
Alvin bangkit dari kursi kerjanya ds melangkah mendekati Rani, ia mengambil duduk di sebelah wanita itu kemudian memegang kedua tangan Rani.
"Ran, aku mohon, jangan pernah pergi dari sisiku." Ucap Alvin penuh harap.
"Saya bukan siapa-siapa, Pak." Rani menyadarkan lelaki sekaligus bertanya secara tersirat apa arti dirinya bagi pria itu.
"Ran, entah kamu sadar atau tidak bahwa aku benar-benar menyukaimu."
Ucapan Alvin membuat Rani benar-benar merasa bersalah, ia bukannya tidak tahu akan perasaan pria itu. Hanya saja dirinya masih belum siap untuk menjalin hubungan yang baru.
"Maaf, Pak, saya belum bisa, saya butuh waktu untuk menenangkan diri dulu. Saya mohon, Pak." Ucap Rani dengan wajah memelas.
Alvin tahu, kejadian kemarin membuat Rani shock dan tertekan. Alvin bisa memahami, tetapi ia juga tidak ingin kehilangan wanita itu.
"Baiklah, kalau itu sudah keputusanmu." Ucap Alvin sambil mendesah pelan, "tapi kuharap keputusan tadi akan benar-benar berubah. Yah, setidaknya kamu bisa menerima perasaanku." Ucap Alvin sambil terkekeh mencoba mengatasi kecanggungan ini.
Rani memaksakan sebuah senyuman di bibirnya, ia sendiri tidak tahu akan seperti apa nanti hatinya. Apakah akan terbuka dan menerima cinta Alvin, atau tertutup untuk selamanya.
***
Rani sedang berkemas di rumahnya, dia sudah memutuskan untuk berlibur sebentar. Tujuannya ke Bali, sepulang dari rumah Alvin, ia memesan tiket perjalanan untuk sepekan. Ia tidak memberitahu siapapun tujuan perjalanannya kali ini, bahkan kepada Mira sahabatnya.
Rani akan berangkat pukul sebelas nanti, jadi masih ada waktu empat jam sebelum keberangkatannya. ia menyempatkan untuk membuat sarapan terlebih dahulu, mi instan kuah ditambah telur dan cabai jadi pilihannya kali ini. Sudah lama Rani tidak makan mi instan, dan biasanya kalau pikiran stres seperti ini lebih enak maka mi kuah pedas.
Rani membawa makanannya ke meja yang ia letakkan di dekat jendela agar bisa menikmati makan sambil melihat keluar jendela. Rani sudah akan menyuapkan makanannya ketika bel pintu rumahnya berdenting, ia merasa tidak ada janji dengan siapapun pagi ini.
Rani mengintip dari balik korden sebelum membuka pintu, ia terkesiap saat melihat Arman berdiri di depan.
"Hai!" Sapa Arman saat Rani membuka pintunya.
"Arman, sedang apa kamu disini?" Rani membuka pintu semakin lebar dan mengajak pria itu untuk duduk di teras rumahnya.
__ADS_1
"Kebetulan aku sedang jalan-jalan di sekitar sini." Wajah Arman terlihat cengengesan, "kamu ada acara hari ini?" Tanya Arman kemudian dan membuat Rani salah tingkah.
"Eh, itu…." Rani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuat Arman menatapnya heran.
"Apa kamu ada rencana pergi hari ini?" Tanya Arman menyelidik. Bukannya menjawab Rani hanya memberi cengiran.
"Mau kemana?"
"Ke Bali." Akhirnya dengan terpaksa Rani membertahu Arman kemana dia akan pergi.
"Berapa lama?"
"Mungkin sepekan."
"Sendirian." Rani menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Aku ikut."
"Jangan, aku butuh waktu untuk sendiri."
Arman menatap wanita itu lekat, mencoba memahami situasi yang sedang dihadapi Rani saat ini.
"Baiklah, itu terserah kamu. Kuharap kamu bisa jaga diri. Jam berapa kamu akan berangkat nanti?"
"Jam sebelas."
Arman kemudian melihat jam di pergelangan tangannya, "aku antar."
"Jangan, Man, aku nggak mau ganggu kerjaan kamu." Rani menolak karena merasa tidak enak jika pria itu harus meninggalkan pekerjaannya.
"Aku sudah menurutu keinginanmu untuk tidak ikut meski aku ingin. Jadi, tolong, biarkan aku mengantarmu." Ucap Arman penuh permohonan.
__ADS_1
"Baiklah, Man, terserah kamu."
Setelah mengobrol dan membahas hal lain Arman pamit untuk pulang, lebih tepatnya kembali ke tempat kerjanya. Dia berjanji akan datang lagi dan mengantar Rani ke bandara. Rani kembali ke tempatnya tadi dan mendapati mi kuah yang tadi akan dia makan sudah mengembang. Selera makannya langsung lenyap, ia kemudian membuang mi tadi ke wastafel.
"Ada aja gidaan orang mau makan."
Pukul sebelas kurang tiga puluh menit Arman sudah tiba di rumah Rani, wanita itu juga sudah siap untuk berangkat. Arman membantu Rani membawa tasnya dan meletakkan di bagasi. Mereka sudah siap untuk berangkat.
Belum sempat Rani menaiki mobil Arman, tiba-tiba sebuah mobil lain berhenti di depan rumah Rani. Wanita itu mengenali kalau mobil itu adalah milik Alvin, maka ia pun urung menaiki mobil Arman.
"Kalian mau kemana? Dan kamu, Man, sejak kapan dekat sama Rani?"
Dua pertanyaan itu terlontar dari mulut Alvin begitu pria itu keluar dari mobilnya, ia menatap heran kedua orang yang ada di hadapannya itu. Dan lagi ia berpikir sejak kapan Arman dekat dengan Rani.
"Saya cuma mau mengantar Rani ke bamdara." Jawab Arman.
"Bandara? Memang dia mau kemana?"
"Dia bilang mau ke Bali." Jawab Arman lagi, membuat Rani diam seribu bahasa.
"Apa itu benar, Ran?" Tanya Alvin memicingkan matanya.
Rani merasa bersalah, sebab kemarin dia bilang pada pria itu sudah diterima kerja di Surabaya.
"Itu." Rani tidak dapat melanjutkan kalimatnya, sedangkan Alvin menunggu sambil melipat kedua tangan di dada dan tubuhnya bersandar di mobil.
"Kamu bilang diterima kerja di Surabaya?"
"Apa itu benar, Ran?" Tanya Arman.
Rani tidak bisa menjawab pertanyaan kedua pria itu.
__ADS_1