Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 48


__ADS_3

Rani masih


tinggal di rumah Bibi Sinta sampai hari pernikahannya dengan Alvin dilaksanakan


esok hari. Pernikahan yang memag mereka rencanakan dengan konsep yang


sederhana, bahkan Cindy juga sudah mengirimkan satu set kebaya mewah untuk


acara akad nikah mereka. Kebaya berwarna putih dengan taburan swarovski yang


sangat cantik. Rani bahkan tidak pernah bermimpi bisa memakai kebaya secantik ini.


“Pagi, Sayang,


apa kau sudah bangun?” Rani membaca pesan yang dikirim oleh calon suaminya saat


dia tengah mengagumi kebaya yang digantung di sisi lemari. Sejak seminggu sebelum


acara akad mereka memang dilarang untuk saling bertemu. Itu sebabnya Alvin


selalu mengiriminya pesan berisi ucapan cinta dan rindu yang menggebu.


“Tentu saja


sudah, apa kau sudah sarapan?” Rani membalas pesan itu sambil tersenyum,


dirinya sudah seperti ABG yang baru saja jatuh cinta.


“Sebenarnya aku


ingin sarapan dengan menu spesial, sayangnya keinginanku itu harus aku tahan


dulu.” Kening Rani berkerut karena penasaran membaca maksud dari pesan Alvin.


“Memang mau


sarapan apa? Kenapa harus menunggu?” Pesan yang dikirim Rani sudah berubah


warna dari abu-abu menjadi biru, dan di pojok kiri atas terlihat kalau Alvin


tengah mengetik balasan.


“Aku mau sarapan


kamu, Sayang dan aku sudah tidak sabar menunggu.” Pipi Rani bersemu merah


membaca balasan pesan dari Alvin, ia tidak menyangka jika pria itu akan berkata


seperti itu.


“Dasar pria


mesum.”


***


Hari pernikahan


Rani dan Alvin tiba, meski ini bukan pertama kalinya tapi Rani tetap saja


merasa gugup. Beberapa kali ia menarik napas panjang saat wajahnya tengah


dirias oleh MUA yang dipilihkan oleh Cindy. Bahkan perias itu sampai menyarankan


agar Rani sedikit rileks, tapi tetap saja wanita itu masih dilanda kegugupan.


Tepat pukul


delapan pagi rombongan keluarga Alvin tiba di kediaman Bibi Sinta, Alvin turun


dari mobilnya dengan gagah. Pria itu mengenakan jas putih, serasi dengan gaun


putih yang dikenakan oleh Ananta. Alvin menempati tempat duduk yang akan ia


gunakan untuk mengucapkan ikrar janji suci ditemani oleh Paman dari pihak ibu. Hingga


kemudian ia bisa melihat calon mempelai wanitanya melangkah mendekati meja akad

__ADS_1


dengan ditemani oleh Bibi Sinta.


Alvin terpana


melihat wajah cantik Rani dalam balutan kebaya yang diberikan oleh Cindy,


adiknya. Rani memang jarang memakai make up yang berlebihan, hingga penampilannya


saat ini benar-benar membuat Alvin terpesona dan semakin jatuh cinta.


“Saya terima


nikah dan kawinnya Rani Yuliana binti Almarhum Sofyan Azhari dengan mas kawin satu


set perhiasan emas seberat 150 gram dan uang tunai sebesar lima belas juta


rupiah dibayar tunai.’


“Bagaimana para


saksi? SAH?”


“SAH.”


Akhirnya dalam


satu tarikan napas, Alvin mampu mengucapkan kalimat ijab kabul tersebut. Rani sendiri


hanya bisa mengucap syukur karena dirinya telah resmi menjadi istri Alvin. Alvin


lalu menghadap sag istri dan mengulurkan tangannya, Rani lalu menyambut tangan


itu dan mulai menciumnya kemudian Alvin bals memcium pucuk kepala wanita itu.


Bukan hanya kedua


pasangan itu yang berbahagia, Ananta pun tak kalah bahagianya. Setelah sang ayah


selesai melakukan prosesi ijab kabul tadi, gadis kecil itu langsung menempel


pada Rani. Selain itu Mira, sahabat Rani yang juga sama-sama karyawan Alvin


mereka yang terkenal dingin.


“Selamat, ya,


Ran, aku nggak nyangka ternyata kamu berjodoh dengan Pak Alvin.” Mira memeluk


sahabatnya.


“Terima kasih, aku


juga nggak nyangka jodohku ternyata bosku sendiri.” Keduanya lantas tertawa


bersama.


Dari pihak Rani


tidak banyak tamu yang wanita itu undang mengingat dari awal memang ia ingin


pernikahan yang sederhana. Sedang esok harinya mereka juga harus bersiap untuk


mengadakan resepsi di kediaman Alvin. Awalnya Rani menolak, cukup akad nikah di


rumah Bibi Sinta saja. Namun, merea tidak bisa mengabaikan pemintaan Cindy,


adik perempuan Alvin yang sudah antusias mempersiapkan resepsi penikahan kakanya,


ia bahkan bertindak sebagai wedding organizernya sendiri.


Meski Rani tidak


mengundang banyak orang tetapi ia cukup lelah hari ini, maklum saja saudaranya


dari pihak ayah dan ibu sudah diberitahu oleh Bibi Sinta, juga tetangga kanan kiri


Bibi Sinta. Rani dan Alvin saat ini menempati kamar milik salah satu anak Bibi Sinta

__ADS_1


untuk dijadikan kamar pengantin. Awalnya Alvin akan menginap di hotel bersama


Rani setelah acara di rumah ini selesai, tetapi rencana itu ditolak Bibi Sinta


dan suaminya mengingat saudara mereka banyak yang akan datang.


Setelah melepas


kebaya yang ia gunakan saat acara akad tadi dan berganti baju rumahan yang


lebih nyaman, Rani dibuat gugup saat menunggu sang suami selesai membersihkan


dirinya di kamar mandi. Malam ini malam pertama mereka, tetapi Rani masih saja


gugup apalagi kalau Alvin langsung meminta haknya malam ini. Bukannya ia tidak


mau, hanya saja ia masih butuh pendekatan lebih banyak dengan pria yang baru


beberapa jam yang lalu menjadi suaminya.


Rani duduk sambil


bersandar di kepala ranjang, kedua jari-jemarinya saling bertautan. Sesekali ia


melirik pintu kamar mandi, rasanya ia seperti seorang pesakitan yang menunggu


eksekusi. Hingga tiba-tiba telinganya mendengar suara pintu kamar mandi yang


terbuka, dan pemandangan yang ia lihat sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.


Bagimana tidak,


Alvin keluar hanya memakai handuk yang menutupi tubuhnya dari pinggang hingga


lutut, memperlihatkan dadanya yang telanjang dengan potongan roti sobek tercetak


jelas di perutnya juga otot lengan dan bahunya yang kekar. Ini kali pertama


Rani melihat tubuh pria itu yang hanya berbalut handuk, apalagi rambutnya yang


masih basah dan terlihat berantakan membuat aura seksinya semakin terpancar.


Rani merasakan


tubuhnya kepanasan padahal kamar ini dilengkapi pendingin udara, tetapi itu


tidak cukup untuk mendinginkan suhu tubuh Rani yang tiba-tibs menjadi gerah. Rani


segera memalingkan wajahnya dengan pipi yang merona, tidak sanggup lagi melihat


pemandangan di hadapannya. Apalagi saat ia menyadari jika langkah Alvin semakin


mendekat, ia dapat mencium aroma sabun yang menguar dari tubuh pria itu. Rani tak


bisa mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba bertalu begitu cepat, apalagi


saat ia merasakan pria itu suda semakin dekat dengannya.


Rani bisa


meraskan kalau Alvin sudah berdiri tepat di sampingnya, ia bisa melihat


pinggang pria itu dari ekor matanya. Tiba-tiba ia merasa lengan lelaki itu


tiba-tiba terulur di hadapannya, jantungnya semakin kencang berdetak saat ia


merasakan wajah Alvin yang mendekati wajahnya hingga Rani harus memejamkan


matanya. ia juga merasakan hembusan napas pria itu menerpa wajahnya, tidak, ia


belum siap jika Alvin meminta haknya sekarang. Untuk beberapa saat Rani tidak


mampu bergerak meski hanya sekedar menggeser tubuhnya, matanya bahkan masih


tetap terpejam. Ia tidak bisa membayangkan jika tiba-tiba Alvin akan


menciumnya, tetapi merka sudah sah, jadi pria itu berhak melakukan apa saja,

__ADS_1


bukan.


__ADS_2