Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 47


__ADS_3

Hari ini sesuai


rencana Alvin dan keluarga akan mengunjungi rumah Bibi Sinta, jaraknya tak jauh


dari tempat tinggal Rani. A;vin berangkat dengan mamanya dan juga adiknya yang


sengaja datang dari Singapura. Alvin memiliki seorang adik perempuan bernama Cindy,


ia sudah menikah dengan pria berkembangsaan Jepang dan tinggal du Singapura. Cindy


sendiri adalah seorang desainer dan meiliki butik terkenal di negeri singa itu.


 Sejak diberitahu kalau sang kakak akan menikah


lagi wanita cantik dengan tubuh semampai seperti model itu sangat antusias. Apalagi


saat ia tahu sosok Rani dari sang kakak yang sederhana dengan kecantikan yang


natural, ia sangat mendukung sang kakak menikah dengan wanita piihannya itu. Apalagi


jika melihat Rani sangat menyayangi Ananta begitupun sebaliknya, apalagi


pembawaan Rani yang ramah dan menyenangkan. Berbeda dengan Karina, mantan kakak


iparnya itu.


Rani sendiri


sudah berangkat ke rumah Bibi Sinta sejak dua hari yang lalu, sekarang ia dan


keluarganya tengah bersiap menyambut kedatangan Alvin beserta rombongan keluarganya.


Rani hanya mengenakan pakaian sederhana saat ini, gaun berbahan brukat berlengan


panjang warna dusty pink jadi pilihannya, meski terkesan sederhana tetapi Rani


tetap terliht cantik ditambah make upnya yang natural.


“Ran, bibi ngggak


nyangka kalau pernikahan kamu sama Ilham sudah berakhir.” Ucap Bibi Sinta saat mereka


sedang menunggu kedatangan keluarga Alvin.


“Ya, bagaimana


lagi, Bi, Rani tidak bisa lagi menjalin hubungan dengan orang yang mengkhianati


Rani.”


“Tapi syukurlah


kalau sekarang kamu dapat ganti yang lebih baik, siapa tahu dengan pernikahanmu


kali ini kamu akan menemukan kebahagiaanmu.” Bibi Sinta menggemnggam tangan

__ADS_1


Rani.


Bibi Sinta


sendiri sebenarnya sudah memiliki dua orang anak permpuan, mereka sudah menikah


dan hidup dengan keluarganya masinng-masing. Meski begitu kedua anak Bibi Sinta—Alya


dan Marisa—masih sering mengunjungi ibunya.


“Itu mereka sudah


datang.”


Iring-iringan


mobil mewah memasuki pelataran rumah Bibi Sinta, satu persatu penumpang di


mobil itu mulai turun. Jantung Rani berdegup dengan kencang menunggu sang


pujaan hati turun dari mobil. Hinga ia harus menahan napas beberapa saat ketika


dari pintu belakang sebuah mobil mercedes benz keluar seorang pria dalam


balutan jas abu-abu, dialah Alvin. Entah kenapa setelah beberapa hari tidak


bertemu aura ketampanan pria itu semakin mencuat.


Alvin melangkah memasuki


mamanya Alvin dan juga Cindy.


“Selamat datang


di gubuk kami Nak Alvin beserta keluarga.” Paman Hendry, suami Bibi Sinta


menyambut iring-iringan keluarga Alvin, pria itu menjabat tangan Alvin dengan


erat.


“Iya, Paman, maaf


kalau kedatangan kami merepotkan.” Ujar Alvin membalas sambutan Paman Hendry.


“Tentu tidak Nak


Alvin, mari silahkan masuk.”


Kedua keluarga


itu lantas memasuki ruang tamu, setelah berbasa-basi sejenak akhirnya acara


utama dimulai. Diawali dengan sambutan dari keluarga Alvin yang diwakili oleh


Paman Hidayat, adik dari mamanya Alvin kemudin dilanjutkan dengan acara utama

__ADS_1


yaitu prosesi lamaan anatara Alvin dan Rani.


Alvin menyematkan


cincin di jari manis Rani, cincin emas dengan mata berlian di tengahnya. Cincin


yang Alvin pesan secara khusus untuk wanita spesial seperti Rani. Rani memandang


takjub cincin yang baru saja tersemat di jari manisnya, bukan karena harga atau


materialnya tapi karena cincin itu diberikan oleh orang yang sangat spesial


dalam hidupnya kini.


“Bunda cantik


banget, kapan Bunda bisa tinggal sama Tata?” Ananta menghampiri Rani dan


bergelayut manja di lengan wanita itu.


“Nanti ya, Sayang


kalau Bunda sudah sah jadi istri papa kamu.” Jawab Rani sambil mencium gemas


pipi gadis kecil itu.


“Tapi kapan Bunda?”


tanya gadis itu lagi dengan bibir mengerucut, membuat Rani semakin gemas dan


kembali mencium pipinya. Melihat hal itu Alvin dibuat cemburu dengan interaksi dua


wanita beda generasi itu.


“Aku juga mau,


dong, dicium kayak Tata gitu.” Ucap Alvin berbisisk di telinga Rani, membuat


wanita itu menghadiahi cubitan kecil di pinggangnya.


“Nanti ya, Sayang,


dua minggu lagi Bunda sudah resmi jadi istrinya Papa. Tata mau kan nunggu dua


minggu lagi, nggak lama, kok.” Wanita itu berkata dengan lembut kepada Ananta,


memberi gadis kecil itu pengetian.


“Janji ya, Bunda,


dua minggu lagi? Tata udah nggak sabar pengen bobo sama Bunda.” Ucap gadis kecil


itu dengan mata berbinar.


“Papa juga nggak sabar pengen bobo sama Bunda."

__ADS_1


__ADS_2