Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 49


__ADS_3

Resepsi


pernikahan Alvin dan Rani digelar di ballrom hotel Aston, yang dihias dengan


tema beruansa putih. Tema dan rancangan ini tentu saja ide dari Cindy. Meski


Rani menginginkan resepsi yang sederhana, tetapi di tangan Cindy resepsi ininterlihat


mewah. Mulai dari pintu masuk ballroom yang dihias dengan mawar putih, kemudian


memasuki ruangan akan disuguhi dengan ornamen unik yang semuanya terdapat mawar


putih. Bahkan pelaminan pun dihias cantik dengan  mawar putih yang mendominasi.


Sama seperti saat


akad nikah kemarin, Rani masih saja merasa gugup saat dirinya dirias oleh MUA


pilihan Cindy. Meski ada Mira dan Cindy yang menemani tetap saja tidak


meghilangkan rasa gugup di hati Rani.


“Bagaimana malam


pertamanya kemarin?” tanya Mira begitu sang sahabat selesai dirias.


“Malam pertama


apanya?nggak ada malam pertama.” Jawab Rani jujur, mereka memang menunda malam


pertama karena suasana rumah Bibi Sinta yang masih ramai dengan sanak saudara


yang belum kembali ke tempat tinggal mereka.


“Kenapa? Jangan


bilang kalau kalian akan balas dendam nanti.” Alvin memang sengaja menyewa satu


kamar president suit untuk mereka menginap setelah acara resepsi, bahkan ia


menyewa untuk tiga hari ke depan. Jika memikirkan hal itu membuat pipi Rani


tiba-tiba merona.


“Heh, kenapa pipi


kamu tiba-tiba memerah? Apa jangan-jangan tebakanku benar?” Belum sempat Rani


membalas godaan Mira, pintu kamar dibuka oleh Alvin yang sudah rapi dalam


balutan tuxedo berwarna putih.


“Maaf, aku keluar


dulu.” Mira bergegas keluar dari kamar setelah menjawil dagu sang sahabat,


tentu saja tindakannya itu mendapat pelototan tajam dari Rani.


Setelah Mira


keluar dari kamar, Alvin melangkah mendekati Rani yang masih terduduk di


kursinya sambil memainkan kedua tangannya. Wajahnya menunduk malu, ia tidak


berani mengangkat wajahnya karena takut terpesona dengan ketampanan Alvin. Rani


baru mengangkat wajahnya ketika sebuah tengan terulur di hadapannya, dengan


jantung bertalu, Rani menyambut tangan itu. Dingin, itulah yang pertama kali ia


rasakan ketika menyentuhtelapak tangan tersebut.


“Apakah dia juga


gugup?” batin Rani bertanya. Saat Rani sudah berdiri di hadapan Alvin, lelaki


itu tak kunjung bergerak dan ketika Rani mendongakkan kepalanya ia mendapati


Alvin masih menatapnya dengan  lekat,


membuat kening Rani berkerut.


“Kenapa?”


“Aku hanya merasa


beruntung bisa menikahi bidadari secantik kamu.” Rani tersenyum simpul, ia bisa


merasakan pipinya memanas oleh ucapan Alvin barusan.


“Gombal, ih.”


“Sueer, aku


berani sumpah kalau hari ini kamu cantik banget.”


“Emang


kemarin-kemarin aku nggak cantik gitu?” Rani pura-pura cemberut.


“Enggak, Sayang,


kamu selalu cantik. Kemarin, hari ini dan sampai kapanpun bagiku kamu yang paling


cantik." Suara Alvin terdengar serak dan dalam, wajahnya bahkan sudah


berada tepat di depan wajah Rani. Wanita itu bahkan bisa merasakan hembusan


napas Alvin menerpa hidungnya. Rani bahkan harus memejamkan matanya saat wajah


Alvin berada semakin dekat dengan wajahnya, hampir saja bibir itu menyentuh

__ADS_1


bibir kenyal milik Rani ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok


Cindy yang langsung menatap keduanya sambil berkacak pinggang.


“Bisa ditunda


nggak acara ena-enanya? Acaranya udah mau mulai ini.” Kedua pengantin baru itu


langsung gelagapan seperti maling yang kepergok mencuri. Setelah berhasil


menguasai diri Alvin menekuk siku dan disambut oleh Rani yang langsung


merangkul lengan sang suami.


Banyak pasang mata


megagumi kecantikan Rani yang begitu mempesona malam ini, tak jarang dari


mereka yang membandingkannya dengan Karina—mantan istri Alvin--.


“Wah, istri Alvin


kali ini cantik banget ya.”


“Iya, nggak kalah


cantik dari mantan istrinya yang dulu, hebat banget si Alvin selalu dapat istri


yang cantik.”


“Ya, meski begitu


tetap aja masih cantik Karina kemana-mana, dia kan model terkenal. Apalagi dari


pernikahan mereka ada Ananta. Kira-kira istri barunya Alvin mau menerima


anaknya apa enggak ya? Jangan sampai kayak di sinetron itu yang ibu tiri kejam


sama anaknya.”


Perkataan yang


terakhir tentu  saja diucapkan oleh orang-orang


terdekat Karina, padahal mereka tidak tahu masalah apa yang terjadi sebenarnya


antara Alvin dan Karina. Mereka hanya mendengar cerita dari satu pihak saja


yaitu Karina yang selalu merasa dirinya adalah korban.


Alvin yang saat


itu berada tak jauh dari para tukang gosip itu berjalan dengan santai


menghampiri mereka, membuat para wanita-wanita itu menghentikan pembicaraan


mereka.


karena sudah memuji istri saya cantik, dan terima kasih atas kekhawatiran


kalian pada anak saya. Asal kalian tahu, jika anak saya yang paling antusias


agar saya segera menikahi Bundanya. Dari sini kalian bisa menilai, kan, kalau


istri saya sangat mencintai Ananta meski dia bukan darah dagingnya sendiri.”


Ucapan Alvin


berhasil membungkam mulut-mulut para penggosip itu, pria itu bahkan berkata cukup


keras hingga orang-orang yang berdiri di dekat gerombolan itu bisa mendengar. Bisik-bisik


dari tamu lain terdengar, mereka mencibir para wanita yang sudah menyebar gosip


murahan tadi.


Pukul sepuluh


malam acara resepsi sudah berakhir, Rani dan Alvin sudah berada di dalam salah


satu kamar president suit yang disiapkan untuk mereka menginap. Rani kebingungan


saat akan berganti pakaian, karena ternyata Bibi Sinta tak membawakannya baju


ganti. Masa iya dia mau tidur dengan mengenakan gaun pengantin ini.


“Kamu kenapa?”


tanya Alvin begitu keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya tengah


kebingungan.


“Itu, Bibi Sinta


nggak bawain aku baju ganti.” Jawabnya dengan wajah putus asa.


“Oh, itu kamu


pakai ini aja.” Alvin menyerahkan sebuah paperbag yang sejak tadi sudah ada di


meja, tanpa membuka isinya terlebih dahulu Rani menyambar paperbag itu dan


langsung membawanya ke kamar mandi. Ia sendiri sejak tadi sudah menahan hasrat


untuk buang air kecil.


Rupanya Rani


menyesali keputusannya yang tidak memeriksa isi paperbag itu lebih dahulu,


sebab sekarang ia diliputi rasa bimbang. Mau memakainya atau tidak, dan tentu

__ADS_1


saja ia tidak punya pilihan lain selain memakainya, sebab hanya ini


satu-satunya pakaian yang tersedia. Sekali lagi, Rani memandang lingerie tipis


di tangannya dan memantapkan hati memakai pakaian ini atau tidak.


Alvin duduk sambil


bersandar di kepala ranjang, tangannya sibuk menggulir layar ponselnya. Bibirnya


menyunggingkan senyum membayangkan malam pertama mereka. Ia sengaja meminta


Bibi Sinta mengirimkan pakaian Rani besok pagi-pagi sekali dan hanya menyiapkan


satu lingerie seksi yang baru saja dibelinya.


“Sayang, kamu


sedang apa? Kenapa lama sekali di dalam? Kamu nggak apa-apa, kan?” Alvin


mengetuk pintu kamar mandi karena sudah tiga puluh menit sejak Rani masuk,


wanita itu belum juga keluar. Beberapa menit kemudian pintu itu tak kunjung


terbuka.


“Sayang, aku dobrak


ya pintunya.” Sesaat setelah Alvin mengucapkan kalimat itu, handle pintu terlihat


berputar dan pelan-pelan pintu terbuka, tetapi hanya wajah Rani yang menyembul


dari balik pintu.


“Kenapa nggak


keluar?”


“Emang nggak ada


baju lain? Bathrobe atau apa gitu?” tanya Rani dengan wajah bersemu merah.


“Memangnya kenapa


dengan baju yang kamu pakai?” Alvin mengulum senyum menikmati wajah malu sang


istri.


“I-itu. Aww!!” Belum


sempat Rani menyelesaikan kalimatnya Alvin sudah melangkah maju dan berhasil


membuat Rani menampakkan tubuhnya yang berbalut lingerie tipis tadi hingga menempel


di tubuh Alvin.


“Kenapa hmm?”


bisik Alvin lembut ditelinga Rani, membuat desiran halus di tubuh wanita itu.


“Aku malu.” Cicit


Rani sambil membenankan wajahnya di dada Alvin, menghidu aroma tubuh dan


hangatnya pelukan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.


“Kenapa harus


malu? Aku kan suami kamu.” Alvin mulai meraba lengan Rani sambil mencium pundak


wanita itu, sesekali ia menggigit kecil bagian pundak itu membuat Rani menggigit


bibirnya.


“Bagaimana? Apa kamu


sudah siap?” Alvin berbisik di telinga Rani, suaranya yang serak dan dalam


membuat sekujur tubuh Rani meremang.


“Siap untuk apa?”


Tanya Rani, ia bahkan tak berani menatap wajah Alvin.


Tanpa memberi


jawaban, Alvin mengangkat dagu Rani dan memberikan ciuman lembut di bibir


wanita itu. Ciuman lembut yang kemudian berubah menjadi ciuman panas dan


menuntut. Alvin bahkan sudah mengangkat tubuh Rani ala bridal style dan


membawanya menuju ke ranjang merka tanpa menghentikan ciuman.


Dalam keremangan


cahaya bulan yang masuk lewat kisi-kisi jendela kamar keduanya melakukan


penyatuan. ******* dan erangan menjadi melodi indah mengiringi malam-malam


panjang mereka berdua.


TAMAT


TERIMA KASIH SAYA


UCAPKAN BUAT PEMBACA YANG SUDAH MENGIKUTI CERITA SAYA INI. MOHON MAAF JIKA APA


YANG SAYA SAJIKAN MASIH JAUH DARI KATA SEMPURNA. SEKALI LAGI SAYA UCAPKAN


TERIMA KASIH BANYAK BUAT KALIAN SEMUA.

__ADS_1


__ADS_2