Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 43


__ADS_3

Rani bangkit dari


ranjang, cahaya matahari yang menelusup daru balik gorden kamar menerpa


wajahnya, ia menutup wajahnya dengan tangan untuk menghalau cahaya yang masuk


tersebut. Ia melirik ke arah nakas lalu mengambil ponselnya untuk melihat jam


berapa sekarang. Sudah pukul tujuh pagi ternyata, semalam memang dirinya tidak


bisa langsung tidur. Bayang-bayang permintaan dua pria yang kemarin menacaukan


liburannya kembali menghantui. Belum sempat ia turun dari ranjang ponselnya


tiba-tiba saja berdering, dengan malas ia beringsut duduk di tepi ranjang dan


meraih ponselnya. ia mengernyitkan kening ketika membaca dua pesan teratas yang


masuk ke ponselnya.


“Ran, apakah


kamu jadi kembali hari ini? Kalau iya aku akan pesankan tiket juga untukmu.”Itu pesan dari Arman. Ia sendiri tidak yakin akan


pulang hari ini.


“Ran, aku


sudah di lobi hotel tempatmu menginap, jam berapa kamu akan turun?”Rani menepuk jidatnya setelah membaca


pesan dari Alvin, ia heran kenapa sepagi ini laki-laki itu sudah menungunya di


lobi? Seingatnya kemarin ia tidak mengiyakan perintaan pria itu yang meminta ia


sedikit lebih lama di Bali. Akhirnya dia mencoba untuk menghubungi pria itu.


“Hallo, Pak,


Bapak beneran sudah ada di lobi hotel?” tanya Rani langsung tanpa menunggu pria


itu menjawab salamnya. Terdengar suara kekehan diseberang sana yang seketika membuat


dada Rani berdesir.


“Kamu kira aku


bohong.” Alvin kemudian mengganti panggilan telepon mereka menjadi panggilan


video, dan benar saja jika pria itu sedang duduk santai di salah satu sofa di


lobi hotel yang ia tempati.


“Tapi, kan, kemarin


saya belum bilang setuju, Pak. Gimana kalau saya ternyata hari ini jadi pulang?”


Rani cukup kesal karena kelakuan atasannya itu, wajahnya bahkan terlihat


cemberut.

__ADS_1


“Kamu lucu kalau


lagi cemberut gitu, bikin aku pengen cubit pipi kamu itu.” Bukannya terganggu dengan


sikap Rani, Alvin justru menggoda wanita itu.


“Saya serius


Bapak.” Seru Rani gemas.


“Saya juga


serius, Ran, memangnya sejak tadi kamu lihat saya bercanda? Enggak, kan? Sekarang


cepat cuci muka dan turun, aku kasih kamu waktu tiga puluh menit. Kalau tidak


turun juga jangan salahkan aku kalau menjemputmu ke kamar.”


Rani ingin menolak,


tetapi sambungan telepon diputuskan sepihak oleh Alvin dan itu membuat Rani semakin


kesal. Ia tahu atasannya tidak pernah main-main jika sudah berkehendak. Ia kemudian


meletakkan ponselnya dengan kasar ke meja, lalu dengan langkah setengah malas


ia menuju kamar mandi.


“Bodo amat dia


mau nunggu kek, mau ini mau itu, emang gue pikirin,” gerutu Rani sambil memasuki


 Saat sedang menikmati guyuran air shower  yang membasahi tubuhnya ia baru ingat jika


pria tadi mengancam akan langsung menyusulnya ke kamar jika ia tidak segera


turun. Sambil mengumpat kesal ia segera menyelesaikan mandinya. Lalu bergegas


mengganti pakaian dan menyapukan bedak tipis di wajahnya, ia tidak sempat lagi


untuk merias wajahnya. Setelah memasukkan dompet dan ponselnya kedalam slingbag


ia segera keluar dari kamarnya.


Rani terkejut


saat membuka pintu sudah ada Alvin berdiri di depannya sambil kedua tangan bersedekap


di dada, “Pa-Pak Alvin?” sapanya gemetar sambil menutup pintu kamarnya.


Pria itu tidak


menjawab, tetapi malah melangkah maju mendekati Rani membuat wanita itu gugup


dan memundurkan tubuhnya hingga menabrak pintu yang sudah terkunci sempurna.


“Ma-maaf, Pak,


saya ta-tadi--.” Rani tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat Alvin sudah

__ADS_1


benar-benar mengikis jarak diantara mereka, ia bahkan bisa merasakan hangat


napas pria itu menerpa wajahnya.


“Kamu tahu, kan,


kalau aku tidak suka menunggu?” ucap pria itu lembut yang justru membuat Rani


gemetar.


“Ma-maaf, Pak, sa-saya


tidak bermaksud membuat Bapak menunggu.” Rani menundukkan kepala, ia tidak


sanggup melihat wajah atasannya itu. Ia bahkan bisa mendengar jantungnya


sendiri berdetak sangat kencang.


“Aku tadi, kan,


bilang tiga puluh menit. Lalu kenapa hampir satu jam kamu tidak juga turun ke


lobi.”


Ucapan Alvin sontak


membuat kening Rani berkerut, ia ingat jika saat mengecek ponsel tadi dirinya


hanya terlambat lima menit dari waktu yang diberikan Alvin. Rani sontak


medongakkan kepalanya untuk memprotes ucapan pria itu, tetapi sialnya saat


wajahnya sudah tertarik keatas bibirnya tak sengaja bertemu dengan bibir Alvin.


Untuk beberapa


detik mereka terdiam dengan posisi bibir saling menempel, tidak ada yang berani


bergerak karena momen itu terjadi dengan tiba-tiba. Hingga akhirnya Rani sadar


dan membulatkan matanya kemudian menjauhkan wajahnya dari wajah Alvin. Ia tidak


bisa menyembunyikan rasa malunya, mungkin wajahnya sudah memerah mirip kepiting


rebus saat ini. Andai bisa inginnya ia menghilang begitu suja dari hadapan pria


itu.


Lain halnya


dengan Rani, Alvin malah menikmati momen tidak sengaja itu. ia bahkan menikmati


wajah Rani yang memerah karena malu, baginya wanita itu terlihat sangat


menggemaskan.


“Bibir kamu


rasanya manis, aku suka. Jangan salahkan aku kalau nanti aku kecanduan.”

__ADS_1


__ADS_2