Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 9


__ADS_3

Setelahnya mengantongi ijin dari Pak Alvin–dengan sedikit drama tentunya– aku mendapatkan cuti selama tiga hari. Dan hari ini aku berangkat menuju Bogor menggunakan mobil carteran. Iya, aku memutuskan untuk menggunakan jasa sewa mobil sekaligus sopirnya.


Aku membuka ponsel untuk mengecek keberadaan Mas Ilham. Aku perbesar titik lokasi di ponselku, disana terlihat kalau posisi mereka sedang berada di hotel. Karena lokasi menunjukkan nama Diamond Hotel.


Perjalanan mungkin akan memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam. Bisa kugunakan untuk istirahat sebentar, sebelum nanti aku menjalankan misi menggagalkan pernikahan mereka.


Ah, aku jadi mempertanyakan perasaanku sekarang. Apa harus mempertahankan pernikahan ini, atau membiarkan dia dengan wanita lain. Miris sekali ya hidupku, padahal pernikahan kami masih seumur jagung.


Drrrt.


Ponselku terdengar bergetar, dan kulihat Mas Ilham mengirim pesan untuk wanita itu.


"Sayang, Mas udah nggak sabar buat nikah sama kamu hari ini."


Lalu terlihat Mas Ilham mengirimkan beberapa gambar, seperti seserahan. Ada perlengkapan make up dengan merk yang harganya mahal, juga ada gaun atau apa itu karena bentuknya sudah dibuat seperti bunga. Juga ada high heels yang kutaksir harganya juga tidak murah. Darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli barang-barang mahal ini?


Dan masih banyak barang yang lain, yang kalau dijabarkan membuat dadaku terasa sesak. Iya, karena waktu melamarku dulu, Mas Ilham hanya membelikanku barang-barang yang harganya murah. Waktu itu aku memakluminya, karena kondisi dia yang masih meniti karir.


Tak apa seserahan dengan barang murah, yang penting kami sudah sah dan berjuang bersama-sama. Karena kupikir harta bisa dicari dengan bekerja sama. Tak terasa air mata ini menetes di pipi, aku tidak menghiraukan tatapan pak sopir yang keheranan karena perubahanku.


Ponselku bergetar lagi, kali ini sepertinya wanita itu mengirim balasan.


"Tunggu empat jam lagi, ya, kita akan resmi menjadi suami istri."


Gemuruh di dada rasanya sudah tidak dapat ditahan lagi, rasanya ingin kulempar saja ponsel ini. Namun, aku harus bisa menguasai diri. Empat jam, masih cukup waktu untuk pergi ke salon. Mengubah penampilanku agar mereka tidak mengenali.


Atas rekomendasi dari Mira, aku menemukan salon yang bisa merubah wajahku dengan teknik make up. Aku akan pura-pura menjadi tamu undangan dan mengambil foto mereka.

__ADS_1


Kenapa aku tidak melabraknya saja? Itu karena aku tidak ingin Mas Ilham menceraikanku dengan mudah. Akan aku buat dia menyesal karena sudah mengkhianatiku.


Hampir dua jam setengah aku duduk di salon ini, dan tangan sang perias dengan terampil menyapukn bedak beserta alat tempur lainnya di wajahku. Kini, aku sudah bisa melihat hasilnya. Bahkan aku pun pangling dengan wajahku sendiri, dan kuharap mereka tidak mengenaliku.


Lima belas menit sebelum acara aku sudah tiba di hotel. Karena tidak tahu di mana ruangan yang akaan mereka gunakan, terpaksa aku bertanya pada seorang resepsionis. Di sebelahku sudah lebih dulu ada pasangan yang menanyakan hal serupa, hanya saja nama pengantinnya berbeda.


"Ada yang bisa dibantu, Bu?"


"Saya mau tanya dimana ruang pernikahan atas nama Ilham Hadiwijaya? Karena saya lupa tidak membawa undangannya."


Resepsionis tersebut menyebutkan dimana letak ruangannya, lantai tiga ruang anyelir. Dengan menaiki lift aku menuju ke sana.


Sebelum memasuki ruangan sudah ada dekorasi dari bunga bernuansa putih yang membingkai pintu masuk. Masuk ke dalam terlihat suasana yang masih bernuansa putih, juga dengan hiasan bunga-bunga dalam pot yang juga berwarna putih.


Terkesan sangat mewah, dan lagi-lagi aku bertanya dalam hati. Darimana mereka mendapatkan uang untuk menyewa gedung dan dekorasi semewah ini? Aku mengesampingkan pikiranku tadi, kemudian sedikit maju ke depan dimana sudah ada mempelai pria dan wanita dalam balutan busana pengantin yang lagi-lagi bernuansa putih. Dan disinilah aku, menjadi tamu tak diundang di pernikahan suamiku sendiri.


"Saya terima nikah dan kawinnya Juliana binti Arseno dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Setelah prosesi ijab kabul selesai aku beranjak dari tempat dudukku dan meninggalkan ruangan ini. Sudah cukup, aku sudah punya bukti atas kecurangan mereka.


Aku segera pulang ke rumah, rencana untuk menginap sehari semalam terpaksa aku batalkan. Yang harus kulakukan sekarang adalah membalas perbuatan mereka.


***


Sinar matahari menerobos masuk di celah-celah kamar saat aku membuka mata. Kulihat jarum jam menunjukkan angka sembilan. Setelah meregangkan tubuh, aku beranjak dari kamar. Ternyata begini rasanya tidur dengan waktu yang cukup.


Aku merasa badanku sedikit lebih baik daripada biasanya. Akupun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan badan, setelah itu memasak air untuk membuat secangkir kopi. Tak lupa aku membawa ponselku turut serta.

__ADS_1


Drrrt


Ponselku berbunyi saat aku sedang meracik kopi, rumah ini rasanya sepi tanpa ada mereka berdua. Meski sepi tapi terasa tenang, tidak ada yang bikin aku naik darah.


Sebelum jam dua belas siang, rumah sudah rapi kubersihkan. Hari ini sengaja aku tidak memasak karena ingin makan di luar.


Aku membuka ponselku, tidak ada aktivitas di nomor Mas Ilham. Mungkin saat ini dia tengah menikmati waktunya menjadi pengantin baru. Di statusnya pun tidak ada aktivitas apapun.


Aku melihat kontak yang seingatku kemarin bernama Julia itu. Dari profilnya sepertinya cukup cantik, entah itu benar-benar cantik atau hanya filter kamera.


Rambutnya lurus dan sepertinya panjang, karena profilnya hanya diambil dari area wajah saja. Dagunya terlihat lancip, wajahnya bulat telur dengan alis yang rapi. Bibirnya dipoles lipstik dengan warna merah menyala.


Aku sangat penasaran darimana Mas Ilham mengenal wanita ini? Dari teman-temannya atau ah, entahlah. Cacing-cacing di perutku sudah berteriak minta makan. Karena sejak bangun tadi aku hanya meminum secangkir kopi.


Setelah mengganti baju, aku berniat untuk keluar mencari makan. Sepertinya nasi Padang komplit cocok untuk menu makan sarapan yang terlambat. Saat hendak menyalakan mesin motor, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.


Aku mengernyitkan dahi, karena merasa tidak ada yang bertamu hari ini. Pintu terbuka dan terlihat ibu mertua turun dari mobil tadi. Kenapa ibu kembali secepat ini? Bukannya kemarin bilang rencananya akan pergi sedikit lama?


Aku semakin mematung saat dari pintu di sampingnya keluar seorang wanita yang berjalan memutar dan menghampiri ibu. Mataku terbelalak saat menyadari siapa yag bersama dengan ibu mertuaku.


Apa-apaan ini?


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


terima kasih sudah mengikuti cerita RaRa, sambil menunggu update part selanjutnya RaRa mau merekomendasikan novel keren dari teman RaRa. Judulnya Athmosphere karya Kak Hilmiath


blurb:

__ADS_1


Adhara Andromeda, seperti namanya yang berarti bintang paling terang di antara rasi bintang. Adhara adalah gadis ceria yang selalu menerangi orang di sekitarnya. Adhara bukanlah gadis dari keluarga kaya, ia hanya gadis biasa yang berhasil masuk dalam sekolah elit. Namun, di hari pertamanya sekolah ia malah harus terjebak pada tiga laki-laki tampan yang di sebut pangeran sekolah. Masalah tak pernah henti melibatkannya pada ketiga pangeran tersebut. Hingga rasa sayang menjebak mereka, ketiga pangeran tersebut perlahan menyayangi Adhara dengan rasa yang berbeda. Sedangkan Adhara juga mulai menyayangi mereka delam berbagai arti menyayangi. Bagaimana Adhara akan menghadapi setiap masalahnya bersama tiga pangeran tersebut? Baca ceritanya agar kalian tidak penasaran siapa yang kira-kira akan menarik hati Adhara dan menjadi pelabuhan untuk gadis itu. Arche dengan sikap hangat nya, Chan dengan sikap dinginnya, Atau Antariksa dengan sikap kasarnya?



__ADS_2