
Rani semakin
memerah wajahnya mendengar ucapan Alvin, “Bapak ada-ada aja, deh.” Ucapnya sambil
menyembunyikan wajahnya yang merona.
“Serius, Ran, itu
yang sedang kurasakan saat ini, dsn juga ada satu hal yang ingin aku katakan sama
kamu.”
“Hal apa, Pak?”
tanya Rani penasaran.
“Bisa nggak kamu
berhenti panggil aku dengan sebutan Bapak?”
“Lha kan Bapak
atasan saya?” jawab Rani tak mau kalah.
“Iya, itu kalau
di kantor, tapi saat ini kita kan hanya berdua saja. Jadi kalau di luar kantor
jangan panggil aku pak, ya.” Pinta Alvin.
“Lalu saya harus
panggil apa?” tanya Rani kebingungan.
“Terserah mau
kamu panggil apa, mas atau abang atau mau panggil sayang juga boleh.” Ucap Alvin
sambil menaik turunkan alis.
“Jadi Bapak, eh...ngajak
saya kesini Cuma bahas panggilan ini?” Rani masih bingung mau memanggil pria di
hadapannya ini dengan panggilan apa, karena dia sudah terbiasa dengan panggilan
formal.
“Masih ada hal
lain yang ingin aku bicarakan, tapi kita tunggu makanannya datang aja terus
kita makan dulu setelah itu kita nahas hal penting tadi.”
Rani mengangguk
setuju, meski sebenarnya dia penasaran tapi perutnya juga terasa lapar. Beberapa
saat kemudin pelayan datang membawakan pesanan mereka, setelah itu mereka berdua
menikmati makanan dalam diam. Alvin selesai makan lebih dulu, ia memandangi
wajah Rani yang masih lahap menghabiskan makanannya, wanita itu tak sadar jika
Alvin menatapnya sedemikian rupa.
“Cantik.” Gumam Alvin
sambil tetap memandang wajah Rani, dan ternyata wanita itu mendengarnya.
“Pak Alvin bilang
apa barusan?” tanyanya sambil meraih segelas air putih lalu meminumnya hingga
__ADS_1
tandas.
“Kamu cantik.” Puji
Alvin terus terang.
“Setiap wanita
emang terlahir cantik, tapi cantiknya itu relatif. Ada yang memiliki kecantikan
wajah ada juga yang memiliki kecantikan hati, tergantung kita mau lihat dari
sudut pandang yang mana.” Ucap Rani menimpali pujian dari Alvin.
“Aku tidak sedang
membicarakan wanita lain, aku membicarakan kamu. Kamu itu cantik dimataku.”
“Ah, yang bener,
Pak. Bapak belum ketemu aja yang lebih cantik dari saya, tapi makasih lho atas
pujiannya.”
“Oke, kita
bicarakan hal penting itu sekarang. Ran aku sudah mengenalmu dengan sangat
dekat dan kamu juga sudah mengenalku, bagaimana kehidupan pribadiku kamu juga
sudah tahu. Bahkan kammu juga dekat dengan Ananta, putriku satu-satunya. Jadi,
maukah kamu menjadi istriku?”
Alvin meraih
tangan Rani dan menggemnya dengan erat, matanya menatap dengan teduh sosok
wanita di hadapannya itu. Bisa Alvin lihat kalau Rani sedang dilanda kegugupan
“Ke-kenapa harus
saya, Pak?” tanya Rani dengan bibir bergetar.
“Karena aku
mencintaimu, Ran.” Alvin ingin mengatakan lebih banyak hal, tetapi bibirnya
hanya mampu mengungkapkan kata cinta itu.
"Sa-saya
merasa nggak pantas buat jadi istri Pak Alvin." Rani berusaha menarik
tangannya, sejujurnya ia tidak menolak jika atasanya ini menyukai dirinya karena
Rani sendiri pun juga sebenarnya sudah jatuh hati sejak lama pada pria ini. Namun
ia harus tahu diri mengingat status dan kedudukannya.
“Kenapa? Apa kamu
menyukai Arman?” tanya Alvin dengan nada tidak rela.
“Bu-bukan begitu,
saya hanya...hanya....” Rani menggantungkan kalimatnya, ia bingung mengutarakan
alasan yang sebenarnya pada pria ini. Alvin menatapnya dengan mengangkat
sebelah alisnya, menunggu apa yang akan dikatakan wanita itu.
“Ran, jujur aku
__ADS_1
akui diluar sana banyak wanita yang berebut ingin menjadi pendamping hidupku. Kalau
aku hanya menggunakan standar kecantikan dan status sosial, aku bisa saja memilih
salah satu dari mereka. Tapi aku juga punya Ananta, aku ingin istriku kelak
juga bisa menyayangi anakku seperti anaknya sendiri, dan itu semua aku dapatkan
dari kamu, Ran. Ananta sangat dekat dan sayang sama kamu. Jadi, aku harap kamu
mau menjadi istriku demi Ananta dan juga aku.”
Panjang lebar
Alvin menjelaskan alasannya ingin mempersunting Rani menjadi istrinya, berharap
hati wanita itu luluh dan mau menerimanya.
“oh, ya kemarin
Ananta berpesan agar aku menghubunginya jika sudah bertemu denganmu.” A
Alvin meraih
ponsel dari kantung celananya dan mulai melakukan panggilan video dengan
putrinya, saat panggilan itu berlangung Alvin segera mengarahkan layar ke wajah
Rani. Seketika terlihat binar cerah di wajah Ananta.
“Bundaaa! Tata kangen
sama Bunda.” Pekiknya senang saat layar ponsel menunjukkan wajah Rani, orang
yang sangat dirindukannya.
“Eh, Bunda?” Rani
terkejut mendengar gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan Bunda, tetapi
hatinya juga senang bisa melihat wajah gadis itu lagi. Sebenarnya Rani juga
sangat merindukan Ananta.
"Iya, mulai
sekarang Tata akan manggil Bunda, Bunda suka, kan? Bunda kapan mau pulang ke
rumah?” tanya gadis polos itu, senyum ceria tak pernah lepas dari bibir
cantiknya.
“Pulang? Pulang kemana,
Nak?” tanya Rani tidak mengerti.
“Kata Papa, Papa
mau jemput Bunda dulu biar pulang ke rumah dan tinggal bersama. Papa, Bunda,
sama aku. Nanti kita tinggal sama-sama, aku seneng banget kalau nanti tinggal
sama Bunda. Aku bisa pamerin Bunda ke teman-temanku nanti.”
Rani terharu
hingga tidak bisa berkata-kata lagi, ia ingat dulu bagaimana cerita Ananta
sejak ditinggalkan oleh ibu kandungnya dan menjadi bahan olok-olokan teman
sekolahnya. Dan sekarang gadis kecil itu sangat bahagia saat sang ayah berjanji
membawanya pulang, akankah dia merusak kebahagiaan gadis kecil itu?
__ADS_1
"Bagaimana
Bunda? Bunda mau, kan, pulang bareng Papa dan jadi Bundanya Tata?”