Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 29


__ADS_3

Layar televisi itu menampilkan potongan kejadian waktu Alvin mengambil Ananta dari tangan Karina. Hanya sebagian, sebab yang ditayangkan hanya posisi Karina yang memegang lengan Alvin sambil memohon agar lelaki itu mengijinkannya bersama Ananta. Namun, yang membuat Alvin meradang adalah narasi yang menyertai rekaman tadi.


SUDAH TIGA TAHUN BERCERAI TETAPI KARINA TIDAK DIBERI KESEMPATAN OLEH MANTAN SUAMI BERTEMU BUAH HATINYA.


Begitulah judul yang tertulis di layar televisi tadi, ditambah ekspresi Karina saat diwawancarai oleh seorang reporter acara tersebut.


"Saya hanya ingin bertemu sekalii saja dengan putri saya." Karina terlihat mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Jadi, waktu itu mantan suami Mbak Karina memang melarang untuk bertemu sama adek?" Reporter wanita itu bertanya dengan lebih rinci.


"Iya, sudah tiga tahun sejak kami bercerai dan dia tak pernah sekalipun mengijinkan saya bertemu anak saya. Padahal saya sangat kangen sama dia." Karina kembali menangis sesenggukan.


Melihat tayangan itu rahang Alvin mengeras, ia merasa Karina memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan. Sekaligus menaikkan kembali pamornya yang mulai redup. Apalagi di sesi wawancara tadi juga menyebutkan kalau hadirnya orang baru di kehidupan Alvin, yang mempengaruhi keputusan pria itu untuk semakin menentang Karina bertemu dengan putrinya.


Rani sendiri juga memikirkan hal yang sama, bahkan sejak video tersebut diputar di acara gosip tadi. Ada yang sengaja dihilangkan dan ada yang sengaja ditambahkan untuk menarik simpati masyarakat. Tujuannya tak lain untuk mengeruk keuntungan pribadi Karina.


"Maaf, Ran, jika kamu harus berada di posisi ini."


Alvin menoleh dan menatap Rani yang sedang mengelus kepala Ananta, gadis kecil itu tengah terlelap. Rani hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya.


"Aku akan keluar sebentar."

__ADS_1


Alvin meletakkan bungkusan yang tadi ia bawa kemudian melesat keluar ruangan. Rani menatap kosong ke layar televisi yang masih menyiarkan wawancara tadi, ia kemudian menghela napas berat. Bagaimana hal ini bisa tiba-tiba menimpa dirinya. Andai saja dia tidak menerima permintaan atasannya itu untuk jadi pengasuh anaknya, pasti sekarang dia masih duduk nyaman sebagai pekerja kantoran. Tidak harus ikut berjibaku dalam urusan rumah tangga orang lain, apalagi terlibat di dalamnya


Tubuh Ananta tiba-tiba menggeliat, gadis kecil itu mengucek matanya kemudian menatap Rani dengan sorot mata lucunya.


"Ada apa, Sayang? Tata mau makan?" Rani mengelus pucuk kepala bocah itu dengan lembut.


Ananta menggeleng, "Tata mau jalan-jalan," ucap gadis itu sambil mengerjapkan matanya.


"Tante tanya suster dulu, ya."


Rani gegas berdiri dari tempatnya dan melangkah menuju ruang perawat untuk bertanya apakah boleh membawa Ananta jalan-jalan. Jarak antara kamar rawat ke ruangan perawat hanya beberapa meter saja, tetapi Rani merasa jarak itu cukup jauh ia tempuh. Pasalnya sepanjang jalan menuju ke sana ia beberapa kali berpapasan dengan orang-orang, dan mereka menatap Rani dengan pandangan aneh.


Beberapa dari mereka terlihat berbisik-bisik satu sama lain, Rani mempercepat langkahnya agar segera sampai di ruang perawat. Sesampainya disana ia disambut oleh seorang perawat.


"Saya mau bertanya, apakah pasien kamar 203 atas nama Ananta boleh diajak jalan-jalan ke taman? Karena anaknya merengek minta jalan-jalan." Rani berkata dengan hati-hati.


Perawat tadi memeriksa lembar rekam medis milik Ananta untuk melihat apakah dia bisa diijinkan untuk keluar ruangan.


"Boleh, Bu, tapi setelah sarapan pagi, ya." Ucap perawat tadi, dan Rani langsung mengangguk senang. Setelah mengucapkan terima kasih wanita itu langsung berbalik kembali ke ruangan, tetapi ia masih sempat mendengar beberapa perawat di belakang yang sedang kasak kusuk membicarakan dirinya.


Rani menoleh sebentar dan beberapa perawat yang berbisik tadi terkejut dsn berpura-pura memeriksa sesuatu. Kentara sekali kelakuan mereka, seperti orang yang ketahuan melakukan kesalahan. Rani tersenyum sinis untuk sekilas, setelah itu dia melanjutkan langkahnya. Tak lupa ia meminjam kursi roda dari ruang perawat tadi.

__ADS_1


Mata Ananta terlihat berbinar saat Rani kembali dengan membawa kursi roda. Itu artinya dia diijinkan untuk jalan-jalan keluar. Gadis kecil itu sudah tak sabar untuk keluar, tetapi Rani berhasil membujuknya bahwa dia harus sarapan pagi dulu.


Setelah sarapan Ananta tak sabar ingin keluar, maka Rani pun langsung mengiyakan. Sama seperti saat menuju ruang perawat tadi, beberapa orang yang ia temui menatapnya dengan tatapan aneh. Seperti melihat penampakan di siang hari, atau seperti melihat orang dengan penampilan yang aneh. Mungkin seperti itu kira-kira.


Tak hanya kepada Rani, mereka bahkan melihat dengan penuh rasa ingin tahu pada bocah yang duduk di kursi roda itu. Rani tahu mereka mungkin menanyakan kebenaran tentang berita yang sudah beredar itu. Rani berusaha abai dengan tatapan mereka dengan melontarkan candaan bersama Ananta.


Mereka berhenti di taman tak jauh dari kamar Ananta, disana ada beberapa pasien dari ruangan tak jauh dari area taman ini. Tujuan mereka sama, mencari udara segar setelah beberapa waktu terbaring di kamar.


"Tante, kenapa, sih, Mama nggak sayang sama Tata?" Bocah kecil itu tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang membuat Rani sulit untuk menjawabnya.


Rani mendekati bocah kecil itu, lalu berjongkok dan mensejajarkan posisinya dengan posisi Ananta, "nggak ada mama yang nggak sayang sama anaknya. Mamanya Tata pasti sayang sama Tata, mungkin saja caranya yang beda. Yang nggak bisa Tata pahami karena masih kecil."


Rani menjelaskan dengan hati-hati, ia tidak ingin Ananta semakin membenci ibu kandungnya.


"Tapi kemarin Mama jahat banget sama Tata." Gadis kecil itu hampir saja terisak, Rani menggenggam tangan gadis kecil itu.


"Jahat bagaimana?"


"Tata…tata disuruh ikut foto sama Mama, padahal Tata lagi pusing. Tata bilang nggka mau tapi Mama malah marah." Air mata bocah itu mengalir deras seiring ucapan yang keluar dari mulutnya.


Rani memeluk Ananta dengan erat dan membiarkan bocah itu menangis di dadanya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Ananta jika merekaa terlambat sedikit saja. Ah, kenapa Karina setega itu pada putrinya. Demi mendapatkan uang dia rela mengorbankan putrinya sendiri, dan sekarang dia malah memfitnah mantan suaminya.

__ADS_1


"Sudah, ya, jangan nangis lagi." Rani melepas pelukannya setelah dirasa tangis Ananta mulai mereda. Ia kasihan dengan bocah ini, diusianya yang masih kecil dia harus merasakan kesedihan seperti ini.


"Tante, Tata mau minta mama baru sama Papa."


__ADS_2