
Rani mendorong Ananta meninggalkan taman rumah sakit, sudah cukup waktunya bagi bocah kecil itu untuk jalan-jalan. Ia sengaja tidak menanggapi ucapan Ananta tadi yang memintanya untuk menjadi ibunya, Rani menganggap itu hanya ucapan polos dari bocah berusia tujuh tahun tersebut.
Sesampainya di kamar Rani mendengar ponselnya berdering, ia sengaja meninggalkan benda pipih itu di kamar agar tidak mengganggu Ananta. Rani segera menyambar benda itu setelah membaringkan tubuh Ananta di kasurnya.
"Iya, ada apa, Pak?" Rupanya panggilan tadi dari Alvin.
"Apa kalian disana baik-baik saja?"
Rani mengusap kepala Ananta, "iya, kami baik-baik saja. Memang ada apa?"
"Aku mungkin terlambat ke sana nanti, di depan rumah banyak wartawan menunggu, di kantor juga begitu."
Kening Rani berkerut mendengar ucapan Alvin, "kenapa bisa begitu?" Tanyanya.
"Mungkin mereka menunggu klarifikasi dariku. Sudahlah, yang penting kalian aman. Kalau ada apa-apa hubungi aku."
Sambungan diputus, Rani menghela napasnya sejenak. Ia memeriksa ponselnya kembali, sebab tadi ia sempat melihat ada banyak panggilan dari Mira sahabatnya. Kemudian ia menghubungi balik karena tahu jam segini pasti Mira sedang istirahat.
"Hallo, Mir, ada a…."
"Eh, Raniii, untung kamu telepon. Aku mau tanya berita yang udah beredar itu nggak bener, kan?"
Belum selesai Rani mengucapkan salam, Mira sudah memberondongnya dengan pertanyaan.
"Yaa, enggak sepenuhnya benar, sih."
__ADS_1
"Maksud kamu gimana?"
Rani bisa tahu ekspresi wajah Mira kalau sedang penasaran seperti sekarang ini, biasanya sahabatnya itu akan duduk semakin menempel padanya. Rani membayangkan saat ini Mira kebingungan mau menempel pada siapa, sebab di sebelah meja kerjanya tidak ada tembok atau sandaran apapun.
Rani akhirnya menceritakan semua kejadian yang terjadi di Bandung waktu itu, mulai dari awal hingga berakhir di rumah sakit seperti saat ini. Tidak ada yang ditambah-tambahi, Rani hanya tidak menceritakan bagian ketika Alvin mengatakan pada Karina bahwa hubungan mereka sudah semakin dekat.
"Oh, jadi begitu ceritanya."
Rani bisa membayangkan kalau saat berkata demikian sahabatnya ini pasti sambil menganggukkan kepalanya.
"Eh, Ran, tapi gosip yang beredar di kantor nggak seperti itu, loh. Di sini kabarnya kamu memang sengaja deketin Pak Alvin."
Rani menghela napasnya berat, gosip seperti itu bisa saja cepat beredar.
"Always, Ran, aku selalu percaya sama kamu."
Rani bersyukur sahabatnya itu masih percaya padanya.
Setelah berbincang dengan Mira lewat telepon, Rani berselancar di dunia maya. Kebetulan Ananta sudah tertidur setelah meminum obatnya tadi. Mata Rani terbelalak melihat berita di akun-akun gosip. Disana terpampang jelas fotonya yang diambil dari video yang viral waktu itu.
Dalam narasi menyebutkan bahwa dia adalah wanita yang sudah mempengaruhi Alvin untuk melarang Karina menemui anaknya. Rani juga membaca kolom komentar di akun tersebut, kebanyakan dari mereka menghujat dirinya agar menyadari posisinya.
Sebagian lagi, yang masih bersikap bijak, mengatakan bahwa Alvin pasti punya alasan melakukan semua ini. Mereka juga mengatakan bahwa Alvin bukan pria bodoh yang mudah disetir oleh orang lain. Rani pun sependapat dengan kelompok yang memberikan komentar seperti ini.
Rani meletakkan ponselnya, karena semakin dia melihat semakin sesak dadanya. Rani menatap wajah Ananta yang tertidur pulas, kalau bukan karena bocah ini ingin rasanya dia pergi sejauh mungkin.
__ADS_1
Alvin kembali ke rumah sakit menjelang pukul delapan malam, wajahnya kusut dan penampilannya berantakan. Ia bahkan terlihat belum mandi dan berganti pakaian.
"Aku sudah bicara dengan dokter yang menangani Ananta tadi, kita bisa membawa Ananta pindah dari rumah sakit ini," ucap Alvin sambil menarik selimut Ananta sampai ke bawah dagunya, Rani hanya diam saja tidak berusaha memberikan komentarnya.
"Aku tahu kamu atau bahkan Ananta sendiri merasa tidak nyaman karena kasus ini. Aku minta maaf sama kamu, Ran." Entah untuk keberapa kalinya Alvin mengucapkan kata maaf kepada Rani.
Akhirnya sesuai rencana Ananta dipindahkan ke sebuah klinik dokter terkenal. Meski proses kepindahan diwarnai sedikit insiden, dimana mobil mereka dihadang wartawan haus berita yang telah menunggu di depan rumah sakit. Rupanya mereka tahu kalau mobil Alvin baru saja memasuki halaman rumah sakit.
Alvin bahkan harus memutar lebih jauh untuk mengelabui mereka. Tidak mudah pada awalnya, tetapi untungnya Alvin berhasil melakukannya dan mereka tiba di klinik tanpa diikuti siapapun.
Klinik ini tidak terlalu besar, tetapi fasilitas di dalamnya cukup lengkap dan modern. Ditambah lagi perlindungan privasi untuk pengguna atau pasien yang dirawat di klinik ini sangat bagus. Mereka dijaga super ketat, tidak seorangpun diijinkan untuk masuk kecuali atas rekomendasi keluarga pasien sendiri.
Rani sendiri merasa nyaman di klinik ini, meski beberapa perawat dan pegawai tahu berita tentang mereka, tetapi semua tetap bekerja dengan profesional. Tidak ada kasak-kusuk yang harus didengar Rani selama memasuki tempat ini.
Hanya saja gangguan itu tetap saja muncul, kali ini Rani mendapatkan telepon dari mantan suaminya.
"Ada apa lagi kamu menghubungiku?" Tanya Rani tanpa basa-basi lagi.
"Hohoho, jadi ini yang kamu lakukan? Pantas saja kamu mau cepat-cepat bercerai dariku agar bisa segera menikahi pria itu," ucap Ilham dengan tawa mengejek.
"Jaga mulut kamu, lebih baik diam kalau tidak tahu apa-apa." Rani berkata geram.
"Tentu saja tidak, Sayang, tunggu saja akan ada kejutan untukmu."
Ilham mematikan teleponnya, membuat Rani kesal. Ia sangat geram dengan tingkah laku mantan suaminya ini. Dia tidak mengerti rencana apa yang akan dilakukan pria itu.
__ADS_1