Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 44


__ADS_3

“Ma-maaf, Pak.”


Rani tidak bisa lagi menyembunyikan rona merah di pipinya, apalagi setelah


mendengar ucapan Alvin barusan. Dengan gerakan cepat ia membungukkan badan dan


meloloskan tubuhnya dari kungkungan pria itu, setelah berhasil ia kemudian berlari


dengan cepat menuju lift yang tak jauh dari kamarnya.


Melihat aksi yang


dilakukan Rani, Alvin hanya menggelengkan kepala sambil tertawa kecil kemudian


mengayunkan kakinya menyusul wanita itu. Pintu lift terbuka dan keduanya


langsung memasuki ruangan sempit yang kebetulan sedang kosong itu. Rani


mengambil posisi berdiri agak menjauh dari Alvin, tetapi pria itu justru


mendektinya setelah menekan tombol tujuan. Berdiri tepat di samping Rani dan


tanpa permisi langsung menelsupkan jari-jarinya disela jari-jari wanita itu.


Rani menggerakkan


tangannya berusaha melepakan tautan di jemarinya, tetapi pria itu lalu


mendekatkan wajahnya ke telinga Rani, “diam dan jangan bergerak atau akan aku


cium kamu disini.”


Rani hanya diam


tak berkutik setelah mendengar ucapan pria itu, dalam hati ia merutuki kelakuan


Alvin yang kurang ajar dan seenaknya sendiri. Pintu lift langsung tertutup dan


mulai bergerak turun, disaat bersamaan pintu lift di sisi sebelahnya berhenti


dan terbuka di lantai kamar Rani. Dari dalam lift keluar sesosok pria tampan


dalam balutan kaos polo warna abu-abu dan celana jeans hitam berjalan menuju


kamar Rani. Pria itu adalah Arman, setelah pesan terakhirnya kemarin tak


kunjung dibalas oleh Rani pagi ini ia memutuskan untuk langsung mendatangi


wanita itu.


Namun siapa


sangka setelah beberapa kali mengetuk pintu dan memanggil namanya, wanita itu


tak kunjung keluar dari kamarnya. Ia bahkan sampai bertanya pada petugas room


servise yang lewat, dan jawabannya wanita itu belum check out dari hotel ini.


“Kamu kemana,


Ran?” tanyanya sambil mencoba menghubungi wanita itu, tetapi hingga dering


kesekian panggilan itu tak kunjung diangkat. Arman tak patah semangat, ia


kembali mencoba menghubungi Rani, setelah dering ketiga panggilan itu akhirnya


tersambung.


“Hallo, Ran, kamu


ada dimana? Aku sudah ada di depan kamarmu ini.” Tanya Arman begitu


panggilannya tersambung, ia sendiri sambil melangkahkan kakinya menuju lift.


“Nggak usah


bingung nyari Rani, dia aman sama aku. Lebih baik sekarang kamu pulang duluan


aja ke Jakarta.”


“Alvin.” Arman


terkejut karena yang menjawab adalah Alvin, ia sampai memeriksa kembali


ponselnya dan benar saja ia masih trhubung dengan nomor Rani.


“Katakan dimana

__ADS_1


Rani? Kenapa kamu yang jawab telponnya, mana dia aku ingin bicara.” Arman


menghentikan langkahnya dan bertanya dengan nada kesal pada Alvin.


“Sepertinya Rani


tidak bisa menerima telepon darimu karena dia masih sibuk. Dan pulanglah, jangan


ganggu dia lagi.”


“Apa maksud


ucapanmu?”


“Karena dia akan


menjadi istriku.” Tiba-tiba sambungan diputus sepihak oleh Alvin, membuat Arman


meneriakinya dengan kesal.


“Alvin sialan!”


Maki Arman


“Alvin sialan!”


Maki Arman, akhirnya ia memutuskan untuk tetap kembali ke Jakarta karena besok


dia harus segera bertemu dengan klien penting.


***


Saat berada di


dalam lift ponsel Rani terus saja berbunyi, dengan satu tangannya yang bebas ia


mengambil benda pipih itu dari dalam sling bagnya. Baru saja melihat nama


kontak yang memanggilnya, ponselnya tiba-tiba saja berpindah tangan dan itu


ulah Alvin. Pria itu dengan jelas mengatakan kalau dirinya sedang sibuk dan


tidak bisa menerima panggilan dari Arman, Alvin juga melarang Arman mengganggu


Rani lagi dan mengatakan kalau wanita itu calon istrinya. Membuat Rani terkejut


“Apa maksud Pak Alvin


tadi?” tanya Rani gusar setelah Alvin menutup panggilan dari Arman, pria itu


bahkan tak berniat mengembalikan ponselnya. Benda itu malah ia masukkan kedalam


tas kecil miliknya.


“Sudah jelas,


kan, kalau aku menginginkanmu menjadi istriku.” Jawab Alvin sambil menatap Rani


dengan lembut.


“Maaf, saya tidak


bisa menjadi istri Bapak.” Ucap Rani sambil memalingkan wajah menghidari


tatapan pria itu. Karena jujur saja ia sebenarnya ia takut terpesona dengan


tatapan pria itu. Ciuman yang tidak sengaja tadi bahkan masih menari di


kepalanya dan membuat jantungnya masih berdetak tidak normal hingga saat ini.


“Kita bicarakan


itu nanti di tempat yang tepat dan suasana yang tepat.” Ucap Alvin sambil


mengeratkan genggaman tangannya.


Mereka sudah tiba


di lantai dasar dan langsung menuju lokasi parkir mobil, Alvin sengaja membawa


mobil sendiri karena ia ingin mengajak Rani jalan-jalan hanya berdua saja.


“Kita mau


kemana?” tanya Rani setelah dia masuk mobil dan duduk di kursi belakang.


“Aku bukan sopir taksi,

__ADS_1


kamu bisa duduk di depan.” ucap Alvin sambil memutar tubuhnya dan meminta Rani


pindah duduk di sampingnya.


“Tapi, Pak....”


“Duduk di depan,


Ran.” Kali ini nada suaranya terdengar sedikit lembut, akhirnya Rani pun


terpaksa menuruti keinginan pria itu.


“Kalau gini, kan,


enak.” Ucap Alvin sambil mulai menyalakan mesin mobil.


Pria itu mengajak


Rani kembali mengelilingi pulau Bali, melewati hamparan sawah yang masih hijau


dan asri. Mengunjungi pasar-pasar tradisional yang menjual pernak-pernik khas


daerah tersebut. Sesekali mereka tertawa, lebih tepatnya tingkah dan kelakuan


Alvin yang membuat wanita itu tertawa.


Menjelamg sore


mereka singgah di sebuah restoran yang cukup unik dengan hiasan ornamen khas


Bali. Alvin memilih duduk di salah satu sudut tak jauh dari jendela, dari sana


mereka bisa menatap ke sekeliling. Alvin menarik sebuah kursi dan mempersilahkan


Rani untuk duduk, kemudian ia menarik kursi untuknya sendiri di hadapan wanita


itu. Setelah itu seorang pelayan datang sambil menyerahkan buku menu.


“Kamu mau pesan


apa?” tanya Alvin dengan lembut kepada Rani sambil menyerahkan satu buku menu


kepada wanita itu. Mereka memilih beberapa menu dan langsung dicatat oleh


pelayan. Setelah pelayan pergi, Alvin dengan leluasa memandang wajah Rani


dengan binar penuh cinta.


“Kenapa Pak Alvin


liatin saya kayak gitu?” tanya Rani, ia bukannya terpesona tetapi malah merasa


aneh saat pria itu menatapnya demikian.


“Bisa nggak mulai


sekarang manggilnya jangan Pak, kok aku ngerasa jalan sama anakku ya?”


“Terus maunya


dipanggil apa?” tanya Rani jengah. Bukannya langsung menjawab pria itu malah


senyum-senyum tidak jelas.


“Pak Alvin


baik-baik aja, kan? Nggak habis kepentok sesuatu, kan, kepalanya?”


“Kamu pikir aku


gila?”


“Bukannya gitu, Pak,


tadi saya lihat Bapak senyum-senyum sendiri, saya kan jadi takut. Emang ada


yang buat Bapak bahagia sampai tebar senyum dimana-mana?”


“Kamu mau tahu


apa yang sudah buat saya bahagia?”


“Ya kalau Bapak


nggak keberatan buat ngasih tahu, sih.”


“Yang buat aku

__ADS_1


bahagia itu adalah kamu, Rani.”


__ADS_2