
Rani masih
tinggal di rumah Bibi Sinta sampai hari pernikahannya dengan Alvin dilaksanakan
esok hari. Pernikahan yang memag mereka rencanakan dengan konsep yang
sederhana, bahkan Cindy juga sudah mengirimkan satu set kebaya mewah untuk
acara akad nikah mereka. Kebaya berwarna putih dengan taburan swarovski yang
sangat cantik. Rani bahkan tidak pernah bermimpi bisa memakai kebaya secantik ini.
“Pagi, Sayang,
apa kau sudah bangun?” Rani membaca pesan yang dikirim oleh calon suaminya saat
dia tengah mengagumi kebaya yang digantung di sisi lemari. Sejak seminggu sebelum
acara akad mereka memang dilarang untuk saling bertemu. Itu sebabnya Alvin
selalu mengiriminya pesan berisi ucapan cinta dan rindu yang menggebu.
“Tentu saja
sudah, apa kau sudah sarapan?” Rani membalas pesan itu sambil tersenyum,
dirinya sudah seperti ABG yang baru saja jatuh cinta.
“Sebenarnya aku
ingin sarapan dengan menu spesial, sayangnya keinginanku itu harus aku tahan
dulu.” Kening Rani berkerut karena penasaran membaca maksud dari pesan Alvin.
“Memang mau
sarapan apa? Kenapa harus menunggu?” Pesan yang dikirim Rani sudah berubah
warna dari abu-abu menjadi biru, dan di pojok kiri atas terlihat kalau Alvin
tengah mengetik balasan.
“Aku mau sarapan
kamu, Sayang dan aku sudah tidak sabar menunggu.” Pipi Rani bersemu merah
membaca balasan pesan dari Alvin, ia tidak menyangka jika pria itu akan berkata
seperti itu.
“Dasar pria
mesum.”
***
Hari pernikahan
Rani dan Alvin tiba, meski ini bukan pertama kalinya tapi Rani tetap saja
merasa gugup. Beberapa kali ia menarik napas panjang saat wajahnya tengah
dirias oleh MUA yang dipilihkan oleh Cindy. Bahkan perias itu sampai menyarankan
agar Rani sedikit rileks, tapi tetap saja wanita itu masih dilanda kegugupan.
Tepat pukul
delapan pagi rombongan keluarga Alvin tiba di kediaman Bibi Sinta, Alvin turun
dari mobilnya dengan gagah. Pria itu mengenakan jas putih, serasi dengan gaun
putih yang dikenakan oleh Ananta. Alvin menempati tempat duduk yang akan ia
gunakan untuk mengucapkan ikrar janji suci ditemani oleh Paman dari pihak ibu. Hingga
kemudian ia bisa melihat calon mempelai wanitanya melangkah mendekati meja akad
__ADS_1
dengan ditemani oleh Bibi Sinta.
Alvin terpana
melihat wajah cantik Rani dalam balutan kebaya yang diberikan oleh Cindy,
adiknya. Rani memang jarang memakai make up yang berlebihan, hingga penampilannya
saat ini benar-benar membuat Alvin terpesona dan semakin jatuh cinta.
“Saya terima
nikah dan kawinnya Rani Yuliana binti Almarhum Sofyan Azhari dengan mas kawin satu
set perhiasan emas seberat 150 gram dan uang tunai sebesar lima belas juta
rupiah dibayar tunai.’
“Bagaimana para
saksi? SAH?”
“SAH.”
Akhirnya dalam
satu tarikan napas, Alvin mampu mengucapkan kalimat ijab kabul tersebut. Rani sendiri
hanya bisa mengucap syukur karena dirinya telah resmi menjadi istri Alvin. Alvin
lalu menghadap sag istri dan mengulurkan tangannya, Rani lalu menyambut tangan
itu dan mulai menciumnya kemudian Alvin bals memcium pucuk kepala wanita itu.
Bukan hanya kedua
pasangan itu yang berbahagia, Ananta pun tak kalah bahagianya. Setelah sang ayah
selesai melakukan prosesi ijab kabul tadi, gadis kecil itu langsung menempel
pada Rani. Selain itu Mira, sahabat Rani yang juga sama-sama karyawan Alvin
mereka yang terkenal dingin.
“Selamat, ya,
Ran, aku nggak nyangka ternyata kamu berjodoh dengan Pak Alvin.” Mira memeluk
sahabatnya.
“Terima kasih, aku
juga nggak nyangka jodohku ternyata bosku sendiri.” Keduanya lantas tertawa
bersama.
Dari pihak Rani
tidak banyak tamu yang wanita itu undang mengingat dari awal memang ia ingin
pernikahan yang sederhana. Sedang esok harinya mereka juga harus bersiap untuk
mengadakan resepsi di kediaman Alvin. Awalnya Rani menolak, cukup akad nikah di
rumah Bibi Sinta saja. Namun, merea tidak bisa mengabaikan pemintaan Cindy,
adik perempuan Alvin yang sudah antusias mempersiapkan resepsi penikahan kakanya,
ia bahkan bertindak sebagai wedding organizernya sendiri.
Meski Rani tidak
mengundang banyak orang tetapi ia cukup lelah hari ini, maklum saja saudaranya
dari pihak ayah dan ibu sudah diberitahu oleh Bibi Sinta, juga tetangga kanan kiri
Bibi Sinta. Rani dan Alvin saat ini menempati kamar milik salah satu anak Bibi Sinta
__ADS_1
untuk dijadikan kamar pengantin. Awalnya Alvin akan menginap di hotel bersama
Rani setelah acara di rumah ini selesai, tetapi rencana itu ditolak Bibi Sinta
dan suaminya mengingat saudara mereka banyak yang akan datang.
Setelah melepas
kebaya yang ia gunakan saat acara akad tadi dan berganti baju rumahan yang
lebih nyaman, Rani dibuat gugup saat menunggu sang suami selesai membersihkan
dirinya di kamar mandi. Malam ini malam pertama mereka, tetapi Rani masih saja
gugup apalagi kalau Alvin langsung meminta haknya malam ini. Bukannya ia tidak
mau, hanya saja ia masih butuh pendekatan lebih banyak dengan pria yang baru
beberapa jam yang lalu menjadi suaminya.
Rani duduk sambil
bersandar di kepala ranjang, kedua jari-jemarinya saling bertautan. Sesekali ia
melirik pintu kamar mandi, rasanya ia seperti seorang pesakitan yang menunggu
eksekusi. Hingga tiba-tiba telinganya mendengar suara pintu kamar mandi yang
terbuka, dan pemandangan yang ia lihat sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.
Bagimana tidak,
Alvin keluar hanya memakai handuk yang menutupi tubuhnya dari pinggang hingga
lutut, memperlihatkan dadanya yang telanjang dengan potongan roti sobek tercetak
jelas di perutnya juga otot lengan dan bahunya yang kekar. Ini kali pertama
Rani melihat tubuh pria itu yang hanya berbalut handuk, apalagi rambutnya yang
masih basah dan terlihat berantakan membuat aura seksinya semakin terpancar.
Rani merasakan
tubuhnya kepanasan padahal kamar ini dilengkapi pendingin udara, tetapi itu
tidak cukup untuk mendinginkan suhu tubuh Rani yang tiba-tibs menjadi gerah. Rani
segera memalingkan wajahnya dengan pipi yang merona, tidak sanggup lagi melihat
pemandangan di hadapannya. Apalagi saat ia menyadari jika langkah Alvin semakin
mendekat, ia dapat mencium aroma sabun yang menguar dari tubuh pria itu. Rani tak
bisa mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba bertalu begitu cepat, apalagi
saat ia merasakan pria itu suda semakin dekat dengannya.
Rani bisa
meraskan kalau Alvin sudah berdiri tepat di sampingnya, ia bisa melihat
pinggang pria itu dari ekor matanya. Tiba-tiba ia merasa lengan lelaki itu
tiba-tiba terulur di hadapannya, jantungnya semakin kencang berdetak saat ia
merasakan wajah Alvin yang mendekati wajahnya hingga Rani harus memejamkan
matanya. ia juga merasakan hembusan napas pria itu menerpa wajahnya, tidak, ia
belum siap jika Alvin meminta haknya sekarang. Untuk beberapa saat Rani tidak
mampu bergerak meski hanya sekedar menggeser tubuhnya, matanya bahkan masih
tetap terpejam. Ia tidak bisa membayangkan jika tiba-tiba Alvin akan
menciumnya, tetapi merka sudah sah, jadi pria itu berhak melakukan apa saja,
__ADS_1
bukan.