
"Bagaimana proses perceraianmu?" Tanya Pak Alvin saat kami sedang menemani Ananta di taman rumah sakit.
Tadi, bocah kecil itu merengek minta keluar, ia bosan berada di kamar rumah sakit. Sebenarnya Rani merasa tidak enak kembali mengunjungi Ananta setelah melihat perseteruan kedua orang tuanya kemarin.
"Sudah sidang pertama, tapi suami saya tidak berniat menceraikan saya." Jawabku lesu.
"Asal kamu punya bukti yang memperkuat argumenmu, kamu pasti menang."
Rani mendongak, kenapa dia bisa melupakan fakta itu. Untungnya bukti-bukti perselingkuhan Ilham sudah disertakan waktu mengajukan gugatan tempo hari.
"Iya, saya punya bukti-buktinya." Rani bernapas lega, semoga apa yang diucapkan atasannya ini ada benarnya.
"Lalu, setelah itu apa kamu akan berniat untuk menikah lagi?"
Rani tidak bisa menjawab, bibirnya terlalu kelu untuk berbicara. Mungkin dia masih trauma dengan kegagalan pernikahannya.
"Entahlah, saya belum berpikir sampai kesana."
Rani menoleh sebentar ke samping, sekilas dia melihat atasannya itu tersenyum. Namun pandangannya tetap lurus ke depan.
"Apa kamu takut untuk gagal lagi?" Tanya pria itu lagi setelah beberapa saat mereka terdiam. Tadinya Rani berpikir obrolan ini sudah selesai.
"Entahlah, bisa iya bisa juga tidak." Jawab Rani sambil mengedikkan bahunya, "bagaimana dengan Bu Karina, apa dia masih ingin membawa Ananta bersamanya?"
Rani bisa melihat kalau rahang atasannya itu mengerat, ia bisa menebak kalau pria ini berusaha mempertahankan Ananta di sisinya.
"Aku tidak akan pernah memberikan putriku padanya. Dia sudah menelantarkan Ananta sekali, saat bocah itu masih kecil. Tak akan kubiarkan dia berbuat yang sama untuk kedua kalinya."
__ADS_1
****
Rani baru saja sampai di depan rumahnya dan ia begitu terkejut mendapati pintu rumah terbuka lebar. Perasaan saat berangkat tadi dia sudah mengunci semua pintu juga jendela rumahnya. Wanita itu cepat-cepat masuk ke dalam, takut pencuri yang tempo hari kembali lagi.
Namun, ia begitu terkejut ketika mendapati Ilham, ibunya dan juga istri barunya ada di dalam rumah itu.
"Hai, Ran! Akhirnya kamu pulang juga."
Ilham duduk dengan santai dengan kedua kaki di atas meja. Di sebelahnya Yuli istri barunya duduk sambil bersandar dengan manja di bahu lelaki itu.
"Apa yang kalian lakukan disini? Bagaimana kalian bisa masuk?" Seingatnya Ilham tidak punya kunci cadangan.
"Rani…Rani…kamu pikir aku sebodoh itu." Ilham terkekeh, kemudian tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan deretan kunci.
"Darimana kamu dapatkan itu!" Seru Rani panik.
"Keluar kalian dari rumahku! Keluar!" Teriak Rani, ia tidak ingin manusia-manusia serakah itu ada di rumahnya.
"Teriaklah sepuasnya karena tidak akan ada orang yang mau menolongmu." Ancam Ilham.
"Maas, udah, dong, main-mainnya aku ngantuk, nih, bobo yuk."
Rani semakin meradang mendengar suara manja wanita itu, apalagi saat dia juga melihat Ilham merangkul dan membawa wanita itu ke kamarnya. Bukan kamar ke tamu tapi ke kamar yang dulu ia tempati bersama Ilham.
"Mau kemana kalian? Berhenti!" Rani berteriak frustasi, ia bahkan sudah meloncat dan mencegah Ilham masuk ke kamarnya.
"Harusnya kamu yang pergi dari rumah ini, Ran! Bagaimanapun juga Ilham yang lebih berhak atas rumah ini karena dia adalah kepala keluarga." Bu Rumiati buka suara setelah beberapa saat ia hanya diam melihat perdebatan anak dan calon mantan menantunya.
__ADS_1
"Apa Ibu bilang? Sejak kapan ada hak Mas Ilham di rumah ini?" Tanya Rani memicingkan matanya pada wanita tua itu.
"Sejak Ilham resmi jadi suami kamu!" Ucap Bu Rahmi dengan pongah.
Rani menggeleng tidak percaya ada wanita seperti ini. Dan sebelum dia menjawab omongan ibu mertuanya ia merasa sesosok tubuh tiba-tiba mendorongnya keluar rumah.
"Apa-apaan ini! Lepaskan!" Teriak Rani karena Ilham mendorongnya keluar dari rumah. Rupanya setelah membawa istri barunya itu ke kamar, pria tadi segera keluar dan mengusir Rani setelah mendengar perdebatan wanita itu dengan Ibunya.
Di depan rumah Ilham menyentak lengan Rani dengan kasar.
"Mas, apa-apaan kamu ini!" Tanya Rani tidak terima diperlakukan seperti ini.
"Mulai sekarang kamu keluar dari rumah ini, dan jangan menginjakkan kakimu disini. Oh, ya, ingat aku tidak akan menandatangani surat cerai itu."
Setelah berkata demikian Ilham menutup pintu dengan keras kemudian menguncinya dari dalam. Rani merangsek maju dan menggedor pintu itu.
"Buka, Mas! Buka pintunya!"
Rani terus menggedor pintunya, ia sudah tidak peduli lagi jika di belakangnya, banyak tetangga yang keluar dan menjadikannya tontonan.
"Buka pintunya, Mas, buka!" Tak cukup hanya menggedor Rani bahkan menendang pintu itu, tetapi mereka yang ada di dalam tidak juga keluar. Malah, terdengar gerakan orang yang sedang menutup gorden kaca depan.
"Buka!" Gedoran tangan Rani melemah, ia sudah lelah, wanita itu marasa apa yang ia lakukan tidak ada gunanya.
Ia memutuskan untuk pergi dari rumah ini, Rani berhenti sejenak di samping pagar dan matanya memicing ke dalam.
"Tunggu saja kalian akan kubuat menyesal."
__ADS_1