Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 45


__ADS_3

Rani semakin


memerah wajahnya mendengar ucapan Alvin, “Bapak ada-ada aja, deh.” Ucapnya sambil


menyembunyikan wajahnya yang merona.


“Serius, Ran, itu


yang sedang kurasakan saat ini, dsn juga ada satu hal yang ingin aku katakan sama


kamu.”


“Hal apa, Pak?”


tanya Rani penasaran.


“Bisa nggak kamu


berhenti panggil aku dengan sebutan Bapak?”


“Lha kan Bapak


atasan saya?” jawab Rani tak mau kalah.


“Iya, itu kalau


di kantor, tapi saat ini kita kan hanya berdua saja. Jadi kalau di luar kantor


jangan panggil aku pak, ya.” Pinta Alvin.


“Lalu saya harus


panggil apa?” tanya Rani kebingungan.


“Terserah mau


kamu panggil apa, mas atau abang atau mau panggil sayang juga boleh.” Ucap Alvin


sambil menaik turunkan alis.


“Jadi Bapak, eh...ngajak


saya kesini Cuma bahas panggilan ini?” Rani masih bingung mau memanggil pria di


hadapannya ini dengan panggilan apa, karena dia sudah terbiasa dengan panggilan


formal.


“Masih ada hal


lain yang ingin aku bicarakan, tapi kita tunggu makanannya datang aja terus


kita makan dulu setelah itu kita nahas hal penting tadi.”


Rani mengangguk


setuju, meski sebenarnya dia penasaran tapi perutnya juga terasa lapar. Beberapa


saat kemudin pelayan datang membawakan pesanan mereka, setelah itu mereka berdua


menikmati makanan dalam diam. Alvin selesai makan lebih dulu, ia memandangi


wajah Rani yang masih lahap menghabiskan makanannya, wanita itu tak sadar jika


Alvin menatapnya sedemikian rupa.


“Cantik.” Gumam Alvin


sambil tetap memandang wajah Rani, dan ternyata wanita itu mendengarnya.


“Pak Alvin bilang


apa barusan?” tanyanya sambil meraih segelas air putih lalu meminumnya hingga

__ADS_1


tandas.


“Kamu cantik.” Puji


Alvin terus terang.


“Setiap wanita


emang terlahir cantik, tapi cantiknya itu relatif. Ada yang memiliki kecantikan


wajah ada juga yang memiliki kecantikan hati, tergantung kita mau lihat dari


sudut pandang yang mana.” Ucap Rani menimpali pujian dari Alvin.


“Aku tidak sedang


membicarakan wanita lain, aku membicarakan kamu. Kamu itu cantik dimataku.”


“Ah, yang bener,


Pak. Bapak belum ketemu aja yang lebih cantik dari saya, tapi makasih lho atas


pujiannya.”


“Oke, kita


bicarakan hal penting itu sekarang. Ran aku sudah mengenalmu dengan sangat


dekat dan kamu juga sudah mengenalku, bagaimana kehidupan pribadiku kamu juga


sudah tahu. Bahkan kammu juga dekat dengan Ananta, putriku satu-satunya. Jadi,


maukah kamu menjadi istriku?”


Alvin meraih


tangan Rani dan menggemnya dengan erat, matanya menatap dengan teduh sosok


wanita di hadapannya itu. Bisa Alvin lihat kalau Rani sedang dilanda kegugupan


“Ke-kenapa harus


saya, Pak?” tanya Rani dengan bibir bergetar.


“Karena aku


mencintaimu, Ran.” Alvin ingin mengatakan lebih banyak hal, tetapi bibirnya


hanya mampu mengungkapkan kata cinta itu.


"Sa-saya


merasa nggak pantas buat jadi istri Pak Alvin." Rani berusaha menarik


tangannya, sejujurnya ia tidak menolak jika atasanya ini menyukai dirinya karena


Rani sendiri pun juga sebenarnya sudah jatuh hati sejak lama pada pria ini. Namun


ia harus tahu diri mengingat status dan kedudukannya.


“Kenapa? Apa kamu


menyukai Arman?” tanya Alvin dengan nada tidak rela.


“Bu-bukan begitu,


saya hanya...hanya....” Rani menggantungkan kalimatnya, ia bingung mengutarakan


alasan yang sebenarnya pada pria ini. Alvin menatapnya dengan mengangkat


sebelah alisnya, menunggu apa yang akan dikatakan wanita itu.


“Ran, jujur aku

__ADS_1


akui diluar sana banyak wanita yang berebut ingin menjadi pendamping hidupku. Kalau


aku hanya menggunakan standar kecantikan dan status sosial, aku bisa saja memilih


salah satu dari mereka. Tapi aku juga punya Ananta, aku ingin istriku kelak


juga bisa menyayangi anakku seperti anaknya sendiri, dan itu semua aku dapatkan


dari kamu, Ran. Ananta sangat dekat dan sayang sama kamu. Jadi, aku harap kamu


mau menjadi istriku demi Ananta dan juga aku.”


Panjang lebar


Alvin menjelaskan alasannya ingin mempersunting Rani menjadi istrinya, berharap


hati wanita itu luluh dan mau menerimanya.


“oh, ya kemarin


Ananta berpesan agar aku menghubunginya jika sudah bertemu denganmu.” A


Alvin meraih


ponsel dari kantung celananya dan mulai melakukan panggilan video dengan


putrinya, saat panggilan itu berlangung Alvin segera mengarahkan layar ke wajah


Rani. Seketika terlihat binar cerah di wajah Ananta.


“Bundaaa! Tata kangen


sama Bunda.” Pekiknya senang saat layar ponsel menunjukkan wajah Rani, orang


yang sangat dirindukannya.


“Eh, Bunda?” Rani


terkejut mendengar gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan Bunda, tetapi


hatinya juga senang bisa melihat wajah gadis itu lagi. Sebenarnya Rani juga


sangat merindukan Ananta.


"Iya, mulai


sekarang Tata akan manggil Bunda, Bunda suka, kan? Bunda kapan mau pulang ke


rumah?” tanya gadis polos itu, senyum ceria tak pernah lepas dari bibir


cantiknya.


“Pulang? Pulang kemana,


Nak?” tanya Rani tidak mengerti.


“Kata Papa, Papa


mau jemput Bunda dulu biar pulang ke rumah dan tinggal bersama. Papa, Bunda,


sama aku. Nanti kita tinggal sama-sama, aku seneng banget kalau nanti tinggal


sama Bunda. Aku bisa pamerin Bunda ke teman-temanku nanti.”


Rani terharu


hingga tidak bisa berkata-kata lagi, ia ingat dulu bagaimana cerita Ananta


sejak ditinggalkan oleh ibu kandungnya dan menjadi bahan olok-olokan teman


sekolahnya. Dan sekarang gadis kecil itu sangat bahagia saat sang ayah berjanji


membawanya pulang, akankah dia merusak kebahagiaan gadis kecil itu?

__ADS_1


"Bagaimana


Bunda? Bunda mau, kan, pulang bareng Papa dan jadi Bundanya Tata?”


__ADS_2