Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 21


__ADS_3

Pov Author


Sudah tiga hari Ananta dirawat di rumah sakit, selama tiga hari itu pula Rani menemani gadis kecil itu. Ia bahkan tidak pulang ke rumahnya meski hanya sekedar untuk berganti pakaian. Untungnya Pak Alvin bisa mengerti, pria itu membelikan Rani perlengkapan pribadi. Terutama pakaian ganti juga dalaman, ia bahkan dengan akurat bisa menebak ukuran bra yang dikenakan Rani.


Selama tiga hari itu pula ponsel Rani tidak berhenti berdering, panggilan dari Ilham selalu saja mengganggunya setiap saat. Rani bahkan mematikan ponselnya agar pria itu tidak mengganggunya.


Pagi ini Ananta sudah diperbolehkan pulang, Rani sedang bersiap menata barang-barang gadis itu saat Pak Alvin muncul di ruangan ini sambil menenteng kantong berisi makanan untuk sarapan.


Mereka makan bersama di ruangan Ananta, sedangkan gadis kecil itu sudah sarapan tadi dari jatah makanan rumah sakit. Meski tidak semuanya masuk ke perutnya, sebab gadis itu selalu mengeluhkan makanannya yang tidak enak.


"Maaf, tiga hari ini aku sudah merepotkan kamu. Sudah aku transfer uang ke rekening kamu sebagai ganti tiga hari ini." Ucap Pak Alvin setelah dia menyelesaikan sarapannya.


"I-iya, nggak apa-apa, Pak." Sebenarnya Rani sungkan menerima uang itu, sebab dia ikhlas merawat Ananta karena gadis itu terus mengigau mencari mamanya. Namun, untuk menolak pun dia juga tak kuasa karena ia tahu Alvin tidak suka menerima penolakan.


"Tante ikut Tata pulang ke rumah, kan?" Tanya gadis kecil itu menginterupsi keduanya.


Rani lantas mendekati Ananta setelah membersihkan bekas sarapan mereka, "iya, Sayang, tante akan antar Tata pulang nanti," ucapnya sambil mengelus pucuk kepala Ananta.


"Tante mau nggak tinggal sama Tata di rumah, Tata, kan, udah nggak punya mama lagi."


Rani tertegun mendengar ucapan polos gadis kecil itu.


"Tante Rani, kan, punya rumah sendiri, Sayang, jadi nggak mungkin, kan, kalau tinggal sama kita." Kali ini Pak Alvin buka suara dan memberi pengertian pada gadis kecil itu.


"Kalau gitu jadiin Tante Rani mamanya Tata aja, Pa, biar bisa tinggal bareng sama kita."


Ucapan Ananta membuat kedua orang dewasa di hadapannya membeku seketika. Rani bahkan berpura-pura merapikan kembali barang-barang yang sudah rapi. Atasannya sendiri pun tidak bisa menjawab pertanyaan gadis sekecil itu, meski Rani yakin jika pria itu punya jawaban yang tepat yang bisa dipahami Ananta.


Akhirnya setelah drama maama baru untuk Ananta selesai–dengan Alvin memberi pengertian pada sang putri tentu saja–mereka akhirnya keluar dari rumah sakit itu. Sambil menunggu papanya Ananta mengambil mobil, Rani mengajak gadis kecil itu menunggu di lobi.


"Itu Mbak Yuli!"


Tiba-tiba saja Ananta menunjuk seseorang yang dikenalnya sebagai pengasuh sekaligus asisten rumah tangga di rumahnya. Hanya saja Rani kesulitan menemukan orang yang ditunjuk gadis itu karena posisnya yang membelakangi mereka.

__ADS_1


"Mbak Yuli siapa, Ta?" Rani menanyakan tentang wanita yang dimaksud gadis kecil itu.


"Itu loh Tante, Mbak Yuli yang kerja di rumahnya Tata. Itu tadi Tata lihat Mbak Yuli disini. Orangnya pakai baju bunga-bunga warna merah." Gadis itu menjelaskan secara detail sosok wanita yang dilihatnya tadi.


Rani kembali celingukan mencari wanita yang dimaksud Ananta, tetapi tetap saja ia tidak menemukan wanita yang ciri-cirinya sesuai yang dikatakan gadis itu. Mungkin saat ini dia sudah berpindah ke tempat lain. Mobil Pak Alvin sudah menunggu di depan lobi dan siap mengantar mereka pulang.


***


Rani kembali ke rumahnya setelah mengantar Ananta pulang, tetapi dia terkejut begitu sampai di rumahnya. Kondisi rumah berantakan, pintu kamar terbuka dengan pakaian berserakan memenuhi kamar. Laci meja riasnya juga terbuka semua dengan isi yang juga berantakan.


Ia memeriksa ke dapur dan kondisinya juga sama, malah barang-barang elektronik di dapurnya ada yang hilang. Sepertinya ada maling di rumah ini selama dia pergi. Rani segera menghubungi ketua RT setempat dan melaporkan kejadian di rumahnya.


Beberapa saat kemudian ketua RT datang beserta beberapa warga. Mereka juga terkejut melihat kondisi rumah Rani yang berantakan. Beberapa diantara mereka mengusulkan untuk melaporkan kejadian ini ke polisi.


"Komplek kita sepertinya sudah nggak aman sekarang, kita harus memperketat penjagaan." Ucap salah seorang warga yang Rani sendiri lupa namanya, seorang pria bertubuh jangkung yang biasa lari pagi lewat depan rumahnya.


"Iya, setuju." Jawab yang lain.


"Ini Pak Ilhamnya nggak ada di rumah juga, Bu?" Tanya Pak RT setelah menyadari tidak ada keberadaan Ilham di rumah ini.


Semua warga yang ada di rumah Rani mengangguk serempak, mereka tidak bertanya apa-apa lagi. Dan mereka pun pergi dari rumah Rani.


"Mbak Rani, tunggu sebentar ada yang mau saya omongin."


Saat Rani akan memasuki rumahnya wanita itu dikejutkan dengan panggilan dari Mbak Nina tetangga depan rumah Rani. Wanita itu sedang berjalan tergopoh menuju rumah Rani.


"Iya, Mbak Nina, ada apa?"


Wanita bernama Nina itu mengatur napasnya setelah sampai di hadapan Rani, ia kemudian mengambil duduk di kursi teras rumah Rani.


"Jadi gini, Mbak, beberapa hari lalu saya nggak sengaja lihat ada laki-laki masuk ke rumah ini, Mbak. Awalnya dia mengetuk pintu, jadi saya kira tamunya Mbak Rani. Tapi nggak lama kemudian kok dia terlihat membuka paksa jendela rumah ini, ya Mbak." Wanita ini menghentikan kalimatnya dan melangkah menuju jendela yang ia maksud.


Rani mengikutinya dari belakanga, ia sendiri lupa tidak memeriksa jendela. Sebab posisi jendela itu masih tertutup seperti biasanya. Dan betapa terkejutnya Rani karena dia menemukan pintu jendelanya sedikit rusak di bagian emgselnya.

__ADS_1


Meski begitu saat tertutup posisinya hampir menyerupai posisi biasanya. Makanya jendela ini luput dari perhatiannya.


"Tuh, kan, bener Mbak."


"Mbak Nina kira-kira tahu, nggak, siapa orangnya? Atau minimal masih ingat ciri-cirinya?" Tanya Rani lebih lanjut.


"Hmm, sebentar." Wanita itu terlihat berpikir, "kalau saya nggak salah ingat postur tubuhnya mirip sama Pak Ilham, tapi kok nggak masuk akal ya, masa Pak Ilham," ucap wanita itu lagi.


Dan otak Rani dengan cepat merespon kalau pelakunya memang Ilham suami atau lebih tepat disebut orang yang akan menjadi mantan suaminya.


"Terima kasih infonya Mbak Nina."


Setelah berbasa-basi sejenak, wanita bernama Nina itu pamit dari rumah Rani. Rani sendiri yakin jika pelakunya memang benar suaminya. Apalagi barang-barang yang hilang itu harganya cukup lumayan. Ia jadi ingat jika beberapa hari yang lalu Ilham kembali menghubunginya untuk meminta uang.


🏵️🏵️🏵️


terima kasih sudah berkenan membaca kisah dari Rara, sambil menunggu bab selanjutnya Rara akan merekomendasikan novel keren.


judulnya:


karya: santi suki


Blurb:


Jelita, gadis kelas 2 SMA yang dipaksa menikah oleh kakeknya karena sudah menyerah akan kelakuan nakalnya. Dia dinikahkan dengan Erlangga, guru magang sekaligus anak sopir keluarganya. Mereka menyembunyikan pernikahan itu dan akan dipublikasi setelah kelulusan sekaligus diadakan pesta pernikahan.


Namun, tiga hari sebelum pesta pernikahan itu digelar, Erlangga kecelakaan dan memorinya hilang sebagian.


Saat itu, Aulia baru tahu kalau Erlangga sangat membenci dirinya juga kakeknya. Erlangga pun menceraikan, tanpa keduanya sadari kalau Jelita sedang hamil. Hari yang seharusnya membahagiakan menjadi hari yang memilukan. Selain diceraikan oleh Erlangga, Jelita juga kehilangan kakeknya yang meninggal karena serangan jantung.


Apa yang akan dilakukan oleh Erlangga saat ingatannya kembali?


Akankah Jelita memaafkan orang yang sudah membuat hidupnya menderita?

__ADS_1



__ADS_2