Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
BAB 34


__ADS_3

"Sudah berapa lama kamu terlibat masalah Alvin?" Tanya Arman pada Rani sepeninggal Alvin. Wanita itu tidak langsung menjawab, ia menatap lelaki itu sekilas. Di benaknya ia berpikir lelaki itu terlalu ingin tahu.


"Nanti juga Pak Alvin cerita sendiri." Rani menjawab sekenanya, malas meladeni pria yang ingin tahu itu.


"Iya, Alvin pasti cerita, tapi nggak ada salahnya, kan, aku mendengar versimu." Pria itu memposisikan duduknya dengan santai, mengangkat satu kakinya ke atas kaki yang lain, lalu menautkan kedua tangannya di lutut.


"Tidak ada yang menarik, pasti sama saja antara versiku atau versi Pak Alvin." Rani semakin jengah dengan sikap pria ini.


"Kamu benar-benar tidak berubah." Ucap pria itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman, Rani menatap penasaran, "siapa Anda sebenarnya?"


Rani mencoba mengingat barangkali sebelumnya ia pernah bertemu dengan pria ini. Namun, nihil, sekeras apapun ia mencoba dirinya masih tidak bisa mengingat siapa pria ini.


"Sebenarnya Anda siapa?" Rani mengulang pertanyaannya, pria itu tetap saja tak kunjung menjawab. Ia malah berdiri dan mendekati ranjang Rani, kemudian mengacak pucuk kepalanya.


"Ingatanmu payah juga."


****


Rani sudah bisa keluar dari rumah sakit, sebelumnya dia sudah diberitahu Alvin jika kasus itu awalnya ditangani pihak kepolisian. Namun, karena mengingat status Karina, Alvin menyelesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan.


"Maaf, Ran, aku tidak bisa menemani kamu keluar dari rumah sakit. Aku harus menemani Ananta terapi psikis." Ucap Alvin saat pria itu menghubunginya lewat telepon.


"Iya, Pak, tidak apa-apa, fokus saja untuk kesehatan Ananta. Saya baik-baik saja, Bapak tidak usah khawatir."

__ADS_1


Rani sudah bersiap untuk pulang ketika pintu ruangannya dibuka oleh seseorang. Rani menoleh mengira yang membuka pintu tadi adalah suster, tetapi ternyata pria itu. Pria yang sampai hari ini Rani belum tahu siapa namanya.


"Bagaimana, sudah siap?" Tanya pria itu sambil melangkah memasuki ruangan.


"Bapak mau apa?" Bukannya menjawab Rani malah bertanya balik.


"Ngantar kamu pulang, lah, kan, Alvin ada urusan hari ini." Pria itu sudah mengambil tas dari pegangan Rani, wanita itu hendak menolak tetapi tenaganya kalah kuat.


"Bapak nggak perlu repot, saya bisa pulang sendiri." Rani mencoba mengambil kembali tasnya, tetapi pria itu menjauhkannya dari jangkauan Rani.


"Saya bukan bapakmu, dan saya bertanggung jawab menjaga keselamatanmu."


"Emang siapa yang udah ngasih tanggung jawab itu sama Bapak?" Tanya Rani dengan kesal.


Selama mobil melaju tidak ada yang membuka obrolan, keduanya diam. Rani menatap ke luar jendela, sedang pria yang bersamanya sesekali meliriknya.


"Pertanyaanku kemarin sepertinya masih belum kamu jawab?" Pria itu kemudian membuka suara, membuat Rani menoleh dan mengernyitkan dahinya.


"Pertanyaan yang mana?" Tanya Rani malas mengingat percakapannya dengan pria ini.


"Sejak kapan kamu terlibat masalah Alvin?" Pria itu mengulang pertanyaan yang ia lontarkan waktu itu sambil melirik Rani sekilas.


Rani ingat tentang pertanyaan itu dan dia memang enggan menjawabnya, "saya tidak punya kewajiban untuk menjawabnya."

__ADS_1


Pria itu menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Rani. Rani yang tadinya kembali menatap keluar tiba-tiba menoleh ke arah pria itu.


"Bapak juga belum menjawab pertanyaan saya, lho."


"Pertanyaan yang mana?" Pria itu ikut menoleh sambil tangannya tetap fokus memutar kemudi.


"Bapak ini siapa sebenarnya? Dan saya juga belum tahu siapa nama Bapak?"


"Apa aku kelihatan setua itu sampai harus kamu panggil bapak?"


"Kebiasaan, ya, suka membalikkan pertanyaan." Rani mengerucutkan bibirnya, ia kembali menatap keluar jendela merasa kesal dengan pria di sampingnya itu. Baru kali ini dia bertemu pria seperti ini.


"Jangan ngambek, kamu kelihatan jelek kalau ngambek kayak gitu." Pria tersebut mencoba menggoda Rani, tetapi wanita itu tetap cuek dan tidak menghiraukannya.


"Kamu tuh kebiasaan, ya, suka maksa dan penasaran." Pria itu berkata lagi, membuat Rani cepat-cepat menoleh dan menatapnya penasaran.


"Kamu sebenarnya siapa, sih?" Tanya Rani tidak sabar.


"Rumah kamu masih tetap yang dulu, kan?" Tanya pria itu, membuat Rani terbelalak. Ia kemudian menatap ke depan, memang benar jalan ini adalah jalan menuju ke rumahnya. Karena kesal ia sampai tidak sadar jika sedari tadi pria itu tidak menanyakan arah menuju rumahnya.


Dan tiba-tiba saja mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan rumah Rani. Rani jadi makin penasaran siapa sebenarnya pria ini.


"Siapa Anda sebenarnya?" Kali ini Rani berusaha bertanya dengan sopan, berharap pria itu akan menyebutkan jati dirinya.

__ADS_1


"Beruang madu."


__ADS_2