
Rani keluar dari rumahnya dengan langkah gontai, kunci motornya bahkan tertinggal di dalam rumah. Wanita itu berjalan kaki menuju halte yang tak jauh dari kompleks rumahnya. Tubuhnya terasa letih, ia lantas memutuskan duduk di bangku halte.
Benaknya sibuk berpikir kenapa Ilham sampai hati ingin menguasai rumahnya, apakah ini gara-gara bujukan wanita itu. Ia bahkan tidak sadar jika ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Hingga suara klakson mobil itu mampu membuatnya mengalihkan perhatian. Rani seperti mengenali pemilik mobil ini, dan benar saja ketika jendela kacanya terbuka wajah Alvin, sang atasan melongok keluar.
"Masuk!" Dengan suara tegas pria itu memerintahkan Rani untuk masuk ke mobilnya.
"Ta-tapi, Pak?"
"Sudah masuk saja, atau kamu mau jadi korban penculikan?"
Rani seketika berdiri dari tempatnya, tadi ia tak sempat memperhatikan sekelilingnya yang cukup sepi. Ia juga tak ingin bernasib tragis, sudah dicampakkan suami masih harus menjadi korban penculikan. Maka ia buru-buru memasuki mobil atasannya tadi.
Rani duduk di kursi samping kemudi dan terkejut mendapati wajah lelah atasannya ini, juga penampilannya yang berantakan. Kancing kemeja bagian atasnya terbuka, memperlihatkan sebagian dada bidangnya yang mampu membuat jantung Rani berdesir. Untungnya wanita itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
"Pak Alvin darimana?" Tanya Rani ingin tahu sekaligus khawatir, ia hanya menoleh sekilas.
"Aku mencari Karina tadi." Jawab pria itu sambil melajukan mobilnya. Rani berpikir mungkin pria itu akan menyetujui permintaan mantan istrinya untuk mengasuh Ananta.
"Ananta dibawa lari sore tadi?"
Deg!
"Ananta dibawa lari? Sama siapa?" Rani belum bisa mencerna ucapan Alvin.
"Tadi sore Karina ke rumah sakit, dia membawa Ananta pergi. Padahal kondisinya baru sembuh, dan harusnya besok dia baru bisa keluar dari rumah sakit."
__ADS_1
Rani mendengarkan penjelasan Alvin, memang benar kondisi kesehatan Ananta sudah berangsur membaik. Dan dokter tadi juga bilang kalau besok gadis kecil itu sudah bisa pulang.
"Memang tidak ada yang menjaga Ananta?" Tanya Rani khawatir.
"Ada, aku tadi meminta salah seorang suster menjaganya, tetapi kau tahu sediri, kan, bagaimana Karina."
Rani mengangguk, beberapa hari mengenal wanita itu dia sudah bisa menyimpulkan bagaimana wataknya.
"Kira-kira kemana Bu Karina membawa Ananta?"
"Entahlah, aku sudah menyuruh orangku untuk mencarinya. Aku hanya khawatir Karina tidak memperlakukan Ananta dengan baik." Rani bisa mendengar nada khawatir dari suara pria itu.
"Semoga saja Ananta baik-baik saja."
"Kamu sendiri mau kemana?" Alvin mengalihkan pembicaraan, ia penasaran kenapa Rani ada di pinggir jalan malam-malam begini.
"Maksudnya?" Alvin mengerutkan keningnya tidak paham dengan jawaban wanita itu.
Akhirnya Rani mejelaskan situasinya pada Alvin. Ia juga meminta tolong pria itu untuk membantunya mencarikan kontrakan atau tempat tinggal sementara.
"Lalu, kamu biarkan saja mereka mengambil rumahmu?"
"Tidak, saya punya rencana dan sepertinya saya minta bantuan Bapak." Ucap Rani memicingkan matanya, ia yakin rencananya ini akam berhasil.
"Terserah, daripada kamu bingung cari tempat tinggal lebih baik kamu menginap di rumahku saja." Alvin mengutarakan idenya, meminta wanita itu untuk tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Eh, tapi, Pak…."
"Saya tidak mau dengar. Ini perintah."
Akhirnya Rani bersedia tinggal di rumah Alvin untuk sementara. Meski awalnya wanita itu menolak karena merasa tidak enak.
Hari ini hari terakhir sidang gugatan perceraian Rani dan Ilham. Sudah dua kali setelah persidangan pertama Ilham tidak hadir. Dan secara resmi hakim memutuskan untuk mengabulkan permohonan Rani. Dan yang lebih menggembirakannya lagi dia tidak punya kewajiban untuk memberi harta gono-gini.
Mulut Rani tak henti mengucapkan tasa syukur. Wanita itu menduga alasan Ilham mangkir dari panggilan sidang agar hakim menolak tuntutannya. Padahal dengan dia tidak hadir malah mempermudah urusannya. Sekarang yang harus Rani pikirkan adalah menjalankan rencananya. Untungnya Alvin bersedia bekerja sama dengannya.
Sore itu Rani sengaja memberi tahu Ilham hasil keputusan sidang hari ini. Dan seperti dugaannya Ilham tidak terima.
"Keputusan sidang ini tidak sah karena aku tidak hadir disana!" Ilham membanting berkas yang diserahkan Rani tadi.
Mata Ilham melotot marah, ia tidak terima hasil perceraian ini. Apalagi yang membuatnya meradang tidak ada sepeserpun harta gono-gini yang ia terima.
"Maas…Mas…kamu pikir dengan ketidakhadiranmu keputusan tidak bisa diambil? Kamu salah besar, Mas. Justru ketidakhadiranmu mempermudah langkahku." Ucap Rani sambil tertawa penuh kemenangan.
"Kau!" Telunjuk Ilham mengarah ke wajah Rani, dan wanita itu dengan berani mengangkat wajahnya.
"Aku yakin kau pasti sudah menyuap mereka, kan?" Ilham menuduh Rani sambil tetap mengacungkan telunjukknya.
Rani mengibaskan tangannya sambil berjalan mendekati Ilham.
"Makanya punya otak, tuh, dipakai. Jangan mikir ************ terus."
__ADS_1
Setelah itu Rani berniat untuk pergi dari rumah itu, tetapi ketika sampai di ambang pintu wanita ini membalikkan tubuhnya.
"Aku masih punya kejutan lain untukmu, tunggu saja, ya."