Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 36


__ADS_3

Rani dan Arman kini sedang menunggu pesanan mereka datang, bubur ayam. Maklum, saat Rani tiba di tempat ini sudah ada beberapa orang yang mengantri.


"Kamu tim mana? Tim bubur diaduk atau tim bubur tidak diaduk?" Tanya Arman saat pesanan mereka baru sampai. Bubur Ayam lengkap dengan toping kerupuk dan kacang kedelai.


"Tim tidak diaduk, karena kasihan penjualnya sudah menata sedemikian rupa." Jawab Rani sambil menyendokkan bubur ke mulutnya.


"Berarti kamu tipe orang yang realistis dan berpegang teguh pada pendirian." Ucapan Arman sudah mirip motivator berkepala botak itu.


"Bisa aja kamu, Man." Rani meneruskan kembali suapannya.


Setelah itu mereka keluar dari warung bubur tadi dan berjalan menuju taman kecil yang tak jauh dari tempat mereka makan. Disana sudah ada beberapa orang yang sedang bersantai, kebetulan hari ini hari Minggu jadi banyak yang menghabiskan pagi di taman ini.


"Aku pernah segendut itu, ya." Ucap Arman sambil memperhatikan anak-anak yang sedang bermain bola tak jauh dari mereka. Salah satu diantaranya memiliki tubuh yang cukup subur.


"Masa segitu? Enggak, deh, kayaknya." Rani mencoba mengingat bentuk tubuh Arman saat sekolah dulu.


"Yang jelas aku masih ingat bagaimana mereka memanggilku dengan sebutan gajah bengkak, kuda nil, gardu kecamatan atau apalah." Ucap Arman dengan tersenyum kecut jika mengingat masa sekolahnya dulu.


"Mereka cuma nggak tahu aja kelebihan yang kamu miliki, Man." Jawab Rani sambil menoleh ke arah pria itu.


"Iya, kelebihan berat badan."


Keduanya tergelak bersama. Diam-diam Arman mengagumi wajah Rani yang terlihat semakin cantik.


"Kamu nggak ada niatan buat nikah lagi?" Tiba-tiba saja Arman mengajukan pertanyaan yang membuat Rani memalingkan wajahnya.


"Kenapa kamu tanya kayak gitu?" Tanya Rani penasaran dengan maksud pertanyaan Arman barusan.

__ADS_1


Arman mengedikkan bahunya, ia kemudian menatap lurus ke depan.


"Belum ada niat, kayaknya enggak dulu, aku mau fokus sembuhin hatiku dulu." Rani mengikuti arah pandang Arman, menatap lurus ke depan dimana anak-anak yang bermain bola tadi sudah hilang entah kemana.


"Aku bisa jadi obat buat kamu."


****


Tiga hari masa cuti Rani yang diberikan oleh Alvin sudah terlewati, sekarang saatnya ia kembali dengan aktivitasnya. Namun, hari ini ada yang berbeda, Rani bersiap untuk mengantarkan surat pengunduran dirinya.


Semalam, Rani sudah memutuskan untuk menjauh sejenak, ia ingin menata kembali hati dan kehidupannya. Untuk itu ia memilih menepi, awalnya ia merasa ragu. Ragu karena harus berpisah dari Ananta. Dia tidak tega dengan bocah kecil itu. Namun, dia harus menguatkan hatinya.


Rani menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia sudah berdiri di depan rumah atasannya. Rani berjalan dengan mantap memasuki rumah pria itu, langkahnya disambut oleh Ananta yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Bagaimana kabar kamu, Sayang?" Tanya Rani sambil memeluk erat bocah kecil itu.


"Tante juga kangen sama Tata."


Rani kemudian melerai pelukannya dan menatap gadis itu dengan sayang. Kemudian ia mengulurkan paper bag yang tadi ia bawa.


"Ada hadiah kecil buat Tata."


Bocah itu menerima paper bag tadi dengan senang hati, kenudian membawanya ke kamar atas permintaan sang ayah.


"Kita bicara di ruang kerjaku saja."


Rani kemudian mengikuti langkah Alvin menuju ruang kerjanya. Sesampainya disana Rani segera mengangsurkan surat pengunduran dirinya, membuat Alvin mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Apa ini?" Tanya Alvin sambil mengambil amplop berwarna putih tersebut kemudian membacanya.


"Saya nggak akan terima pengunduran diri kamu!" Alvin meletakkan surat tersebut dengan kasar.


"Saya mohon, Pak, saya butuh waktu untuk menenangkan diri." Ucap Rani memelas.


"Aku bisa menambah masa cuti kamu sampai kapanpun kamu mau, asal jangan berhenti."


Rani merasa dilema, tujuan sebenarnya ia mengundurkan diri adalah karena tidak ingin terlibat lagi dalam kehidupan atasannya itu. Juga karena dia ingin menenangkan dirinya sejenak, ia berniat meninggalkan kota ini untuk beberapa saat.


"Tapi, Pak, saya sudah diterima kerja di tempat lain." Rani sengaja berbohong, ua sudah merencanakan hal ini kalau Alvin menolak pengunduran dirinya. Benar saja, pria itu tidak terima.


"Kerja dimana? Secepat itu?" Alvin tidak percaya, dalam waktu tiga hari libur wanita ini sudah mendapatkan pekerjaan baru.


"I-iya, Pak, dan saya harus pindah ke Surabaya."


Alvin menatap wanita itu dengan lekat, ia berusaha untuk tidak mempercayai ucapan Rani.


"Saya sudah tanda tangan kontrak dengan perusahaan itu." Rani berusaha meyakinkan atasannya itu, lebih tepatnya mantan atasan.


"Kamu beneran ingin menjauhi saya?"


Pertanyaan Alvin membuat Rani terdiam, ia tidak bisa menatap sorot sendu dari mata pria itu. Rani menundukkan kepalanya, ia meremas jari-jarinya.


"Maaf, Pak." Hanya itu yang bisa Rani ucapkan, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Ran, tidak adakah kesempatan untuk saya dekat sama kamu?"

__ADS_1


__ADS_2