Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 20


__ADS_3

"Begitulah, Pak, kita berdalih ingin menyatukan dua pemikiran yang berbeda, nyatanya kita malah semakin memperlebar perbedaan tersebut."


Aku menerawang ke depan, berusaha mengingat kembali momen kebersamaan ku dengan Mas Ilham. Sayangnya, yang muncul dalam ingatanku justru kenangan yang meyakitkan. Kenangan bagaimana aku berusaha menempatkan diri sebagai istri yang baik dan selalu menerima apapun keadaan suami, tetapi dia malah membalasnya dengan perselingkuhan.


"Maaf, Ran, gara-gara kami, kamu harus bertengkar dengan suamimu."


"Tidak apa-apa, Pak, saya juga sudah berpisah dengan suami saya."


Pak Alvin menatapku, dari sorot matanya aku bisa lihat kalau dia terkejut.


"Kamu berpisah dengan suamimu?" Dia sepertinya tidak percaya.


"Iya, Pak, saya sudah mengajukan gugatan cerai tadi. Itu sebabnya saya datang terlambat ke sini."


Pria itu tidak berkata apa-apa lagi, disaat bersamaan ponselku berdering. Ternyata Yuda yang mengirimiku pesan.


"Selamat malam Rani, apa aku mengganggumu?"


"Tidak, Yuda, ada apa?"


"Oh, aku hanya ingin ngobrol sama kamu."


Belum sempat aku menjawab pesan dari Yuda, suara tangisan Ananta terdengar dari luar. Aku bergegas menemui gadis kecil itu di kamarnya.


"Mamaaa, Tata mau ketemu sama Mama."


Suara tangisan Ananta terdengar begitu menyayat telinga, gadis kecil itu sangat merindukan ibunya.


"Sini, Sayang sama Tante dulu. Nanti biar Papa yang jemput Mama, ya."


Aku memeluk gadis kecil itu dan mencoba menenangkannya. Butuh waktu tiga puluh menit hingga Ananta bisa kembali tenang.


"Tata mau minum, tante ambilkan susunya, ya."

__ADS_1


Gadis itu menggeleng, ia masih tidak bersemangat.


"Mama nggak sayang lagi, ya, sama Tata?" Gadis kecil itu bertanya dengan isak yang tertahan.


"Mama pasti sayang sama Tata." Aku mencoba menghiburnya.


"Kalau sayang kenapa Mama nggak pernah menemui Tata?"


Setetes air jatuh di pipi gadis itu, aku sendiri bingung bagaimana harus menjelaskan situasinya. Aku melangkah mendekati gadis itu dan duduk di sampingnya.


"Mama pasti punya alasan, Tata tunggu saja, ya, kalau urusan Mama selesai pasti Mama akan menemui Tata."


Gadis kecil itu kembali menunduk, tangan kecilnya memainkan selimutnya.


"Sekarang Tata tidur lagi, ya, biar cepet sembuh." Aku membetulkan posis gadis itu agar bisa tidur dengan nyaman, lalu menaikkan selimutnya sampai ke dagu.


"Kalau Tata sembuh, Tata bisa ketemu Mama, kan, Tante?" Gadis kecil itu bertanya riang, membuatku membeku seketika. Bagaimana aku bisa menjanjikan sesuatu yang sulit untuk dipenuhi.


"Iya, Sayang, Papa akan bilang sama Mama kamu. Sekarang Tata tidur dulu, ya?"


"Iya, Papa. Tante sini temani Tata tidur."


Akupun tersenyum lantas duduk di sampingnya, mengelus lengannya agar Tata merasa nyaman kemudian tertidur.


Ponselku kembali berdering, untung saja Tata sudah tertidur nyenyak hingga aku bisa bergerak menjauhi gadis itu. Aku menuju taman di depan kamar rawat Anata untuk menerima panggilan dari Mas Ilham. Awalnya aku enggan menerima panggilan itu, tetapi dia masih saja menghubungiku bahkan sampai puluhan kali.


"Ada apa lagi, sih, Mas?"


"Kamu dimana sekarang?"


"Aku lagi kerja."


"Kerja? Kerja apa sampai malam begini? Atau kamu lagi jual diri?"

__ADS_1


"Jaga mulutmu, Mas." Aku tidak terima Mas Ilham menghinaku seperti ini.


"Terserah kamu mau kerja apa, aku butuh duit, tolong transfer uang ke rekeningku."


Aku menarik napas kasar, lelaki ini memang bebal. Bukankah tadi aku sudah bilang kalau tidak mau lagi berurusan dengannya. Dan sekarang dia malah minta uang sama aku? Ditaruh dimana otaknya.


"Nggak ada uang."


"Jangan bohong kamu, Ran."


"Mas kamu itu laki-laki harusnya malu meminta uang terus-menerus sama perempuan, apalagi sekarang antara aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa lagi."


"Kamu masih tetap istriku, Rani, jangan lupakan itu. Dan asal kamu ingat, aku tidak akan pernah menceraikan kamu."


"Mas, kamu gi…."


Telepon ditutup begitu saja, membuatku hilang akal. Apalagi tadi dia bilang kalau tidak mau menceraikanku. Sungguh, aku bingung dengan jalan pikiran suamiku. Dia enggan menceraikanku tapi dia menikah dengan wanita lain. Betapa egoisnya dia, terserah dia mau berbuat apa yang jelas aku harus berpisah dengannya.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


terima kasih sudah membaca cerita Rara, sambil menunggu bab selanjutnya Rara akan merekomendasikan novel keren karya teman Rara.


Judul: Cinta Terakhir Dalam Hidupku


karya: Riskejully


Kelanjutan dari kisah Nadhira di "Apa salahku Pa"


Rifki adalah sosok yang ahli dalam dunia beladiri dan juga dunia gaib, dia pemimpin dari sebuah geng yang diberi nama Gengcobra, sementara Theo adalah sosok yang juga ahli dalam dunia beladiri dan dia menjabat sebagai pemimpin dari geng yang diberi nama Gengters


Kedua lelaki itu saling memperebutkan Nadhira agar menjadi pasangan mereka, lantas siapakah yang akan memenangkan hati Nadhira? Akankah terjadi perkelahian ketika anggota dua geng saling bertemu?


Ingin tau kelanjutannya? Yuk mampir dinovelku

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya



__ADS_2