
“Ma-maaf, Pak.”
Rani tidak bisa lagi menyembunyikan rona merah di pipinya, apalagi setelah
mendengar ucapan Alvin barusan. Dengan gerakan cepat ia membungukkan badan dan
meloloskan tubuhnya dari kungkungan pria itu, setelah berhasil ia kemudian berlari
dengan cepat menuju lift yang tak jauh dari kamarnya.
Melihat aksi yang
dilakukan Rani, Alvin hanya menggelengkan kepala sambil tertawa kecil kemudian
mengayunkan kakinya menyusul wanita itu. Pintu lift terbuka dan keduanya
langsung memasuki ruangan sempit yang kebetulan sedang kosong itu. Rani
mengambil posisi berdiri agak menjauh dari Alvin, tetapi pria itu justru
mendektinya setelah menekan tombol tujuan. Berdiri tepat di samping Rani dan
tanpa permisi langsung menelsupkan jari-jarinya disela jari-jari wanita itu.
Rani menggerakkan
tangannya berusaha melepakan tautan di jemarinya, tetapi pria itu lalu
mendekatkan wajahnya ke telinga Rani, “diam dan jangan bergerak atau akan aku
cium kamu disini.”
Rani hanya diam
tak berkutik setelah mendengar ucapan pria itu, dalam hati ia merutuki kelakuan
Alvin yang kurang ajar dan seenaknya sendiri. Pintu lift langsung tertutup dan
mulai bergerak turun, disaat bersamaan pintu lift di sisi sebelahnya berhenti
dan terbuka di lantai kamar Rani. Dari dalam lift keluar sesosok pria tampan
dalam balutan kaos polo warna abu-abu dan celana jeans hitam berjalan menuju
kamar Rani. Pria itu adalah Arman, setelah pesan terakhirnya kemarin tak
kunjung dibalas oleh Rani pagi ini ia memutuskan untuk langsung mendatangi
wanita itu.
Namun siapa
sangka setelah beberapa kali mengetuk pintu dan memanggil namanya, wanita itu
tak kunjung keluar dari kamarnya. Ia bahkan sampai bertanya pada petugas room
servise yang lewat, dan jawabannya wanita itu belum check out dari hotel ini.
“Kamu kemana,
Ran?” tanyanya sambil mencoba menghubungi wanita itu, tetapi hingga dering
kesekian panggilan itu tak kunjung diangkat. Arman tak patah semangat, ia
kembali mencoba menghubungi Rani, setelah dering ketiga panggilan itu akhirnya
tersambung.
“Hallo, Ran, kamu
ada dimana? Aku sudah ada di depan kamarmu ini.” Tanya Arman begitu
panggilannya tersambung, ia sendiri sambil melangkahkan kakinya menuju lift.
“Nggak usah
bingung nyari Rani, dia aman sama aku. Lebih baik sekarang kamu pulang duluan
aja ke Jakarta.”
“Alvin.” Arman
terkejut karena yang menjawab adalah Alvin, ia sampai memeriksa kembali
ponselnya dan benar saja ia masih trhubung dengan nomor Rani.
“Katakan dimana
__ADS_1
Rani? Kenapa kamu yang jawab telponnya, mana dia aku ingin bicara.” Arman
menghentikan langkahnya dan bertanya dengan nada kesal pada Alvin.
“Sepertinya Rani
tidak bisa menerima telepon darimu karena dia masih sibuk. Dan pulanglah, jangan
ganggu dia lagi.”
“Apa maksud
ucapanmu?”
“Karena dia akan
menjadi istriku.” Tiba-tiba sambungan diputus sepihak oleh Alvin, membuat Arman
meneriakinya dengan kesal.
“Alvin sialan!”
Maki Arman
“Alvin sialan!”
Maki Arman, akhirnya ia memutuskan untuk tetap kembali ke Jakarta karena besok
dia harus segera bertemu dengan klien penting.
***
Saat berada di
dalam lift ponsel Rani terus saja berbunyi, dengan satu tangannya yang bebas ia
mengambil benda pipih itu dari dalam sling bagnya. Baru saja melihat nama
kontak yang memanggilnya, ponselnya tiba-tiba saja berpindah tangan dan itu
ulah Alvin. Pria itu dengan jelas mengatakan kalau dirinya sedang sibuk dan
tidak bisa menerima panggilan dari Arman, Alvin juga melarang Arman mengganggu
Rani lagi dan mengatakan kalau wanita itu calon istrinya. Membuat Rani terkejut
“Apa maksud Pak Alvin
tadi?” tanya Rani gusar setelah Alvin menutup panggilan dari Arman, pria itu
bahkan tak berniat mengembalikan ponselnya. Benda itu malah ia masukkan kedalam
tas kecil miliknya.
“Sudah jelas,
kan, kalau aku menginginkanmu menjadi istriku.” Jawab Alvin sambil menatap Rani
dengan lembut.
“Maaf, saya tidak
bisa menjadi istri Bapak.” Ucap Rani sambil memalingkan wajah menghidari
tatapan pria itu. Karena jujur saja ia sebenarnya ia takut terpesona dengan
tatapan pria itu. Ciuman yang tidak sengaja tadi bahkan masih menari di
kepalanya dan membuat jantungnya masih berdetak tidak normal hingga saat ini.
“Kita bicarakan
itu nanti di tempat yang tepat dan suasana yang tepat.” Ucap Alvin sambil
mengeratkan genggaman tangannya.
Mereka sudah tiba
di lantai dasar dan langsung menuju lokasi parkir mobil, Alvin sengaja membawa
mobil sendiri karena ia ingin mengajak Rani jalan-jalan hanya berdua saja.
“Kita mau
kemana?” tanya Rani setelah dia masuk mobil dan duduk di kursi belakang.
“Aku bukan sopir taksi,
__ADS_1
kamu bisa duduk di depan.” ucap Alvin sambil memutar tubuhnya dan meminta Rani
pindah duduk di sampingnya.
“Tapi, Pak....”
“Duduk di depan,
Ran.” Kali ini nada suaranya terdengar sedikit lembut, akhirnya Rani pun
terpaksa menuruti keinginan pria itu.
“Kalau gini, kan,
enak.” Ucap Alvin sambil mulai menyalakan mesin mobil.
Pria itu mengajak
Rani kembali mengelilingi pulau Bali, melewati hamparan sawah yang masih hijau
dan asri. Mengunjungi pasar-pasar tradisional yang menjual pernak-pernik khas
daerah tersebut. Sesekali mereka tertawa, lebih tepatnya tingkah dan kelakuan
Alvin yang membuat wanita itu tertawa.
Menjelamg sore
mereka singgah di sebuah restoran yang cukup unik dengan hiasan ornamen khas
Bali. Alvin memilih duduk di salah satu sudut tak jauh dari jendela, dari sana
mereka bisa menatap ke sekeliling. Alvin menarik sebuah kursi dan mempersilahkan
Rani untuk duduk, kemudian ia menarik kursi untuknya sendiri di hadapan wanita
itu. Setelah itu seorang pelayan datang sambil menyerahkan buku menu.
“Kamu mau pesan
apa?” tanya Alvin dengan lembut kepada Rani sambil menyerahkan satu buku menu
kepada wanita itu. Mereka memilih beberapa menu dan langsung dicatat oleh
pelayan. Setelah pelayan pergi, Alvin dengan leluasa memandang wajah Rani
dengan binar penuh cinta.
“Kenapa Pak Alvin
liatin saya kayak gitu?” tanya Rani, ia bukannya terpesona tetapi malah merasa
aneh saat pria itu menatapnya demikian.
“Bisa nggak mulai
sekarang manggilnya jangan Pak, kok aku ngerasa jalan sama anakku ya?”
“Terus maunya
dipanggil apa?” tanya Rani jengah. Bukannya langsung menjawab pria itu malah
senyum-senyum tidak jelas.
“Pak Alvin
baik-baik aja, kan? Nggak habis kepentok sesuatu, kan, kepalanya?”
“Kamu pikir aku
gila?”
“Bukannya gitu, Pak,
tadi saya lihat Bapak senyum-senyum sendiri, saya kan jadi takut. Emang ada
yang buat Bapak bahagia sampai tebar senyum dimana-mana?”
“Kamu mau tahu
apa yang sudah buat saya bahagia?”
“Ya kalau Bapak
nggak keberatan buat ngasih tahu, sih.”
“Yang buat aku
__ADS_1
bahagia itu adalah kamu, Rani.”