
Rani membekap
mulutnya tidak percaya dengan permintaan bocah kecil itu, matanya sampai
berkaca-kaca. Apalagi saat melihat ketulusan yang terpancar di mata Ananta, apa
ia bisa menolak permintaan gadis kecil itu?
“Bagaimana,
Bunda? Bunda mau, kan?” ucap Ananta dengan bibir bergetar.
Tanpa berpikir
lagi Rani menganggukkan kepala, menyetujui permintaan gadis kecil itu, bukan
hanya Ananta yang berteriak kegirangan tetapi Alvin juga. Hanya saja pria itu
bisa mengendalikan diri, justru kedua matanya terlihat berkaca-kaca dan itu
disadari oleh Rani. Hingga beberapa saat mata keduanya bertemu dan saling
menatap lekat.
“Bapak baik-baik
saja?” tanya Rani saat pria itu selesai menutup panggilannya dengan sang putri.
Alvin
menengadahkan kepala sejenak untuk menghalau kaca-kaca yang akan turun di
matanya, setelah yakin bisa mengendalikan diri pria itu menartap wajah Rani
dengan lekat.
“Aku baik-baik
saja, sangat baik malah. Dan soal tadi kamu beneran, kan, mau jadi ibu untuk
Ananta? Maaf bukan masksudku untuk menjadikan Ananta sebagai alat untuk
mendapatkan kamu, tapi itu murni karena aku menginginkanmu. Dan kebetulan saja
Ananta juga klop sama kamu.”
Alvin takut jika
Rani berpikiran ia menjadikan putrinya sebagai alat untuk mendapatkan hati
wanita itu.
"Iya, Pak,
saya paham. Saya juga sayang sama Ananta, dan saya juga sayang sama Pak Alvin.”
Ucap Rani sambil menunduk malu.
“Ya, kalau kamu
__ADS_1
sayang sama saya kamu nggak perlu lagi, kan, panggil saya Pak gitu.” Ucap Alvin
dengan perasaan bahagia yang membuncah di dadanya.
“Ya, saya harus
panggil apa? Udah kebiasaan, sih.”
“Apa kek, Mas
atau abang atau sayang juga boleh.” Alvin menarik tangan Rani dan
menggenggamnya, kemudian mencium punggung tangan wanita itu.
“Makasih, ya,
Ran, makasih karena akhirnya kamu memberi kesempatan untuk saya.”
Setelah dua hari
menghabiskan waktu bersama di Bali, Alvin dan Rani sudah kembali ke Jakarta. Mereka
kemudian berencana mengurus acara lamaran untuk Rani. Karena Rani sudah tidak
memiliki orang tua lagi, maka Rani menghubungi bibinya. Namanya Bibi Sinta, dia
adalah kakak dari ayahnya Rani. Rani sudah menghubungi Bibi Sinta dan mengabarkan
jika dia butuh bantuannya untuk mengurus pernikahan ini.
Awalnya Bibi
sudah bercerai dari Ilham. Rani juga bercerita penyebab perceraian mereka, Bibi
Sinta pun berjanji akan membantu Rani. Berita tentang rencana pernikahan ini
sudah sampai di telinga Arman, pria itu menghubungi Rani dan meminta berbicara
dengan wanita itu.
“Jadi, kamu sudah
mantap untuk menikah dengan Alvin?” tanya Arman saat mereka bertemu di sebuah
cafe tak jauh dari tempat kerjanya.
“Iya, Man.” Jawab
Rani singkat dan membuat Arman jengah.
“Sejak kapan?
Sejak kapan kamu suka dengan Alvin?”
“Sebenarnya sejak
dulu aku sudah kagum dengan Pak Alvin, hanya saja waktu itu aku sadar sama
posisiku. Tapi sekarang aku benar-benar sudah jatuh hati sama Pak Alvin.”
__ADS_1
“Kamu yakin
dengan perasaan kamu itu? Atau kamu nggak enak saja menolak permintaan Ananta?”
Rani tertegun,
dari mana Arman mendapatkan informasi itu? Setahunya saat Ananta menelponnya
waktu itu Arman sudah kembali ke Jakarta.
“Kamu tahu
darimana?”
“Nggak penting
aku tahu darimana, yang aku tanyakan apa kamu yakin dengan keputusanmu? Kamu
bisa berubah pikiran dari sekarang mumpung belum terlambat.”
“Eggak, Man, aku
yakin dengan keputusanku. Aku sayanng sama Ananta, aku juga sudah yakin untuk
menjalani pernikahan ini.”
“Kamu beneran
nggak kasih kesempatan buat aku, Ran?” ucap Arman dengan wajah memelasnya, Rani
tahu jika temannya ini menaruh hati padanya.
“Maaf, Man, kita tidak
pernah tahu kepada siapa hati ini akan berlabuh. Dan aku sudah memutuskan akan
melabuhkan hatiku selamanya kepada Alvin.”
“Ah, potek hati
abang, Neng.” Kelakar Arman sambil meremas dada sebelah kirinya sambil
berpura-pura meringis kesakitan.
“Ada-ada aja kamu
Man, aku doain kamu segera dapat jodoh yang lebih baik. Yang sayang dan cinta
sama kamu.”
“Tapi aku mau
jodohku itu kamu, Ran.” Ucap Arman dengan memasang miik wajah polos seperti
anak kecil.
“Maaf, Man.” Hanya
kata itu yangn bisa Rani ucapkan.
__ADS_1