
"Beruang ma-du?" Rani memutar ingatannya, ia merasa familiar dengan panggilan itu, "Arman!" Serunya dengan binar mata tidak percaya. Sahabatnya saat SMU dulu kini ada di hadapannya. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, sejak lulus SMU Rani sudah tidak pernah lagi mendengar kabarnya.
Pantas saja ia tidak mengenali pria ini, sebab dulu saat SMU Arman memiliki tubuh yang sedikit tambun. Ia bahkan sering menjadi korban perundungan dari teman sekelasnya.
Rani mengenal Arman saat tak sengaja melihat pemuda itu sedang dibully oleh teman-teman sekelasnya. Kejadiannya di dekat kantin di belakang sekolah, sekolah mereka memang punya dua kantin. Yang satu ada bagian tengah bangunan, letaknya bersebelahan dengan koperasi siswa, yang satunya lagi milik penjaga sekolah. Letaknya berada di bagian belakang gedung, bersebelahan dengan tempat tinggal si penjaga.
Saat itu teman-teman Arman meminta seluruh uang saku milik pemuda itu, Arman sebenarnya menolak karena sebagian uangnya untuk membayar LKS. Namun, anak-anak tadi tidak peduli dan mereka tetap mengambilnya. Saat itulah Rani datang dan dengan beraninya ia menghardik anak-anak itu.
"Akhirnya kamu ingat juga." Ucap Arman sambil tertawa cengengesan.
"Dih, kamu tega, kenapa nggak langsung ngomong aja, sih, dari kemarin." Ucap Rani sambil memukul lengan pria itu.
"Dan kamu bisa-bisanya lupa sama aku?" Tanya Arman menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, mau gimana lagi. Habis kamu berubah banyak dari waktu lulus SMU dulu." Rani berkata jujur, Arman sekarang terlihat berbeda. Badannya tidak setambun dulu, juga wajahnya terlihat lebih tampan.
"Kalau sekarang gimana? Aku terlihat lebih tampan, kan?" Tanya Arman sambil menaik turunkan alisnya.
Wajah Rani seketika memerah, tidak dapat dipungkiri jika wajah Arman sekarang benar-benar sangat tampan dengan bulu halus tumbuh di sekitar rahangnya.
"Kamu kemana saja selama ini?" Rani mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku pindah ke Surabaya, disanalah aku kenal dengan Alvin."
Arman kemudian menceritakan kisah hidupnya setelah lulus SMU. Mulai dari dia yang bekerja setelah lulus untuk membiayai kuliahnya. Hingga bertemu Alvin dan keluarganya sampai keluarga Alvin yang baik padanya dan membantu biaya kuliahnya.
"Jadi, kamu sudah lama kenal dengan Pak Alvin?"
Arman mengangguk, "iya, kami kuliah di kampus yang sama. Cuma bedanya dia anak orang tajir sedang aku, yah, kamu tahu sendiri, kan." Ucap Arman sambil mengedikkan bahunya.
__ADS_1
"Tapi kamu kelihatannya sukses sekarang, Man."
"Iya, selama kuliah aku nyambi kerja. Dan setelah lulus aku direkrut papanya Alvin, dan akhirnya dipercaya mengurus salah satu cabang di Surabaya."
Rani berdecak kagum mendengar penjelasan teman lamanya itu, memang sejak dulu Arman sebenarnya ulet dan tekun. Hanya saja dia minder karena teman-teman sering mengoloknya, terutama bentuk badannya.
"Eh, Man, dulu kayaknya kamu gendut banget, deh, kok bisa sekarang jadi kayak gini?" Tanya Rani sambil menunjuk bentuk badan Arman. Pria itu mengikuti arah telunjuk Rani dan memperhatikan tubuhnya sendiri.
"Aku jarang dikasih makan sama emaknya Alvin." Jawabnya dengan mimik muka serius, tetapi sedetik kemudian ia tertawa terbahak, "aku juga enggak tahu kenapa jadi kayak gini. Mungkin karena kesibukan kerja."
"Sumpah, Man, aku jadi nggak ngenalin kamu, lho." Ucap Rani jujur.
"Makin ganteng, kan." Ucap Arman menggoda Rani.
"Dih, narsis banget."
"Kamu yang nggak berubah, Ran, terlalu baik sama orang." Wajah Arman berubah serius sambil menatap Rani dengan lekat.
"Yaa, mau bagaimana lagi." Jawab Rani sambil mengedikkan bahunya.
"Seberapa jauh hubunganmu dengan Alvin?" Arman kembali bersikap serius.
"Aku?" Rani menunjuk dirinya sendiri, "hanya sebatas bawahan dan atasan, memang kenapa?"
"Nggak apa-apa, cuma aku ngerasa Alvin ada rasa sama kamu."
Perkataan Arman ada benarnya juga, dalam beberapa kesempatan Alvin memang dengan terang-terangan menunjukkan perasaannya. Namun, Rani bersikap tahu diri dan hanya menganggap pria itu sebagai atasannya saja, tidak lebih.
"Nggak mungkin, lah, Man, siapa aku sampai-sampai Pak Alvin suka sama aku?" Rani memalingkan wajahnya, kembali menghadap keluar jendela.
__ADS_1
"Bisa aja, sih, kamu, kan, single sekarang."
Rani menoleh dengan cepat, "maksud kamu?"
"Aku tahu kalau kamu baru aja pisah sama suamimu."
"Kamu tahu darimana?"
"Ada, lah, pokoknya."
****
Pagi yang cerah sudah menyambut Rani, semalaman dia sudah berpikir tentang satu hal ia ingin hidup bahagia lepas dari masalah yang belakangan ini menghimpitnya. Rani sudah menghubungi Alvin dan mengatakan kalau ia ingin cuti sebentar.
Alvin awalnya menolak karena Ananta masih membutuhkannya, tetapi Rani berusaha meyakinkan pria itu kalau dirinya akan kembali bekerja. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Akhirnya dengan berat hati Alvin mengabulkan keinginan wanita itu.
Pagi-pagi sekali Rani sudah bersiap dengan baju olahraganya. Ia ingin jogging dan meghirup udara segar, sudah lama ia tidak melakukan kegiatan ini. Dengan mengenakan celana training warna biru dan kaos warna senada, Rani mulai berlari-lari kecil.
Tujuannya hanya mengitari komplek rumahnya, sesekali ia menyapa tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya. Baru beberapa putaran dan Rani merasa tubuhnya letih, ia beristirahat sejenak di warung penjual bubur ayam. Ia memasuki warung itu dan memesan seporsi bubur, sambil menunggu ia membuka ponselnya yang ia simpan di saku celanaya.
Satu pesan masuk dan itu membuat Rani terkejut.
"Good morning my sunshine."
Pesan dari nomor baru dan Rani tidak merasa mengenalnya. Ia sudah akan memblokir nomor tersebut, tetapi ada pesan baru lagi dari nomor tadi.
"Jangan diblokir, ini aku, Arman." Pesan tersebut diringi dengan emot tertawa berjejer.
Sepertinya Arman tahu kebiasaan Rani yang tidak suka meladeni nomor baru yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
"Pesankan aku bubur juga, ya."
Rani celingukan setelah membaca pesan dari pria itu, tetapi ia tidak berhasil menemukannya.