Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 26


__ADS_3

Ilham sedang bersiap berangkat kerja ketika ia mendengar suara pintu digedor dari depan. Suaranya terdengar tidak sabar, dan saat Yuli menengok keluar dia dikejutkan dengan penampakan tiga orang lelaki bertubuh besar.


"M-mas di depan a-ada tamu." Dengan terbata dan wajah takut Yuli memberitahu Ilham.


"Siapa?"


"Nggak tahu lihat aja mereka serem-serem banget." Jawab Yuli setengah menangis.


Terdengar decakan dari mulut pria itu, dan setelah selesai mengaitkan seluruh kancing kemejanya Ilham segera keluar untuk melihat siapa tamu mereka pagi-pagi begini. Suara gedoran masih terdengar, kali ini bertambah keras.


"Siapa?"


Tubuh Ilham mendadak kaku, di hadapannya berdiri tiga orang lelaki bertubuh tegap dan berbadan besar. Salah satu diantaranya memiliki codet yang melintang di bawah mata. Ilham tidak merasa dia punya hutang pada siapapun sampai harus didatangi debt collector seperti mereka.


"Kami ditugaskan untuk memberitahu penghuni rumah ini agar mengosongkan rumah ini sekarang juga," ucap si codet dengan suara berat dan tegas.


"Maksudnya apa ini? Kenapa kami harus keluar dari rumah kami sendiri?" Tanya Ilham bingung, di belakangnya sudah berdiri Yuli dan Bu Rumiati. Mereka juga penasaran siapa yang datang sepagi ini.


"Rumah ini sudah dijual dan bos kami meminta agar rumahnya harus segera dikosongkan."


Pria dengan codet tadi menunjukkan selembar bukti pembayaran untuk pembelian rumah ini. Ilham menerimanya dengan kasar, kepalanya menggeleng cepat setelah membaca isinya.


"Nggak mungkin, surat rumah ini hilang bagaimana bos kalian bisa membelinya?" Ilham bertanya dengan gusar.


Pria kekar tadi kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan gambar-gambar bukti jual beli rumah ini kepada Ilham. Ilham membelalakkan matanya ketika Rani menyerahkan surat rumah in pada seorang pria berkepala botak. Matanya semakin terbelalak ketika melihat gambar Rani menerima sekoper uang hasil menjual rumah ini. Apalagi wajah Rani terlihat begitu bahagia dengan senyum merekah di wajahnya, semakin menambah kekesalan Ilham.


Tak hanya Ilham, kedua wanita yang berdiri di belakangnya pun ikut terkejut. Bahkan sang ibu hampir saja pingsan, untungnya tubuhnya disanggah oleh sandaran sofa.

__ADS_1


"Tidak, ini pasti rekayasa, ini pasti ini salah. Kalian suruhan siapa? Suruh bos kalian kesini sendiri!"


Ilham berteriak garang, merasa tak terima harga dirinya dijatuhkan.


"Halah jangan banyak bacot! Cepat kemasi barang-barang kalian dan tinggalkan rumah ini sebelum kesabaran kami habis!"


Pria yang berdiri di belakang si codet mulai buka suara, melihat wajahnya yang menyeramkan nyali Ilham sedikit menciut.


"Udah, Mas, turuti aja daripada kita diapa-apain." Ucap Yuli sambil mencengkeram lengan Ilham, wajahnya sudah pias karena ketakutan.


"Ini, kok, bisa jadi gini, sih, Ham?" Bu Rumiati berbisik pada putranya, ia tidak pernah menduga sama sekali kejadiannya akan seperti ini.


"Ini pasti kerjaan Rani, wanita sialan itu pasti sudah menipu kita dengan mengatakan kalau sertifikat rumah ini hilang. Kurang ajar!"


Ilham sudah bersungut-sungut, tetapi nyalinya kembali ciut saat melihat tampang ketiga preman tadi.


Si codet mendorong Ilham masuk, membuat Yuli dan Bu Rumiati hampir saja terjungkal. Ketiga preman tadi juga ikut masuk dan menunggu mereka di dalam.


Dengan cepat mereka mulai mengemasi pakaian masing-masing, Yuli bahkan berniat membawa sisa persediaan makanan di kulkas.


"Tinggalkan barang-barang yang lain, kalian hanya perlu membawa pakaian kalian saja. Bos sudah membeli rumah ini beserta seluruh isinya."


Ucapan pria bercodet tadi menghentikan gerakan Yuli yang ingin memasukkan isi kulkas ke dalam tas. Ia melongo, tadinya ia berpikir bisa membawa bahan-bahan ini untuk persediaan nanti. Akhirnya dengan terpaksa wanita itu meletakkannya lagi ke dalam kulkas.


"Sekali lagi jangan bawa apapun yang bukan milik kalian!" Suara lantang si codet memperingatkan ketiganya. Bu Rumiati bahkan ingin mengajukan protes, tetapi oa urungkan. Sebab, baru saja mulutnya terbuka si codet sudah memberinya tatapan tajam.


Mereka sudah selesai berkemas dan hendak keluar. Ilham kemudian meraih kunci motor milik Rani yang kemarin sempat tertinggal.

__ADS_1


"Jangan bawa apapun yang bukan milikmu!" Kembali suara lantang si codet menghentikan tangan Ilham yang akan mengambil kunci motor.


"Ta-tapi ini motorku." Ucap Ilham takut.


"Bukan, motor ini juga masuk aset yang ikut terjual."


Mulut Ilham menganga, tidak percaya jika semua barang-barang di rumah ini juga ikut terjual. Sempat terlintas di benaknya untuk apa Rani menjual semuanya.


"Sekarang kalau sudah selesai kalian cepat keluar!" Si codet menggiring mereka keluar dari rumah ini.


Setelah mereka semua berhasil keluar meski dengan wajah terpaksa, si codet langsung memberi kabar pada atasannya bahwa misi telah selesai tanpa perlawanan.


Memang ini adalah bagian dari rencana Rani dan Alvin. Wanita itu meminta Alvin berpura-pura membeli rumahnya. Tentu saja ia tidak benar-benar menjual rumah ini. Hanya saja Alvin menyuruh anak buahnya untuk mengambil foto seolah-olah dia yang membeli rumah ini.


Bahkan yang merancang agar semua isinya juga ikut terjual adalah Alvin sendiri.


"Mas, kita kemana sekarang?" Tanya Yuli, sejak tadi mereka sudah berjalan cukup jauh.


"Mas juga ngga tahu."


"Kamu masih ada uang?"


"Nih." Ilham mengeluarkan dompetnya yang berisi selembar uang berwarna merah, "gajian masih sepuluh hari lagi."


Ilham menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gaji Ilham selama ini sudah mereka pakai untuk foya-foya dan juga bayar sewa kontrakan waktu itu. Makanya saat tidak ada uang lagi mereka mengambil rumah Rani, berharap bisa hidup tanpa bayar apapun.


"Ham, ibu capek, kaki ibu sudah pegal. Kita mau kemana? Ke kontrakan kemarin?"

__ADS_1


Bu Rumiati tidak bisa membayangkan kalau harus kembali ke rumah kontrakan sempit itu. Sebab, mereka keluar juga karena diusir pemilik rumah karena belum bayar uang sewa. Bahu Ilham merosot, ia bingung harus membawa keluarganya kemana. Mereka tidak sadar jika tak jauh dari tempat mereka duduk saat ini dua pasang mata tengah memperhatikan mereka.


__ADS_2