Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
10. Bukan Tuan-Pelayan


__ADS_3

Berdansa di pesta pernikahan kaum elitis rasanya sudah seperti tradisi. Maka tentu saja dansa untuk mempelai pria dan wanita juga tidak dilewatkan di acara pernikahan ini.


Suara musik lembut nan romantis mengalun seolah tak ingat akan keributan sebelum pernikahan terjadi. Semua orang berdiri memandangi sepasang pengantin baru yang saling memadu kasih lewat tarian cinta mereka.


Atau setidaknya itu yang terlihat.


"Selamat sudah jadi istriku, Nyonya." Demetrio berbisik di antara dansa romantis mereka. "Nampaknya sekarang kamu bisa tidur nyenyak di pelukanku."


Larisa tersenyum lebar. "Saya menantikan Anda pun 'tidur nyenyak' di pangkuan saya."


Demetrio nampaknya menangkap penekanan di sana. Tapi yah, memangnya orang ini orang normal yang mengerutkan kening saat diancam?


Kalau saat ini misil berencana di luncurkan padanya, mungkin dia masih bakal tersenyum gila.


"Jangan memikirkan kejadian tadi, Larisa."


Demetrio memutar tubuh Larisa untuk membelakanginya, memeluk pinggang kecil itu sambil terus mengikuti ritme dansa.


"Aku yakin wanita itu sedikit gila karena kehilanganku."


"Kamu seharusnya membuat dia sedikit lebih gila lagi agar bunuh diri di depan rumahmu." Larisa membalas sambil tertawa polos. "Dengan begitu akan lebih menarik."


Demetrio menyeringai kecil. Jelas dia menangkap isyarat Larisa bahwa ia tahu semuanya cuma rencana menyebalkan Demetrio.


"Omong-omong, aku mendengar kamu membawa dua pelayan untuk pindah bersamamu di kediamanku. Benarkah?"

__ADS_1


"Dan setahuku kamu berkata baiklah."


"Begitulah."


Larisa kembali berputar menghadapkan tubuhnya pada Demetrio yang kini menatap tepat di kedua matanya.


"Tapi," pria itu sedikit membungkuk, "kenapa salah satu dari pelayanmu itu pria?"


*


"Aku tidak menyangka akan memimpikan sesuatu semembosankan ini." Larisa segera menarik lepas jubah tule dari gaunnya sesaat setelah memasuki kamar.


Pesta pernikahan sungguh sebuah tempat membosankan. Penuh kepalsuan, senyum paksa, kebosanan dan hal-hal menjengkelkan.


Setelah dipikir lagi, jauh lebih menarik melihat Viviane ditipu oleh Demetrio tadi.


Dua pelayan pribadinya langsung datang mendekat.


Larisa duduk membiarkan Mia merapikan rambutnya, sementara Sakra datang mengulurkan jus untuk Larisa.


"Demetrio curiga padamu," ucap Larisa pada asistennya itu.


Tentu saja, Sakra yang disinggung oleh Demetrio.


"Kurasa memang tidak terlalu lumrah mempekerjakan asisten pribadi pria jika aku adalah wanita. Sungguh diskriminatif."

__ADS_1


Sakra mengangkat bahu acuh tak acuh. "Bukankah kamu dan aku memang bukan dalam hubungan tuan-pelayan?"


Senyum Larisa langsung berkembang.


Ya, benar juga. Orang ini bukan asistennya. Atau mungkin cara lebih halusnya mengatakan adalah, Sakra bekerja sebagai asisten juga sebagai sesuatu yang lain.


Dia kekasih gelap Larisa selama dua tahun terakhir, tapi mereka tidak menjalin hubungan karena saling mencintai satu sama lain.


Larisa hanya menjadikan Sakra sebagai pelampiasannya atas rasa benci pada Demetrio, sedangkan Sakra melayani Larisa karena sebuah hutang budi.


Mia dan Sakra, mereka adalah 'satu-satunya' makhluk di dunia ini yang Larisa percayai. Karena mereka berdua berhutang budi padanya.


"Lalu, bagaimana kamu akan menanganinya? Orang itu mungkin akan membuat masalah lagi jika tahu kamu bukan gadis suci."


Larisa tertawa. "Apa aku terlihat suci ketika pertama kali kita bercinta?"


"Tidak, Nyonya." Sakra menjawab penuh keyakinan. "Kamu adalah makhluk paling tidak suci di antara semua manusia berlumur dosa di bumi. Tenang saja."


"Mia, suruh dia membawa sopan santunnya setiap saat."


"Tapi Sakra benar, Nyonya." Mia membalas seraya menggulung rambut panjang Larisa. "Bagaimana jika Demetrio mengadu pada Paman Nyonya?"


"Itu akan buruk," balas Larisa santai, seolah-olah tidak peduli.


Namun mereka berdua, yang bekerja untuk Larisa selama dua tahun terakhir, tentunya hafal bahwa Larisa tidak sedang mencoba menyiksa dirinya.

__ADS_1


Dia punya rencana sendiri.


*


__ADS_2