannya salah, toh masih ada buah-buahan lainnya, pemberian Novan.
Asyik menanyai Regi dan Ashita, Ibu Julia tampak antusias menjodohkan mereka tanpa menyadari Niska yang cemburu dan mencoba menahan diri, masih membantu Robby. Dibalik semangat itu, Niska bisa menebak jika Bu Julia ingin Regi tidak terpilih sebagai tunangan resmi.
“Bruak,” Robby terjatuh, tanpa sempat Niska tahan. Bu Julia berdiri marah, segera menepis tangan Niska yang berusaha membantu Robby, dan mengatai Niska tidak becus, sengaja menjatuhkannya. Niska tidak bisa menyangkal dan merasa bersalah pada Robby yang menggeleng, menyuruhnya tenang, seakan memberi kata ‘aku baik-baik saja.’
“Kau baik-baik saja?” tanya Regi diluar ruangan, terdengar kaku.
“Tidak,” geleng Niska jujur.
“Ah, jika kau bilang sejujur ini, mendadak aku bingung harus bagaimana. Kau ingin jalan-jalan?” gugup Regi takut jika niat menghiburnya malah menyinggung perasaan Niska.
“Bersikap biasa saja, tidak usah canggung karena pernyataanku waktu itu.” suruh Niska, bertepatan dengan pintu yang terbuka, menampilkan sosok Ashita yang memberi senyum simpul padanya, lalu beralih pada Regi.
“Ayo kita pulang, aku sudah izin pamit. Kita harus menemui Pembina.” ajak Ashita, yang sudah Niska prediksi bahwa Regi tidak akan menolak.
Regi mengangguk dan minta maaf pada Niska karena tidak bisa menemaninya. Setelah itu mereka pergi berdua seperti saat datang, mengobrol ria. Tak ada kegugupan dalam ucapan Regi, menyebalkan.
__ADS_1