
Rani mencebik mendengar ucapan Arman, tetapi ia juga tidak bisa menyangkal kalau kehadiran Arman sedikit mengganggu waktunya.
"Benar, kan, ucapanku barusan?"
Tanya Arman seolah tahu yang ada di pikiran Rani. Rani hanya menjawab dengan mengedikkan kedua bahunya, membuat lelaki itu langsung tergelak.
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Rani memasang wajah pura-pura tak suka.
"Kamu itu lucu, Ran, dari dulu nggak pernah bisa berbohong." Ucap Arman sambil menggelengkan kepala.
"Lalu, kalau memang kamu tahu apa kamu akan segera pergi dari sini?" Tanya Rani sambil memicingkan matanya.
"Enggak juga." Jawab Arman masih dengan sisa tawanya, membuat Rani mendengus mendengar jawaban pria itu.
"Kamu…kesini sendirian?" Tanya Rani ragu-ragu.
Arman menatapnya dan memasang tampang heran, "apa ada orang lain yang kau tunggu?" Tanya Arman, hingga sedetik kemudian ia seperti menyadari sesuatu.
"Apa Alvin juga bilang akan kesini?" Arman merubah posisi duduknya dan menghadap Rani.
Rani tidak segera menjawab, atau lebih tepatnya ia ragu untuk menjawab pertanyaan Arman.
"Kurasa Alvin memang akan kesini." Meski wanita di hadapannya ini tidak mau menjawab, tetapi Arman bisa menyimpulkan kalau dugaannya tadi tidak salah.
"Iya, Pak Alvin bilang akan menyusul kesini. Itu sebabnya aku sengaja mematikan ponselku." Jawab Rani sambil menghela napasnya.
"Kenapa?" Tanya Arman ingin tahu alasan Rani, kenapa wanita itu mematikan ponselnya.
"Aku hanya ingin menenangkan diri, tanpa gangguan dari siapapun."
__ADS_1
Arman semakin menatap Rani dengan prihatin, ia merasa kasihan dengan wanita itu.
"Ran, kapanpun kau butuh bahu untuk bersandar, hubungi aku."
***
Tinggal dua hari lagi Rani menghabiskan liburannya di pulau Dewata ini. Sejak pagi ia sudah menyusun rencana akan kemana hari ini. Setelah pertemuannya dengan Arman di pantai Kuta kemarin, ia memutuskan untuk pindah ke hotel yang lebih dekat dengan Kuta. Ia lelah kalau harus kucing-kucingan lagi. Meski begitu dirinya tetap menonaktifkan ponselnya.
Kali ini Rani sudah bersiap berangkat untuk pergi ke Ubud, ada beberapa tempat yang ingin ia kunjungi. Setelah menyelesaikan sarapan, Rani sudah bersiap dengan ransel kecilnya, kemudian menunggu taksi online yang ia pesan dengan batuan resepsionis hotel. Rani sedang menunggu di depan lobi hotel ketika seseorang menyapanya.
"Sudah mau berangkat sepagi ini?" Tanya Arman, rupanya ia sudah berdiri di samping Rani. Wanita itu tidak sadar karena sejak tadi ia sibuk memperhatikan tanaman bunga yang ada di depan lobi hotel.
"Eh." Rani menoleh mendengar suara pria itu, "iya, Man, kebetulan pagi ini cuacanya cukup cerah." Balas Rani sambil menyunggingkan senyumnya.
Arman memang menginap di hotel yang sama dengan Rani, ia tidak tahu kalau Rani juga menginap di hotel yang sama. Setelah pertemuan mereka di Pantai Kuta kemarin, Arman lebih dahulu meninggalkan Rani. Ia juga memesan tempat ini jauh hari saat berencana pergi ke Bali.
"Tujuanmu kemana kali ini?" Tanya Arman sekedar ingin tahu. Rani tidak kunjung menjawab, ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Hal itu membuat Arman cukup tahu diri untuk tidak bertanya lebih lanjut.
"Terima kasih." Balas Rani dan wanita itu pun masuk ke mobil tadi.
***
Selama di Ubud Rani mengunjungi beberapa tempat wisata terkenal disana, hatinya sangat senang karena lagi-lagi penduduk di daerah ini sangat ramah. Setelah puas berkeliling, akhirnya Rani singgah di sebuah restoran. Ia memasuki tempat itu dengan perut yang keroncongan, maklum, ini untuk pertama kalinya dia datang ke tempat ini dan sejak pagi ia tidak sempat sarapan karena terlalu antusias.
Saat berjalan masuk ia tidak menyadari jika di depannya ada orang yang sedang berjalan. Akhirnya Rani menabrak tubuh orang tersebut, untungnya tidak sampai jatuh. Ketika Rani menatap orang yang ditabraknya tadi, kedua matanya melebar.
"Arman!" Seru Rani terkejut menyadari siapa orang tersebut.
"Kamu disini?" Tanya Arman, sepertinya dirinya juga terkejut hingga melontarkan pertanyaan konyol tadi. Tentu saja siapa saja bisa datang ke tempat ini.
__ADS_1
Rani membenarkan letak rambutnya untuk menghilangkan rasa gugup, "kamu ada acara di sini juga?" Tanya wanita itu akhirnya setelah bisa menguasai keadaan.
"Iya, aku ada meeting di ruangan itu." Tunjuknya pada satu ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Tapi sebentar lagi akan selesai, kamu mau kita makan bersama? Ambil tempat dan pesan sesukamu, nanti aku menyusul."
Tanpa menunggu jawaban dari Rani, Arman segera berlalu meninggalkan wanita itu yang menatapnya dengan mulut menganga lebar. Kemudian seperti kerbau dicocok hidungnya, Rani menuruti ucapan Arman tadi, setelah memesan beberapa menu ia lalu mencari tempat duduk.
Sambil berjalan Rani merutuki kebodohannya sendiri, kenapa tiba-tiba dia mau menuruti ucapan lelaki itu. Bisa saja, kan, saat pria itu pergi tadi ia juga ambil langkah meninggalkan tempat ini. Rani tidak habis pikir dengan dirinya sendiri, apakah tadi ia sudah terhipnotis oleh Arman?
Rani menemukan sebuah gazebo yang cukup nyaman, letaknya agak ke dalam restauran. Di sana terdapat beberapa gazebo serupa yang sudah ditempati pengunjung. Ada yang membawa keluarganya, atau rekan bisnis mereka jika melihat dari cara berpakaiannya yang formal.
Semilir angin menerpa wajah Rani ketika ia duduk menunggu pesanannya, ia menatap sekelilingnya. Selain beberapa gazebo, tempat ini juga dilengkapi dengan taman kecil yang terletak di salah satu sudutnya, juga dilengkapi dengan kolam dengan air mancur buatan yang menambah keunikan tempat ini.
Beberapa saat kemudian pesanan Rani datang, begitu juga dengan Arman. Pria itu terlihat tersenyum melihat Rani mematuhi ucapannya.
"Maaf, ya, udah nunggu lama." Ucap pria itu sambil mengambil tempat di hadapan Rani. Wanita itu hanya menjawab dengan tersenyum sambil menunggu pelayan menata pesanan mereka.
"Bagaimana jalan-jalannya tadi?" Tanya Arman setelah beberapa saat pelayan tadi pergi.
"Cukup menyenangkan, aku bahkan sampai kepikiran untuk tinggal disini." Jawab Rani, tangannya mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan juga lauk pauk.
"Kamu serius?" Tanya Arman tidak percaya.
"Memang kenapa?" Rani menghentikan suapannya melihat reaksi Arman.
"Yaa, enggak apa-apa, kebetulan aku juga punyah rumah disini. Siapa tahu kita bisa tinggal bareng."
🏵️🏵️🏵️🏵️
__ADS_1
hai semua, makasih ya udah ngikutin kisah Rani. maaf kalau telat update. ada kerjaan di duta yang butuh perhatian.
terima kasih yaa untuk kalian semua😍😍