
Sudah jadi kebiasaan Azalea bermain game di ponselnya untuk sekadar melepas penat, walaupun hanya game simpel, Azalea merasa senang dan tertantang. Ia duduk santai di atas sofa ditemani cemilan malamnya. Tak lama sebuah ketukan terdengar.
“Masuklah,” Azalea mengizinkan, meski masih asyik berkutat dengan ponselnya. Eva masuk dengan membawa setelan baju olahraga, yang dijahit langsung olehnya. Berdiri di depan Azalea. “Taruh saja di atas kasur,” Azalea malas meladeni, sejak ditunangkan ia jadi marah pada setiap orang, walaupun sebenarnya Azalea adalah orang yang ramah dan santun. Terlahir dengan sendok emas dalam kehidupannya tidak menjadikan Azalea sosok yang sombong.
“Nona harus segera memeriksanya, pastikan tidak ada yang salah.”
Azalea menoleh sekilas, “Bukankah itu tugasmu, aku hanya menggunakannya saja.” Lagian sejak kapan peran Azalea di pertanyakan. Kakek selalu seenaknya.
Eva tampak tak puas, namun ia tak mungkin memaksa Azalea dan lekas undur diri. Selepasnya pergi pergerakan tangan Azalea terhenti, ia merasa ada yang mencurigakan, karena tak biasanya Eva menyuruhnya memastikan. Bergegas memeriksa seragamnya, tiba di bagian celana, Azalea mengangga takjub. Celana satu-satunya yang ia miliki juga direnggut, dan kini berubah menjadi rok.
~azalea.fiction~
Mengunjungi ruangan kerja kakek yang ada di bagian luar rumah dan sama mewah serta luasnya, Azalea sudah mengikuti aturan masuk dan diizinkan. Berdiri menghadap kakek dengan wajah ditekuk kesal.
“Bisa kakek jelaskan kenapa celana olahragaku berubah menjadi rok?” Tanya Azalea sesantun mungkin. Nada suara di dalam keluarga mereka diatur sesuai tingkatan, bahkan Azalea yakin banyaknya aturan disini melebihi keturunan darah pahlawan dan bangsawan negeri ini.
“Berapa IQ-mu, kau bisa menjawab pertanyaan itu sendiri.” Mempertanyakan hal sepele jelas sesuatu yang tidak penting, tapi bagi Azalea ini bukan masalah remeh.
“Aku tidak bisa memakainya, aku akan mencolok diantara yang lain. Dan tidak akan leluasa.”
“Pelajaran itu tidak begitu penting, kau hanya perlu mengikuti pelatih olahragamu.” Memang benar, Azalea memiliki pelatih khusus dalam kebugaran, ada jadwal khusus ia pergi ke gym lalu olahraga kurang lebih selama 2 jam.
“Aku tetap harus masuk untuk absensi, dan melakukannya. Besok walikelas kami menyuruh memakainya meski bukan di jam olahraga.”
“Siapa walikelasmu? Warda Reysa.”
Keluar dari bangunan itu tidak berbuah hasil bagi Azalea, kakek orang yang sangat keras kepala, dan perintahnya bersifat mutlak, menyebalkan. Hanya karena ia pernah memanjat pagar sekolah mengenakan celana olahraga hukumannya berimbas pada satu tahun sekarang.
Mengigit bibir bawah dan membuang napas kasar, Azalea pergi dari sana, mencoba memikirkan solusi.
~azalea.fiction~
Duduk di sofa yang sama, kali ini bukan wajah senang melainkan cemas, mengigiti kuku tangannya karena bingung sembari pandangan tak luput dari rok olahraga di atas meja. Ia berulangkali mengibaskan rambut depannya ke belakang demi menahan kesabaran. Ia tidak boleh kalah dari kakek, haruskah ia membeli yang baru, tidak, kakek akan tahu dari riwayat kartu kreditnya. Menjahit sendiri? Itu bagus asal ia bisa membeli bahannya melalui Aul, ah, Aul sangat ketat dan patuh pada kakek.
Satu-satunya cara adalah meminjam sementara, karena ia harus memakainya besok. Terpikirkan satu orang, Azalea mencoba memberanikan diri.
Berdiri mondar-mandir menunggu telepon diangkat.
__ADS_1
“Aku, Azalea.” Ucapnya sedikit gugup, “Kudengar seragam olahraganya sudah dibagikan. Apa …” kembali menahan kesal, “Ah kau tidak suka basa-basi. Apa aku boleh pinjam seragam olahragamu besok?”
Permintaannya ditolak, Azalea menghela napas kecewa setelah sambungan terputus. “Aku tidak tahu, jika ia sebenci ini padaku. Kenapa aku dibenci untuk alasan yang tidak kuketahui!” serunya melempar ponsel ke sofa, membanting tubuhnya ke ranjang. “Ini menyebalkan, biarkan saja roknya!” Azalea menutup telinga dengan bantal, seakan-akan ingin meredamkan suara dalam dirinya.
~azalea.fiction~
Ketukan di jendela balkon mengejutkan Takada Yuki yang baru saja menutup ponsel, air mukanya pucat mendapati Aiman, kakak tirinya berdiri dibalik jendela dengan senyuman. Aiman memberi isyarat, telunjuknya mengarah pada ponsel Yuki, lalu membuat tanda menggunakan gerakan jari membentuk tanda tanya.
Yuki cukup menjawab dengan dua jari telunjuk membentuk huruf x.
Aiman membuka pintu.
“Aku mengetuk pintu dan kau tidak menyahutiku. Apa telepon iseng lagi, akhir-akhir ini sering ada penipuan telepon, kau harus lebih berhati-hati.” Saran Aiman, Yuki sejujurnya cemas jika Aiman mendengar percakapan tadi. Dimana ia menolak meminjamkan seragam olahraga pada Azalea.
“Ada apa kakak kesini?” Tanya Yuki mencoba biasa.
“Ayo kita makan malam, papa dan mama sudah menunggu.” Ajak Aiman.
“Kalau begitu kak Aiman duluan, aku mau memeriksa sesuatu.”
“Seragam olahraga? Tadi sore kau mendapatkannya jugakan?”
~azalea.fiction~
Mati sudah, nasibmu benar-benar kacau meski kau punya banyak uang dan kekuasaan, nyatanya kau hanya anak SMA yang diatur oleh sang kakek. Setelah ini, apa yang akan terjadi. Berulangkali Azalea mengeluh dan berdialog dalam hatinya mengenai kegundahan juga kebingungan yang menimpanya sekarang.
Disaat siswa 2-1 tengah bersiap berganti pakaian, dan memperbincangkan rencana yang akan dilakukan Bu Warda, Azalea hanya mengamati mereka, begitu gelisah.
Sebenarnya, Azalea sedikit trauma akan pandangan orang. Sudah sejak dulu mereka memandangnya dengan ‘oh dia’, ‘pasti sangat menyenangkan’, ‘dia sangat sombong’, segalanya yang bersifat negatif. Jika saja Azalea bisa bersikap layaknya Go Junpyo dalam drama korea Boys Before Flower yang kasar dan semena-mena maka itu akan mengasyikkan, mereka akan segan padanya alih-alih memberikan tatapan mencemooh.
“Kau tidak akan berganti pakaian?” Tanya Niska ketus.
“Bukan urusanmu,” jawab Azalea.
“Aku tidak mau dihukum karenamu, cepatlah!” titahnya sambil lalu.
“Ish, makin hari dia makin menyebalkan!” gerutu Azalea.
__ADS_1
~azalea.fiction~
Berdiri di loker utama yang berada di ruangan khusus, Azalea memandangi seragamnya yang tergeletak disana, tak yakin. Haruskah ia absen? Yang benar saja, Bu Warda pasti akan menghukumnya, tak peduli akan alasan apa pun. Bagaimana jika pura-pura sakit.
“Kau masih belum mengganti pakaian!”
Sentak Azalea menutup pintu loker keras, kaget sekaligus marah.
“Berhenti mengurusiku!” bentak Azalea bosan.
Niska malah memberi tatapan curiga, lalu mendekati dan berbisik di telinga Azalea.
“Kau aneh sekali, sama seperti lokermu di kelas.” Tudingnya dan berjalan pergi.
“Kau yang aneh, kenapa harus memutar jalan untuk ke lapangan!” seru Azalea. Dan, pada akhirnya ia kepikiran juga. Apa yang aneh dengan lokernya?
~azalea.fiction~
Mau tak mau Azalea yang mudah penasaran kembali ke kelas sembari membawa seragam olahraganya, berhenti di depan lokernya yang tidak terkunci.
“Apa aku menghilangkan kuncinya lagi,” pikir Azalea.
Ia memutuskan membukanya, seketika matanya membelalak takjub.
Tergesa-gesa memasuki lapangan Azalea bersyukur Bu Warda datang setelahnya. Sifatnya yang positif membawa dirinya kini berada di depan Niska.
“Terimakasih untuk seragamnya,” ungkap Azalea tulus.
“Apa maksudmu.”
“Karena sudah memberikannya untukku.”
“Ah, jadi kau tidak punya seragam!” ledek Niska, Azalea terdiam.
“Bukan kau …”
“Aku membencimu, jadi tak ada alasan untuk membantumu.” Sela Niska.
__ADS_1
“Kutarik kata terimakasihku!” ralat Azalea mendelik sebal. Meski begitu, entahlah, Azalea yakin Niska tidak benar-benar membencinya.
~azalea.fiction~