Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 42


__ADS_3

"Apa kamu sengaja menghindariku?"


Pertanyaan dari Alvin membuat Rani langsung mendongakkan kepalanya, ia menatap jengah pada pria yang menatapnya dengan tajam.


"Ya, wajar lah Vin, dia kan ingin menenangkan diri sebentar setelah apa yang pernah menimpa dirinya."


Tadinya Rani akan menjawab pertanyaan Alvin, tetapi ia urungkan karena Arman sudah lebih dulu membuka suara. Rupanya ucapan Arman barusan sedikit menyadarkan Alvin, pria itu berdehem sebentar untuk menghilangkan rasa bersalahnya.


"Aku mengerti, untuk itu aku minta maaf sama kamu, Ran." Ucap Alvin kemudian, kali ini nada suaranya sedikit pelan.


"Iya, Pak, kalau begitu apa boleh saya kembali sekarang?"


"Oh, iya, kamu bisa ikut di mobilku." Alvin sudah akan berjalan menuju mobilnya, tetapi suara Arman menghentikannya.


"Biar aku yang mengantarnya, bukankah kamu baru tiba di restoran ini? Jadi, kupikir kamu masih ingin makan dulu."


Arman mengingatkan Alvin jika pria itu tadi baru datang ke restoran ini.


"Iya, Pak, saya akan kembali ke hotel bareng sama Arman karena tujuan kami juga sama." Ucap Rani, niatnya dia ingin mengakhiri perdebatan ini, tetapi ia malah mendapat tatapan tajam dari Alvin.


"Ya sudah." Dengkus Alvin kemudian tanpa bicara apapun lagi ia berlalu meninggalkan kedua orang itu dan memasuki restoran.


Arman dan Rani saling melempar pandangan melihat kelakuan Alvin, Arman mengedikkan kedua bahunya sebelum dia berjalan menuju ke mobilnya. Rani ikut menyusul di belakang pria itu. Keduanya kemudian meluncur meninggalkan restoran dan menuju ke hotel tempat dimana Rani menginap.


***


Rani menghempaskan tubuhnya di ranjang ketika ia sudah sampai di hotel. Kepalanya terasa pusing, apalagi jika mengingat kejadian hari ini. Wanita itu kemudian mengambil ponselnya, kemudian menyalakan benda pipih yang selama beberapa hari teronggok di dalam koper.


Seketika ada ratusan chat dan puluhan panggilan tak terjawab yang masuk ke nomornya, dan itu semua berasal dari Arman dan Alvin. Dua pria yang membuat pusing kepalanya. Rani berniat untuk meletakkan kembali ponselnya, tetapi benda itu tiba-tiba bersuara nyaring.


Rani menghela napas berat saat melihat layar ponselnya, nama Alvin terlihat di layar. Wanita itu kemudian menekan ikon berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.


"Akhirnya kamu nyalakan juga ponselmu, apa kamu sudah sampai di hotel?"

__ADS_1


"Iya, sudah. Baru saja." Jawab Rani kembali merebahkan tubuhnya yang letih.


"Ya, sudah kamu istirahat saja jangan kemana-mana." Suara Alvin terdengar memerintah tapi dengan nada sedikit lembut.


"Iya." Rani menjawab singkat.


"Sampai kapan kamu liburan di sini?"


Rani memiringkan tubuhnya sebelum menjawab pertanyaan Alvin.


"Rencananya lusa aku akan pulang."


Terdengar helaan napas di seberang sana, "apa kau bisa menunda sedikit lebih lama?"


Pertanyaan Alvin membuat Rani tersentak, ia bahkan sampai bangun dari posisinya yang nyaman, "ma-maksud Bapak apa, ya?"


"Temani aku liburan di Bali, aku yang akan menanggung biayanya."


Rani mengerjapkan matanya beberapa kali, ia masih belum bisa mencerna ucapan sang atasan.


"Pokoknya jangan pulang dulu, sekarang lebih baik kamu istirahat dan besok pagi aku jemput kamu."


"Memangnya Bapak tahu saya menginap dimana?" Tanya Rani sambil memicingkan matanya.


"Aku bisa menemukanmu hanya dengan mencium baumu."


"Kayak anjing, dong."


"Heh, sembarangan, kamu ngatain aku anjing?"


"E-enggak, bukan begitu maksudnya."


"Sudahlah, mending kamu istirahat aja daripada ngelantur kayak gitu."

__ADS_1


"Tapi, Pak…."


Telpon pun diputuskan sepihak oleh Alvin, membuat Rani mencebik kesal. Ia kemudian menggaruk kepalanya dengan kesal, mulai besok dia harus menemani Alvin liburan di tempat ini. Entah apa yang sedang direncanakan pria itu.


Ditengah kekalutannya ponsel Rani kembali berbunyi, kali ini ada notifikasi masuk di aplikasi perpesanan. Ia malas untuk mengangkat karena moodnya tiba-tiba buruk serta berbicara dengan atasannya tadi.


Ia berniat mengabaikan pesan itu dan kembali merebahkan diri di ranjang, tetapi ponselnya kembali meraung. Terpaksa ia kembali beringsut duduk dan meraih ponselnya di nakas samping ranjang. Lima panggilan tak terjawab dan sepuluh pesan dari Arman yang isinya sama semua. Menanyakan apakah dirinya sudah tidur atau belum.


Rani mendesah membaca rentetan pesan itu, ia kemudian membalas dengan singkat pesan tersebut.


"Iya, aku sudah tidur, ada apa?"


Rani mengirimkan pesan tersebut, terlihat Arman sedang mengetik. Rani mengerutkan kening ketika membaca pesan balasan. Hanya emotikon tertawa dengan posisi kepala miring berjejer-jejer sebagai balasan pesan Arman. Rani mengerutkan keningnya, heran dengan tingkah temannya itu.


"Kamu kenapa tertawa?" Balas Rani selanjutnya.


"Kamu itu lucu, tadi bilang sudah tidur. Lalu siapa yang balas pesanku ini? Hantu?"


Rani memukul keningnya, ia baru sadar apa yang tadi ia ketik saat membalas pesan Arman. Dia bilang kalau sudah tidur, tentu saja dia merasa malu.


"Ada apa?" Ketiknya lagi untuk menetralisir rasa malunya meski ia tidak bisa melihat lawan bicaranya.


"Enggak ada apa-apa, kamu jadi kembali ke Jakarta besok?"


Rani diam tak menjawab, ia kembali bimbang.


"Belum tahu, juga. Kenapa?"


"Aku berencana kembali besok, apa kita bisa berangkat bersama?"


Rani memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. Satu masalah belum bisa ia putuskan, sekarang datang lagi masalah baru.


"Enggak tahu, lihat besok aja."

__ADS_1


"Kamu masih ada tujuan lain?"


Rani sengaja membiarkan pesan dari Arman menggantung begitu saja tanpa berniat untuk membalasnya. Ia memilih keluar dari aplikasi perpesanan itu dan mematikan data selulernya. Setelah meletakkan kembali ponselnya di nakas ia kembali merebahkan tubuhnya. Kali ini ia memilih telentang dan menghadap langit-langit kamar.


__ADS_2