
Resepsi
pernikahan Alvin dan Rani digelar di ballrom hotel Aston, yang dihias dengan
tema beruansa putih. Tema dan rancangan ini tentu saja ide dari Cindy. Meski
Rani menginginkan resepsi yang sederhana, tetapi di tangan Cindy resepsi ininterlihat
mewah. Mulai dari pintu masuk ballroom yang dihias dengan mawar putih, kemudian
memasuki ruangan akan disuguhi dengan ornamen unik yang semuanya terdapat mawar
putih. Bahkan pelaminan pun dihias cantik dengan mawar putih yang mendominasi.
Sama seperti saat
akad nikah kemarin, Rani masih saja merasa gugup saat dirinya dirias oleh MUA
pilihan Cindy. Meski ada Mira dan Cindy yang menemani tetap saja tidak
meghilangkan rasa gugup di hati Rani.
“Bagaimana malam
pertamanya kemarin?” tanya Mira begitu sang sahabat selesai dirias.
“Malam pertama
apanya?nggak ada malam pertama.” Jawab Rani jujur, mereka memang menunda malam
pertama karena suasana rumah Bibi Sinta yang masih ramai dengan sanak saudara
yang belum kembali ke tempat tinggal mereka.
“Kenapa? Jangan
bilang kalau kalian akan balas dendam nanti.” Alvin memang sengaja menyewa satu
kamar president suit untuk mereka menginap setelah acara resepsi, bahkan ia
menyewa untuk tiga hari ke depan. Jika memikirkan hal itu membuat pipi Rani
tiba-tiba merona.
“Heh, kenapa pipi
kamu tiba-tiba memerah? Apa jangan-jangan tebakanku benar?” Belum sempat Rani
membalas godaan Mira, pintu kamar dibuka oleh Alvin yang sudah rapi dalam
balutan tuxedo berwarna putih.
“Maaf, aku keluar
dulu.” Mira bergegas keluar dari kamar setelah menjawil dagu sang sahabat,
tentu saja tindakannya itu mendapat pelototan tajam dari Rani.
Setelah Mira
keluar dari kamar, Alvin melangkah mendekati Rani yang masih terduduk di
kursinya sambil memainkan kedua tangannya. Wajahnya menunduk malu, ia tidak
berani mengangkat wajahnya karena takut terpesona dengan ketampanan Alvin. Rani
baru mengangkat wajahnya ketika sebuah tengan terulur di hadapannya, dengan
jantung bertalu, Rani menyambut tangan itu. Dingin, itulah yang pertama kali ia
rasakan ketika menyentuhtelapak tangan tersebut.
“Apakah dia juga
gugup?” batin Rani bertanya. Saat Rani sudah berdiri di hadapan Alvin, lelaki
itu tak kunjung bergerak dan ketika Rani mendongakkan kepalanya ia mendapati
Alvin masih menatapnya dengan lekat,
membuat kening Rani berkerut.
“Kenapa?”
“Aku hanya merasa
beruntung bisa menikahi bidadari secantik kamu.” Rani tersenyum simpul, ia bisa
merasakan pipinya memanas oleh ucapan Alvin barusan.
“Gombal, ih.”
“Sueer, aku
berani sumpah kalau hari ini kamu cantik banget.”
“Emang
kemarin-kemarin aku nggak cantik gitu?” Rani pura-pura cemberut.
“Enggak, Sayang,
kamu selalu cantik. Kemarin, hari ini dan sampai kapanpun bagiku kamu yang paling
cantik." Suara Alvin terdengar serak dan dalam, wajahnya bahkan sudah
berada tepat di depan wajah Rani. Wanita itu bahkan bisa merasakan hembusan
napas Alvin menerpa hidungnya. Rani bahkan harus memejamkan matanya saat wajah
Alvin berada semakin dekat dengan wajahnya, hampir saja bibir itu menyentuh
__ADS_1
bibir kenyal milik Rani ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok
Cindy yang langsung menatap keduanya sambil berkacak pinggang.
“Bisa ditunda
nggak acara ena-enanya? Acaranya udah mau mulai ini.” Kedua pengantin baru itu
langsung gelagapan seperti maling yang kepergok mencuri. Setelah berhasil
menguasai diri Alvin menekuk siku dan disambut oleh Rani yang langsung
merangkul lengan sang suami.
Banyak pasang mata
megagumi kecantikan Rani yang begitu mempesona malam ini, tak jarang dari
mereka yang membandingkannya dengan Karina—mantan istri Alvin--.
“Wah, istri Alvin
kali ini cantik banget ya.”
“Iya, nggak kalah
cantik dari mantan istrinya yang dulu, hebat banget si Alvin selalu dapat istri
yang cantik.”
“Ya, meski begitu
tetap aja masih cantik Karina kemana-mana, dia kan model terkenal. Apalagi dari
pernikahan mereka ada Ananta. Kira-kira istri barunya Alvin mau menerima
anaknya apa enggak ya? Jangan sampai kayak di sinetron itu yang ibu tiri kejam
sama anaknya.”
Perkataan yang
terakhir tentu saja diucapkan oleh orang-orang
terdekat Karina, padahal mereka tidak tahu masalah apa yang terjadi sebenarnya
antara Alvin dan Karina. Mereka hanya mendengar cerita dari satu pihak saja
yaitu Karina yang selalu merasa dirinya adalah korban.
Alvin yang saat
itu berada tak jauh dari para tukang gosip itu berjalan dengan santai
menghampiri mereka, membuat para wanita-wanita itu menghentikan pembicaraan
mereka.
karena sudah memuji istri saya cantik, dan terima kasih atas kekhawatiran
kalian pada anak saya. Asal kalian tahu, jika anak saya yang paling antusias
agar saya segera menikahi Bundanya. Dari sini kalian bisa menilai, kan, kalau
istri saya sangat mencintai Ananta meski dia bukan darah dagingnya sendiri.”
Ucapan Alvin
berhasil membungkam mulut-mulut para penggosip itu, pria itu bahkan berkata cukup
keras hingga orang-orang yang berdiri di dekat gerombolan itu bisa mendengar. Bisik-bisik
dari tamu lain terdengar, mereka mencibir para wanita yang sudah menyebar gosip
murahan tadi.
Pukul sepuluh
malam acara resepsi sudah berakhir, Rani dan Alvin sudah berada di dalam salah
satu kamar president suit yang disiapkan untuk mereka menginap. Rani kebingungan
saat akan berganti pakaian, karena ternyata Bibi Sinta tak membawakannya baju
ganti. Masa iya dia mau tidur dengan mengenakan gaun pengantin ini.
“Kamu kenapa?”
tanya Alvin begitu keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya tengah
kebingungan.
“Itu, Bibi Sinta
nggak bawain aku baju ganti.” Jawabnya dengan wajah putus asa.
“Oh, itu kamu
pakai ini aja.” Alvin menyerahkan sebuah paperbag yang sejak tadi sudah ada di
meja, tanpa membuka isinya terlebih dahulu Rani menyambar paperbag itu dan
langsung membawanya ke kamar mandi. Ia sendiri sejak tadi sudah menahan hasrat
untuk buang air kecil.
Rupanya Rani
menyesali keputusannya yang tidak memeriksa isi paperbag itu lebih dahulu,
sebab sekarang ia diliputi rasa bimbang. Mau memakainya atau tidak, dan tentu
__ADS_1
saja ia tidak punya pilihan lain selain memakainya, sebab hanya ini
satu-satunya pakaian yang tersedia. Sekali lagi, Rani memandang lingerie tipis
di tangannya dan memantapkan hati memakai pakaian ini atau tidak.
Alvin duduk sambil
bersandar di kepala ranjang, tangannya sibuk menggulir layar ponselnya. Bibirnya
menyunggingkan senyum membayangkan malam pertama mereka. Ia sengaja meminta
Bibi Sinta mengirimkan pakaian Rani besok pagi-pagi sekali dan hanya menyiapkan
satu lingerie seksi yang baru saja dibelinya.
“Sayang, kamu
sedang apa? Kenapa lama sekali di dalam? Kamu nggak apa-apa, kan?” Alvin
mengetuk pintu kamar mandi karena sudah tiga puluh menit sejak Rani masuk,
wanita itu belum juga keluar. Beberapa menit kemudian pintu itu tak kunjung
terbuka.
“Sayang, aku dobrak
ya pintunya.” Sesaat setelah Alvin mengucapkan kalimat itu, handle pintu terlihat
berputar dan pelan-pelan pintu terbuka, tetapi hanya wajah Rani yang menyembul
dari balik pintu.
“Kenapa nggak
keluar?”
“Emang nggak ada
baju lain? Bathrobe atau apa gitu?” tanya Rani dengan wajah bersemu merah.
“Memangnya kenapa
dengan baju yang kamu pakai?” Alvin mengulum senyum menikmati wajah malu sang
istri.
“I-itu. Aww!!” Belum
sempat Rani menyelesaikan kalimatnya Alvin sudah melangkah maju dan berhasil
membuat Rani menampakkan tubuhnya yang berbalut lingerie tipis tadi hingga menempel
di tubuh Alvin.
“Kenapa hmm?”
bisik Alvin lembut ditelinga Rani, membuat desiran halus di tubuh wanita itu.
“Aku malu.” Cicit
Rani sambil membenankan wajahnya di dada Alvin, menghidu aroma tubuh dan
hangatnya pelukan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
“Kenapa harus
malu? Aku kan suami kamu.” Alvin mulai meraba lengan Rani sambil mencium pundak
wanita itu, sesekali ia menggigit kecil bagian pundak itu membuat Rani menggigit
bibirnya.
“Bagaimana? Apa kamu
sudah siap?” Alvin berbisik di telinga Rani, suaranya yang serak dan dalam
membuat sekujur tubuh Rani meremang.
“Siap untuk apa?”
Tanya Rani, ia bahkan tak berani menatap wajah Alvin.
Tanpa memberi
jawaban, Alvin mengangkat dagu Rani dan memberikan ciuman lembut di bibir
wanita itu. Ciuman lembut yang kemudian berubah menjadi ciuman panas dan
menuntut. Alvin bahkan sudah mengangkat tubuh Rani ala bridal style dan
membawanya menuju ke ranjang merka tanpa menghentikan ciuman.
Dalam keremangan
cahaya bulan yang masuk lewat kisi-kisi jendela kamar keduanya melakukan
penyatuan. ******* dan erangan menjadi melodi indah mengiringi malam-malam
panjang mereka berdua.
TAMAT
TERIMA KASIH SAYA
UCAPKAN BUAT PEMBACA YANG SUDAH MENGIKUTI CERITA SAYA INI. MOHON MAAF JIKA APA
YANG SAYA SAJIKAN MASIH JAUH DARI KATA SEMPURNA. SEKALI LAGI SAYA UCAPKAN
TERIMA KASIH BANYAK BUAT KALIAN SEMUA.
__ADS_1