
‘Menjadi yang paling kesepian dan pengganti oranglain, se-perih luka yang berdarah’
‘Karena kau takut kehilangan seseorang, kau bisa beralih membencinya’
Regi dan dua rekannya bertugas sebagai tim penyapu, memberitahu panitia yang ditempatkan di pos kalau kelompok sudah habis dan mereka boleh pulang. Tiba di pos Niska, Regi tertahan dan tidak melanjutkan tugasnya, menyuruh dua temannya itu pergi duluan.
“Niska, kau …” baru saja Regi akan bicara, talkie walkie nya menyala. Sebuah suara melapor kalau Ashita terluka karena terpeleset dan jatuh ke dataran rendah, tergores beberapa ranting. Cemas, Regi segera tanggap akan segera ke sana.
Tanpa kata, yang menambah kemurungan Niska, Regi berbalik pergi. Percuma menghentikan, Niska hanya terdiam, memutuskan berjalan sendiri untuk kembali ke kemah.
Seakan berada dalam hutan yang gelap sendirian, Niska merasa hampa. Tubuhnya kedinginan, dan kakinya terasa lemas. Langkahnya hampir setengah diseret karena enggan, kemurungannya dimulai sejak penghinaan Julia pada ibunya, tamparan sang ayah, status mereka kelak, Regi yang mempermainkan hati dan fakta dirinya yang tidak punya teman.
Saking sibuk memaki diri sendiri karena tampak menyedihkan dan tidak berguna, Niska sampai melupakan beberapa undakan tanah yang membuat kakinya terkilir karena terlambat menyadari, membuat ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh, berguling tiga kali sebelum terhenti. Pergelangan kakinya mengenai ranting tajam membuat kaus kakinya sobek dan terlihat berdarah.
Memandang miris kondisinya saat ini, Niska yang sudah terduduk memeluk lutut mulai menangis. Tangis yang benar-benar pecah setelah tiga tahun lamanya ia tidak menangis. Dadanya begitu sesak, hatinya seperti ditusuk beribu jarum yang menghantar kedukaannya. Ia hanya anak yang tidak diharapkan, apa yang ia inginkan dari keluarganya? Ia hanya perempuan yang membebani, kenapa juga Regi harus menyimpan rasa suka padanya? Dan dia hanya teman yang berusaha membenci sahabatnya, jadi tak masalah bukan jika Azalea tidak mengajaknya bicara?
“Aaah,” isaknya memukuli tanah oleh kepalan tangannya.
Sementara itu. Azalea terhenti, mendengar isakan tersebut dari jauh, mendekati dan menyadari jika Niska tengah terduduk di bawahnya menundukkan wajah demi menyembunyikan tangisan.
“Kenapa kau jadi begini sih, katakan apa salahku? Aku menyinggung perasaanmu?” tanya Azalea panik dan cemas, tambah kesal akan sikap Niska akhir-akhir ini. Diakhir Kelas 1 SMA, Niska berubah menjadi sosok yang dingin dan seutuhnya mengacuhkan Azalea.
Berulangkali Azalea bertanya, bicara lembut dan menariknya untuk jujur, Niska malah semakin dingin, ketus dan menyuruhnya menjauh.
“Bilang saja ada apa! Jangan seperti anak kecil marah seperti ini!” gertak Azalea marah, tak tahan lagi. Setelah masuk SMA mereka benar-benar jauh, Niska menjaga jarak menghapus kata pertemanan.
“Aku memang anak kecil. Tidak ada bedanya denganmu, hanya anak manja yang tidak tahu apa pun. Aku bosan berteman denganmu, apa yang kudapat, kecuali kakekmu yang menyuruhku mengajarimu dan memarahiku jika kau dapat masalah. Aku muak dengan pertemanan kita! Aku ini hanya anak buangan, mana mungkin berteman dengan anak konglomerat sepertimu!” sentak Niska menimpali.
“Kau …”
“Satu lagi, aku muak dengan sifat periang dan pedulimu itu. Aku membencimu!” kata-kata itu mewakili semua hubungan buruk mereka. Niska dan Azalea tak lagi tertawa bersama di bawah pohon untuk saling berkeluh kesah atau mengobrol, tapi di bawah langit kapan pun dan dimana pun mereka akan saling bersitegang dalam kebencian.
Tengah malam.
__ADS_1
Fauzi keluar dari kamarnya merasa haus. Dengan setengah mengantuk dan mengenakan piyama acak-acakan dia menuju dapur, namun sebelum itu ia harus melewati ruang keluarga dan kamar utama. Samar-samar ia mendengar percakapan di dalamnya. Merasa aneh dan mengerling jam dinding besar, pukul 1 malam dan orangtuanya belum tidur, Fauzi hendak mengabaikan itu, tapi namanya disebut, mau tak mau matanya yang setengah terpejam mendadak terbuka.
Kakinya menuntun ia mendekati kamar dan mendengarkan.
“Aku tidak mau tahu, kita harus menemui kakek Yudistira dan menyuruh Fauzi dicoret. Sejak awal posisi ini untuk Robby, dia yang pantas dan memang harus jadi kandidat dari lima tunangan itu!” sentak Julia. Tubuh Fauzi menegang.
“Tapi kita tidak bisa bicara secepat itu.”
“Memangnya kenapa, apa kau mau Fauzi yang menerima warisan dan perusahaan bapak tua itu! Dia hanya pengganti sementara Robby, sudah seharusnya pengganti dibuang jika yang asli sudah ada.”
“Jangan sekasar itu.” lemah Tommy.
“Kau memihaknya? Ah benar, karena dia anak dari wanita yang kau cintai!” sahut Julia solot.
“Tenanglah kau bisa membangunkan orang-orang!” suruh Tommy berusaha menutupi rasa sepihaknya, yang sebenarnya, Mela memang wanita yang ia cintai.
“Aku benci anak kembarmu itu, yang satu bicaranya kasar dan yang satu selalu saja tersenyum!”
Bergetar dan tersakiti, Fauzi merasa ingin marah. Tapi ia menahannya, ia kini tahu perasaan Niska disaat kemarahan sudah berada diubun-ubun kepala. Mendadak, Fauzi ingat Niska, mungkinkah gadis itu sudah tahu yang sebenarnya.
“Uzi, seandainya ada sesuatu yang buruk terjadi, kau harus tetap tersenyum seperti ini, selalu bersemangat. Kau janji kau harus bertahan tak peduli sesakit apa pun itu!” tuntut Niska menyuruh Fauzi berjanji, menunjuk kelingkingnya. Fauzi yang ingin menghibur dan menenangkan Niska mengangguk, menerima janji kelingking tersebut.
Membuka resleting kemah dan masuk ke dalamnya, Niska beruntung tidak ada siapa pun, sepertinya teman sekamarnya sedang di luar, bermain musik, bersama api unggun, atau bergosip. Untungnya lagi, Niska memang ingin sendiri meski selama ini ia sendirian, dia ingin berbaring. Tak sengaja matanya menangkap sesuatu, cemilan keripik pedas dan sekotak plester, sedikit aneh, Niska mulai berpikir siapa yang menyimpannya di atas ransel miliknya.
Mulanya ia ingin mengambil selimut, tapi beralih fokus pada cemilan itu, mendadak ia tahu bahwa ini pastilah perbuatan Azalea. Hanya dia dan Fauzi yang tahu cemilan kesukaannya. Lalu kenapa dengan plester, jangan-jangan Azalea tahu dia terjatuh dan terluka, juga kalau ia menangis. Memalukan.
Niska menyimpan kembali pemberian Azalea itu dan langsung tiduran, tidak mempedulikannya. Sengaja ia memunggungi ransel, tapi, beberapa menit kemudian dia mengerling pada keduanya.
Esok hari, setelah melalui upacara dan pengesahan anggota baru, mereka mendapat waktu santai. Dan kebanyakan diisi dengan istirahat, jalan-jalan, mengobrol atau mengemil. Tak beda jauh dengan Niska yang memilih berkeliling tempat itu, menikmati pagi yang tampak bersahabat, sejuk juga menyegarkan. Meski kakinya sakit, dibalik plester itu, Niska tampak menikmati waktunya, ia mencoba memanjakan diri sendiri. Jika nanti setelah pulang dari sini akan ada masalah yang menimpa keluarga, status Fauzi yang akan terhapus juga cintanya yang ditolak, Niska sudah siap. Ia akan menghadapinya.
Tanpa diketahui, Azalea mengikutinya dari belakang, sembunyi-sembunyi dan bersikap seperti pro. Sejujurnya Azalea merasa khawatir pada Niska, sejak datang wajahnya murung dan sedih, setelah itu Niska terus marah-marah tidak jelas, dan pastinya sakit melihat orang yang disukai berlari pergi demi gadis lain padahal dia juga terluka. Azalea melihat luka di pergelangan kakinya, dan bersyukur karena plesternya digunakan.
Disisi lain. Regi mulai serabutan kesana-sini demi menanyakan Niska. Dia ingin bertemu Niska apalagi percakapan kemarin malam terhenti begitu saja. Ia pasti sudah melukai Niska, apalagi saat tiba di kemah, Ashita tidak begitu terluka, ia hanya terpeleset dan jatuh ke tanah tanpa ada darah. Teman yang melapor hanya berlebihan.
Disaat Regi menyisir beberapa tempat untuk menemukan Niska, disaat itu pula Ashita memperhatikannya.
__ADS_1
“Apa kau akan terus mengikutiku!” kesal Niska berhenti di tepi tebing yang cukup curam, memunggungi pelaku stalkernya pagi ini. Azalea yang ketahuan, merasa malu dan bingung. “Keluarlah!” suruh Niska dengan nada titah yang menuntut.
Takut keadaan menjadi rumit akhirnya Azalea keluar. Pergerakan Niska yang berbalik menghadapnya sedikit perlahan tapi pasti, mereka kini saling bersitatap.
“Aku hanya jalan-jalan, tahu-tahu kau ada di depanku.” sanggah Azalea.
“Jika aku menyuruhmu menjauh, harusnya kau tahu itukan. Jangan muncul di hadapanku atau mengikutiku!” dingin Niska. “Ini peringatan terakhir dariku, jangan sok peduli, dan hiduplah dengan duniamu sendiri.”
Tahu Niska akan pergi, Azalea mencegah.
“Berapa kali pun aku berpikir, hanya ada satu jawaban.” sahut Azalea menanggapi, “Kau tidak membenciku, tidak sama sekali.”
“Memangnya kau tahu apa tentangku!”
“Semuanya, sifatmu, sikapmu, keluargamu dan perasaanmu. Kenapa kau memperumit keadaanya, kau hanya perlu bicara jujur padaku. Kau menyuruhku menjauh, kau membenciku hanya karena kau takut kehilanganku!”
Wajah Niska mengeras, “Jangan asal bicara!”
“Aku benar, atas nama benci kau mencoba menjaga jarak diantara kita. Kau hanya takut suatu saat nanti kita terpisah dengan cara yang buruk, kau tidak ingin kehilanganku sebagai teman, maka kau mempertahankanku dengan status musuh.”
“Pergi dari sini. Kau hanya ingin mendengar yang ingin kau dengar!” kecam Niska, marah, menatap tajam Azalea. Tapi tatapan itu justru semakin memperkuat pemikiran Azalea selama ini, bahwa ia memang benar. Entah berawal dari mana, Niska memang membencinya karena ia menyukai Azalea.
“Kalau begitu katakan alasanmu membenciku. Jika karena Regi, aku tidak terima itu, aku bahkan tidak tahu jika dia pria yang kau sukai. Kau menolak memberitahuku, dan aku sudah merasa menyesal menyatukan dia dengan Ashita, aku baru menyadari kau menyukainya saat kelas dua. Dan tidak ada alasan bagimu membenciku karena alasan itu.” kesal Azalea, berjalan mendekati Niska.
“Berhenti disitu. Aku hanya membencimu, hanya karena ingin. Kau punya status tinggi, seorang putri dan aku hanya kelas bawahan.”
“Aku yakin bukan karena itu, kau tidak pernah menganggap keluargamu rendah. Kau selalu keras kepala mengatakan bahwa kau dan semua orang kaya sederajat, karena itu kau berteman denganku. Untuk membuktikan bahwa kau bukanlah kesalahan karena sudah lahir!” tolak Azalea.
“Aku bilang berhenti disana!” amuk Niska, ia merasa tidak berdaya dan tidak berkutik. Ia tidak bisa memberikan alasan apa pun lagi, kepalanya terasa pusing. Ia ingin mengelak, tapi berakhir pada frustasi. Semalaman ia berpikir kalau ia memang salah, harusnya ia tidak menutup hatinya sekeras ini. Ia hanya takut seseorang akan terluka saat bersamanya, ia tidak ingin Azalea membencinya jika suatu saat ia harus melanjutkan perusahaan kakeknya. Orang bisa berubah, maka dari itu Niska berpikir untuk menjadi orang pertama yang mengajukan kebencian, sehingga mereka bisa bertemu sebagai lawan.
“Kau, kau tidak tahu apa pun tentangku. Tidak,” geleng Niska, yang salahnya, ia malah mundur. Dengan kaki terkilir ia menginjak tanah tepi jurang yang longsor dan membuatnya terjatuh. Azalea dengan sigap menarik tangannya, yang malah membuatnya ikut terjatuh.
Bergelantungan di bawah tebing yang cukup curam dan dalam sekitar 10 meter, keduanya bertahan hanya dari pegangan Azalea pada sebuah dahan pohon yang tumbuh di atas tanah. Azalea cemas, memandang Niska di bawahnya, membuat topi yang ia kenakan terjatuh. Suara topi itu terdengar jauh, membuat keduanya semakin ketakutan.
__ADS_1