Azalea

Azalea
Mozaik 18 : Tapi Kau ...


__ADS_3

‘Aku ada disana, tapi aku tidak bisa melangkah ke arahnya’


Pagi yang tak mengenakkan tengah dialami Novel saat ini. Lydia tengah melabraknya, mengatainya keterlaluan dan bahkan mengancamnya untuk tidak muncul lagi di hadapan Tiara. Yang membuat Novel tersenyum mencibir adalah kesungguhan Lydia yang akan membalas rasa sakit serta luka yang diterima Tiara.


Novel mengacuhkannya, menepuk pundak Lydia sekilas seakan mencemooh, setelahnya ia duduk di bangkunya tanpa merasa terintimidasi. Lydia jelas masih marah terlebih merasa diremehkan, namun ia terpaksa menahan diri karena bel masuk sudah berbunyi.


Kantin. Novel mengambil jatah makan dan duduk sendirian di pojok sambil mendengarkan musik melalui earphone di telinganya. Semenjak masuk sekolah Novel sudah jadi bahan gunjingan, beberapa orang bahkan dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya, membicarakan kejadian yang menimpa Tiara akibat Novel.


Walaupun begitu Novel yang terbiasa mengacuhkan keadaan hanya menganggap ini hal biasa.


Tanpa Novel sadari, Lydia berencana menjahilinya, menuju ke arahnya dan berniat menguyur air minuman ke kepala Novel. Azalea datang, sengaja menabrak pundak Lydia hingga minuman tersebut malah tumpah ke bajunya.


“Maaf, aku tidak sengaja,” sesal Azalea, jelas berbohong, ia hanya mencoba melindungi Novel.


Tak ingin terlibat dengan cucu pemilik sekolah, Lydia urung mengomentari dan memilih pergi, setelahnya, barulah Azalea duduk di depan Novel, menyimpan foodtray-nya tanpa ragu. Dengan gerakan ringan Novel melepas earphone.


“Boleh aku makan denganmu,” izin Azalea tak sungkan, menurutnya obrolan kemarin malam membuat ia lebih mengenal Novel. Tak ada salahnya mencoba mendekati Novel seperti dulu.


“Jangan salah paham, bicara di telepon bukan berarti kita akrab,” tukas Novel datar.


“Benarkah? Kurasa ini bukan kesalahpahaman, menurutku kita seperti adik kakak yang sudah lama tak bertemu.” goda Azalea tersenyum manis, Novel memberenggut sebal.


“Musik apa yang kau dengar?” tanpa sempat mencegah, Azalea telah mengambil salah satu earphone, memasangnya di telinga. Terdiam sejenak, Azalea kembali tersenyum cerah seakan tengah mendengar lagu yang enerjik dan menarik, “Kau benar-benar tidak terduga,” takjubnya. Buru-buru Novel menarik earphone tersebut, mengulungnya begitu saja.



Sementara itu, selepas Lydia gagal menjahili Novel dan memilih pergi dari kantin Novan mendatanginya, mengajak bicara hingga kini keduanya berada di taman sekolah. Mereka berdiri satu sama lain, bersitatap dalam diam untuk sejenak sebelum akhirnya Novan menyatakan permintaannya.


“Aku minta maaf, atas sifatku juga semua yang dilakukan Novel padamu, aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian, meski begitu aku akan mencoba memahami dan membantu. Aku juga ingin memohon bantuanmu, sebagai kakak Novel, aku berharap kalian bisa berteman, berhentilah memusuhinya. Jika permintaan ini terlalu sulit, cukup jauhi saja dia, anggap dia tidak ada dan jangan bicara padanya, aku ingin kalian saling tenang dan belajar tanpa adanya permusuhan.” tutur Novan dalan nada rendah yang terdengar mengayomi, “Sebenarnya, ada luka yang tidak tampak pada dirinya, ia hanya belum bisa mengatasi hal tersebut dan melampiaskannya pada diri sendiri, karena itulah izinkan dia mengobati lukanya itu dan kembali sebagai orang yang baru. Aku mohon,” pinta Novan membuat Lydia membungkam.


Seakan saat ini dirinya lah yang jahat, dan sepertinya memang begitu, ia telah berbuat salah. Setelah dipikirkan, mungkin ia begitu pada Novel karena rasa iri, yang ia tahu Novel punya segalanya, keluarga, kekayaan, kecantikan, kepintaran dan teman, sedang ia hanya dituntut pintar oleh orangtuanya, dan saat SMP ia hanya siswa yang biasa saja, selalu berkutat dengan buku.

__ADS_1


“Luka apa yang bisa membuatnya seperti robot, menyebalkan.” desis Lydia, lalu berbalik pergi. Novan mengerti jika Lydia telah meredamkan emosinya untuk sekarang.



Waktunya kelas olahraga, Novel beranjak ke loker utama dan berniat membawa seragam olahraganya. Setelah memasukkan pin, Novel membukanya tanpa curiga, sampai ia tersentak refleks mundur saat melihat seekor burung mati, meski tanpa darah, di bawah bangkai terdapat sepucuk surat yang diletakkan di atas seragam.


“Ada apa?” tanya Niska lebih mengejutkan, Novel segera menutup keras lokernya, membuat Niska merasa aneh akan sikapnya tersebut.


“Tidak ada.” setelah menjawab Novel lekas pergi.


Niska menghampiri loker tersebut dan berdecak sebal.


“Dia mirip Azalea, membanting loker seenaknya,” gumamnya dan melirik gembok yang masih terbuka, “Dia lupa menguncinya kembali.”


Setelah membolos dari kelas olahraga Novel kembali ke loker, berusaha keras untuk menahan rasa takut dan mencoba membukanya. Memasukkan burung itu ke sebuah kotak, lalu mengambil surat dan membacanya. Tidak begitu terkejut karena sudah menduga isinya, Novel masih tak terbiasa, matanya menunjukkan rasa takut yang membesar.


“Tidak aku harus berani,” lirihnya menguatkan diri.


Masih dengan halaman buku yang terbuka, Tiara mendapatkan lemparan sebuah kotak dari Novel. Saat dibuka Tiara kaget bukan kepalang, memundurkan kotak itu sedikit darinya dan beralih memandang Novel, yang kembali melempari sesuatu, kali ini surat.


‘Aku akan datang, padamu pengkhianat!’


“Jelaskan padaku, apa ini sebenarnya ditujukan padamu!” gertak Novel menahan diri untuk tidak berseru. Tiara menatapnya penuh sesal, tak mampu bicara maupun mengiyakan. “Aku tahu kau seorang pengkhianat, tapi aku tidak menyangka jika kau juga seorang pecundang!” maki Novel dalam, dan pergi membanting pintu. Tiara menunduk, ia meneteskan airmata.



“Ya, aku butuh nomornya untuk memberikan sesuatu milik almarhum yang tertinggal padaku.” terang Novel, perempuan berusia 36 tahun yang duduk dibalik kata bagian informasi siswa itu mengerti, dan segera menuliskan nomor yang diminta pada Novel.


“Tolong jangan disalahgunakan, jika sudah selesai kau harus menghapusnya kalau bisa.” ujarnya ramah, Novel mengangguk.


Menggunakan telepon umum dekat sekolah Novel mulai menekan angka, menyatukannya menjadi nomor seseorang dan menunggu. Tersambung, teleponnya berdering, setelah itu ia mendengar sebuah suara, tidak begitu jelas, bisa dipastikan ia mengenakan sesuatu untuk menyamarkan suaranya.

__ADS_1


“Hari ini pukul 11 malam, di atap sekolah!” titah suara itu dan menutup telepon. Novel mendesah, mengeluh karena tak sempat bicara. Ia mencoba meneleponnya kembali dan nomor itu sudah non-aktif.


Setiap kali kakinya menaiki tangga berulangkali pula Novel menyakinkan dirinya untuk bertemu sang peneror, memastikan apa yang diinginkan pelaku tersebut, serta keingintahuannya mengenai kejadian lalu. Sebisa mungkin ia ingin menyelesaikan masalah dengan caranya.


Terpaku menatap pintu besi Novel menghembuskan napas dingin perlahan dan mengepalkan tangan kanannya sebelum benar-benar membuka pintu yang menghubungkannya dengan orang tersebut. Seorang pria dengan pakaian serba hitam, bertubuh gempal dan memakai sepatu kets yang gelap. Dia berbalik menghadap Novel yang jujur saja merasakan kakinya tak mampu bergerak.


“Selamat datang di mimpi burukmu!” sapanya dengan suara yang Novel rasakan penuh kebencian.


Sekali pun Novel berusaha mengamati wajah pria bermata bulat itu, ia sama sekali tidak mengenalnya.


“Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa aku melakukan sesuatu padamu, dan siapa kau?” tanya Novel dengan suara tercekat setiap kalinya bicara, walaupun begitu suaranya masih bisa terdengar oleh pria itu. Yang membalas dengan senyuman mencibir, berjalan selangkah demi langkah mendekati Novel.


“Aku kakak dari gadis yang selalu kau lukai, yang kalian buang dan acuhkan!” suaranya berubah sangat dingin, Novel kembali mencengkram tangannya menjadi kepalan yang seakan-akan bisa memberi kekuatan padanya untuk bicara.


“Irma,”


“Beraninya kau menyebut namanya!” sentak pria itu.


“Ya, Irma, dia adikmu bukan!” seru Novel cukup baik, mengumpulkan kekuatannya guna memperbaiki kesalahpahaman yang ada. “Aku tahu, sejak awal aku sudah tahu, aku hanya tidak ingin mempercayainya. Kenapa? Karena aku percaya pada Irma, percaya pada kata-katanya kalau dia punya kakak yang baik.”


“Kau!”


“Aku minta maaf, sungguh.” mata Novel kini berkaca-kaca, menahan rasa sesak teramat dalam dari jiwanya.


Gemetar, pria itu tersulut emosi, menarik kerah Novel hingga kaki gadis itu terdorong mundur beberapa centi. “Kau tahu! Setiap malam aku memimpikannya, dia terlihat sangat sedih, dia bilang dia ingin teman tapi kalian malah mengabaikannya! Karena itu!!” berteriak dengan penuh bentakan, dia menekankan kekuatan pada pegangannya, membuat Novel tercekik oleh kerah bajunya, sesak napas.


Dengan keberanian yang muncul dari hatinya, perlahan meresap dalam pandangan matanya yang terus menatap pria itu, berharap bisa memberikan keyakinan bahwa Novel juga menyesal. “Jangan menatapku seperti itu! yang dia butuhkan bukan maaf tapi teman, dan aku akan mengirim teman untuknya!”


Tangan Novel beralih dengan susah payah memegangi tangan kakak Irma yang masih berusaha mencekiknya, tersenggal-senggal, Novel berujar. “Tidak, dia sedih bukan karena itu, tapi kau …”


__ADS_1


__ADS_2