Azalea

Azalea
Mozaik 22 : Salah Paham


__ADS_3

Sosok Yuki dalam sekilas mendadak berubah dimata Azalea saat ini, ia memiliki sisi yang manis dan menggemaskan, selain itu fakta bahwa ia menyukai Novan menjadi bahan godaan Azalea sejak tadi, sejak Yuki memutuskan masuk klub fashion dan meminta Azalea sebagai pembimbingnya.


Mengabaikan perseteruan diantara Azalea dan Yuki yang bersikeras menolak argumen Azalea yang mengira Yuki menyukai Novan dan sebaliknya, Tiara jadi bingung dan memilih belajar sendiri untuk saat ini, membiarkan mereka berdua. Lamat-lamat, Yuki merasa risih, ia merasa malu sendiri karena sudah bertingkah aneh, dan mulai menuntut Azalea mengajarinya.


“Keputusan yang baik, Novan memang suka gadis yang suka menjahit. Jangan menyangkal lagi, kau kesini untuk itukan.” usil Azalea tidak mengerti juga, berapa kalipun Yuki bilang ia tidak suka Novan.


“Terserah kau saja, merepotkan.” sengit Yuki dengan asal mengambil kain yang dekat dengannya, beserta jarum dan asal menusuk hingga jarinya yang kena, “Aw,” rintihnya, segera melihat darah yang terlihat dari setitik luka yang dibuat jarumnya itu.


“Kau ini, jangan melamunkannya jadi begini kan!” cemas Azalea. Alhasil membuat Yuki cemberut dan mendengus sebal. Sekalinya salah paham, Azalea bisa separah ini rupanya.


“Sudahlah ajarkan saja, yang super ekstra!” sunggut Yuki menantang.


“Sebesar itukah kau menyukainya sampai ingin buru-buru,” iba Azalea.


“Azalea, kau!” geram Yuki tertahan. Azalea malah nyengir, ini tidak seburuk yang ia pikir. Semakin kuat pemikirannya tentang kebencian Yuki padanya, bahwa itu bohong dan hanya salah diartikan oleh Yuki. Seakan dapat teman baru, Azalea mulai mengajari, penuh kesabaran dan cukup dimengerti.


Tapi karena dasarnya Yuki tidak pernah menjahit dan belum bisa, ia mengalami kesulitan yang hampir saja menguras rasa sabarnya. Yuki kewalahan dan berpikir ingin menyerah, namun ia urung melakukannya saat Azalea begitu antusias mengajarinya menjahit sulaman nama di sapu tangan kecil yang ada di tangannya itu. Matanya begitu bersinar, sesaat Yuki lupa kalau ia ingin memancing pembahasan Novan untuk bisa bertemu Azalea dalam momen romantis yang bisa menumbuhkan cinta, tapi ia bingung, bagaimana caranya? Hampir tidak ada kesalahan dalam jahitan Azalea, gadis itu tidak terluka atau apa gitu, yang bisa membuatnya memanggil Novan agar menemaninya. Ini gila, pikirnya.


“Apa kau tidak terpikir untuk menyukai Novan?” tanya Yuki hati-hati. Azalea terhenti dan menatapnya.


“Kenapa, kau takut aku mengambilnya darimu?” kekehnya, “Tenang saja,”

__ADS_1


“Aku serius, kau tidak menyukainya sebagai pria, bukankah dia menarik. Tidak pernahkah jantungmu berdetak senang melihatnya?” tanya Yuki sangat ingin tahu, melihat keseriusan itu Azalea berpikir sejenak.


“Pernah ada,” ucapnya, wajah Yuki berseri, “Hanya sebagai pria yang lembut pada adiknya, aku suka dia sebagai kakakku. Kau tahukan, aku tidak punya saudara, aku selalu kesepian. Dan dia memainkan peran sahabat juga kakak bagiku, aku bersyukur mengenalnya, hanya saja dia orang yang acuh pada sekeliling, jadi kau harus kuat jika dia mengacuhkanmu, kau hanya perlu menarik perhatiannya.” Diakhiri saran, Azalea tersenyum tulus. Yuki merasa jadi malu sendiri, gadis ini terlalu polos. Teringat akan perkataan Aiman, bahwa Azalea memiliki hati yang lembut dan penuh tantangan, Yuki tersenyum miris.


Sedang Azalea, ia tersenyum kecil, terbayang momen manis antara dirinya dan Novan, juga kencan yang pernah mereka lakukan tiga hari lalu. Azalea tak tahu apa ia menyukai Novan.



Berjalan hampa, Yuki memaki kebodohannya karena ingin menjadi mak comblang tanpa pengalaman, padahal disisi lain ia ingin membenci Azalea karena menarik hati Aiman juga tidak mengenal Novan dengan baik. Akan jadi apa nanti jika mereka tahu niatnya itu, Azalea adalah cucu pemilik sekolah yang akan menjadi pewaris semua kekayaan kakeknya itu, dan kelak dia akan jadi pengusaha, harusnya ia tahu keluarganya juga menginginkan Aiman yang terpilih, dengan begitu Aiman bisa memimpin perusahaan keluarga Kusuma tersebut. Yah, walaupun Aiman menyukai Azalea bukan karena harta.


Tanpa sadar ia akan berlari, tapi ingatannya langsung terpentok pada kejadian ia menabrak Novan. Diingat-ingat ia belum minta maaf, terlepas dari lamunan dan kehampaan, Yuki menyadari tempatnya berada, sebuah lapangan badminton. Matanya menangkap sosok Novan yang sedang bermain, bermandikan keringat dan tampak serius. Kakinya perlahan membawa dia lebih dekat ke tempat itu dan memperhatikan. Lagi, tanpa sadar, Yuki terpukau akan permainan Novan yang bisa dibilang ahli. Bukankah Novan juga bisa disukai sebagai lawan jenis, seorang pria dewasa dibanding seorang kakak?


Malamnya. Di sekolah.


Kelopak bunga yang berjatuhan, vasnya yang pecah, tanah yang berhamburan dan lantai yang terkotori.



Belum apa-apa paginya sudah disambut wajah ketus milik Niska yang menagih surat izin orangtua untuk kemah pelantikan anggota STUPA yang jelas Niska harapkan Azalea tidak ikut. Mencoba mencari alasan, Azalea yang memang belum meminta tanda tangan sedikit bingung. Sejak ia mendapat surat itu ia hanya memandanginya, tidak percaya diri akan diizinkan, dan hanya membawa-bawanya ke sekolah di dalam ransel.


“Hey, kau sudah dengar, katanya ada yang berbuat onar.”

__ADS_1


“Ya aku dengar, ada yang menghancurkan klub bunga kan. Semuanya hancur.”


Tidak sengaja menguping Azalea langsung tersentak kaget, keonaran di klub bunga, dan semuanya hancur. Jangan-jangan, tanpa menghiraukan uluran dan kata sinis Niska, Azalea berlari kencang menuju klubnya, tempat dimana ia sering merawat dan merakit bunga. Terlihat panik dan cemas.


Kesedihan kini menggantikan dua hal itu, Azalea menatap pilu keadaan klubnya, dimana bunga-bunga indah tersebut hancur, menyedihkan. Azalea rasanya ingin menangis, wajahnya saja sudah memerah. Dia sebenarnya adalah pecinta bunga, dan sensitif jika mengenai bunga. Itu karena dia sangat mengidolakan keindahan bunga. Apalagi namanya juga diambil dari salah satu nama bunga, Azalea, yang berarti perempuan yang tangguh. Tentu saja ia sangat terpukul, jahat sekali orang yang sudah menghancurkan mereka, teman-temannya.


Lesu sekali, tubuhnya jadi lemas dan tidak semangat.


Sebuah botol dingin ditempelkan ke pipinya oleh seseorang, refleks mundur dari rasa dingin itu Azalea menoleh pada Regi yang tersenyum.


“Minumlah, agar semangatmu naik lagi!” suruh Regi melempar minuman itu dan Azalea terpaksa harus tanggap menangkapnya. Kali ini minuman dingin tersebut menyalurkan rasa dinginnya ke telapak tangan Azalea.


“Dengan tangan ini kau bisa memperbaiki mereka, merawat dan membantu mereka bangkit lagi.” hibur Regi selalu saja terdengar tulus, lembut dan optimis.


“Hm, thanks.” anehnya, saat melihat Regi ia teringat Niska, “Ugh, aku lupa Niska. Aku mengabaikannya tadi, gawat dia akan mencekikku dengan kata-katanya lagi!” serunya pasrah.


“Terangkan saja yang terjadi.” kekeh Regi.


“Dia tidak pernah mau mendengarku, gadis tengil itu!” umpat Azalea dan segera menutup mulutnya dengan minum, “Aku bahkan harus membuat perjanjian konyol dengannya, untuk menjauhimu selama di STUPA.” keluh Azalea, Regi tidak lagi tersenyum, soal itu ia sudah dapat menebaknya. “Kau tidak terkejut?” aneh Azalea. Dan Regi hanya mengangguk seadanya.


“Ini salahku membuatnya jadi begitu,” akunya.

__ADS_1


“Apa yang salah darimu!” protes Azalea, meraih tangan Regi dan meletakkan minuman dingin itu di telapak tangan sang tunangan. “Sedingin apa pun minuman, lama-lama suhunya akan kembali normal, begitupun dengan gadis itu.” hibur Azalea.



__ADS_2