Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 39


__ADS_3

“Aku akan menyusulmu ke Bali.” Rani membaca isi pesan dari Arman.


“Aku sudah pesan tiket ke Bali untuk menyusulmu.” Dan ini pesan dari Alvin.


Kedua pesan tadi membuat selera makan Rani langsung hilang, padahal beberapa menit yang lalu dia sudah bersemangat akan menghabiskan ayam betutu, sate lilit, plecing kangkung dan sambal matah. Namun, sekarang Rani sepertinya enggan melirik makanan yang sudah tersaji di hadapannya. Namun, bagaiamapun juga Rani butuh tenaga untuk menghadapi hari, maka dari itu dia masukkan ponselnya kedalam tas. Tak lupa ia matikan dulu benda pipih itu agar kedua pria tadi tidak menghubunginya lagi.


Sambil menikmati makanannya, Rani juga memikirkan cara untuk menghadapi pria itu jika mereka benar-benar menyusulnya ke Bali. Rani tidak menghabiskan seluruh makanannya, ia memutuskan untuk kembali ke hotel. Rani tidak berniat membuka kembali ponselnya, ia berdiri dan menghadap keluar jendela. Menikmati pemandangan malam kuta Bali yang semakin menunjukkan geliat aktivitas.


Rani menghela napas panjang, ia kemudian meraih koper yang ada di sisi ranjang. Ia memutuskan untuk pindah hotel saat itu juga. Rani mulai memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam koper. Selain itu dia juga memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya selama beberapa hari agar baik Arman ataupun Alvin tidak ada yang bisa melacak keberadaannya.


Pukul sembilan malam Rani sudah keluar dari hotel, dengan bantuan resepsionis ia memesan taksi sekaligus mencarikan penginapan yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya menginap saat ini. Di dalam taksi online Rani merenung, apa maksud dan tujuan kedua pria itu menyusulnya ke Bali. Rani akhirnya tiba di hotel di daerah Seminyak, Bali, dan setelah sampai di dalam kamar dia langsung merebahkan dirinya.


Pagi-pagi sekali Rani sudah bangun dari tidurnya, ia meregangkan tubuhnya sebelum beranjak dari kasur. Setelah membersihkan badan dan berganti pakaian, Rani keluar dari hotel. Hari ini dia memutuskan untuk sarapan di sebuah cafe yang cukup terkenal. Letaknya tak jauh dari tempatnya menginap, cafe sawah namanya. Disebut demikian karena letaknya yang berada di area pesawahan. 


Rani menunggu taksi yang lewat di depan hotel, ia sengaja tidak memesan taksi online karena masih menonaktifkan ponselnya. Setibanya di tempat tujuan Rani dibuat terpukau. Lokasi cafe ini berada di pinggir jalan yang diapit deretan sawah di kiri dan kanannya. Suasananya cukup sejuk dan asri, selain itu warganya juga sangat ramah. Terbukti sejak turun dari taksi online dan berjalan menuju lokasi cafe –karena mobil tidak bisa masuk lokasi—Rani sering berpapasan dengan warga lokal yang sedang berangkat ke sawah mereka. 


Tiap kali berpapasan mereka melontarkan senyum ramah, tak jarang mereka menyapa pengunjung atau turis asing yang datang ke tempat mereka. Sebagian besar penduduk Bali bisa berbahasa Inggris. Cafe tidak tidak begitu ramai saat Rani memasuki tempat ini, ada beberapa kursi yang diisi oleh pengunjung. Mungkin sekitar enam atau delapan tempat. 


Rani mengambil posisi di samping yang hanya dibatasi tembok yang tingginya setengah badan manusia. Dari sini Rani bisa melihat aktivitas penduduk yang sedang bekerja di sawah. Sambil menunggu makanan pikiran Rani menerawang, bagaimana kalau seandainya dia memiliki rumah di pedesaan. Dengan tetangga yang baik dan ramah, juga suasana yang sejuk daj asri seperti ini. Mungkin dia akan merasa betah, membina sebuah rumah tangga baru bersama seorang suami dan beberapa anak. Mengingat soal rumah tangga Rani tidak yakin akan memilikinya dalam waktu dekat. 

__ADS_1


Setelah menghabiskan sarapannya ia lanjut mengunjungi sebuah pantai yang masih berada di kawasan ini hingga sore menjelang.


***


Dua hari berada di Bali membuat Rani sedikit melupakan masalahnya, selama dua hari itu pula ia tidak mengaktifkan ponselnya. Ia merasa damai dan tenang tanpa gangguan dari siapapun. Kali ini Rani memilih untuk pindah ke penginapan lain. Kali ini ia memilih mengunjungi pantai Kuta, salah satu pantai ikonik di Bali. Sejak pagi Rani sudah bersiap, ia bahkan melewatkan sarapan dan ingin sarapan di pantai ini.


Suasana pantai lumayan ramai meski ini bukan waktu liburan. Banyaknya turis mancanegara mendominasi tempat ini. Rani mengambil duduk di salah satu gazebo yang menghadap pantai. Menikmati ombak yang bergulung di Pantai Kuta, ia ingin mengabadikan keindahan itu. Namun, ia berpikir lagi kalau mengaktifkan kembali ponselnya itu artinya dia membiarkan mereka melacak keberadaannya.


Puas menikmati ombak, mata Rani berkeliling melihat pemandangan di sekitarnya. Para bule dengan pakaian terbuka menjadi pemandangan yang biasa. Juga penduduk lokal yang menawarkan jasa kepang rambut kepada pengunjung. Deretan kios yang menjual makanan atau minuman segar, ada juga kios yang menjual aneka baju dan souvernir.


Diantara pemandangan itu mata Rani menangkap siluet seseorang yang ia kenal. Rani bahkan mengucek matanya untuk memastikan jika penglihatannya itu tidak salah. Orang tersebut berjalan dengan santai, ke arahnya. Tunggu! Rani bahkan sudah berdiri dari duduknya dan menatap terkejut pada pria yang jaraknya sudah sangat dekat dengannya.


"A-Arman? Bagaimana bisa ka-kamu…."


"Menemukanmu?" Arman menyela ucapan Rani, pria itu menatap wanita itu sambil tersenyum, "bahkan dari jarak seratus kilometer saja aku bisa mencium wangi parfummu." 


Rani berdecak kesal mendengar lelucon pria itu, ia kemudian memposisikan diri da duduk di samping Arman. Terlihat wanita itu meghela napas, liburannya yang terasa damai harus terganggu dengan kehadiran pria itu.


"Memangnya kamu nggak kerja?" Tanya Rani tanpa melihat lawan bicaranya. 

__ADS_1


"Aku disini juga karena urusan kerja." 


Rani dengan cepat menoleh mendengar jawaban Arman, "kamu serius?" Tanyanya tidak percaya.


Arman mengedikkan kedua bahunya sebagai jawaban. "Aku memang ada pertemuan dengan klien penting di sini." 


Rani menundukkan kepalanya, ia sudah salah sangka. Wanita itu mengira Arman sengaja menyusulnya ke pulau ini. 


"Ponselmu kenapa?" Tanya Arman memecah lamunan Rani. 


"Ketinggalan di hotel." Jawab Rani.


"Biasanya kaum wanita suka sekali megambil gambar apapun yang menarik, apalagi ini di pantai." 


"Karena aku tidak termasuk bagian dari mereka. Aku lebih suka menikmati liburan dengan caraku sendiri tanpa ada gangguan apapun." 


Arman menatap lekat wanita itu, kemudian ia tersenyum. "Kamu menyindirku?" 


"Untuk apa aku menyindirmu?" Rani balik bertanya.

__ADS_1


"Karena sudah mengganggu waktu liburanmu."


__ADS_2