
"Mungkin Rani butuh waktu untuk sendiri, Vin, dan dia sungkan kalau harus jujur sama kamu."
Arman mulai buka suara, sejak tadi ia memperhatikan Alvin yang terus berbicara dengan Rani. Alvin memicingkan mata setelah mendengar ucapan sahabatnya tersebut.
"Sejak kapan kamu ikut caampur urusan Rani?" Alvin menatap tak suka pada sahabatnya itu.
"Sejak aku tahu kalau ternyata dia sahabat lamaku." Jawab Arman sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Apa?" Alvin membelalakkan matanya, tidak percaya dengan ucapan Arman.
"Kamu ingat, kan, tentang sahabat yang pernah aku ceritakan dulu? Dialah orangnya."
Alvin terpaku, ia ingat bagaimana Arman begitu memuja sahabatnya yang sering ia ceritakan dulu. Ia juga ingat bagaimana keinginan Arman untuk bisa bertemu lagi dan menyatakan perasaannya.
"Jadi–." Alvin tidak dapat melanjutkan kalimatnya, telunjuknya tergantung lemah di udara.
"Oke, Ran, kita berangkat sekarang, aku takut kamu nanti ketinggalan pesawatmu." Ucap Arman sambil melirik arlojinya, ia juga bersiap untuk kembali memasuki mobilnya.
"Biar aku saja yang mengantarnya." Suara Alvin menghentikan lagkahnya, Arman menatap pria itu dengan kening berkerut.
"Apa kamu tidak sibuk hari ini? Tidak apa-apa biar aku yang mengantarnya, lagipula aku tidak ada acara hari ini." Arman tetap gigih menawarkan bantuannya.
"Tidak apa-apa, aku sudah membatalkan semua acara hari ini."
Arman menatap pria yang telah lama menjadi sahabatnya itu dengan heran, tidak biasanya Alvin meninggalkan urusan pentingnya untuk seseorang yang bukan siapa-siapanya. Rani sendiri juga terdiam, bingung dengan sikap kedua pria di hadapannya ini.
"Tidak apa-apa, Vin, aku tahu pasti kamu sibuk hari ini. Jadi, biar aku saja yang mengantar Rani ke bandara."
"Jangan, aku saja yang mengantarnya."
__ADS_1
Keduanya masih saling berdebat, sama-sama mengajukan diri untuk mengantar wanita itu ke bandara. Hingga tanpa mereka sadari Rani sedang mengutak-atik ponselnya dan memesan taksi online.
"Bapak-bapak saya harap kalian tenang."
Rani mengangkat tangannya, meminta kedua pria itu untuk menghentikan perdebatan mereka.
"Saya sangat mengharagi bantuan kalian, tetapi maaf, sepertinya saya harus berangkat sendiri ke bandara."
"Jangan!" Kedua pria tadi berseru secara bersamaan, kemudian mereka saling tatap lalu sama-sama membuang muka. Membuat Rani menatap mereka sambil menggelengkan kepala.
"Aku antar kamu saja, Ran, seperti rencana semula." Arman tetap bersikukuh untuk mengantarkan Rani.
"Ran, please! Kamu sudah bohong dengan rencana keberangkatanmu. Dan sekarang kamu menolak juga niatku untuk megantarmu?"
Rani dilanda dilema, ia bingung harus mendengarkan ucapan siapa. Hingga di waktu bersamaan sebuah mobil minibus yang berhenti di dekat mereka. Rani membalikkan badan dan menghampiri mobil tersebut untuk memastikan apakah itu mobil yang ia pesan tadi. Setelah itu Rani terlihat mengeluarkan kopernya dari mobil Arman.
"Lho, Ran, apa yang kamu lakukan?" Arman berniat untuk mencegah Rani, bukan hanya Arman tetapi Alvin juga sudah maju mendekati wanita itu dan menahan tangannya yang sedang mengangkat koper.
"Ran, kita, kan, sudah janjian sejak pagi tadi. Masa kamu mau batalin gitu aja." Ucap Arman dengan wajah memelasnya, ia merasa bersalah dengan pria itu, tetapi mau bagaimana lagi. Dia juga tidak bisa menuruti permintaan keduanya.
"Sebelumnya terima kasih atas perhatian kalian berdua, tetapi maaf, saya tidak bisa menuruti permintaan kalian. Jadi, biarkan saya pergi sendiri."
Rani sudah akan menyeret kopernya, tetapi seruan dua pria itu tidak bisa menghentikannya. Rani tetap melangkah dan memasuki mobil yang tadi dia pesan. Diikuti tatapan nelangsa dari dua pria yang ingin mengantarnya.
Taksi online itupun melaju, dari pantulan kaca spion Rani bisa melihat kedua lelaki tersebut berusaha mengejarnya, tetapi usahanya gagal karena mobil sudah melaju lebih kencang. Ia masih bisa melihat mereka berdiri frustasi, salah satunya bahkan terlihat seperti menendang sesuatu untuk melampiaskan kekesalan. Rani berusaha tidak peduli, ia sudah cukup lelah dengan masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.
Pesawat yang ditumpangi Rani sudah lepas landas meninggalkan kota, di bawah sana ia bisa melihat rumah-rumah penduduk yang nampak seperti deretan kotak-kotak. Semakin lama semakin mengecil seiring dengan semakin tingginya pesawat yang ia tumpangi. Rani menghela napas berat, ia berharap liburannya kali ini bisa menjernihkan pikirannya.
Rani sampai di Bandara Ngurah Rai beberapa saat kemudian, ia menyeret kopernya meninggalkan area bandara dan menuju mobil travel yang telah menjemputnya. Satu jam perjalanan ia akhirnya tiba di sebuah hotel tempatnya menginap. Rani lagsung merebahkan tubuhnya ketika ia sampai di kamar hotel.
__ADS_1
***
Entah sudah berapa lama wanita itu tertidur, ia bangun karena mendengar suara berisik dari ponselnya. Gegas ia mencari benda pipih itu dengan mata yang masih berat untuk terbuka. Akhirnya setelah beberapa saat tangannya meraba, benda itu ketemu juga.
"Hallo!" Sapa Rani tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Bagaimana kabarmu, Ran, apa kau tiba dengan selamat?"
Rani mengernyitkan dahi, matanya kemudian terbuka lebar. Ia buru-buru memeriksa ponselnya, melihat siapakah yang menghubunginya karena dia tidak hapal suara orang itu
"Arman?" Tanyanya setelah membaca nama kontak si penelpon.
"Iya, ini aku, bagaimana kamu baik-baik saja, kan?"
"Iya, aku udah tiba dari tadi dan lagsung ketiduran." Jawab Rani sambil beringsut untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
"Syukurlah kalau kamu tiba dengan selamat, kuharap kamu bisa menikmati liburanmu."
"Terima kasih, Man."
Setelah berbincang beberapa saat dengan Arman, Rani menutup telponnya. Ia lalu membaca chat yang masuk, dari Alvin.
"Ran, apa kamu sudah tiba di Bali?"
"Ran, jawab aku."
"Rani, apa kamu baik-baik saja?"
Rani membaca serentetan pesan yang dikirim oleh Alvin, juga ada beberapa panggilan tak terjawab dari pria itu. Sepertinya Alvin menghubunginya setengah jam yang lalu. Rani tidak berniat untuk membalasnya, ia memilih turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
***
Rani memilih makan malam di restoran yang masih satu lokasi dengan hotel yang ia tempati. Sambil menunggu pesanannya datang wanita itu membuka ponselnya. Ada beberapa pesan yang masuk. Dan itu dari dua pria yang tadi coba ia hindari. Rani membelalakkan mataya setelah membaca pesan dari kedua pria tersebut yang isinya hampir sama.