Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 41


__ADS_3

Rani langsung tersedak makannya sendiri, dengan cepat Arman menuangkan segelas air putih dan mengulurkannya pada wanita itu.


"Makanya kalau makan hati-hati." Ucap Arman sambil menerima kembali gelas yang diulurkan Rani.


"Habis, kamu ngomongnya aneh." Ucap Rani sambil menahan perih di tenggorokannya, sebab saat ini ia tengah memakan sambal matah khas Bali.


"Aneh gimana? Aku kan cuma berusaha mewujudkan keinginannmu." Balas Arman sambil melanjutkan makannya.


"Emang aku siapanya kamu sampai harus tinggal bareng?"


Entah Rani yang polos atau sengaja memancing reaksi Arman, tapi meski begitu reaksi Arman tetap santai. Pria itu menyelesaikan makannya, kemudian menatap Rani dengan lekat, menunggu wanita itu selesai makan.


"Jadi?" Tanya Arman kemudian sambil menunggu wanita itu selesai mengelap mulutnya dengan tissu.


"Apa?" Rani mengernyitkan kening, tidak paham maksud pertanyaan Arman.


"Kamu mau gak tinggal di rumahku?" Tanya Arman dengan entengnya, seolah pertanyaan itu tidak ada beban sama sekali.


"Kamu gila, apa kata orang nanti kalau kita tinggal serumah?"


"Ya, tinggal bilang aja kalau kamu istriku, kita hanya perlu melangsungkan akad nikah."


Mata Rani melebar, ia tidak menyangka Arman akan bicara semudah itu. Seolah hidup bersama dalam suatu pernikahan itu adalah hal yang begitu mudah dilakukan. Sama seperti ketika seseorang memilih barang di toko, membelinya kemudian membawanya pulang ke rumah.


"Enggak segampang itu Arman." Rani mendesis kesal.


"Atau kamu masih mengharapkan Alvin?"


Pertanyaan Arman tepat menusuk ke hati Rani, ia tidak bisa memungkiri kalau dirinya sempat terjerat pesona atasannya itu. Apalagi tentang kedekatannya dengan Ananta yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam? Jadi benar dugaanku tadi?" Tanya Arman menyelidik, sukses membuat Rani malu hingga memalingkan wajahnya. Namun, hanya sekejap dan ia langsung menatap kembali wajah sahabatnya itu.


"Sebagai wanita normal jujur, iya, aku suka sama Pak Alvin. Tapi sebatas rasa suka dan kagum karena dia sangat menyayangi Ananta. Kalau untuk rasa yang lain ia masih belum yakin.


"Jadi, masih ada kesempatan buatku untuk mengisi hatimu yang kosong itu, kan, Ran?" Ucap Arman dengan jujur, ia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.


"Bagaimana, Ran?" Tanya Arman lagi dengan lembut.


Rani tidak bisa menjawab, bibirnya terasa kelu. Namun, begitu ia menatap lekat sorot mata Arman, mencari kebohongan di tatapan mata itu. Ternyata ia tidak menemukannya, ia justru melihat sorot kejujuran di manik hitam itu.


"Beri aku waktu, Man." Rani hanya bisa menjawab demikian, ia tidak bisa memutuskannya sekarang.


"Baiklah, kapanpun kau punya jawabannya segera hubungi aku. Ponselmu masih berfungsi, kan?"


Ucapan Arman tadi mampu menohok ulu hati Rani, wanita itu menyeringai menanggapi ucapan Arman.


"Baikalah, aku antar kamu ke hotel."


"Urusanku sudah selesai sejak tadi, jadi tidak ada alasan bagimu untuk menolak bantuanku."


Pria itu berlalu menuju meja kasir untuk membayar makanan tadi, setelah itu kembali menghampiri Rani yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Ayo." Ajak Arman saat ia sudah berada di hadapan wanita itu, Rani kemudian mengikutinya sebab ia tidak mungkin bisa menolak permintaan Arman lagi.


Keduanya berjalan beriringan keluar dari restoran tanpa berbicara lagi. Arman berjalan lebih dulu, sedang Rani mengikuti di belakangnya dengan menundukkan kepala. Hingga tanpa sadar ia menabrak tubuh seseorang di depannya.


Rani mendongakkan kepala untuk meminta maaf, tetapi matanya membulat sempurna saat tahu siapa yang ia tabrak barusan.


"Pak Alvin!"

__ADS_1


Sebuah kebetulan yang cukup sempurna, ia melihat Alvin sudah berdiri di hadapannya.


"Apa ponselmu bermasalah?"


Rani terkesiap karena pria itu tiba-tiba bertanya tentang ponselnya.


"I-iya, Pak."


"Sudah kamu perbaiki atau belum? Kenapa aku tidak bisa menghubungimu?"


Rani kembali melongo, atasannya ini sungguh aneh. Baru bertemu yang dipermasalahkan justru ponsel Rani yang tidak bisa ia hubungi.


"Anu, itu…." Rani bingung harus menjawab apa.


"Bagaimana kamu bisa bertemu dia, Man?"


Kali ini Alvin beralih menatap Arman yang berdiri tak jauh darinya.


"Santai aja, Bro, mending kita cari tempat aman. Nggak mungkin, kan, kita berbicara di tengah jalan begini?"


Alvin dan Rani menyadari jika mereka masih berada di tengah-tengah pintu keluar restoran. Tanpa menunggu jawaban dari keduanya Arman melangkah lebih dulu. Kemudian disusul Rani dan juga Alvin. Arman mengajak mereka duduk di taman kecil di dekat area parkir.


"Jadi, katakan apa kalian sudah ada janji sebelumnya untuk bertemu disini?" Tanya Alvin tak sabar saat mereka sudah sampai di taman ini.


"Aku nggak sengaja ketemu sama dia di Kuta. Sama seperti kamu, aku juga sulit menghubungi ponselnya." Arman mengatakan yang sebenarnya.


"Lalu?" Kali ini Alvin beralih menatap Rani yang sejak tadi hanya menundukkan kepala.


Merasa jika pria itu berbicara dengannya, Rani pun mendongakkan kepala. Benar saja, matanya langsung mendapati tatapan tajam dari pria itu.

__ADS_1


"Apa?" Rani pura-pura tidak mengerti.


"Apa kamu sengaja menghindariku?"


__ADS_2