Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 46


__ADS_3

Rani membekap


mulutnya tidak percaya dengan permintaan bocah kecil itu, matanya sampai


berkaca-kaca. Apalagi saat melihat ketulusan yang terpancar di mata Ananta, apa


ia bisa menolak permintaan gadis kecil itu?


“Bagaimana,


Bunda? Bunda mau, kan?” ucap Ananta dengan bibir bergetar.


Tanpa berpikir


lagi Rani menganggukkan kepala, menyetujui permintaan gadis kecil itu, bukan


hanya Ananta yang berteriak kegirangan tetapi Alvin juga. Hanya saja pria itu


bisa mengendalikan diri, justru kedua matanya terlihat berkaca-kaca dan itu


disadari oleh Rani. Hingga beberapa saat mata keduanya bertemu dan saling


menatap lekat.


“Bapak baik-baik


saja?” tanya Rani saat pria itu selesai menutup panggilannya dengan sang putri.


Alvin


menengadahkan kepala sejenak untuk menghalau kaca-kaca yang akan turun di


matanya, setelah yakin bisa mengendalikan diri pria itu menartap wajah Rani


dengan lekat.


“Aku baik-baik


saja, sangat baik malah. Dan soal tadi kamu beneran, kan, mau jadi ibu untuk


Ananta? Maaf bukan masksudku untuk menjadikan Ananta sebagai alat untuk


mendapatkan kamu, tapi itu murni karena aku menginginkanmu. Dan kebetulan saja


Ananta juga klop sama kamu.”


Alvin takut jika


Rani berpikiran ia menjadikan putrinya sebagai alat untuk mendapatkan hati


wanita itu.


"Iya, Pak,


saya paham. Saya juga sayang sama Ananta, dan saya juga sayang sama Pak Alvin.”


Ucap Rani sambil menunduk malu.


“Ya, kalau kamu

__ADS_1


sayang sama saya kamu nggak perlu lagi, kan, panggil saya Pak gitu.” Ucap Alvin


dengan perasaan bahagia yang membuncah di dadanya.


“Ya, saya harus


panggil apa? Udah kebiasaan, sih.”


“Apa kek, Mas


atau abang atau sayang juga boleh.” Alvin menarik tangan Rani dan


menggenggamnya, kemudian mencium punggung tangan wanita itu.


“Makasih, ya,


Ran, makasih karena akhirnya kamu memberi kesempatan untuk saya.”


Setelah dua hari


menghabiskan waktu bersama di Bali, Alvin dan Rani sudah kembali ke Jakarta. Mereka


kemudian berencana mengurus acara lamaran untuk Rani. Karena Rani sudah tidak


memiliki orang tua lagi, maka Rani menghubungi bibinya. Namanya Bibi Sinta, dia


adalah kakak dari ayahnya Rani. Rani sudah menghubungi Bibi Sinta dan mengabarkan


jika dia butuh bantuannya untuk mengurus pernikahan ini.


Awalnya Bibi


sudah bercerai dari Ilham. Rani juga bercerita penyebab perceraian mereka, Bibi


Sinta pun berjanji akan membantu Rani. Berita tentang rencana pernikahan ini


sudah sampai di telinga Arman, pria itu menghubungi Rani dan meminta berbicara


dengan wanita itu.


“Jadi, kamu sudah


mantap untuk menikah dengan Alvin?” tanya Arman saat mereka bertemu di sebuah


cafe tak jauh dari tempat kerjanya.


“Iya, Man.” Jawab


Rani singkat dan membuat Arman jengah.


“Sejak kapan?


Sejak kapan kamu suka dengan Alvin?”


“Sebenarnya sejak


dulu aku sudah kagum dengan Pak Alvin, hanya saja waktu itu aku sadar sama


posisiku. Tapi sekarang aku benar-benar sudah jatuh hati sama Pak Alvin.”

__ADS_1


“Kamu yakin


dengan perasaan kamu itu? Atau kamu nggak enak saja menolak permintaan Ananta?”


Rani tertegun,


dari mana Arman mendapatkan informasi itu? Setahunya saat Ananta menelponnya


waktu itu Arman sudah kembali ke Jakarta.


“Kamu tahu


darimana?”


“Nggak penting


aku tahu darimana, yang aku tanyakan apa kamu yakin dengan keputusanmu? Kamu


bisa berubah pikiran dari sekarang mumpung belum terlambat.”


“Eggak, Man, aku


yakin dengan keputusanku. Aku sayanng sama Ananta, aku juga sudah yakin untuk


menjalani pernikahan ini.”


“Kamu beneran


nggak kasih kesempatan buat aku, Ran?” ucap Arman dengan wajah memelasnya, Rani


tahu jika temannya ini menaruh hati padanya.


“Maaf, Man, kita tidak


pernah tahu kepada siapa hati ini akan berlabuh. Dan aku sudah memutuskan akan


melabuhkan hatiku selamanya kepada Alvin.”


“Ah, potek hati


abang, Neng.” Kelakar Arman sambil meremas dada sebelah kirinya sambil


berpura-pura meringis kesakitan.


“Ada-ada aja kamu


Man, aku doain kamu segera dapat jodoh yang lebih baik. Yang sayang dan cinta


sama kamu.”


“Tapi aku mau


jodohku itu kamu, Ran.” Ucap Arman dengan memasang miik wajah polos seperti


anak kecil.


“Maaf, Man.” Hanya


kata itu yangn bisa Rani ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2