Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 10


__ADS_3

Sebentar! Sebentar! Aku sepertinya ingat dengan wajah wanita ini. Sepertinya, sepertinya dia adalah…iya dia wanita yang dinikahi suamiku. Lantas mau apa Ibu membawanya ke rumah ini?


"Lho, Ran, kamu , ko, di rumah? Libur?"


Ibu mertua sepertinya heran melihatku masih di rumah, ah iya, dia, kan, nggak tahu kalau aku ijjn cuti tiga hari.


"Iya, Bu, rani cuti sebab badan rani rasanya nggak enak semua."


Sekilas kulirik wanita ini sedari tadi terus memamerkan senyumnya.


"Ini siapa, Bu?"


"Oh, ini namanya Yuli keponakan ibu."


Wanita itu mengulurkan tangannya, kalau dilihat dari tubuhnya masih bagus punyaku. Bukannya mau body shaming atau apa ya, tapi jujur deh bagian depan dan belakangnya maju semua. Dan juga kulit wajahnya ternyata nggak semulus di profil sosial medianya. Apa jangan-jangan Mas Ilham sama ibu udah kena guna-guna?


"Keponakan? Keponakan dari siapa, ya, Bu?"


Sengaja aku abaikan uluran tangannya, dan lagi seingatku keponakan Ibu semuanya laki-laki nggak ada yang perempuan. Sebenarnya sih ada salah satu adik bibi yang nomer dua dibawah Ibu punya anak perempuan, hanya saja usianya masih muda, masih kelas XI SMP.


"Eh, itu…anu…keponakan jauh pokoknya, udahlah nggak usah dibahas. Dia numpang tinggal disini karena mau cari kerja. Ayo masuk."


"Permisi, Mbak."


Ibu menyeret wanita itu masuk, dan dia sempat melempar senyum padaku. Aku mengikuti mereka dan mengurungkan niat untuk mencari makanan. Sepertinya rasa laparku langsung lenyap begitu saja.


"Lho, Ran kamu nggak masak?"


Ternyata Ibu langsung membawa wanita itu ke dapur, tentu saja disana tidak ada masakan karena kupikir tidak ada orang di rumah.


"Enggak, Rani lagi mager, Bu." Kuhenyakkan tubuhku di kursi dapur dan menuang segelas air putih untuk kuminum sendiri. Tidak ada niatku menawari mereka, meski sepertinya mereka terlihat kelelahan.


"Lha, terus ngapain aja kamu di rumah."


Bau-baunya mau mulai lagi, nih, kebiasaan lama.


"Rani, kan, tadi udah bilang kalau badan Rani nggak enak."


"Ck, alasan aja kamu. Orang tua mau pulang bukannya disuguhi apa ini malah nggak ada apa-apa sama sekali."


"Ya, kan, tinggal bikin aja apa yang ada di dapur." Aku pun bangkit dari dudukku dan berniat kembali ke kamar.


"Biar Yuli aja, Bu , yang buatin masakan. Boleh, kan, Mbak kalau Yuli pakai dapurnya?"


Aku menghentikan langkah dan menoleh, menatap wajah wanita itu sejenak kemudian mengangguk. Setidaknya dia bisa dimanfaatkan kalau mau tinggal disini.


"Boleh, asal kamu rapikan lagi semuanya kalau sudah selesai."

__ADS_1


Lantas kudengar dia menggumamkan kata terima kasih.


"Kamu itu menantu macam apa kerjaannya, kok, nggak ada yang becus. Contoh, nih, si Yuli dia itu rajin, pandai mengurus rumah, calon istri idaman buat suaminya nanti."


Aku muak kalau harus dibanding-bandingkan, sudah cukup aku tidak pernah dianggap sebagai menantu selama ini. Memang dia pikir dia ini tinggal di rumah siapa? Masih untung aku mau menampungnya di rumah ini.


"Bu, kalau aku nggak becus apa-apa, lalu siapa yang setiap hari memenuhi kebutuhan Ibu dan Mas Ilham, yang seharusnya jadi tanggung jawab Mas Ilham anak Ibu?" Keluar sudah emosi yang selama ini kutahan.


"Oh, jadi kamu nggak terima menghidupi aku sebagai ibu mertua kamu? Kamu mau perhitungan sekarang?"


"Bukannya Rani mau perhitungan, tapi setidaknya hargai usaha Rani, hargai posisi Rani sebagai menantu Ibu. Rani nggak minta apa-apa, Rani hanya minta dihargai. Dihargai, itu saja."


Akhirnya untuk kali pertama aku bisa meluapkan rasa kesalku pada ibu, rasa kecewaku pada wanita yang tidak pernah menganggapku sebagai menantunya. Wanita yang selalu menuntutku untuk selalu terlihat sempurna sebagai seorang istri.


"Kam! Kamu mulai berani membentak Ibu?"


Kulihat mata ibu berkaca-kaca, entahlah, dia benar-benar menangis atau hanya sandiwara karena wanita yang bersamanya itu terus memeluknya. Dan itu membuatku muak.


"Ada apa ini?"


Mas Ilham? Sejak kapan dia ada disitu? Aku tidak mendengarnya masuk, atau jangan-jangan dia sudah ada disana sejak tadi.


"Ham, sepertinya kehadiran ibu disini menjadi beban buat istrimu."


Ibu menghampiri Mas Ilham kemudian memeluknya sambil tetap menangis, aku sendiri masih memantau apa lagi yang akan dikatakan oleh ibu.


"Iya, Ham." Ibu semakin mengeratkan pelukannya di lengan putra tercintanya, putra yang begitu dia banggakan, tetapi dia tidak sadar jika sudah memberikan didikan yang salah pada lelaki ini.


"Apa benar Rani kamu menjadikan Ibuku sebagai beban?"


Aku menghela napas sambil melipat tanganku di dada.


"Memang selama ini aku pernah protes saat Mas membawa Ibu ke rumah? Atau apa pernah aku protes selama Mas nggak kerja? Enggak, kan, Mas?"


Mas Ilham dan Ibu terlihat menudukkan kepala, entah mereka malu atau enggan berdebat denganku.


"Sudahlah, Ham, biarkan saja. Yul kamu istirahat saja nggak usah masak, nanti biar Ilham yang beli makanan."


Ibu menarik tangan wanita itu untuk menjauh dari dapur, dari sikapnya menunjukkan seolah-olah aku ini yang jahat sama mereka. Aku yang sudah berbuat semena-mena sama mereka.


Aku menarik napas kasar, rasanya sudah seperti penjahat di rumahku sendiri. Mas Ilham pun juga ikut-ikutan meninggalkanku, seolah menegaskan aku ini benar-benar jahat dimata mereka.


Aku ingin mengikutinya dan menjelaskan semuanya, tetapi suara dari dalam perutku semakin berteriak nyaring. Sudahlah, biarkan saja mereka dengan pikiran buruknya tentangku. Lebih baik aku cari makan saja sekarang. Nasi Padang tetap jadi tujuanku, toh menghadapi manusia-manusia seperti mereka aku harus punya banyak energi, kan?


Motor kulajukan dan berhenti di sebuah rumah makan Padang, sengaja kupilih yang letaknya agak jauh dari rumah. Karena sambil mengendarai motor, aku bisa mencuci mata sejenak. Melihat pohon yang tumbuh di tepi jalan, meski sebagian dari mereka banyak yang ditebang untuk pelebaran jalan.


Menu nasi Padang komplit sudah tersaji di meja, ada rendang daging, kari ayam, sayur daun singkong, sambal hijau, telur dadar Padang juga gulai tambusu. Semua makanan itu kunikmati dengan lahap. Masakan Padang adalah salah satu menu favoritku.

__ADS_1


Setelah menghabiskan semua makanan ditambah segelas teh hangat, aku meninggalkan rumah makan ini dan pulang ke rumah. Sengaja aku tidak membungkuskan untuk mereka, karena tadi aku ingat kalau Mas Ilham yang akan membelikan. Begitu, sih, kata Ibu.


Sesampainya di rumah kulihat rumah dalam keadaan sepi, apa jangan-jangan? Dengan mengendap-endap aku mendekati kamar tamu.


Oh, ya, di rumah ini ada tiga kamar, kamar utama yang kutempati dengan Mas Ilham letaknya bersebelahan dengan ruang tamu. Sedang di depan kamarku ada kamar kosong yang biasa digunakan untuk tamu yang menginap di rumah.


Sedangkan di sebelah kamar tamu ada satu kamar lagi yang digunakan oleh ibu mertua. Nah, wanita yang dibawa ibu mertua–yang katanya keponakannya–itu tidur di kamar yang ada di depan kamarku.


Aku mengendap seperti maling di rumahku sendiri, sampai di depan pintu kamar itu aku menempelkan telinga. Mencoba mendengarkan apa ada aktivitas disana.


"Kamu sedang apa, Ran?"


Suara Mas Ilham mengagetkanku, sontak aku menoleh dan mendapati dia baru keluar dari kamar. Cepat-cepat aku menjauhkan tubuhku dari pintu tersebut lalu sambil berpura-pura membenarkan posisi rambutku, aku melangkah menuju kamarku sendiri. Sial, apa yang sudah kupikirkan tadi, kulihat Mas Ilham menatapku dengan tatapan aneh.


Dia langsung mengikutiku masuk ke dalam kamar, akupun meletakkan semua barang-barang yang kubawa tadi ke atas meja rias di kamar. Dari cermin di meja rias aku bisa melihat kalau Mas Ilham mendekatiku. Kurasakan kedua tangannya yang melingkar di pinggang, dia memelukku dari belakang.


"Ran, Mas minta maaf soal yang tadi, ya. Mas tahu ibu sudah keterlaluan sama kamu, dan Mas tidak bisa membela kamu."


Lelaki itu membisikkan kata maaf di telingaku, jujur saja sebagai istri aku masih merindukan sikap hagatnya yang seperti ini. Karena jujur saja sudah beberapa bulan kami tidak saling menyentuh.


Namun, sisi hatiku yang lain menolak menerima sikapnya ini, maka aku hanya diam tanpa membalas apapun yang dia lakukan. Apalagi ketika dia mencium area tengkukku, biasanya aku akan mendesah nikmat. Dari cermin masih kulihat Mas Ilham mencium area tengkukku, tubuhku memang meremang, tetapi sepertinya tidak ada hasrat seperti dulu.


Aku merasakan bibirnya menyentuh daun telingaku, hingga tiba-tiba kudengar ia berkata.


"Dek, gimana dengan surat rumahnya? Apa sudah ketemu?"


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


terima kasih sudah membaca karya RaRa, sambil menunggu part selanjutnya Rara mau merekomendasikan novel karya teman Rara.


judulnya : PUISI CINTA TOPENG CINDERELLA


Karya Kak Ingflora


Blurb


Bagaimana takdir membolak balikkan cinta, atau sebenarnya cintakah yang telah membolak-balikkan takdir?


Sebuah buku note berisi puisi mempertemukan Abra, (Abraham Natawijaya 24 tahun) seorang CEO muda pada seorang gadis bertopeng yang misterius di sebuah pesta topeng yang dihadirinya. Gadis itu mampu memikat hatinya karena mampu tampil beda dengan berjilbab hingga ia mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya.


Shasa (Shanum Andina Prawira 19 tahun) gadis yatim piatu yang diduga sebagai gadis bertopeng itu terpaksa menyangkal, karena permintaan sepupunya Rika, yang iri padanya. Ia dipaksa pacaran dengan pria yang sedang dekat dengan sepupunya itu(Bima) hingga memupus harapan Abra untuk mendekatinya.


Namun begitu, dunia kerja mendekatkan mereka walaupun kemudian keberadaan Kevin, kakak tiri Abra yang juga menyukai Shasa memperkeruh hubungan mereka.


Lalu dapatkah Abra mendapatkan cinta Shasa seutuhnya? Kawal terus perjuangan Abra untuk mendapatkan pujaan hatinya.


__ADS_1


__ADS_2