
Rani bangkit dari
ranjang, cahaya matahari yang menelusup daru balik gorden kamar menerpa
wajahnya, ia menutup wajahnya dengan tangan untuk menghalau cahaya yang masuk
tersebut. Ia melirik ke arah nakas lalu mengambil ponselnya untuk melihat jam
berapa sekarang. Sudah pukul tujuh pagi ternyata, semalam memang dirinya tidak
bisa langsung tidur. Bayang-bayang permintaan dua pria yang kemarin menacaukan
liburannya kembali menghantui. Belum sempat ia turun dari ranjang ponselnya
tiba-tiba saja berdering, dengan malas ia beringsut duduk di tepi ranjang dan
meraih ponselnya. ia mengernyitkan kening ketika membaca dua pesan teratas yang
masuk ke ponselnya.
“Ran, apakah
kamu jadi kembali hari ini? Kalau iya aku akan pesankan tiket juga untukmu.”Itu pesan dari Arman. Ia sendiri tidak yakin akan
pulang hari ini.
“Ran, aku
sudah di lobi hotel tempatmu menginap, jam berapa kamu akan turun?”Rani menepuk jidatnya setelah membaca
pesan dari Alvin, ia heran kenapa sepagi ini laki-laki itu sudah menungunya di
lobi? Seingatnya kemarin ia tidak mengiyakan perintaan pria itu yang meminta ia
sedikit lebih lama di Bali. Akhirnya dia mencoba untuk menghubungi pria itu.
“Hallo, Pak,
Bapak beneran sudah ada di lobi hotel?” tanya Rani langsung tanpa menunggu pria
itu menjawab salamnya. Terdengar suara kekehan diseberang sana yang seketika membuat
dada Rani berdesir.
“Kamu kira aku
bohong.” Alvin kemudian mengganti panggilan telepon mereka menjadi panggilan
video, dan benar saja jika pria itu sedang duduk santai di salah satu sofa di
lobi hotel yang ia tempati.
“Tapi, kan, kemarin
saya belum bilang setuju, Pak. Gimana kalau saya ternyata hari ini jadi pulang?”
Rani cukup kesal karena kelakuan atasannya itu, wajahnya bahkan terlihat
cemberut.
__ADS_1
“Kamu lucu kalau
lagi cemberut gitu, bikin aku pengen cubit pipi kamu itu.” Bukannya terganggu dengan
sikap Rani, Alvin justru menggoda wanita itu.
“Saya serius
Bapak.” Seru Rani gemas.
“Saya juga
serius, Ran, memangnya sejak tadi kamu lihat saya bercanda? Enggak, kan? Sekarang
cepat cuci muka dan turun, aku kasih kamu waktu tiga puluh menit. Kalau tidak
turun juga jangan salahkan aku kalau menjemputmu ke kamar.”
Rani ingin menolak,
tetapi sambungan telepon diputuskan sepihak oleh Alvin dan itu membuat Rani semakin
kesal. Ia tahu atasannya tidak pernah main-main jika sudah berkehendak. Ia kemudian
meletakkan ponselnya dengan kasar ke meja, lalu dengan langkah setengah malas
ia menuju kamar mandi.
“Bodo amat dia
mau nunggu kek, mau ini mau itu, emang gue pikirin,” gerutu Rani sambil memasuki
Saat sedang menikmati guyuran air shower yang membasahi tubuhnya ia baru ingat jika
pria tadi mengancam akan langsung menyusulnya ke kamar jika ia tidak segera
turun. Sambil mengumpat kesal ia segera menyelesaikan mandinya. Lalu bergegas
mengganti pakaian dan menyapukan bedak tipis di wajahnya, ia tidak sempat lagi
untuk merias wajahnya. Setelah memasukkan dompet dan ponselnya kedalam slingbag
ia segera keluar dari kamarnya.
Rani terkejut
saat membuka pintu sudah ada Alvin berdiri di depannya sambil kedua tangan bersedekap
di dada, “Pa-Pak Alvin?” sapanya gemetar sambil menutup pintu kamarnya.
Pria itu tidak
menjawab, tetapi malah melangkah maju mendekati Rani membuat wanita itu gugup
dan memundurkan tubuhnya hingga menabrak pintu yang sudah terkunci sempurna.
“Ma-maaf, Pak,
saya ta-tadi--.” Rani tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat Alvin sudah
__ADS_1
benar-benar mengikis jarak diantara mereka, ia bahkan bisa merasakan hangat
napas pria itu menerpa wajahnya.
“Kamu tahu, kan,
kalau aku tidak suka menunggu?” ucap pria itu lembut yang justru membuat Rani
gemetar.
“Ma-maaf, Pak, sa-saya
tidak bermaksud membuat Bapak menunggu.” Rani menundukkan kepala, ia tidak
sanggup melihat wajah atasannya itu. Ia bahkan bisa mendengar jantungnya
sendiri berdetak sangat kencang.
“Aku tadi, kan,
bilang tiga puluh menit. Lalu kenapa hampir satu jam kamu tidak juga turun ke
lobi.”
Ucapan Alvin sontak
membuat kening Rani berkerut, ia ingat jika saat mengecek ponsel tadi dirinya
hanya terlambat lima menit dari waktu yang diberikan Alvin. Rani sontak
medongakkan kepalanya untuk memprotes ucapan pria itu, tetapi sialnya saat
wajahnya sudah tertarik keatas bibirnya tak sengaja bertemu dengan bibir Alvin.
Untuk beberapa
detik mereka terdiam dengan posisi bibir saling menempel, tidak ada yang berani
bergerak karena momen itu terjadi dengan tiba-tiba. Hingga akhirnya Rani sadar
dan membulatkan matanya kemudian menjauhkan wajahnya dari wajah Alvin. Ia tidak
bisa menyembunyikan rasa malunya, mungkin wajahnya sudah memerah mirip kepiting
rebus saat ini. Andai bisa inginnya ia menghilang begitu suja dari hadapan pria
itu.
Lain halnya
dengan Rani, Alvin malah menikmati momen tidak sengaja itu. ia bahkan menikmati
wajah Rani yang memerah karena malu, baginya wanita itu terlihat sangat
menggemaskan.
“Bibir kamu
rasanya manis, aku suka. Jangan salahkan aku kalau nanti aku kecanduan.”
__ADS_1