Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu
Bab 19


__ADS_3

"Mereka meninggal belum lama ini." Jawab Yuda terlihat memendam kesedihan.


Aku bisa maklum karena sejak remaja Yuda memang sangat menyayangi kedua irang tuanya.


"Turut berdukacita, ya."


"Terima kasih, ngomong-ngomong kamu sama siapa?"


"Sendirian saja."


"Kamu, sudah punya anak?"


Aku hanya menggeleng, entah kenapa pertanyaan ini selalu membuatku sensitif.


"Syukurlah, setidaknya mereka tidak harus melihat perceraian orang tuanya."


Aku harus bahagia atau sedih mendengar ucapan ini, karena jujur mungkin alasan Mas Ilham selingkuh adalah karena kami belum mempunyai anak.


"Kenapa, Ran?"


"Ah, tidak apa-apa."


Kami berpisah setelah urusanku selesai, sebelumnya aku sempat meminta nomor ponselnya terlebih dahulu. Lalu, aku ssgera bergegas menuju rumah Pak Alvin. Mungkin Ananta sudah menunggu, bicara soal gadis kecil itu aku jadi merindukannya.


Dia selalu punya cara-cara unik untuk membuatku terkesan. Kemarin dia menggambar bunga dan seorang peri cantik, dan dia memberikan namaku pada peri itu.


Dengan menggunakan taksi online aku menuju rumah Pak Alvin. Jaraknya lumayan jauh dan harus memutar dulu kalau mau sampai ke sana.


Setibanya disana aku mendengar suara Ananta yang menangis, aku khawatir terjadi apa-apa pada gadis kecil itu. Setelah membayar ongkos taksi bergegas aku memasuki rumah tersebut.


Di dalam Ananta sedang menangis tersedu, di hadapannya sang nenek berusaha membujuk. Namun gadis itu tak kunjung menghentikan tangisannya.


"Kenapa, Sayang?" Aku mendekati gadis itu dan meraih pundaknya.


"Entahlah, dia seperti itu sejak tadi. Entah apa yang diinginkannya." Bu Rahmi menjawab dengan putus asa. Aku bisa paham jika wanita itu sudah cukup tua dan tenaganya sudah berkurang.


"Tata mau apa, Sayang?" Kembali, aku bertanya dengan lembut.


"Tata mau Ma-ma…Tata mau ketemu Ma-ma." Jawabnya sambil terbata-bata, hatiku terenyuh. Sudah berapa lama gadis ini tidak bertemu mamanya.


"Nanti kita bicara sama Papa, ya, buat ketemu sama Mama." Ucapku sambil memeluknya, dan bisa kurasakan kalau kepala gadis itu bergerak mengangguk.


Aku membiarkannya berada di pelukanku sebentar, sampai gadis itu benar-benar berhenti menangis. Setelah itu aku mengajaknya bermain. Ananta cukup terhibur dengan mainannya saat ini, sebab tadi aku mengajarinya membuat origami berbentuk bangau.


"Sudah lama, Bu, Ananta tidak bertemu ibunya?" Tanyaku pada Bu Rahmi yang duduk di ruang tengah sambil melihat Ananta bermain.


Wanita itu menghela napasnya berat, dan aku bisa merasakan beban kesedihan yang ditanggungnya.


"Sejak mereka bercerai Ananta tidak pernah bertemu Mamanya."


Aku menutup mulut tak percaya, bagaimana bisa ada ibu yang tega dengan anaknya sendiri. Meski mereka memutuskan berpisah, setidaknya dia menyempatkan sedikit waktunya untuk bertemu sang putri.

__ADS_1


Seperti biasa Ananta akan tidur siang setelah bermain, kali ini aku tidak menyinggung soal sekolah lagi dengan anak itu. Sebab setelah menangis tadi moodnya tidak bagus, aku takut kalau tetap menyinggung soal sekolah dia akan semakin menangis.


Menjelang sore saat akan membagunkan Ananta, gadis itu tiba-tiba saja badannya panas. Aku terkejut karena setelah mengukur dengan termometer suhunya hampir mencapai 40°. Segera kuhubungi Pak Alvin dan menjelaskan kondisinya.


Dalam waktu kurang dari setengah jam pria itu sudah sampai di rumah dwn memeriksa kondisi anaknya.


"Sejak kapan dia demam?" Tanyanya khawatir.


"Baru saja, Pak, karena sebelum tidur tadi dia masih bermain."


"Baiklah, kita bawa ke dokter sekarang."


Tanpa menunggu lama lagi aku mengikuti langkah majikanku di belakangnya sambil menggendong Ananta. Pria itu segera membukakan pintu mobil dan langsung melaju menuju rumah sakit terdekat.


"Mama."


Selama dalam perjalanan gadis itu tak berhenti memanggil mamanya.


"Pak, apa sudah lama Ananta tidak bertemu Mamanya?" Tanyaku hati-hati takut menyinggung perasaan pria itu.


"Sejak perceraian kami, itu terakhir kali Tat bertemu Mamanya."


"Tadi saat saya datang, Tata sedang menangis ingin bertemu Mamanya."


Aku menoleh sekilas dan bisa kulihat kalau pria ini mencengkeram setir mobilnya. Akupun tidak banyak bertanya lagi. Mobil sudah memasuki rumah sakit dan berhenti di pintu UGD.


Dengan sigap perawat membawakan brankar untuk kami, kemudian mendorongnya menuju ruang rawat. Setelah menjalani observasi, akhirnya Ananta harus rawat inap malam ini. Aku pun ikut menunggui gadis itu, karena sejak bangun tadi dia tidak melepaskan tanganku barang sebentar.


"Tante jangan pulang, ya." Gadis itu memohon dengan tatapan sayunya, dia sudah berada di kamar rawat sekarang. Aku jadi tidak tega kalau harus meninggalkannya. Terpaksa aku menuruti keinginan gadis kecil ini.


"Maaf, Ran, kamu harus ikut repot menjaga Ananta." Ucap Pak Alvin merasa bersalah.


Pria itu duduk di sofa di seberang ranjang Ananta, berkali-kali ia mencoba menghubungi seseorang mungkin Dia akan mengumpat setiap kali gagal menghubungi orang tersebut. Aku diam saja menatapnya, antara sedih dan kasihan.


Ponselku sendiri tiba-tiba berbunyi, dan aku terkejut karena ada nama Mas Ilham disana. Untuk apa lagi dia mengubungiku.


"Hallo."


"Kamu dimana, Ran, jam segini belum pulang?"


Aku menurunkan ponsel dari telinga dan melihat jam di layarnya, sudah pukul tujuh malam. Tapi untuk apa dia menanyakan keberadaanku.


"Aku ada urusan, kenapa?"


"Oh, jadi sekarang kamu sedang bersama pria selingkuhanmu itu?"


"Jaga mulutmu, Mas, sedang apa dan dengan siapa aku, itu bukan urusanmu." Ucapku lirih sambil mengeratkan gigi, mau apa sebenarnya pria ini.


"Itu urusanku karena aku masih suami kamu."


"Jangan harap aku tetap menjadi istri kamu, karena aku sudah mendaftarkan perceraian kita."

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Seperti yang kamu dengar, aku sudah mendaftarkan perceraian kita, jadi tunggu saja."


"Ran, kamu tidak bercanda, kan?"


"Memangnya kamu bercanda saat tidur dengan wanita itu?" Tanyaku geram.


"Ta-tapi, Ran."


"Sudahlah, Mas, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."


Setelah mengatakan demikian aku menutup ponselku malas meladeni lelaki tak tahu diri seperti Mas Ilham. Saat aku berbalik hendak menuju kamar Ananta, aku dikejutkan dengan keberadaan Pak Alvin yang sudah berdiri tak jauh di belakangku.


"Pa-Pak Alvin."


Pria itu menatapku, kedua tangannya terlipat di depan dada.


"Kamu mau bercerai?" Tanyanya tanpa basa-basi, rupanya pria ini mendengar pembicaraanku.


"I-iya." Aku menjawab singkat, karena sebenarnya tidak ingin bercerita pada siapapun.


"Kenapa?"


"Kami sudah tidak cocok lagi, dan…dan dia berselingkuh."


Pak Alvin terlihat bergerak, dia mengambil duduk di salah satu kursi.


"Kenapa sebuah hubungan yang sudah terjalin harus terpisah begitu saja hanya dengan satu alasan yang sama, ketidakcocokan." Ucap pria itu.


"Entah, karena memang sudah tidak ada yang bisa diperbaiki lagi, mungkin." Akupun ikut duduk, mengambil tempat agak jauh darinya.


"Alasan yang klise bukan? Padahal sebuah ikatan terjalin untuk menyatukan dua hal yang berbeda. Lantas, kalau ada ketidakcocokan bukannya dari awal saja berpisah. Sebelum ikatan itu semakin melebar."


Aku menatap pria ini, sepertinya dia sedang membicarakan dirinya sendiri. Atau bahkan membicarakan nasib kami yang sama.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


terima kasih sudah membaca karya Rara, sambil menunggu part selanjutnya rara akan merekomendasikan novel keren



Blurb :


Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.


Akibat tekanan yang cukup besar dari orang tua suaminya, akhirnya Suci berdoa dan berserah diri kepada Pencipta-Nya. Hingga akhirnya Suci mendapatkan pencerahan dan memiliki solusinya sendiri.


Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.


Suci sudah berusaha ikhlas untuk merelakan sang suami tercinta supaya mencari pendamping baru untuk segera memberikan cucu kepada keluarga Dimas yang selalu menuntut anak dari Suci.

__ADS_1


Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?


Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya?


__ADS_2