
Aku terkesiap dengan pertanyaan Mira barusan, kenapa aku tidak berpikiran sampai ke sana.
"Entahlah," aku mengedikkan bahu sebagai jawaban, toh itu sudah bukan menjadi urusanku lagi. Anak Mas Ilham atau bukan, bukanlah sesuatu yang penting buatku sekarang.
Tiba-tiba ponselku berdering, dari pop up aku bisa melihat kalau Pak Alvin mengirimiku pesan.
"Masuk ke ruanganku sekarang."
Aku lupa kalau hari ini aku harus memberikan jawaban atas penawaran lelaki itu. Setelah berpamitan pada Mira aku melangkah menuju ke ruangan Boss ku.
"Mbak Rani sekarang, kok, sering ya dipanggil Pak Alvin?" Sekretaris Pak Alvin ini bertanya sambil mukanya sedikit julid. Mungkin tidak terima kalau aku sering mengunjungi ruangan ini.
"Ya, nggak tahu, Mbak, kok tanya saya. Mbak kenapa tadi nggak tanya sendiri."
Dengan wajah melengos sekretaris itu mengetuk pintu, setelah mengatakan kalau aku sudah di depan barulah ia menyingkir dan menyuruhku masuk. Akupun melewatinya sambil memasang senyum paling indah yang kumiliki.
Pak Alvin menatapku sekilas kemudian kembali larut dengan pekerjaan melalui laptopnya.
"Sudah saya bilang, kan, kalau saya menunggu jawabanmu pagi ini?" Tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari laptop di hadapannya.
"I-iya, Pak, maaf."
"Lalu bagaimana?"
"Apa saya harus melakukan pekerjaan ini sehari penuh, Pak? Bagaimana dengan pekerjaan saya di kantor ini?"
Susah payah usahaku agar bisa diterima bekerja di tempat ini dulu, dan sekarang harus kulepaskan begitu saja.
"Saya sudah menawarkan kompensasi gaji dua kali lipat, apa itu belum cukup?" Pria itu mendongakkan kepalanya menatapku.
Iya, sih, gajinya cukup lumayan tetapi masa iya aku beralih profesi menjadi babbysitter.
"Atau kamu mau opsi lain?"
Wajahku sumringah, dengan cepat aku mengangguk. Barangkali opsi lain yang Pak Alvin tawarkan bisa membuatku tetap bekerja di tempat ini.
"Boleh, Pak, apa itu?"
"Kamu mau jadi istri saya?"
Bagai disambar petir, itulah yang kurasakan kala pria ini memberikan jawabannya. Jadi istrinya? Yang benar saja. Rumah tanggaku sendiri saja sudah diambang kehancuran karena perselingkuhan suamiku. Sekarang aku harus menjadi istri orang ini, oh tidak.
"Maaf, Pak, saya sudah bersuami."
Ah, mengingat ini hatiku kembali sakit, sebab suami yang selama ini kubanggakan malah mengkhianatiku. Pak Alvin kembali mendongakkan kepalanya dan menatapku lekat, entah apa yang ada dipikiran lelaki ini. Kemudian terlihat dia mengedikkan bahunya.
__ADS_1
Tiba-tiba kudengar ponsel di meja pria itu berdiring, kemudian terlihat dia mengangkatnya
"Hallo, Sayang."
"Kenapa?" Pria itu terlihat menerima panggilan sambil menatapku.
"Tante cantik yang kemarin ke rumah?" Akupun terkesiap karena pria ini menyebutku, mungkin panggilan itu dari Ananta, putrinya. Dan apa tadi putrinya memanggilku tante cantik.
"Iya, Sayang, sebentar lagi Papa akan mengantar tante cantikmu ke rumah."
Pria itu meletakkan kembali ponselnya kemudian menatapku lagi.
"Bagaimana, Ananta sudah mencarimu. Apa kamu menolak permintaannya? Karena putriku itu tipe anak yang tidak mudah dekat dengan orang baru."
Iya, benar, aku ingat kemarin ketika pertama kali melihatnya. Ananta yang awalnya takut denganku bisa dekat begitu saja. Entah kenapa? Padahal aku sendiri tidak begitu bisa dekat dengan anak kecil. Dan aku juga ingat binar matanya saat bermain kemarin. Gadis kecil itu seperti merindukan sosok seorang ibu.
"Kenapa Bapak tidak memanggil ibunya saja?"
Pertanyaan bodohku ini rupanya memancing amarah Pak Alvin, buktinya wajah pria itu tiba-tiba mengeras. Aku jadi merutuki kebodohanku sendiri karena merasa ikut campur urusannya.
"Jangan coba-coba ikut campur urusan pribadi saya. Jadi sekarang bersiaplah karena saya akan mengantarmu ke tempat Ananta."
Pria ini bangkit dan memakai jas yang tersampir di sandaran kursi kerjanya, kemudian berjalan keluar setelah memerintahkanku menyusulnya ke bawah. Pintu ruangan terbuka dan langsung tertutup begitu saja hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Dengan takut dan gemetar akhirnya aku keluar ruangan, mengabaikan tatapan ingin tahu dari sekretarisnya. Setelah mengambil tas milikku aku segera menyusul pria itu.
"Stop, Pak! Berhenti!" Aku sengaja berteriak karena tak tahan lagi dengan caranya mengemudi. Pak Alvin menoleh sekejap lalu menginjak rem mobilnya, menghasilkan suara berdecit yang cukup keras. Dan mobilpun berhenti begitu saja di pinggir jalan, untungnya kondisi jalannya sedikit lengang.
"Pak Alvin mau bikin saya mati?"
Aku berteriak tidak terima, kalau pria ini mau bu nuh di ri silahkan saja, tapi jangan mengajakku ikut serta. Karena aku masih mau bahagia, meski aku sendiri tetlilit masalah aku masih bisa mengatasinya. Dimana-mana laki-laki itu sama saja, suka memaksakan kehendak tetapi tidak pernah bisa memahami posisi wanita.
"Saya tidak suka kamu ikut campur urusan pribadi saya lagi!"
Mata pria ini menatap nyalang padaku, membuat nyaliku sedikit menciut.
"I-iya, maaf,"
"Saya sudah lama berusaha mencari pengasuh untuk Ananta, sudah banya babbysitter yang melamar untuk mejadi pengasuh putriku. Namun, semuanya ditolak karena Ananta tidak suka mereka hanya dalam sekali berinteraksi."
Pria itu terlihat menghela napasnya.
"Entah kenapa waktu itu terpikirkan olehku untuk membawamu ke rumah, karena aku tahu kamu sudah berumah tangga jadi kupikir kamu punya sifat keibuan. Dan bisa dilihat, kan, kalau Ananta suka sama kamu."
"Tapi saya tidak berpengalaman menghadapi anak kecil, Pak, karena saya sendiri belum memiliki anak. Dan saya, saya takut tidak bisa menjaga Ananta dengan maksimal."
__ADS_1
"Tapi hati saya bilang dan percaya sama kamu."
"Kalau saya apa-apain Ananta gimana?" Sengaja aku bertanya seperti ini untuk mencairkan suasana, karena jujur saja melihat wajah Pak Alvin yang tegang membuatku gugup.
"Kamu akan berhadapan dengan ayahnya, dan saya harap kamu bisa membujuk Ananta untuk kembali bersekolah."
"Lho, Ananta berhenti sekolah kenapa?" Tanyaku kemudian, mobil ini kembali melaju menuju rumah Pak Alvin.
"Sejak perceraianku dan mamanya gadis itu jadi enggan ke sekolah." Nada suara Pak Alvin terdengar menyedihkan.
Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan gadis itu melihat kedua orang tuanya berpisah. Beban yang ditanggung anak-anak akibat perceraian kedua orang tuanya sangat berat. Bukan hanya beban fisik tetapi juga psikisnya.
Aku tidak bisa menbayangkan bagaimana Ananta menjalani hari-harinya setelah perpisahan kedua orangtuanya. Aku sendiri bersyukur saat ini belum diberikan momongan, hingga mereka tidak harus melihatku bercerai dengan Mas Ilham.
"Kuharap pernikahanmu baik-baik saja, pertahanankan apa yang kamu miliki."
Ah, Pak Alvin tidak tahu saja jika aku sudah berusaha bertahan sebaik mungkin, tetapi aku juga tidak bisa mempertahankan seseorang yang menyakitiku.
🏵️🏵️🏵️🏵️
terimakasih sudah membaca, dan sambil menunggu part selanjutnya Rara akan merekomendasikan novel keren milik teman Rara.
judulnya : Tell Laura I Love Her
karya: Yanktie Ino
Burlb nya
Laura seorang designer muda berbakat yang patah hati karena dua minggu sebelum pernikahannya, Tommy sang tunangan meninggal dunia akibat kecelakaan di race mobil yang diikutinya.
Laura berupaya melupakan Tommy, dia pindah ke Cimahi untuk memimpin sebuah panti asuhan balita milik uwaknya.
Banyak pria mengajukan diri sebagai pengganti Tommy. Namun semua tak ditengok oleh Laura.
Siapakah yang akan beruntung memetik bunga cantik ini?
- August sang pilot
- Ariano, yang arsitek
- Adnan, perwira polisi
- Ilyas dokter anak muda
- atau Syahrul, duda beranak dua yang usianya selisih jauh dengan Laura
__ADS_1