
2 hari yang lalu.
Novel Meilani beranjak pergi menjauhi Novan dan Fauzi menuju kelas 1-2. Ia tak se-antusias siswa lainnya di hari pertama masuk SMA, dan hanya memasang wajah datar. Setibanya di kelas, suasana mendadak hening, banyak orang yang memalingkan muka darinya dan mengabaikan.
Tak ada ekspresi yang berubah mendapati sambutan dingin dari teman sekelas, Novel hanya menyadari satu kursi menghilang disaat jumlah siswa ada 24. Dan semua meja sudah dipenuhi tas.
Berhenti di samping Lydia Utami.
“Kau ingin bicara sesuatu?” Tanya Lydia dengan wajah semanis mungkin.
“Minggirlah!” usir Novel. Air muka Lydia langsung berubah kesal.
“Ini kursiku, silakan mencari kursimu.” Ucapnya, diselingi kekehan kecil dari temannya yang lain.
“Aku tak punya waktu meladenimu, minggirlah!” gertak Novel dengan suaranya yang tegas dan beraura mengancam.
“Kau harus menemukan kursimu, sebagai seorang pengkhianat itu adalah tugasmu!” kali ini Lydia tak lagi bertampang manis, berdiri menantang. Dan yang dilakukan Novel adalah mengambil tasnya, melempar ke sembarang arah. Ekspresi Lydia mengeras terpancing emosi. “Kau sudah gila.” Lydia meraih tasnya, Novel duduk di kursinya tadi.
“Pergilah, sebelum pengkhianat ini melukaimu.” Usir Novel.
“Hey! Kau pikir kau siapa! Setelah mengkhianati teman dan mencelakakan orang sampai mati kau tidak pantas mengancamku! Aku tidak takut, kau hanya …”
Novel meletakkan ransel dengan kasar sehingga mengeluarkan suara keras, seketika suasananya menjadi memanas. Menduga jika rumor tentang Novel saat SMP benar adanya. Lagipula Novel dan Lydia dulu satu sekolah dan berada di kelas yang sama selama 2 tahun.
“Tutup mulutmu!” sergah Novel tajam.
“Kau ingin mati hah!” amuk Lydia.
“Apa yang kalian lakukan!” sentak Pak Dani, walikelas mereka yang tak sengaja menyaksikan pertengkaran keduanya di balik pintu kelas.
~azalea.fiction~
Pada akhirnya disaat semua sudah pulang, tersisa Novel dan Lydia dalam kelas. Keduanya dihukum membersihkan kelas dan aula karena terlibat pertengkaran tadi pagi. Namun, yang bekerja hanya Lydia, dan dia pun tak tahan, menghempaskan sapu pada Novel yang baru saja berdiri.
“Kau mau kemana! Pikirmu bisa pergi begitu saja. Bersihkan semuanya dan minta maaf padaku!” sentak Lydia tak terima. Dia harus mengambil meja yang dihilangkannya juga menulis pernyataan maaf.
Tak menanggapi, Novel hendak memasang earphone ke telinganya, Lydia menarik benda tersebut dengan kasar.
“Kau!” amarah Lydia mencapai puncak. Novel menarik earphone-nya lagi.
“Laporkan saja, aku tak peduli.” Acuh Novel, dan tak sengaja matanya berseloroh dengan pandangan mata Novan, yang berdiri di pintu belakang kelas. Sedang Lydia masih tak menyadari kedatangannya.
Novel berjalan memunggungi Lydia dan berhadapan langsung dengan Novan.
__ADS_1
“Berhenti, jika tidak aku akan melaporkanmu!” kecam Lydia berbalik dalam sekali hentakan, namun malah Novan yang ada di depannya, dan kali ini Novan dan Novel lah yang saling memunggungi.
“Jangan lakukan, biar aku yang bertanggungjawab.” Pinta Novan. Novel mencibir dan pergi.
~azalea.fiction~
Tak butuh waktu lama, Novan dapat menyusul Novel.
“Apa yang terjadi, ini hari pertamamu dan kau sudah dihukum?” Tanya Novan cemas, namun Novel malah memasang earphone ke telinganya. “Jawab aku, agar aku tahu permasalahannya dan bisa membantumu.” Novan menahan pergerakan itu.
Novel menatapnya tak suka, “Aku tak butuh bantuanmu, urus saja kelasmu sendiri!” sunggut Novel, menarik earphone, memasang dan menyalakan musik, meninggalkan Novan yang begitu khawatir dan bingung harus bagaimana menghadapinya.
Masuk ke dalam mobil jemputan, Novel dan Novan duduk di jok yang sama. Tak ingin memperpanjang perdebatan yang pastinya diacuhkan, Novan melepas ransel dan menyimpannya di jok, di antara mereka seiring dengan melajunya mobil.
“Pindahkan ranselmu, kau melewati batas!” suruh Novel.
“Sejak kapan ada batas di jok ini?”
“Hentikan mobilnya!” suruh Novel beralih pada supir yang mengerling ke arah Novan menunggu iya tidaknya.
Terakhir kali mereka berdebat, mobil terpaksa harus menepi karena jika tidak Novel akan berbuat nekat, karena itu kali ini Novan hanya menahan napas dan bersabar.
“Teruskan saja,” putus Novan. Novel meliriknya menuntut, “Baiklah, aku pindahkan ini!” disambarnya ransel, dan meletakkannya di pangkuan.
~azalea.fiction~
Novan izin pamit untuk menjemput Novel di kelasnya, serta tak mungkin menganggu tugas pertama Fauzi dan Azalea. Sedang yang ditinggalkan masih terdiam satu sama lain, awam mengenai kepengurusan kelas.
“Benarkah ini tugas kita?” Tanya Fauzi tak yakin, kenapa mereka harus melihat, membaca, merangkum dan menilai tugas makalah sejarah 2-1.
“Entahlah,” jawab Azalea. Lamat-lamat dia bosan, lalu mengetuk meja dengan jari agar Fauzi berhenti menundukkan kepala.
“Hm,” Fauzi menanggapi dengan singkat, tahu akan isyarat itu.
“Menurutmu, pertunangan kita apa tidak bisa dibatalkan?” gamang Azalea. Fauzi mengangkat wajah untuk menatapnya. “Mengenai peresmian pertunangannya, kuharap itu tidak benar.”
“Jika benar bagaimana?” Fauzi bersandar. Azalea tampak enggan memikirkannya, Fauzi memajukan tubuhnya mendekat pada Azalea yang cukup kaget, hingga detik selanjutnya adalah, Fauzi berbisik pelan. “Kau harus berhati-hati, fansku cukup banyak loh.” Candanya, tersenyum memperlihatkan sifat jenaka dan dimple manisnya. Dan Azalea menyesal sudah bertanya.
“Percuma bicara denganmu,” sebal Azalea, berdiri mengambil buku.
Seperginya Azalea, Fauzi tampak serius. “Jangan khawatir,” ucapnya pelan. Berharap Azalea tak perlu mencemaskan hal tersebut.
~azalea.fiction~
__ADS_1
Ruang guru.
Bu Warda baru masuk ke dalam ketika mendapati Niska berdiri di dekat mejanya. Setibanya disana, Bu Warda duduk menerima salam sopan dari Niska.
“Ada yang ingin kau bicarakan?” Bu Warda mempersilakan Niska bicara, walaupun ia dapat menerka tujuannya.
“Mengenai pemilihan pengurus kelas, seberapa keras pun aku berpikir, aku tidak bisa mencapai keputusan yang sama seperti yang ibu lakukan. Karena itu, kenapa ibu memilihnya, Azalea sebagai salah satu dari pengurus kelas?” Tanya Niska, yang Bu Warda akui sangat berani.
Kepribadian Niska yang keras dan selalu berusaha, membuatnya terkenal ambisius serta sulit didekati, terlebih, Niska juga termasuk salah satu orang kaya yang cukup disegani.
“Dia memiliki sesuatu yang akan mengejutkan semua orang, sesuatu yang istimewa dibanding dengan statusnya.” Jawab Bu Warda tersenyum kecil. Niska masih tak mengerti, namun ia harus bisa bersikap santun.
Keluar dari ruang guru dan akan menaiki lantai 2, Niska berpapasan dengan Azalea yang cukup kesusahan melihat arah depannya karena baru turun dari tangga dengan setumpukan makalah. Merasa ada seseorang berjalan di depannya Azalea berhenti, menyadari harum parfum khas Niska.
Mantan sahabatnya itu berhenti di sampingnya,
“Selamat karena sudah menjadi wakil kelas.” Ungkap Niska, membuat Azalea terpaku. Bukan nada ramah maupun dingin, Azalea tak bisa menebak maksud ucapan selamat itu.
“Niska,” panggil Azalea refleks, “Tak bisakah kita berteman lagi?”
~azalea.fiction~
Pagi-pagi sekali Azalea sudah tiba di sekolah, dan tanpa ragu menarik tangan Novan ke tempat yang sepi, mengabaikan beberapa mata yang sempat memergoki. Jauh dari gedung sekolah, berada di sampingnya yang tertutupi rimbunan pohon lebat, Azalea melepas pegangan, membiarkan Novan memunggungi pohon.
Azalea sibuk mengedarkan pandangan ke sekitar.
“Kurasa tidak ada siapa pun,” ucap Novan. Azalea mengerti, dan buru-buru bersembunyi di pohon yang sama dengan Novan.
Sedang pria itu hanya memperhatikan sikap konyol Azalea, tersenyum gemas.
“Kenapa kau tersenyum?” Azalea mengernyitkan dahi, Novan malah makin tersenyum lebar. Wajah cengo Azalea terlihat lucu. “Kau baik-baik saja?” Tanya Azalea khawatir.
“Aku menertawakanmu.” Omel Novan,
“Tidak ada yang lucu.” Dengus Azalea.
“Ada apa?” Tanya Novan menyadari kegelisahan dalam sorot mata Azalea.
Kini keduanya terlihat serius.
“Mengenai pertunangan kita. Sebelum oranglain tahu aku bertunangan dengan kalian, lebih baik aku bertunangan denganmu saja? Bagaimana? Kita berdua bekerjasama untuk mencegah pertunangan ganda?” tawar Azalea, sebelum Novan sempat menanggapi, suara speaker sekolah terdengar nyaring.
‘Pengumuman. Untuk hari besok kepada seluruh warga sekolah harap mengenakan pakaian resmi. Akan diadakan peresmian pertunangan cucu pemilik sekolah, Azalea Putri bersama dengan lima tunangannya, Novan Oktavian, Fauzi Abiyyi, Aiman Hadiansyah, Regi Fauzan dan Gian Lukmana.’
__ADS_1
Seketika wajah Azalea menjadi pucat, dan Novan melihatnya cemas.
~azalea.fiction~