Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 6


__ADS_3

Pandanganku terpaku pada pop chat paling atas, dari foto profilnya terlihat kalau pengirimnya adalah seorang perempuan. Dengan jantung yang tak henti berdebar aku buka obrolan dengan nomor tersebut.


Ceklek!


"Astaga!"


Aku terkejut melihat Mas Ilham yang tiba-tiba masuk ke kamar, bahkan ponselku pun sampai lepas dari pegangan.


"Kamu kenapa?"


"Ah, i-itu enggak, kok, Mas, ini aku lagi lihat film horor, iya film horor."


"Sejak kapan kamu suka film horor?"


Aku tahu Mas Ilham mungkin heran karena dari dulu aku paling anti dengan yang namanya film horor. Namun, tidak ada yang lebih horor selain mengetahui dirinya berselingkuh.


"Ini, tadi kata Mira ada film bagus, dan pas Mas Ilham masuk tadi kebetulan setannya juga muncul di film."


"Oh, kirain kenapa, kalau takut jangan coba-coba lihat. Nanti kamu susah sendiri kalau mau tidur."


Mas Ilham terlihat berjalan menuju ranjang dan bersiap untuk tidur, ponselnya tak pernah lepas dari genggaman. Bahkan aku sempat melirik kalau dia meletakkan ponsel itu dibawah bantal. Segitu takutnya dia kalau aku sampai tahu apa yang ada di ponsel tersebut.


Mas Ilham sudah merebahkan tubuhnya, dan dia juga sudah tertidur. Terdengar dari dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Memang suamiku ini tipe orang yang gampang tertidur jika kepala sudah menyentuh bantal.


Aku kembali membuka ponselku, suaranya sengaja ku senyapkan agar dia tidak curiga kalau aku masih belum tidur. Kembali kucari profil wanita tadi, dan aku membuka riwayat obrolan mereka.


"Mas, besok kita ketemu lagi di tempat biasa, ya. Baru beberapa jam berpisah aku sudah kangen sama kamu."


Salah satu pesan yang baru saja masuk dari kontak yang bernama Julia itu. Di atasnya masih banyak lagi chat mesra yang lainnya, dan rasanya sangat menjijikkan saat aku membacanya.


Dari percakapan mereka bisa kutebak jika Mas Ilham berlagak seperti Don Juan yang selalu menuruti keinginan wanita ini. Lalu, dapat uang darimana? Jangan-jangan uang yang selalu dia minta ini dia gunakan untuk memenuhi gaya hidup selingkuhannya.


Ini tidak bisa dibiarkan, susah payah aku mencari uang untuk kebutuhan hidup, dan dengan gampangnya dia berikan untuk gundiknya yang tak tahu diri itu. Mulai sekarang aku tidak akan sudi memberinya uang.


"Lihat saja, Mas, permainan apa yang akan kamu dapatkan karena sudah mencurangiku."


***


"Dek, kamu masih ada uang, nggak? Bagi dong, mas hari ini mau ketemu calon bos baru."


Terlihat Mas Ilham sudah rapi dengan kemeja warna biru, dia bilangnya mau ketemu sama bos barunya. Namun aku tahu itu hanya alasannya saja.


"Aku nggak punya uang, Mas, udah habis buat beli kebutuhan rumah." Aku berusaha sabar sambil tetap fokus merias wajah, sesekali aku meliriknya melalui pantulan cermin.


Aku bisa melihat raut wajahnya berubah, sepertinya dia akan marah, bodoh amat lah.


"Masa sepeser pun kamu nggak punya?"

__ADS_1


"Nggak ada, buat belanja sehari-hari saja masih kurang."


"Aku, kan kemarin sudah bilang pinjam dulu sama teman kamu atau siapa gitu."


Enteng sekali dia bicara, seolah-olah meminjam uang adalah hal yang mudah. Mudah memang, tetapi aku malu kalau harus melakukan itu. Kentara sekali kalau suamiku tidak pernah menafkahiku.


"Kamu tahu sendiri, kan, sekarang tanggal tua. Mereka juga sama kayak aku, uang gaji sudah habis."


"Dikit aja masa nggak ada, sih, Dek? Seratus ribu atau atau dua ratus ribu gitu?"


"Nggak ada."


"Ayolah, Dek."


Aku menarik napas kasar, kesal dengan tingkahnya yang merengek seperti anak kecil.


"Mas, aku nggak ada uang sekarang, kalau kamu mau kamu bisa pinjam dulu sama teman kamu yang memberi pekerjaan ini. Bilang sama dia nanti gajian kamu ganti."


"Nggak bisa gitu, dong, Dek."


"Kenapa nggak bisa? Tadi kamu nyuruh aku pinjam sama temanku, sekarang giliran aku nyuruh hal yang sama kamu bilang nggak bisa."


"Ya, karena…karena aku nggak enak aja."


Aku tahu suamiku hanya beralasan, dia pasti nggak mau kelihatan nggak punya uang di depan wanita itu. Apalagi sampai meminjam uang sama dia.


"Ck, ya sudah, lah. Awas aja kalau aku gajian nanti, jangan harap akan aku beri sepeserpun."


"Yakin bakal gajian?"


***


Kutinggalkan rumah dengan sikap masa bodoh dan memilih untuk segera berangkat kerja. Saat di perjalanan terasa ponsel di saku jaketku bergetar, kubiarkan saja dulu dan akan kubuka nanti begitu sampai di kantor.


"Mas, jangan lupa jam 1 nanti, ya, aku tunggu di tempat biasa."


"Iya, Sayang, Mas nggak akan lupa, kok. Hotel Grand Avenue, kan."


Percakapan Mas Ilham dengan selingkuhannya membuatku mual. Selama hampir lima tahun menikah denganku, hanya di awal-awal saja dia sering memanggilku Sayang.


Sekarang, boro-boro memanggilku sayang, memberi perhatian dan menjalankan kewajibannya saja susah.


Deg!


Grand Avenue? Bukankah lokasi hotel itu tak jauh dari kantorku?


"Oke, Mas, jangan harap kamu bisa ketemu sama selingkuhan kamu."

__ADS_1


Dengan rencana yang tiba-tiba muncul dengan sendirinya di kepalaku, aku memasuki kantor. Tunggu saja nanti, saat jam istirahat aku akan keluar dan memergoki mereka.


"Kita makan apa hari ini?"


Mira sudah menghampiriku setiap kali waktu istirahat tiba. Biasanya kami akan memilih menu yang sama untuk maan siang.


"Aku mau keluar sebentar ada urusan, jadi nggak bisa makan siang dulu sama kamu."


"Kamu mau kemana?"


Aku menghentikan tanganku yang sedang memasukkan beberapa barang kedalam tas. Kemudian mengambil ponsel dan menunjukkan percakapan antara Mas Ilham dan wanita selingkuhannya.


"Jadi, kamu mau menggerebek mereka?"


"Iya, dan aku mau berangkat sekarang." ucapku sambil mencangklong tas ke pundak.


"Kamu sendirian aja?"


"Iya, cuma sebentar, aku mau mencari bukti perselingkuhan suamiku. Setelah itu aku kembali lagi ke kantor. Bukankah pukul dua nanti ada rapat dengan Pak Alvin?"


"Oke, hati-hati, kabari aku kalau ada apa-apa."


Setelah itu aku pun bergegas meninggalkan kantor. Pukul dua belas kurang sepuluh menit, butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke sana. Maka aku bergegas menyalakan motorku dan melaju dengan sedikit cepat.


Aku memilih jalan pintas memutar lewat belakang kantor, karena kalau lewat jalan utama bisa dipastikan akan macet, dan itu butuh waktu yang lama.


Untuk sampai ke hotel Grand Avenue aku harus melewati jalan kampung yang di kiri dan kanannya masih dipenuhi area persawahan. Jalannya juga tidak terlalu ramai, jadi aku bisa sedikit ngebut agar sampai disana.


Namun, perkiraanku meleset. Di tengah jalan rupanya sedang ada acara sehingga jalanan terpaksa harus ditutup total. Aku mencari jalan alternatif yang lain, tetapi nihil, aku tidak sepenuhnya hapal daerah ini.


Terpaksa aku harus memutar kembali, dan itu memakan waktu yang cukup lama. Sudah pukul dua belas lewat lima menit, semoga saja aku bisa mengejar waktu. Akhirnya aku kembali mengebut agar bisa cepat sampai di tujuan.


Lewat jalan raya ternyata tak seramai dugaanku. Huft, harusnya aku memilih lewat jalan ini saja tadi daripada haris mutar-mutar. Buang-buang waktu saja.


Hampir mendekati lokasi pertemuan mereka aku semakin cepat melajukan motorku. Tiba-tiba disana, tak jauh dari pintu masuk hotel aku melihat dua orang yang sedang berjalan sambil berpelukan.


Dari postur tubuh dan baju yang dikenakan sepertinya itu Mas Ilham. Dan apa dia wanita yang jafi selingkuhan suamiku. Wajahnya tidak bisa kulihat karena posisi mereka membelakangiku. Aku semakin melaju menuju hotel dimana mereka melakukan pertemuan.


Setelah memarkir motor, aku segera mengikuti mereka. Sepertinya masih keburu sebab kelihatannya mereka baru saja masuk ke lobi hotel. Dan benar saja aku melihat mereka masih menunggu di depan lift.


Sambil mengendap-endap aku mencoba membuntuti mereka, terlihat keduanya masuk lift. Aku segera berlari dan melihat lantai mana yang akan mereka tuju. Lift di depanku masih bergerak naik, saat itulah ponselku berbunyi.


Astaga!


Sudah lewat waktu istirahat, sepertinya rapat hari ini akan segera dimulai dan aku belum kembali ke kantor. Bagaimana ini? Apa aku harus kembali sekarang juga atau lanjut membuntuti suamiku?


Aaaargh!

__ADS_1


__ADS_2