
Hari ini sesuai
rencana Alvin dan keluarga akan mengunjungi rumah Bibi Sinta, jaraknya tak jauh
dari tempat tinggal Rani. A;vin berangkat dengan mamanya dan juga adiknya yang
sengaja datang dari Singapura. Alvin memiliki seorang adik perempuan bernama Cindy,
ia sudah menikah dengan pria berkembangsaan Jepang dan tinggal du Singapura. Cindy
sendiri adalah seorang desainer dan meiliki butik terkenal di negeri singa itu.
Sejak diberitahu kalau sang kakak akan menikah
lagi wanita cantik dengan tubuh semampai seperti model itu sangat antusias. Apalagi
saat ia tahu sosok Rani dari sang kakak yang sederhana dengan kecantikan yang
natural, ia sangat mendukung sang kakak menikah dengan wanita piihannya itu. Apalagi
jika melihat Rani sangat menyayangi Ananta begitupun sebaliknya, apalagi
pembawaan Rani yang ramah dan menyenangkan. Berbeda dengan Karina, mantan kakak
iparnya itu.
Rani sendiri
sudah berangkat ke rumah Bibi Sinta sejak dua hari yang lalu, sekarang ia dan
keluarganya tengah bersiap menyambut kedatangan Alvin beserta rombongan keluarganya.
Rani hanya mengenakan pakaian sederhana saat ini, gaun berbahan brukat berlengan
panjang warna dusty pink jadi pilihannya, meski terkesan sederhana tetapi Rani
tetap terliht cantik ditambah make upnya yang natural.
“Ran, bibi ngggak
nyangka kalau pernikahan kamu sama Ilham sudah berakhir.” Ucap Bibi Sinta saat mereka
sedang menunggu kedatangan keluarga Alvin.
“Ya, bagaimana
lagi, Bi, Rani tidak bisa lagi menjalin hubungan dengan orang yang mengkhianati
Rani.”
“Tapi syukurlah
kalau sekarang kamu dapat ganti yang lebih baik, siapa tahu dengan pernikahanmu
kali ini kamu akan menemukan kebahagiaanmu.” Bibi Sinta menggemnggam tangan
__ADS_1
Rani.
Bibi Sinta
sendiri sebenarnya sudah memiliki dua orang anak permpuan, mereka sudah menikah
dan hidup dengan keluarganya masinng-masing. Meski begitu kedua anak Bibi Sinta—Alya
dan Marisa—masih sering mengunjungi ibunya.
“Itu mereka sudah
datang.”
Iring-iringan
mobil mewah memasuki pelataran rumah Bibi Sinta, satu persatu penumpang di
mobil itu mulai turun. Jantung Rani berdegup dengan kencang menunggu sang
pujaan hati turun dari mobil. Hinga ia harus menahan napas beberapa saat ketika
dari pintu belakang sebuah mobil mercedes benz keluar seorang pria dalam
balutan jas abu-abu, dialah Alvin. Entah kenapa setelah beberapa hari tidak
bertemu aura ketampanan pria itu semakin mencuat.
Alvin melangkah memasuki
mamanya Alvin dan juga Cindy.
“Selamat datang
di gubuk kami Nak Alvin beserta keluarga.” Paman Hendry, suami Bibi Sinta
menyambut iring-iringan keluarga Alvin, pria itu menjabat tangan Alvin dengan
erat.
“Iya, Paman, maaf
kalau kedatangan kami merepotkan.” Ujar Alvin membalas sambutan Paman Hendry.
“Tentu tidak Nak
Alvin, mari silahkan masuk.”
Kedua keluarga
itu lantas memasuki ruang tamu, setelah berbasa-basi sejenak akhirnya acara
utama dimulai. Diawali dengan sambutan dari keluarga Alvin yang diwakili oleh
Paman Hidayat, adik dari mamanya Alvin kemudin dilanjutkan dengan acara utama
__ADS_1
yaitu prosesi lamaan anatara Alvin dan Rani.
Alvin menyematkan
cincin di jari manis Rani, cincin emas dengan mata berlian di tengahnya. Cincin
yang Alvin pesan secara khusus untuk wanita spesial seperti Rani. Rani memandang
takjub cincin yang baru saja tersemat di jari manisnya, bukan karena harga atau
materialnya tapi karena cincin itu diberikan oleh orang yang sangat spesial
dalam hidupnya kini.
“Bunda cantik
banget, kapan Bunda bisa tinggal sama Tata?” Ananta menghampiri Rani dan
bergelayut manja di lengan wanita itu.
“Nanti ya, Sayang
kalau Bunda sudah sah jadi istri papa kamu.” Jawab Rani sambil mencium gemas
pipi gadis kecil itu.
“Tapi kapan Bunda?”
tanya gadis itu lagi dengan bibir mengerucut, membuat Rani semakin gemas dan
kembali mencium pipinya. Melihat hal itu Alvin dibuat cemburu dengan interaksi dua
wanita beda generasi itu.
“Aku juga mau,
dong, dicium kayak Tata gitu.” Ucap Alvin berbisisk di telinga Rani, membuat
wanita itu menghadiahi cubitan kecil di pinggangnya.
“Nanti ya, Sayang,
dua minggu lagi Bunda sudah resmi jadi istrinya Papa. Tata mau kan nunggu dua
minggu lagi, nggak lama, kok.” Wanita itu berkata dengan lembut kepada Ananta,
memberi gadis kecil itu pengetian.
“Janji ya, Bunda,
dua minggu lagi? Tata udah nggak sabar pengen bobo sama Bunda.” Ucap gadis kecil
itu dengan mata berbinar.
“Papa juga nggak sabar pengen bobo sama Bunda."
__ADS_1