
Aku memalingkan wajahku saat mendengar Mas Ilham menanyakan dimana surat rumah ini. Kukira dia sudah lupa akan hal itu, tapi ternyata tidak.
"Belum ketemu, kan kamu yang melarang aku lapor polisi."
Mas Ilham kemudian melepaskan pelukannya dari tubuhku, rupanya sikap manisnya tadi karena ada tujuannya. Bisa kulihat suamiku itu mengusap wajahnya dengan kasar. Mungkin dia geram karena surat itu hilang begitu saja.
"Kamu nggak coba mencarinya ke tempat lain? Barangkali aja kamu lupa meletakkannya."
"Sudah, sejak kemarin aku libur juga buat cari itu surat. Tapi tetap aja nggak ketemu, terus aku mau cari kemana?"
"Kemarin kamu libur?" Mas Ilham sepertinya terkejut mendengarnya.
"Iya, aku sengaja libur buat mencari dimana surat rumah ini, dan karena kamu melarangku lapor polisi jadinya yaa…" aku mengedikkan bahu sambil beranjak dari kursi dan menuju ke ranjang.
"Ya, sudah."
Maas Ilham meninggalkanku begitu saja, dari wajahnya sepertinya di frustasi karena tidak bisa menemukan dimana surat rumah ini. Huh, kamu pikir aku sebodoh itu.
****
"Gila kamu, Ran, kamu datang di acara nikahannya suami kamu sendiri?"
Aku sudah menduga Mira akan terkejut bgitu mendengar kalau aku cuti kemarin adalah untuk menghadiri pernikahan Mas Ilham. Sebenarnya waktu cutiku masih tersisa satu hari lagi. Namun, kemari Pak Alvin menghubungiku untuk segera masuk ke kantor. Alsannya, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.
"Hmm, iya." Aku hanya menatap datar ekspresi terkejut di wajah sahabatku ini.
"Aku nggak habis pikir, deh, Ran, kamu itu bodoh atau apa? Kenapa nggak kamu labrak atau kamu ceraikan saat itu juga, sih?"
Aku tahu mungkin kalau orang lain yang ada di posisiku mereka akan langsung melabrak dan menceraikan suami mereka. Namun, aku masih punya tujuan lain yaitu membalaskan sakit hatiku pada mereka.
"Enak aja langsung cerai, aku maunya biar mereka menderita dulu baru kulepaskan itu suami nggak berguna macam dia."
"Kamu yakin?" Mira menatapku dengan sorot mata tidak percaya.
"Kenapa?"
"Enggak, aku harap kamu enggak goyah karena merasa kasihan sama mereka."
Aku menghela napas panjang membuat Mira menoleh dengan kening berkerut.
"Ada apa?"
"Mereka membawa wanita itu tinggal bersama kami."
__ADS_1
"Apa! Dan kamu menerimanya?"
Anggukan kepalaku mungkin sudah cukup untuk membuat Mira frustasi dan menatapku dengan tatapan yang entah. Mungkin benar, aku memang gila karena sudah bersedia menampung maduku di rumah.
"Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu."
Bukan hanya kamu, Mir, aku juga nggak ngerti. Tapi aku yakin apa yang aku lakukan udah benar. Dan mereka hanya tinggal menunggu pembalasanku itu aja.
Tiba-tiba terdengar dering panggilan interkom di mejaku, melihat dari nomor sambungannya itu berasal dari ruangan Pak Alvin.
"Hallo, iya, Pak?" Kujawab panggilan tersebut dan langsung menempelkan gagang telepon ke telinga.
"Bisa kamu ke ruangan saya?"
"I-iya, Pak."
Setelah memutus sambungan tadi aku segera menuju ruangan Pak Alvin. Setelah mengutarakan niatku pada sekretarisnya, akhirnya aku dipersilahkan masuk ke ruangan bos besar ini.
"Permisi, Pak, ada apa Bapak memanggil saya?" Tanyaku dengan gugup, takut jika aku sudah melakukan kesalahan atau apa.
"Bisa saya minta bantuan kamu?" Kali ini nada suara pria itu terdengar normal, tidak seperti biasanya yang seperti berapi-api.
"Ba-bantuan apa ya, Pak?" Dahiku sedikit mengernyit, bukankah disini aku adalah karyawannya yang artinya membantu pekerjaan dia.
Kulihat Pak Alvin mulai membereskan barang-barang yang ada di mejanya, kemudian dengan sikap hormat aku pamit meninggalkan ruangan ini. Jujur saja aku tidak tahu maksud dari Pak Alvin, mau tanya pun sepertinya aku sudah lebih dulu takut.
"Lho, kamu mau kemana, Ran?" Tanya Mira saat melihatku membereskan peralatan di meja dan mulai mencangklongkan tas di bahuku.
Aku urung menjawab pertanyaan Mira saat kulihat Pak Alvin keluar dari ruangannya. Dia menyuruhku mendekat dengan isyarat tangannya, dan dengan langkah pelan aku menurutinya. Setelah berbicara sebentar dengan sekretarisnya, Pak Alvin kemudian menyuruhku mengikutinya.
"Maaf, Pak, kita mau kemana, ya?"
Aku bertanya dengan perasaan tidak enak, apalagi ketika sekretarisnya tadi melihatku dengan tatapan heran. Aku takut dia akan berpikiran yang aneh-aneh tentangku. Kami sendiri sedang berada di dalam lift menuju lantai dasar.
"Ikuti saja nanti juga kamu akan tahu sendiri."
Pria itu menjawab singkat, tetapi tetap saja aku masih penasaran. Seharusnya dia, kan, keluar dengan sekretarisnya. Itu yang biasanya aku lihat di film atau baca di novel. Sedangkan aku apa posisiku, yang lebih tinggi dari aku aja ada.
Lift terbuka, dan aku mengikuti langkah Pak Alvin di belakangnya sampai ke parkiran. Pria itu membuka mobilnya dan menyuruhku masuk. Dengan ragu dan bingung memilih apakah aku harus duduk di depan atau di belakang, akhirnya aku memilih membuka pintu belakang.
"Bisa pindah ke depan?" Tanyanya sambil melihatku dari kaca depan mobilnya.
"Eh, a-apa, Pak?" Aku menatap pria itu bingung, bagaimana mungkin aku duduk di depan.
__ADS_1
"Kamu pindah ke depan, biar nggak dikira aku ini driver online."
Dengan terpaksa aku menuruti keinginan pria itu.
"Maaf, Pak." Ucapku sambil duduk di kursi depan.
Mobil pun melaju dan selama perjalanan Pak Alvin tidak berkata apa-apa, membicarakan kemana tujuan kami pun tidak. Aku hanya diam saja sambil melempar pandangan keluar. Sambil dalam hati memendam tanya pria ini mau membawaku kemana.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya modern. Bentukannya seperti susunan kotak-kotak besar dengan atap yang mendatar. Masuk ke dalamnya membuatku tercengang, rumah ini terlihat begitu luas, mungkin karena sebagian pintu dan jendelanya hanya terdiri dari kusen dan kaca.
"I-ini rumah siapa, Pak?" Tanyaku sambil mengagumi interior rumah ini.
"Ini rumah saya." Jawabannya seketika membuatku tercengang, untuk apa Pak Alvin membawaku ke rumahnya.
"Papa!" Seorang gadis kecil berlari keluar dari dalam sebuah kamar, kemudian gadis kecil itu merentangkan tamgannya dan memeluk pria itu.
Pak Alvin pun menyambut pelukan gadis kecil itu kemudian menggendongnya. Aku bisa melihat kalau hubungan antara ayah dan anak ini sangat erat. Membuatku terharu dan berpikir andai saja aku dan Mas Ilham bisa segera mempunyai anak. Hidup kami pasti akan bahagia seperti ini.
"Tante ini siapa?" Gadis itu bertanya sambil menatapku, matanya terlihat bulat lucu dengan bulu mata yang lentik. Apalagi pipi gembulnya itu, wajahnya cantik dan garis mukanya menurun dari sang ayah. Pantas saja kalau gadis kecil itu secantik ini sebab dia memiliki ayah yang tampan.
Eh, astaga, mikir apa aku barusan. Tidak seharusnya aku memikirkan pria yang sudah beristri.
"Namanya Tante Rani, hari ini dia yang akan menemani kamu."
"Apa, Pak?"
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
terimakasih sudah mengikuti cerita RaRa, sambil menunggu bab selanjutnya RaRa akan merekomendasikan novel keren dari teman RaRa.
judulnya: CINTA COOL AND BARBAR
karya : Alvisha
Blurb
Aliando Ivander sang idola sekolah. Dia mencintai murid baru yang ada di sekolahnya. Tepat di hari pertama gadis itu sekolah, dia langsung menyatakan perasaannya.
"Aku tidak minta persetujuanmu dan aku tidak menerima penolakan!" Itu kalimat andalannya.
Alisha Leandra gadis cantik murid pindahan dengan terpaksa harus menjalin hubungan dengan Aliando. Bagaimana dia menghadapi fans gilanya Aliando? Bagaimana akhirnya dia bisa menerima Aliando? dan apakah misteri kehidupan Alisha bisa diterima oleh Aliando? Karena ternyata Aliando bukan satu-satunya pria dalam hidupnya.
__ADS_1